Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 62 Cinta


__ADS_3

Gilang dan Arumi sudah dalam perjalanan menuju rumahnya. Seperti biasa Arumi tidak duduk sejajar dengan Gilang, melainkan duduk dibelakang Gilang.


Gilang yang ingin memulai percakapan dengan Arumi jadi ewuh karena dibelakang Arumi memilih diam bah seperti penumpang dengan seorang sopir dalam taksi seperti tidak saling mengenal.


Gilang ingin sekali mempertanyakan pada Arumi tentang ucapannya di atas panggung tadi, apakah Arumi benar-benar bersedia menjadi pasangan hidupnya karena Arumi tidak menunjukkan ekslresinya bersedia, padahal Gilang sangat serius dengan itu.


Namun tak ada kesempatan untuk Gilang bisa bicara dengannya, karena Arumi memilih diam sepanjang perjalanan.


Arumi bukanlah tengah diam. Dalam pikirannya Arumi sibuk memikirkan cara untuk memberitahu nenek Suryati tentang dirinya yang sudah diceraikan oleh Hendri. Tidak mungkin Arumi terus menerus membohongi neneknya.


Arumi sangat takut untuk mengatakan pada nenek Suryati. Arumi takut nantinya nenek akan syok saat mendengar pernyataan Arumi, sama seperti dirinya saat itu. Namun Arumi tidak bisa membohongi neneknya terus tentang statusnya sekarang.


"Bagaimana pun juga aku harus tetap memberitahu nenek. Nenek harus tau yang sebenarnya. Aku tidak boleh merahasiakanya lagi dari nenek," batin Arumi menggebu-gebu ingin segera menuntaskan masalah tentang Hendri.


Tak terasa perjalanan, sampailah di depan pintu pagar rumah Arumi. Gilang menepikan mobilnya.


Arumi masih terpaku dalam lamunannya.


"Sudah sampai," ucap Gilang.


Mendengar ucapan Gilang, Arumi tersadar dari lamunanya.


"Sudah sampai ya. Maaf aku tidak menyadarinya," ucap Arumi.


"Kamu melamun ya sedari tadi? kamu masih memikirkan tentang mantan suamimu?" tanya Gilang.


"Tidak! Aku tidak memikirkan tentang dia. Untuk apa orang seperti itu dipikirkan lagi. Aku sudah capek selama ini memikirkan dirinya. Aku akan move on darinya. Dan akan membuka lembaran baru."


"Syukurlah! Arumi sudah mau move on dari lelaki brengsek itu. Dan mau membuka lembaran baru. Semoga aku termasuk dalam lembaran barunya," batin senang Gilang.


Gilang berharap setelah ini Arumi mau membuka hati untuk dirinya.

__ADS_1


Sebelum turun dari mobil. Arumi ingin mengatakan suatu hal pada Gilang.


Sama. Gilang juga ingin mangatakan hal yang menjadi tanda tanyanya sedari tadi, sebelum Arumi turun. Gilang takut setelah ini Arumi memutuskan untuk kembali tidak saling menyapa saat bertemu.


"Gilang. Sebelum turun aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Arumi.


"Katakanlah! Aku juga sama ada hal yang ingin aku tanyakan padamu sebelum kamu turun," balas Gilang.


"Aku hanya ingin mengucapkan, kalau aku sangat berterima kasih padamu. Kamu sudah mau membantuku dan melindungiku. Kehadiranmu bisa membuat jalan untuk membuka mataku. Mengetahui siapa sebenarnya suamiku. Dan sekarang aku sudah tau jawabannya, dia lelaki yang tidak baik untukku. Mungkin jodohku dengannya cukup sampai disini. Terima kasih Gilang atas semuanya," ucap Arumi lirih.


"Itulah cara Allah mempertemukan kita. Kita dipertemukan dengan cara aku harus menolongmu saat melahirkan. Lalu aku mengetahui suamimu terlibat skandal dengan adikku. Aku yang mengetahuinya merasa bersalah tidak bisa mencegah adikku yang telah merebut suamimu, hingga membuatmu terluka seperti ini dan rumah tanggamu hancur. Itu sebabnya aku harus melindungimu," ucap Gilang.


"Kamu tidak bersalah Gilang. Ini sudah jalannya Allah aku harus berpisah dengan mas Hendri karena dia memang tidak baik untuku. Terima kasih kamu sudah memperdulikanku," ucap Arumi.


"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu Arumi," ucap Gilang dengan berani.


"Katakanlah yang ingin kamu katakan Gilang. Mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu lagi. Karena aku akan move on dari semua. Aku akan mulai membuka lembaran hidup yang baru."


