Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 40 Mau Melahirkan


__ADS_3

Arumi memilih bersedia membuatkan nasi goreng untuk mertuanya, karena tidak mau mendengar banyak omelan dari mulut pedas mertuanya.


Arumi tidak melanjutkan makannya. Dia bergegas ke dapur, akan membuat nasi goreng lagi.


Tak ada nasi putih yang tersisa di baskom, karena sudah habis dibikin nasi goreng tadi. Jadi Arumi harus menanak nasi dulu baru bisa bikin nasi goreng.


Saat mau mengambil beras , dan ternyata berasnya habis.


Arumi akan membeli dulu berasnya dan pamit sama Mia. Arumi mendekati Mia yang sedari tadi masih duduk di ruang makan. Salsa pun masih disitu menghabiskan sarapannya.


"Bu," ucap Arumi pelan dari belakang Mia.


"Apa!" Mia menengok.


"Sudah mateng nasi gorengnya?" Tanya Mia.


"Belum Bu, berasnya habis, aku baru mau beli," ucap Arumi.


"Jadi Ibu harus nunggu kamu beli beras baru bisa makan nasi goreng gitu. Aduh..., bisa kelaparan Ibu."


Arumi mengkerut mendengar keluhan Mia.


"Mangkanya Bu, nggak usah minta dibikinin lagi nasi gorengnya, makan aja yang ada, lagian ini enak banget lo. Aku aja pingin nambah lagi," ucap Salsa.


"Ya udah, ya udah nggak usah bikinin Ibu nasi goreng. Ibu makan ini aja. Tapi nanti kamu harus masakin menu favorit Ibu," pinta Mia.


"Iya Bu, nanti aku bikinin," ucap Arumi menyanggupi.


Arumi mengeluh sendiri. Sampai kapan dia akan seperti ini. Selalu harus menyenangkan hati mertuanya. Arumi berharap bayinya cepat lahir dan bisa tinggal di rumah neneknya, supaya hatinya tenang tidak dalam kendali mertuanya.


Arumi tidak memberitahu Mia kalau dirinya akan tinggal di rumah neneknya setelah lahiran, takut Mia melarangnya. Dia sengaja merahasiakannya dari Mia.


Seperti permintaan Mia yang ingin dibuatkan menu favoritnya, jadi Arumi harus pergi belanja. Mumpung masih pagi Arumi akan pergi belanja membeli bahan untuk masak nanti.


Arumi pamit sama Mia. Kebetulan Salsa juga pamit sama Mia untuk berangkat kuliah. Salsa menawarkan diri mengajak Arumi berangkat bersamanya dan menemaninya belanja. Arumi pun bersedia.


Arumi dan Salsa keluar dari rumah bersamaan. Salsa memesan taksi online, supaya cepat sampai dan nyaman untuk kakak iparnya yang tengah hamil besar supaya tidak capek berjalan.


Taksi yang di pesan sudah datang, lalu membawa Arumi dan Salsa kesebuah mini market.

__ADS_1


Arumi belanja di temani Salsa. Di sela mereka belanja, Salsa mendapat pesan untuk segera datang ke kampusnya. Jadi Salsa terpaksa meninggalkan kakak iparnya yang masih belum selesai belanja.


"Aku pamit dulu ya Kak, maaf nggak bisa nganter kakak pulang," ucap Salsa pamit.


"Nggak papa Sa, Kakak masih kuat kok bawa belanjaan Kakak meski sendirian," ucap Arumi.


"Kakak hati-hati ya," ucap Salsa penuh rasa khawatir.


Salsa sangat menghawatirkan keadaan Arumi kakak iparnya, yang jarang mendapatkan perhatian ibunya malah sering dikasih pekerjaan tanpa berbelas kasih padanya.


Arumi melanjutkan belanjanya. Sesekali Arumi tangannya memegang pinggulnya karena terasa pegal. Namun Arumi mengabaikanya. Menurutnya itu sudah biasa ia rasakan.


Sementara Hendri sudah sampai di rumah Melinda bersama Pak penghulu dan juga seorang saksi yang dibawa Hendri.


Pak Subroto menyambut kedatangan Hendri, lalu mempersilahkannya masuk bersama pak penghulu dan menyuruh Hendri untuk menunggu.


"Apa Melinda belum siap?" Tanya Hendri.


"Bukan karena Melinda belum siap. Kita juga harus menunggu kedatangan seseorang yang akan menjadi saksi di pernikahan adiknya," ucap pak Broto.


