
Pak Subroto sungguh murka. Ia pun berdiri dari duduknya lalu mencoba melepaskan kakinya yang didekap Melinda sangat erat.
"Lepaskan Melinda. Tidak perlu kamu meminta maaf. Ayah tidak suka sikap kamu. Lebih baik kamu meninggalkan rumah ini saja. Sana pergi dengan suamimu yang berkhianat. Suami pilihanmu. Ayah muak dengan kamu. Ayah tidak ingin melihat muka kalian berdua di rumah ini lagi. Kalian sungguh memalukan," ucap Pak Broto lebih marah.
Melinda semakin mempererat dekapannya tidak mau melepaskannya.
"Tidak Ayah! Aku tidak mau meninggalkan
rumah ini. Ini rumahku. Ayah yang harus mengusir dia. Dia sengaja datang kesini untuk menghancurkan kebahagiaan kami." Tangan Melinda menunjuk kearah Arumi.
Arumi tercenang, kedua matanya melebar. Mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu tapi sudah disela Gilang.
"Melinda kamu jangan coba mengalihkan kesalahanmu. Sudah tau kamu dan Hendri yang bersalah. Malah menyalahkan Arumi. Kamu benar-benar keterlaluan," ucap Gilang tidak terima.
Sementara Liliana bingung merasakan ini. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sebagai ibu dia ingin membela putrinya. Namun sikap Melinda benar-benar keterlaluan. Sudah melukai hati Arumi malah tambah ingin menjatuhkan harga dirinya.
Melinda tidak patut dibela. Liliana memutuskan mengikuti keinginan suaminya ingin Melinda keluar dari rumahnya bersama Hendri suaminya. Melinda sudah melakukan kesalahan besar tidak perlu ia dilindungi. Biarlah dia merasakan jauh dari keluarga tak dianggap oleh keluarga, karena kesalahannya yang fatal.
"Melinda! Ibu juga tidak suka dengan sikap kamu. Ibu sama seperti Ayah kamu. Tidak ingin melihat kamu dirumah ini. Pergilah dengan suami pilihanmu yang kamu anggap terbaik itu," tegas Liliana.
"Ibu, Ibu tega mengusirku. Aku ini sedang hamil Bu Aku butuh dukungan kalian, mempertahankan kehamilanku," pekik Melinda.
"Itulah balasanmu. Kamu menyakiti hati Arumi saat melahirkan anaknya. Sekarang kamu juga akan merasakan pula. Sekarang cepat tinggalkan rumah ini," ucap Liliana lantang.
Melinda semakin menangis histeris.
Hendri sungguh malu semua kejelekannya terbongkar. Hendri menyerah tidak bisa membela dirinya dan Melinda. Akhirnya dia memutuskan akan keluar dari rumah ini.
"Ayolah Melinda, lebih baik kita pergi saja dari sini," ajak Hendri.
"Tidak! Aku tidak mau meninggalkan rumah ini. Ini rumahku. Aku tidak mau terusir hanya karena dia."
Lagi-lagi Melinda menunjuk kearah Arumi. Membuat Arumi semakin takut.
Gilang pun geram pada adik perempuannya yang sudah menjadi brutal karena cinta butanya. Nampak Gilang memicingkan matanya. Ingin rasanya Gilang menyeret Melinda adiknya bersama Hendri keluar dari rumahnya, namun dia mencoba meredam emosinya.
Melinda masih kukuh tidak mau meninggalkan rumahnya. Meski Hendri mengajaknya cepat keluar dari rumah ini. Alasan Melinda tidak ingin keluar dari rumah ini, dia takut ditinggalkan Hendri. Karena satu-satunya cara Hendri tidak meninggalkannya adalah dengan tinggal di rumah ini bersama orang tuanya.
__ADS_1
"Kita harus pergi Melinda. Kita masih punya harga diri." Hendri menarik bahu Melinda mengajaknya beranjak pergi.
Melinda membuang kasar tangan Hendri. Dan kembali mempererat dekapannya di kaki Ayahnya yang sudah kembali duduk di kursi.
"Kamu sungguh belum dewasa Melinda, kamu seperti anak kecil. Kamu harus bersedia nenerima hukuman karena kamu telah melakukan kesalahan besar. Cepat kamu keluar dari rumah ini," bentak pak Subroto sembari melepas paksa dekapan Melinda.
Melinda terhempas dengan perasaan kesal yang membuncah di hatinya. Ditambah Hendri yang menyeret tubuhnya yang akan membawanya keluar dari rumah ini.
"Ayo kita pergi Melinda," ucap Hendri.
