
Arumi sungguh tiada menyangka, ternyata dia mendapat orderan kue pertama kali dengan jumlah yang cukup banyak untuk pernikahan mantan suaminya yang menceraikannya begitu saja.
Bagaikan jatuh tertimpa tangga. Kata yang pas untuk mewakili perasaan Arumi saat ini. Sudah sakit masih ditambah rasa sakitnya.
Arumi mengeluh pada dirinya yang bodoh. Bisa-bisanya membuat kue untuk pernikahan mantan suaminya tanpa ia duga.
"Maafkan aku Arumi, ini semua rencanaku. Bukan maksudku akan membuatmu sakit hati seperti ini. Aku hanya ingin melihatmu senang dengan mendapat banyak pesanan kue," batin Gilang merasa bersalah pada Arumi.
Arumi kembali menghujat Hendri.
"Kamu tau Gilang dia suami penghianat. Dia meninggalkanku pasti karena ingin menikah dengan orang yang lebih kaya. Seperti keinginan ibunya. Ternyata mereka berdua sama saja tidak ada bedanya. Itu sebabnya dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya padaku," ucap Arumi masih dengan isak tangisnya.
"Ya Allah ternyata aku mencintai laki-laki yang salah tidak setia dengan pernikahan. Ini rasanya sungguh sakit menusuk hati." Tangan Arumi menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit.
"Ini tidak bisa dibiarkan," batin Gilang menatap iba pada Arumi yang larut dalam kesedihannya.
Gilang berinisiatif akan membalas rasa sakit hati Arumi.
Gilang meminta Arumi tidak usah menangisi lelaki penghianat itu. Gilang meminta Arumi untuk menatap kedepan. Masa depan Arumi masih panjang. Dan masih ada kebahagiaan yang bisa ia dapatkan tanpa kehadiran suami yang tidak bertanggung jawab seperti Hendri.
"Kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih Arumi. Kamu wanita yang baik tidak pantas disakiti. Lupakan saja orang seperti dia," ucap Gilang sembari menggenggam erat tangan Arumi.
Arumi menatap teduh ke wajah Gilang. Arumi tidak mengerti dengan maksud Gilang. Kenapa dia bersikap begitu baik padanya dan peduli padanya.
Disaat sedih seperti ini Arumi butuh sandaran. Dia seperti melupakan pernyataanya sendiri. Arumi kembali melanggar janjinya yang tidak saling bertutur sapa dengan Gilang. Namun Arumi malah melakukan lebih dari itu. Dan kenapa takdir selalu mempertemukan mereka. Apakah mereka akan berjodoh?
"Aku tidak boleh larut dalam kesedihan. Aku harus melupakan semuanya. Aku akan pulang saja," ucap Arumi memilih beranjak, sembari tangannya sibuk membersihkan sisa air matanya.
"Kamu tidak boleh pulang. Kita harus membalas rasa sakit hatimu dulu. Ikutlah denganku," ucap Gilang dan kembali meraih tangan Arumi.
"Kita mau kemana?" tanya Arumi yang dipaksa berjalan oleh Gilang mengikuti langkahnya.
__ADS_1
"Sudahlah! Ikuti saja langkahku," ucap Gilang mayakinkan Arumi.
Gilang membawa Arumi kembali masuk ke tempat acara.
"Kenapa kamu membawaku masuk kesini lagi. Aku tidak mau melihat mas Hendri. Aku sungguh muak dengannya. Dia lelaki penghianat," ucap Arumi.
Gilang tidak memperdulikan ucapan Arumi.
Diatas panggung nampak Hendri dan Melinda memberi ucapan terima kasih pada para tamu undangan yang sudah datang ke acara pernikahannya. Hendri dan Melinda merasa bahagia dengan kehadiran mereka.
Acara sambutan mempelai sudah selesai. Jodi mempersilahkan Keduanya untuk turun dari panggung.
"Tunggu! Mempelai tidak boleh turun dulu." ucap Gilang dengan lantang pada Jodi sang pembawa acara.
Suara lantang Gilang terdengar di berbagai pasang telinga termasuk Hendri dan Melinda. Semua pasang mata melihat mereka dengan rasa penasaran.
Hendri dan Melinda pun melihat dengan jelas Gilang membawa seorang wanita berhijab. Mereka berdua bertanya-tanya siapa wanita yang sudah dibawa Gilang. Dan ada apa gerangan?