"Maksudnya siapa Pak seseorang yang ditunggu?" Tanya Hendri penasaran.


"Oh! Jadi Melinda punya seorang kakak. Maaf Pak aku baru tahu, karena Melinda tidak pernah menceritakanya padaku," ucap Hendri.


Arumi sudah keluar dari mini market dengan kedua tangannya menenteng kantong belanjaan. Arumi berjalan sedikit ringkih karena rasa pegal di pinggulnya semakin sakit saja.


"Nggak seperti biasanya pinggulku terasa lebih sakit. Rasanya aku tidak kuat untuk berjalan," keluh Arumi sembari berjalan mencari taksi.


Seorang lelaki tampan dengan pakaian jasnya sedang melajukan mobilnya sembari menerima telfon dari seseorang yang menyuruhnya untuk segera tiba karena acara akan dimulai.


"Sebentar lagi sampai Bu, sabar dong?" ucapnya dalam telefon.


"Oke aku akan segera sampai. Assalamualaikum...," ucapnya mengakhiri telfon.


Dia adalah Gilang Subroto, putra pertama Pak Subroto. Dia sedang dalam perjalanan ke rumahnya yang akan menghadiri pernikahan adiknya.


Gilang melajukan mobilnya lebih kencang membelah jalan supaya cepat sampai di rumah orang tuanya.


Arumi masih mencari taksi untuk bisa membawanya pulang. Arumi berjalan sedari tadi tak menemukan taksi yang lewat dihadapannya. Dia sungguh sangat capek. Di tambah rasa sakit di pinggulnya yang semakin sakit.

__ADS_1


"Sakit sekali rasanya. Apa aku akan melahirkan," ucapnya.


Baru saja selesai bicara. Arumi mengeluarkan darah dan rasa sakit yang hebat di perutnya hingga membuatnya ambruk.


"Sakit sekali perutku," keluh Arumi sembari memegangi perutnya.


Seorang ibu paruh baya melihat Arumi yang tengah kesakitan dengan perut besarnya yang duduk tersungkur di bawah. Dia pun berlari mendekati Arumi.


"Kenapa kamu Nak?" ucapnya.


Wanita itu terkejut saat melihat darah mengalir di kaki Arumi.


"Kamu mau melahirkan ya. Ya Allah sabar Nak ya yang kuat. Kamu harus ke rumah sakit. Ibu akan cari bantuan." ucap wanita itu.


Ibu itu mencegat mobil yang berlalu lalang dihadapannya barang kali mau berhenti dan mau membawa Arumi ke rumah sakit.


Senentara Arumi merintih kesakitan karena bayinya seperti sudah mau keluar.


"Ya Allah, Mas Hendri perutku sakit sekali." Arumi memanggil nama suaminya berharap tau kalau dia akan melahirkan.


Hendri tidak memikirkan Arumi sedikit pun saat ini. Dia fokus memikirkan tentang pernikahannya yang akan dilaksanakan hari ini dengan Melinda.


Wanita paruh baya itu tak mendapatkan mobil yang mau berhenti dan menolongnya. Dia sedikit putus asa lalu mendekati Arumi yang merintih lebih keras karena kesakitan.


Kebetulan sekali mobil Gilang lewat. Dia menyaksikan dari jauh seorang wanita dengan perut besarnya tengah ruduk terkapar nampak merintih kesakitan dan seorang wanita paruh baya mencoba menenangkannya.


Gilang yang melihatnya merasa simpati dan menghampirinya. Gilang pun menepikan mobilnya lalu turun.


"Kenapa Bu dengan wanita ini?" Tanya Gilang.


"Dia mau melahirkan. Kasihan dia. Apa kamu mau menolongnya membawanya ke rumah sakit?" Ucap wanita itu.


Gilang belum menjawab.


Melihat rintihan Arumi yang terus menerus, tersentuh rasa iba. Akhirnya Gilang bersedia membawa Arumi ke rumah sakit.


Gilang langsung membopong tubuh Arumi membawa masuk kedalam mobil.


Wanita itu menyerahkan semuanya pada Gilang untuk membawanya ke rumah sakit dan mengurusnya. Dia tidak mau ikut karena bukan keluarganya.

__ADS_1


Rintihan Arumi semakin membuncah didalam mobil, membuat Gilang tak tega melihatnya dan harus cepat-cepat membawanya ke rumah sakit.


__ADS_2