
Gilang akan mencari rumah untuk Arumi, dia meminta Jodi orang kepercayaannya untuk membantunya mencari rumah yang cocok seperti keinginan Arumi.
Gilang dan Jodi tidak masuk kantor hari ini, karena ada urusan yang lebih penting dari masuk kantor. Gilang akan berkeliling mencari rumah yang bagus yang dijual.
Setiap melihat poster rumah dijual, Gilang langsung meninjau rumah itu tanpa memperdulikan harganya mahal atau tidak. Namun begitu banyak rumah yang bagus dan mewah, tak satu pun nyangkut di hati Gilang.
Sudah survei beberapa rumah, tidak membuat hati gilang mantap membelinya untuk orang yang sangat dicintainya.
Jodi hanya bisa geleng kepala saat Gilang mengeluarkan ekspresi datarnya saat melihat rumah. Pertanda dia tidak menyukainya.
"Kita harus mencari kemana lagi? Sudah ada sepuluh rumah yang kamu survei, tapi tak ada yang cocok di hatimu. Kamu mau cari rumah yang seperti apa sih?" tanya Jodi yang dianggap Gilang sebagai teman dekatnya saat tak lagi di kantor. Jodi sedikit kelu hatinya merasakan sikap Gilang bosnya.
"Hemmm. Aku harus mencari rumah yang sesuai keinginanku dan keinginan Arumi. Karena rumah itu bukan hanya rumah impian Arumi saja, tapi juga rumah impianku," gumam Gilang tanpa ia sadari.
"Apa? Rumah impianmu juga. Emang Arumi itu siapa kamu? Dia calon istrimu?" rentetan pertanyaan Jodi.
Gilang jadi gugup mendengar pertanyaan Jodi.
"Iya dia calon istriku, tapi hanya dalam anganku. Karena dia sangat susah didapatkan," ucap Gilang.
"Bisa jatuh cinta juga kamu bos. Aku kira kamu anti sama perempuan," cetus Jodi.
"Aku bukan anti sama perempuan. Hanya saja dulu belum ada wanita yang membuatku memikirkannya. Namun saat bertemu dengan Arumi, aku jadi selalu memikirkannya dan peduli padanya."
"Wah! Diam-diam bos Gilang sudah jatuh cinta ya sama dia," ucap Gilang dengan senyum mengejek.
"Benar ucapanmu. Aku memang tengah jatuh cinta sama Arumi. Tapi cintaku tak berbalas. Dia belum bisa membuka hatinya untuk pria seperti diriku."
"Dia wanita seperti apa, sampai tidak membalas cintamu. Apa dia tidak tahu siapa dirimu?"
"Itulah yang membuatku terkesan sama Arumi, dia wanita yang berbeda. Tidak perduli aku lelaki kaya atau tidak. Dia wanita yang baik. Hanya dia yang bisa menggetarkan hatiku dari sekian banyak wanita yang aku temui."
"Aku jadi senang , akhirnya bos bisa jatuh cinta juga. Semoga orang yang kamu cintai bisa menerima cintamu dan akan menjadi pendamping hidupmu. Hanya itu yang bisa aku katakan, untuk bosku tersayang," ucap Jodi.
"Terima kasih doanya," balas Gilang.
Sama dengan Arumi yang meminta Dewi untuk menemaninya mencari rumah yang seperti keinginannya.
__ADS_1
Sudah beberapa rumah yang dijual ia kunjungi bersama Dewi, namun tidak ada yang cocok di hatinya. Tidak ada rumah seperti yang diinginkannya.
Dewi juga merasa kesal pada Arumi. Dia sudah mengatakan rumah itu bagus dan besar mempunyai halaman yang luas yang nantinya bisa dibangun untuk tempat usaha kuenya, Arumi masih bilang rumah itu tidak sesuai keinginannya.
Hari sudah sore, belum juga dapat rumah yang cocok. Akhirnya Gilang dan Jodi memilih akan pulang saja, dan melanjutkannya besok.
Di dalam mobil, Jodi mengeluh besok akan mencari rumah kemana lagi, karena hampir rumah yang dijual di kota ini sudah Gilang survei. Sedangkan Arumi menginginkan rumah yang lokasinya di kota ini.
"Besok pasti kita menemukan rumah untuk Arumi." Gilang meyakinkan Jodi.
