Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 41 Selamat


__ADS_3

Gilang melajukan mobilnya lebih kencang, karena desakan Arumi yang merintih kesakitan.


"Kamu tahan sebentar ya, kita sudah hampir sampai di rumah sakit," ucap Gilang sangat cemas melihat keadaan Arumi.


Gilang pria lajang yang belum pernah berurusan dengan seorang wanita karena saking sibuknya mengurus perusahaan ayahnya. Sekali berurusan malah dengan seorang wanita yang hamil dan mau melahirkan.


Gilang nampak gelisah dan khawatir dengan wanita yang ada di mobilnya, karena tiada henti merintih dan mengatakan seperti akan keluar bayinya.


"Tahan, tahan jangan keluar dulu bayinya. Kita harus sampai di rumah sakit dan ditangani dokter," ucap Gilang gugup sembari mengemudi.


"Saya sudah tidak tahan lagi," ucap Arumi.


"Ahhhh....," teriak Arumi.


"Tarik nafas dulu, tahan ya, tahan." Gilang mengajari Arumi.


Arumi pun mengikuti perintah Gilang. Dia jadi sedikit tenang.


"Sabar ya kita akan segera sampai," ucap Gilang.


Gilang melajukan mobilnya lebih kencang dan sampailah di rumah sakit.


Gilang langsung berlalu masuk kedalam rumah sakit dan meminta suster untuk membawa Seseorang di mobilnya yang mau melahirkan.


Para suster pun berlari dengan membawa ranjang dorong menjemput Arumi di dalam mobil. Lalu akan membawanya masuk ke ruang bersalin. Gilang pun ikut mengantar Arumi sampai di ruang bersalin.


Sebelum sampai di ruang bersalin, Arumi menyerahkan tasnya pada Gilang dan berpesan padanya untuk menghubungi nomer suaminya dengan hand phonenya ysng ada didalam tasnya


Gilang pun bersedia.


Sudah sampai di ruang bersalin, Arumi dibawa masuk.


Seorang suster menyuruh Gilang untuk meunggunya diluar.


"Bapak tunggu di sini saja, nanti akan kami kabari setelah putra anda lahir," ucap suster itu dan berlalu masuk ke ruang bersalin.


Gilang hanya terpaku mendengar ucapan suster itu yang mengira Gilang adalah suaminya wanita yang mau melahirkan itu.


"Aku kan sudah ditunggu sama keluargaku di rumah. Mana bisa aku menunggu," batin Gilang.


Gilang pun bergegas mengambil hand phone didalam tas Arumi.


Seperti pesan Arumi tadi Gilang harus menghubungi nomer suaminya.


Sembari duduk di kursi tunggu Gilang mulai membuka hand phone milik Arumi. Netranya terfokus pada foto walpaper Arumi yang nampak cantik dan manis dengan paras hijabnya yang tersenyum nampak lesung pipinya. Membuat hati Gilang sedikit bergetar.

__ADS_1


"Cantik sekali wanita ini. Hingga membuat hatiku bergetar."


"Akh! Dia sudah ada yang punya. Aku tadi tidak sempat melihat wajahnya," ucap Gilang.


Gilang mulai membuka kontak dan akan mencari nama suaminya Arumi.


"Mana aku tahu nama suaminya?" Tanya Gilang yang belum menemukan kontak suami Arumi.


Setelah menyecrol berulang-ulang akhirnya Gilang menemukan juga kontak yang bertulisakan "Mas Hendri my husband" dengan foto profilnya Hendri.


"Apa ini nomernya."


Gilang pun langsung mencoba menghubungi nomer Hendri dengan hand phone Arumi.


Saat dihubungi nomer Hendri tidak aktif.


"Kok nggak aktif sih," ucap Gilang.


Gilang mencoba menghubungi lagi, dan masih sama tidak aktif juga.


"Bener nggak sih ini nomer suaminya. Kalau iya kenapa susah dihubungin," keluh Gilwang.


Hendri memang sengaja mematikan hand phonenya karena dia tidak mau diganggu siapa pun, dan tidak mau ada yang boleh tau soal pernikahannya termasuk Arumi dan keluarganya Hendri.


"Dilihat dari chatnya, sepertinya ini benar nomer suaminya," ucap Gilang.


Sementara di rumah Melinda semuanya sudah nampak siap menjalankan acara. Melinda sudah duduk sejajar dengan Hendri yang siap diijabkan. Liliana dan pak Subroto juga sudah ikut duduk berkumpul dengan mereka.


