
"Apaan sih Kakak!" Jangan sok tau ya," ucap Melinda dengan keras hingga membuat Hendri, Pak Subroto dan juga istrinya menatap tajam kearah Melinda dan Gilang.
Melinda jadi gugup saat mereka menatapnya.
"Kenapa berteriak Melinda? Ada apa?" Tanya Liliana.
"Ehm..., nggak ada papa kok Bu," ucap Melinda menutupi.
Melinda tidak mau kedua orang tuanya tau tentang yang dibicarakan kakaknya. Melinda pun mengajak Gilang beralih lebih menjauh dari keluarganya. Dia membawa ke kamarnya.
Melinda memperingatkan kakaknya supaya tidak bicara sembarangan tentang suami yang baru sah dinikahinya.
"Ingat Kak, jangan bicara sembarangan tentang siapa Hendri. Siapa pun dia aku akan tetap mencintainya karena cintaku hanya untuk dia," tegas Melinda.
"Walau pun dia sudah punya seorang istri," ucap Gilang.
"Kenapa Kak Gilang dari tadi mengira dia sudah punya istri?"
"Karena aku baru saja menghubungi nomer orang yang bernama Hendri untuk memberitahunya kalau istrinya sedang melahirkan di rumah sakit. Namun dia tidak bisa dihubungin. Alasan Kakak mengira Hendri pria beristri karena foto profilnya sama dengan rupa Hendri yang baru saja menikah denganmu," jelas Gilang.
"Benarkah?"
"Iya benar Melinda," ucap Gilang dengan serius.
"Tidak! Aku tidak percaya," ucap Melinda.
"Kamu tidak percaya? Boleh aku membuktikannya," tantang Gilang.
"Tidak! Ini bukan urusan Kakak. Aku akan mengurusnya sendiri Kak," tegas Melinda.
"Sebelum terlambat cepat kamu selidiki siapa dia. Supaya kamu tidak menyesal." Gilang mengingatkan Melinda.
Gilang ingin membuktikannya pada Melinda, namun Melinda lebih suka ingin mengurusnya sendiri tanpa campur tangannya Gilang. Gilang tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Gilang hanya merasa kasihan dengan Arumi, kalau benar-benar itu Hendri suaminya yang diam-diam menikah di saat dia melahirkan anaknya.
"Kasihan sekali dengan wanita itu, dia harus melahirkan tanpa didampingi suaminya. Aku berharap Hendri yang jadi suami adikku bukan suami wanita itu, supaya dia tidak merasakan sakit hati dikhianati sang suami," gumam Gilang dalam hatinya saat mulai melangkah keluar dari kamar Melinda.
Di rumah sakit.
Arumi masih mengharapkan kedatangan suaminya. Hendri harus tau kabar gembira ini kalau anaknya lahir dengan selamat dan Arumi pun selamat. Arumi pun tergerak untuk menghubungi Hendri siapa tau tersambung.
Saat Arumi menghubungi nomernya Hendri. Masih sama seperti jawaban Gilang tadi, alias tidak tersambung.
__ADS_1
"Mas buka dong telfon kamu jangan dimatikan terus, kamu harus tau mas anak kita sudah lahir ke dunia ini," ucap Arumi sendiri di ruangannya.
Nenek Suryati saat ini sedang melihat cicitnya yang masih berada di ruangan baby.
Arumi mencoba menghubungi nomer Hendri lagi masih tidak terhubung juga. Lalu Arumi mengirim pesan pada Hendri untuk segera datang ke rumah sakit, untuk melihat anaknya yang sudah lahir ke dunia ini.
Harapan Arumi ingin Hendri cepat datang ke rumah sakit untuk melihat keadaannya dan bayinya.
Sementara Melinda masih didalam kamarnya. Melinda pikirannya tidak tenang setelah mendengar pernyataan kakaknya.
"Apa Hendri benar-benar sudah punya istri?" Pertanyaan itu selalu ada dalam pikiran Melinda saat ini. Itu yang membuat Melinda belum bisa leluar dari kamarnya.
"Aku harus membuktikannya dulu kalau Hendri benar-benar sudah punya istri. Ya aku harus membuktikannya sendiri tanpa ayah dan ibu tau," ucap Melinda.
Melinda berpikir keras memikirkan cara untuk menyelidiki Hendri. Dan akhirnya menemukannya.
Melinda keluar dari kamarnya dan akan kembali bergabung dengan Hendri suaminya yang masih di ruang depan.
Nampak Hendri asyik mengobrol dengan Pak Subroto dan Liliana.