Saat semakin mendekati panggung, Hendri tau siapa wanita yang tengah dibawa Gilang.
"Bagaimana ini. Habislah aku," batin gelisah Hendri.
Hendri nampak kegelisahannya diatas panggung.
Sementara Melinda menatap wanita berhijab itu dengan serius. setelah melihat wajahnya, Melinda teringat wanita yang dibawa kakaknya adalah Arumi orang yang ditemuinya kemarin saat di butik.
"Itu kan Arumi, wanita yang aku temui dibutik kemarin. Kak Gilang kenapa bersama Arumi. Apa mereka berdua saling mengenal?" batin Melinda.
Gilang sudah sampai di atas panggung. Gilang menatap sinis kearah Hendri. Sedangkan Arumi menatap Hendri penuh rasa kebencian dan amarah di hatinya yang tak bisa ia tumpahkan.
Arumi terkejut saat menatap mempelai wanita yang ada di samping Hendri.
__ADS_1
"Bukankah dia Melinda?"
"Ya Allah! Jadi wanita yang aku temui kemarin di butik adalah orang yang menikah dengan mas Hendri saat ini, yang sudah menggantikan posisiku? Kenapa kebetulan sekali dan aku tidak mengetahuinya."
Arumi menatap geram kearah Melinda.
Ingin rasanya Arumi mempertanyakan semuanya pada Hendri. Namun Arumi sadar diri dia tidak mau membuat keributan. Malu dilihat banyak orang.Toh dirinya juga sudah diceraikan. Walau pun menuntut juga percuma.
"Sebelum kedua mempelai turun. Aku sebagai Kakak dari mempelai wanita. Ingin mengucapkan selamat atas pernikahan mereka," ucap Gilang.
Giowang pun dengan rasa terpaksa memberi selamat pada Hendri Melinda.
"Apa? Gilang Kakak dari wanita itu juga? Kenapa Gilang tidak pernah memberitahuku, kalau mas Hendri akan menikah dengan adiknya," gumam Arumi kedua tangannya memegang kepalanya yang terasa ingin pecah menjumpai banyak hal yang tak pernah ia duga.
"Kamu nggak papa sayang," ucap Gilang.
Hendri melebarkan kedua netranya saat mendengar ucapan Gilang dengan jelas memanggil Arumi sayang.
Arumi pun sama, matanya melotot mendengar ucapan Gilang.
"Selain memberi ucapan selamat pada adikku. Aku juga ingin mempersembahkan pada kedua orang tuaku. Aku sudah membawa calon pasangan hidupku, yang sangat dinginkan Ayah dan Ibuku. Aku harap Ayah dan Ibu menerimanya apa pun latar belakangnya karena aku sangat mencintainya. Dia wanita yang sudah membuat luluh hatiku," ucap Gilang dengan berani.
"Apa? Arumi akan menjadi kakak iparku. Tidak, tidak bisa. Kenapa ini harus terjadi. Sebenarnya aku masih ingin bisa bersamamu Arumi. Kenapa kamu cepat move on dariku," batin Hendri.
Arumi hanya menatap Gilang dengan rasa tak percaya. Jadi ini yang akan ditunjukan Gilang untuk membalas rasa sakit hati nya.
Arumi menganggap Gilang hanya akting di depan Hendri, untuk membuatnya sakit hati. Padahal Gilang serius dengan ucapannya.
Liliana dan pak Subroto yang menyaksikan pernyataan Gilang putra satu-satunya yang sulit membuka hatinya untuk seorang wanita, merasa senang dan bahagia. Akhirnya Gilang sudah menemukan pasangan hidupnya.
Sementara Mia juga menyaksikan pernyataan kakaknya Melinda yang akan menjadikan Arumi sebagai pasangan hidupnya. Mia pernah mendengar, kalau kakaknya Melinda orang yang sukses dalam mendirikan beberapa perusahaan.
__ADS_1
"Wah, beruntung sekali kak Arumi akan dipersunting oleh orang kaya, setelah dibuang sama kak Hendri. Aku turut bahagia mendengarnya," ucap Salsa.
Sementara Mia hanya menyunggingkan mulutnya. Tidak terima mendengar pernyataan Gilang, kalau Arumi akan dipersunting orang kaya seperti Gilang.