"Tidak!" teriak Melinda.
"Tidak....! Aku tidak mau keluar dari rumah ini," teriak Melinda yang berjalan diseret Hendri, berpapasan dengan Mia yang baru sampai di ruang tamu.
Mia dan Salsa menyaksikan dengan jelas Melinda dipaksa berjalan oleh Hendri. Dengan posisi Melinda menangis dan berteriak histeris, membuat Mia mempertanyakannya.
"Ada apa ini?" tanya Mia.
"Ibu?" Hendri terkejut.
Semua bergeming, tidak menjawab pertanyaan Mia.
Rentetan pertanyaan Mia, tidak terjawabkan.
Mia menatap kesemua orang yang ada di ruang tamu yang tak menanggapi pertanyaannya. Lalu dia melihat dengan jelas ada sosok Arumi disitu.
"Kamu?" tangan Mia menunjuk kearah Arumi.
"Kamu kenapa ada disini?" tanya Mia dengan tatapan tajam.
Arumi hendak menjawab sudah disela Gilang.
"Dia disini karena aku yang membawanya kesini. Dia calon istriku,' jelas Gilang.
"Apa? Dia calon istrimu?" Mia mulutnya menganga seakan tidak percaya.
Mia tau betul, Gilang adalah anak pertama Pak Subroto yang sukses mendirikan banyak perusahaan.
__ADS_1
"Kamu akan menjadi istri Kakaknya Melinda. Punya tipu daya apa sampai kamu bisa mendapatkan orang kaya seperti Gilang. Dan kamu pasti yang membuat menantu saya menangis," cetus Mia.
Seketika hati Arumi bergemuruh rasanya sakit mendengar ucapan mantan mertuanya.
"Aku bukanlah putramu yang suka mengincar harta seseorang seperti dirimu. Menantumu seperti itu karena kesalahannya sendiri, yang tega menyakiti hati wanita sepertiku. Dan putra anda itu sungguh lelaki tidak punya hati, sama seperti anda yang sangat gila harta. Hingga rela menukar cintanya dengan harta," ucap Arumi dengan berani.
"Apa kamu bilang," Mia memicingkan matanya, tidak terima dengan keberanian Arumi yang sungguh membuatnya malu dihadapan besannya.
Hendri dan Melinda pun sama. Mereka tiada menduga Arumi berani memgatakan itu dihadapan kedua orang tuanya. Hendri dan Melinda semakin malu.
Gilang dan Salsa salut pada Arumi yang sudah berani mengatakan kebenaran itu.
Pak Subroto dan Liliana pun jadi tau Hendri dan ibunya sama-sama orang munafiq mementingkan egonya sendiri.
"Oh jadi anak sama ibu sama saja tidak berperasaan," ucap Liliana.
"Semakin jelas kalian berdua munafik, jahat," ucap Pak Subroto tertuju pada Mia dan Hendri.
"Sayang sekali kamu Melinda telah memilih orang yang salah. Ayah tidak suka dengan semua ini. Nikmatilah pilihanmu sendiri. Sekarang kamu cepat angkat kaki dari sini bersama suamimu," tegas pak Subroto.
Hendri sungguh sudah sangat malu. Dia ingin meninggalkan tempat ini. Hendri pun menyeret paksa tubuh Melinda yang enggan beranjak.
"Tidak Ayah. Tidak! Ayah jahat," teriak Melinda yang tidak dihiraukan.
"Kenapa mereka harus diusir. Mereka tidak salah. Mereka saling jatuh cinta, saling mencintai." Mia mencoba membela mereka.
Pak Subroto tidak memperdulikan ucapan Mia, karena muak dengannya yang sama jahatnya.
"Saya juga tidak suka melihat anda disini. Sekarang cepat keluar dari rumah saya," ucap pak subroto kasar.
"Bapak tidak boleh seperti itu pada mereka. Mereka juga anak Bapak Maafkanlah mereka Pak," ucap Mia masih memohon.
Pak Subroto tidak memperdulikan Mia. Dia memilih pergi meninggalkan ruang tamu.
"Semua gara-gara kamu Arumi," teriak Mia.
"Ibu! Kenapa menyalahkan Arumi. Semua ini salah Kak Hendri sendiri dan Ibu," tutur Salsa.
__ADS_1
Salsa sungguh merasa malu pada ibunya yang tidak tahu diri, yang tidak menyadari kesalahannya. Masih saja menyalahkan kakak iparnya yang jelas jadi korban. Salsa pun mengajak ibunya untuk keluar dari rumah pak Subroto.
Dengan perasaan kesal, Mia harus keluar dari rumah besar itu.