Gilang menyaksikannya dengan hati kesal, karena dia yakin Hendri adalah orang yang sudah mengabaikan istrinya.
"Dasar laki-laki penghianat," batin kesal Gilang sembari menatap sinis wajah Hendri.
"Wah sekarang makin akrab deh karena udah jadi menantu Ayah," ucap Melinda yang ikut duduk bergabung dengan ayah dan ibunya.
"Tentu dong sayang. Sekarang Hendri sudah menjadi sebagian dari keluarga kita," ucap pak Broto.
Setelah mengobrol cukup lama, Melinda pamit mengajak Hendri untuk membersihkan diri dan istirahat bersamanya. Melinda ingin menjalankan misinya menyelidiki Hendri.
Hendri manut saja, dengan apa yang di perintahkan Melinda sekarang ini. Nampak Hendri dan Melinda berjalan mesra meninggalkan ruang tamu.
Sudah sampai di kamar, Melinda meminta Hendri untuk membersihkan diri dulu setelah itu baru istirahat.
Hendri menawarkan Melinda untuk ikut mandi bersamanya, namun dengan sigap Melinda menolaknya. Dengan alasan akan mandi setelah dirinya.
Hendri pun mulai masuk kedalam kamar mandi.
Melinda segera beraksi mencari keberadaan hand phone Hendri. Di carinya hand phone di saku jasnya dan ketemu.
Melinda segera membuka hand phone Hendri yang sedang dimatikan. Melinda menatap penuh curiga yang mendapati handphone Hendri dimatikan.
"Memang mencurigakan Hendri," ucap Melinda.
__ADS_1
Hand phone sudah menyala. Melinda sungguh sangat terkejut melihat beberapa riwayat panggilan yang tak terjawab. Lalu Melinda membukanya memastikan siapa yang memanggilnya. Tertulis di situ panggilan dari Arumi sayang.
"Arumi sayang?" Apa ini yang dimaksud kak Gilang tadi.
Melinda makin penasaran. Berlanjut dia membuka kotak pesan yang masuk.
Ada pesan dari Arumi yang bertuliskan: Hendri harus segera datang ke rumah sakit untuk melihat anaknya yang sudah lahir.
Melinda semakin terkejut membaca pesan yang menunjukkan Hendri benar-benar punya istri dan baru saja melahirkan anaknya.
"Jadi ini benar, Hendri sudah punya seorang istri."
Setelah memastikan semuanya, Melinda tak sabar menunggu Hendri selesai mandi.
Hendri sudah selesai membersihkan diri, dia pun keluar dari kamar mandi dengan handuk tersemat di pinggulnya.
Hendri keluar dengan telanjang dada, dan Melinda meyaksikannya.
Melinda yang begitu menggelora cintanya pada Hendri seakan tak bisa menahan gejolak cintanya saat melihat Hendri telanjang dada yang nampak seksi dan menggoda. Membuat Melinda lupa akan tujuannya tadi mempertanyakan tentang status Hendri.
Sudah sah menjadi istri Hendri, Melinda tidak bisa menahan gejolak bercintanya yang sudah ia tahan selama ini.
Dengan cekat Melinda membenamkan tubuhnya ke dada bidang Hendri.
"Kamu membuatku tergoda Hendri, kamu membuatku tidak tahan menahan gejolak hasratku," ucap Melinda yang mendekap erat dada Hendri.
"Lepaskan Melinda, aku baru selesai mandi, aku mau ganti baju." Hendri mencoba melepaskan dekapan Melinda yang menjeratnya.
"Tidak, kamu tidak usai memakai baju. Tetaplah seperti ini. Penuhilah hasratku, aku ingin kau melakukannya," pinta Melinda yang sudah tidak bisa menahan hasrat bercintanya.
"Tapi Meinda, ini masih siang belum malam."
"Aku tidak perduli, aku ingin melakukannya sekarang. Ayolah lakukanlah! Lakukanlah Hendri, aku sungguh tidak tahan."
Melinda tiada henti memaksa Hendri melakukannya.
Dan akhirnya Hendri pun menuruti hasrat gilanya Melinda.
Terjadilah perhelatan diatas ranjang yang membuat Melinda lupa akan tujuannya mempertanyakan tentang status Hendri yang sudah beristri dan punya seorang anak.
Para readers boleh mampir juga diceritaku yang lain yang baru tamat tentang kisah berbagi cinta
KETULUSAN CINTA ISTRI PERTAMA
__ADS_1