
Arumi tak berkata sejujurnya tentang nasibnya tinggal di rumah mertua. Arumi malah mengatakan yang sebaliknya pada Nenek Suryati kalau dia diterima dengan baik oleh Ibunya Hendri padahal tidak seperti itu kenyataannya. Hampir setiap hari Arumi selalau mendapat omelannya hanya karena urusan pekerjaan rumah tangga.
Sebenarnya Arumi sangat lelah dengan sikap mertuanya. Tapi dia tidak berani mengatakan pada neneknya sendiri, yang sudah sangat senang Arumi bisa tinggal di rumah mertuanya tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya meski seperti neraka.
Selama Hendri masih mencintai dan menyayanginya Arumi akan tetap bertahan tinggal disana sampai impiannya bersama suaminya tercapai yaitu mempunyai rumah impian sendiri.
Nenek Suryati sangat senang mendengar pernyataan Arumi kalau dia sudah diterima orang tuanya Hendri, sebagai menantunya. Nenek pun mengatakan pada Arumi untuk segera meresmikan pernikahannya secara hukum supaya menjadi ikatan yang syah di mata semuanya.
Keinginan nenek Suryati sama dengan Arumi. Tapi Arumi belum berani berduskusi dengan Hendri suaminya. Tapi Arumi perlahan akan berunding dengan suaminya untuk mengesahkan pernikahannya secara hukum dan merayakanya toh sudah ada benih cinta mereka dalam perut Arumi. Untuk apa disembunyikan lagi.
Sementara Arumi bercengkerama dengan neneknya melepas rasa rindu satu bulan tak saling bertukar cerita. Nampak mereka berdua tersenyum renyah kala mengobrol bersama.
Sedangkan Hendri dan Salsa dibuat susah karena ulah Ibunya. Yang kini telah belanja dengan jumlah yang tiada Hendri kira. Mia belanja bulanan dua kali lipat dari biasanya. Dengan alasan sebagai ganti belanja bulan kemarin yang tak diberikan Hendri.
Hendri dibuat geleng kepala setelah membayar biaya belanjaan di kasir. Hendri nampak dengan muka kusut dan melas. Gimana nggak, gajinya bulan ini hampir ludes di belanjain sama ibunya. Beginilah kalau punya ibu yang matrealistis. Berulang-ulang Hendri mengeluh dengan sikap ibunya yang tiada belas kasihan sama anak sendiri.
Salsa nampak kelelahan membawa barang belanjaannya keluar, meski sudah dibantu sama Hendri. Bolak-balik Salsa membawa keluar belanjaannya dari market. Karena saking banyaknya barang yang di beli sama Ibunya. Sementara Mia sibuk memesan taksi on line yang akan ditumpanginya dan juga barang belanjaannya sampek ke rumah.
"Bu kenapa belanjanya banyak banget sih, udah tau nggak punya mobil sendiri. Terus kita bawa pulangnya pakek apa. Aku nggak mau ya nentengin terus capek," keluh Salsa sembari nafasnya ngos-ngosan bolak-balik ngeluarin barang dari market.
"Tenang aja ibu sudah pesan taksi. Nggak usah khawatir kan ada kak Hendri yang bakalan bayarin semua."
"Ibu sungguh keterlaluan, uang gajiku hampir habis buat belanjaan ibu. Sekarang malah pesan taksi lagi. Untuk biaya taksi ibu yang bayar. Hendri nggak mau," timpal Hendri.
Hendri mulai nggak terima. Hendri menunjukkan kemarahannya.
"He...., enak aja. Ini bagian dari hukuman kamu ya. Siapa suruh ninggalin ibu selama satu bulan demi gadis miskin itu. Coba kalau kamu menikah dengan gadis yang lebih kaya. Pasti kamu nggak akan mengeluh soal uang dan nggak bakalan pelit sama Ibu."
__ADS_1
"Ibu mulai lagi deh, ntar kalau kak Hendri pergi lagi kapok lo ya," tutur Salsa.
"Kamu malah nakut-nakutin ibu. Belain Kakak mu terus. Udah jelas Kakak mu tu salah langkah menikah dengan arumi. Mana sudah hamil lagi. Kalau bukan karena Arumi sudah hamil, ibu ogah menerima Arumi."
"Ibu sungguh jahat sama Hendri. Ibu keterlaluan. Ibu masih menyimpan dendam."