Namun nampak gelisah diraut wajah Liliana dan pak Subroto yang menantikan kedatangan Gilang putranya yamg harus segera hadir disini menyaksikan pernikahan adiknya.


"Kemana Kak Gilang Bu, kok nggak datang-datang," keluh Melinda.


"Tadi bilangnya sudah mau sampai saat Ibu telfon," ucap Liliana.


"Coba telfon lagi Bu," pinta Melinda yang sudah tidak sabar ingin pernikahannya segera dimulai.


"Baiklah Ibu akan menghubunginya."


Liliana mulai menghubungi nomer Gilang.


Saat Gilang serius menghubungi nomer Hendri lagi, dia dikagetkan dengan suara dering hand phonenya sendiri.


Gilang beralih mengangkat telfon dari ibunya.


"Assalamualaikum..," ucap Gilang dengan santai.

__ADS_1


"Waalaikum salam. Gilang! Kamu kemana aja kok belum sampai sini. Acara sudah mau dimulai," ucap Liliana.


"Ehm..., maaf Bu aku belum bisa datang masih ada urusan mendadak. Ibu tunggu sebentar aku akan menyelesaiksn urusanku dulu," ucap Gilang.


"Cepat selesaikan ya Gilang, kami semua menunggu kedatanganmu," ucap Liliana.


Liliana memberitahu pada semua kalau Gilang ada urusan mendesak yang harus diselesaikan. Melinda mengeluh mendengarnya dan meminta pernikahanya untuk segera dilaksanakan saja tanpa kehadiran kakaknya.


Pak Subroto membantah dan mengatakan pernikahan tidak boleh terlaksana tanpa kehadiran putra pertamanya.


Melinda mendengus kesal mendengar pernyataan Ayahnya. Sama dengan Hendri yang tak sabar ingin pernikahannya terjadi malah harus menunggu.


Sementara Gilang pusing mencari cara untuk memberitahu suaminya Arumi. Sudah dikirimin pesan masih saja centang satu belum terkirim.


"Ni orang sibuk apa, sampek hand phone dimatiin segala. Sudah tau istrinya hamil tua nggak waspada," gerutu Gilang.


Gilang akan mencoba menghubungi nomer kontak yang sering dihubungi Arumi. Untuk memberitahu tentang keadaan Arumi sekarang yang mau melahirkan dan berada di rumah sakit. Di situ terdapat kontak bertuliskan "Neneku tersayang"


Gilang langsung menghubunginya. Dan sekali tekan langsung tersambung.


Gilang langsung mengatakan kalau cucunya sekarang sedang berada di rumah sakit mau melahirkan. Dan dia yang sudah membawanya ke rumah sakit. Gilang meminta nenek Suryati untuk cepat datang menggantikannya karena dia masih ada urusan.


Nenek Suryati pun bergegas ke alamat rumah sakit yang sudah diberikan pada Gilang.


Gilang belum bisa meninggalkan rumah sakit sebelum Nenek Arumi datang kesini. Jadi Gilang masih menunggu di luar ruang bersalin.


Seorang suster mendekati Gilang yang tengah duduk di kursi tunggu. Suster itu mengucapkan kata selamat padanya.


"Selamat Pak, putra anda lahir dengan selamat tanpa operasi," ucap suster itu.


Gilang mulutnya melongo mendengar ucapan suster itu.


Tak ditanggapi oleh Gilang, suster itu kembali memberi selamat pada Gilang. Dan Gilang mengangguk-ngangguk saja.


Suster itu pun menyuruh Gilang untuk melihat keadaan istrinya. Gilang pun kembali mengangguk tanpa berkata sepatah pun.


Nenek suryati senang sekali mendengar Arumi mau melahirkan. Tapi dia juga merasa khawatir karena Hendri suaminya tak ada disampingnya.


"Ya Allah selamatkan cucuku dan beri kelancaran dalam melahirkan ya Allah." Doa nenek Suryati sepanjang perjalanannya menuju rumah sakit.


Setelah beberapa menit Nenek Suryati sampai di rumah sakit. Nenek Suryati segera masuk kedalam rumah sakit dan menuju ruang persalinan.


Sebelum sampai di ruang persalinan nenek Suryati menghubungi nomer Arumi dan menanyakan di sebelah mana tempatnya pada seorang lelaki yang sudah mengantar Arumi kesini.


Gilang menunjukkan arah menuju ruang bersalin pada nenek Suryati dan menyuruhnya untuk tidak menutup telfonnya. Dengan begitu Gilang bisa memastikannya kalau orang yang datang sembari bicara di telfon adalah nenek Arumi.

__ADS_1


__ADS_2