"Benar kan dugaanku. Arumi pasti memutuskan tidak ingin bertemu denganku," batin sedih Gilang.


"Ucapan apa Gilang?" Arumi lupa dengan ucapan Gilang tadi. Karena menurut Arumi itu tidak penting. Arumi belum siap mencari pasangan. Arumi akan fokus menata hidupnya setelah diceraikan Hendri.


"Kamu tidak ingat?" Gilang menoleh penuh kebelakang menatap Arumi. Sedari tadi Gilang bicara dengan Arumi tidak saling bertatapan.Gilang menjaga etikanya karena Arumi masih menangguhkan masa iddahnya.


"Apa tentang pernyataan cintamu padaku diatas panggung tadi," ucap Arumi.


"Iya Arumi. Aku hanya ingin jawaban darimu."


"Bukankah itu hanya pura-pura, untuk membuat hati suamiku sakit dan jadi cemburu," tegas Arumi.


"Tidak Arumi. Aku serius dengan ucapanku. Aku benar-benar ingin menjadikanmu pasangan hidupku. Kamulah wanita pertama yang menggetarkan hatiku sejak pertama kali aku bertemu denganmu."

__ADS_1


"Aku tidak pernah sama sekali berurusan dengan wanita. Tapi saat aku berurusan denganmu ada hal yang berbeda yang aku rasakan dihatiku. Aku menaruh simpati padamu dan jadi peduli sama kamu. Aku rasa ini cinta. Aku telah jatuh cinta padamu," ucap Gilang kembali menyatakan cintanya.


"Jadi kamu serius dengan itu," ucap Arumi.


Gilang mengangguk serius.


Arumi bingung harus memberi jawaban apa pada Gilang. Arumi baru saja merasakan sakitnya dikhianati seorang lelaki. Arumi ingin menenangkanbhatinya dulu. Arumi tidak ingin ada laki-laki dulu dalam kehidupannya. Arumi masih trauma, takut dikhianati lagi sama seorang kaki-laki.


Arumi nampak dengan kegusarannya memikirkan jawaban yang tepat untuk Gilang.


"Gimana ni cara ngasih jawaban untuk Gilang. Aku belum siap untuk memikirkan pasangan hidup. Apa aku harus menolaknya? Tidak, tidak itu sangat menyakitkan Gilang. Terus aku harus jawab apa," batin Arumi bingung.


"Cepat katakan jawabanmu Arumi. Apakah kamu menerima cintaku?"


Gilang mendesak Arumi tak sabar ingin mendengar jawaban Arumi yang entah ditolak atau diterima.


"Ehm....," Arumi bergumam masih ragu untuk mengungkapkan.


"Tidak usah takut Arumi, jawab saja. Kamu mau menerima cintaku atau tidak, aku siap menerimanya. Aku bukan tipe lelaki pemaksa," tegas Gilang.


"Baiklah Gilang, aku akan memberi jawaban yang tepat untukmu. Untuk saat ini aku belum siap menerima seorang lelaki dalam kehidupanku. Lukaku masih belum kering. Rasa trauma masih menghantuiku. Aku berharap kamu mau mengerti. Maafkan aku Gilang. Bukan maksud aku menolakmu," ucap Arumi merasa tidak enak sama Gilang.


"Aku tau Arumi, pasti tidak mudah menerima kembali lelaki lain setelah disakiti hatimu. Tapi masih ada kesempatan untuku kan mendapatkan cintamu. Aku bersedia menunggumu," tegas Gilang lagi.


"Aku bukan ngasih kesempatan buat kamu Gilang. Aku tidak mau menggantungmu. Lupakanlah wanita seperti aku yang tidak pantas untukmu. Aku hanyalah wanita miskin tidak sebanding denganmu. Carilah wanita lain yang lebih pantas untukmu." Arumi merendahkan dirinya.


"Tidak Arumi. Bagiku status itu tidak penting. Aku sudah menjatuhkan cintaku padamu aku tidak bisa berpaling darimu. Akan aku tunggu sampai kamu siap menerimaku."


Arumi menghela nafas berasa sesak dadanya, merasakan Gilang yang kukuh dengan pendiriannya.


"Terserah kamu Gilang. Aku hanya tidak ingin kamu menyesal seperti mantan suamiku, karena sudah menikah dengan orang miskin sepertiku," ucap Arumi lirih.

__ADS_1


Gilang hanya bergeming tak menanggapi ucapan Arumi.


Arumi pun pamit keluar dari mobil. Meninggalkan Gilang dengan keterpakuannya.


__ADS_2