Hendri merasa sakit hati lagi pada ibunya. Hendri pun meninggalkan ibunya dan Salsa dengan banyak barang belajaannya begitu saja. Meski Ibunya berteriak mrmanggilnya untuk kembali Hendri tak menggubrisnya. Kutukan Mia mulai lagi terucap dari mulutnya untuk anaknya sendiri.
Tiada henti Mia mengomel, membuat Salsa yang bersamanya kupingnya terasa panas mendengar setiap cacian pedas untuk kakaknya bahkan Arumi pun yang nggak ada hubungannya ikut di cacinya. Beruntung mereka tak mendengarnya.
Sudah di dalam taksi, Mia masih saja mengomel dengan ketidak terimanya yang harus mengeluarkan uang untuk biaya taksi online yang di pesannya. Tidak hanya melampiaskan kemarahannya pada Hendri. Mia juga melampiaskan pada Arumi.
Saat menghubungi Arumi, dia pun membentak-bentak Arumi supaya cepat pulang ke rumah karena ada pekerjaan untuknya. Usai mendapat telfon dari mertuanya Arumi pun pamit sama nenek.
Nenek Suryati sebenarnya masih ingin bersama Arumi, tapi apalah daya Arumi harus pulang karena permintaan mertuanya. Nenek pun memgizinkan Arumi pulang dari pada membuat kecewa mertuanya yang sudah mau menerima Arumi menjadi menantunya.
"Itu harus sayang, jangan buat nenek terlalu merindumu. Sempatkan lah datang ke sini."
Arumi pun memeluk neneknya yang seakan tak rela di tinggal pergi Arumi.
"Udah nek, Arumi pergi dulu ya," Arumi melepaskan pelukan neneknya.
"Jangan lupa kalau ke sini lagi ajak Hendri suamimu. Nenek ingin bicara sama dia. Dan ingat pesan nenek segera resmikan pernikahanmu."
"Iya nek."
Arumi berlalu meninggalkan rumah neneknya. Cepat-cepat Arumi menghubungi ojek on line yang akan ditumpanginya yang bisa membawanya cepat sampek ke rumah. Arumi harus cepat sampek rumah seperti pesan mertuanya tadi.
__ADS_1
Arumi sudah samoek di rumah denganojek onlinenya. Bersamaan dengan Mia dan Salsa yang baru turun dati taksi. Mia tau Arumi sudah datang, dia menyuruhnya mendekat kearah taksi yang berhenti tepat didepan gerbang rumahnya.
"Cepat kamu angkatin barang ini dan bawa masuk rumah," perintah Mia sembari membentak-bentak Arumi. Kemarahannya pada Hendri masih terbawa sampek di rumah. Arumi yang tak mengerti apa-apa ikut merasakan dampaknya.
"Banyak banget belanjaannya," keluh Arumi saat melihat didalam taksi penuh dengan barang belanjaan.
"Nggak usah ngeluh, itu untuk kebutuhan kita semua. Cepat ambil dan bawa masuk ke dalam rumah," bentaknya lagi.
"Baik bu," ucap Arumi sembari menganggukan kepala.
"Sini biar aku bantu Kak," cetus Salsa.
"Nggak usah kamu bantuin, katamu kamu sudah capek tadi. Cepat masuk rumah," pekik Mia.
"Nggak papa bu, aku mau bantu kak Arumi."
"Nggak boleh, biarin aja dikerjain sendiri ini adalah hukumannya karena sudah berani menjadi menantu di rumah ini."
Salsa hanya bisa manut dengan perintah ubunya yang marahnya meledak-ledak. Salsa hanya bisa menatap kakak iparnya penuh belas kasihan.
"Aku harus kuat menghadapi semua ini. Ini adalah ujian menuju kebahagiaan. Aku harus kuat dan bertahan," batin Arumi. Nampak di pelupuk matanya tersimpan kristal bening yang hampir jatuh namun berhasil ia kendalikan.
Dengan penuh semangat dan tak begitu menghiraukan rasa sakit hatinya Arumi mulai membawa barang belanjaan masuk ke dalam rumah. Beruntung Hendri sudah datang. Hendri pun membantu Arumi. Senyum pun terpancar lagi dari wajah Arumi yang sempat teredam karena omelan mertuanya tadi. Melihat suami tercintanya masih berada di pihaknya.
__ADS_1