Dewi dan Arumi juga akan pulang setelah seharian mencari rumah namun tak ada yang cocok di hati Arumi.
Mereka sudah berada didalam mobil. Dewi duduk di kursi kemudi. Sedangkan Arumi duduk di kursi belakang seperti biasanya. Arumi emang gemar duduk dibelakang kemudi.
Dalam perjalanan pulang Arumi masih saja mengamati rumah yang bagus yang berjajar di pinggiran jalan yang dilewatinya dari jendela mobil yang terbuka sedikit kacanya.
Ada sebuah rumah yang dalam pandangan Arumi rumah itu sangat bagus. Rumah itu berlantai dua dan cukup besar dan halamannya juga luas, bangunannya modern. Rumah itu seperti yang Arumi inginkan. Arumi terkagum-kagum dengan rumah itu. Namun rumah itu tak ada lebelnya di jual.
"Tunggu! Tunggu sebentar Dewi. Kita harus turun disini," ucap Arumi tergesa-gesa membuat Dewi jadi gugup.
"Ada apa Arumi? Kenapa kita harus turun disini?" tanya Dewi penuh rasa penasaran yang belum menepikan mobilnya.
"Baiklah!"
Dewi mulai menepikan mobil kelewat sedikit dari rumah yang ingin dilihat oleh Arumi.
"Aku turun sebentar ya," ucap Arumi.
"Silahkan!" balas Dewi.
Arumi pun turun dari mobil dia ingin mengamati lebih jelas rumah yang menurutnya seperti rumah impiannya.
"Mau ngapain Arumi turun disini?" gumam Dewi sembari mengawasi Arumi menuju kesebuah rumah.
"Loh, itu kan rumahnya Gilang. Ngapain Arumi kesana. Apa dia...." Tiba-tiba Dewi sangat khawatir dan takut.
Dewi pun beranjak keluar dari mobilnya dan segera menyusul Arumi.
__ADS_1
Rumah yang sangat dikagumi Arumi adalah rumah Gilang. Dewi sungguh khawatir dan takut. Mengira Arumi sudah tau orang yang selama ini diam-diam melancarkan bisnis kuenya adalah Gilang.
Dewi berlari mengejar Arumi yang berjalan pelan.
"Arumi, tunggu!"
Ucapan Dewi tak terdengar di telinga Arumi yang sudah sampai di pintu gerbang rumah Gilang.
"Arumi! Kamu tidak dengar aku panggil," ucap Dewi dengan nafas ngos-ngosan.
"Enggak. Kamu kenapa ngos-ngosan gitu?" tanya Arumi keheranan.
"Aku nggak kenapa-napa. Ngapain kamu disini? Ayo balik sudah sore," ajak Dewi mencoba mengalihkan.
"Tunggu sebentar Dewi. Aku hanya ingin melihat rumah ini lebih jelas. Rumah ini sangat bagus. Rumah inilah yang sangat aku inginkan. Tapi aku lihat tidak ada lebelnya kalau rumah ini akan dijual. Sayang sekali ya. Padahal aku ingin rumah seperti ini."
"Oh! Jadi Arumi cuman ingin melihat rumah ini. Aku kira dia tau kalau ini rumahnya Gilang. Orang yang sudah berjuang keras untuk mensukseskan usaha kuenya," batin Dewi merasa lega.
"Jadi kamu ingin rumah seperti ini. Pantas saja kita tidak menemukannya tadi. Rumah ini sangat bagus dan juga besar. Pasti ini rumah orang kaya dan tampan seperti rumahnya yang bagus dan rapi," celetuk Dewi.
"Kamu tau siapa pemilik rumah ini?" tanya Arumi dengan serius.
"Eeeenggak! Aku nggak kenal sama pemiliknya. Aku hanya mengira saja pasti pemiliknya orang yang sangat tampan," Dewi berbohong.
"Huh! Sayang sekali ya rumah ini tidak dijual. Andai saja dijual pasti aku akan membelinya berapa pun harganya," ucap Arumi sedikit menyayangkan.
Arumi masih terpaku menatap rumah yang sangat diimpikannya itu.
"Ehm.., ehm!" Dewi ingin membuyarkan keterpakuan Arumi.
"Ini sudah sore Arumi. Ayo kita pulang," ajak Dewi.
"Baiklah!"
Dengan berat hati Arumi meninggalkan rumah yang sangat ia kagumi yaitu rumah Gilang.
Sambil nunggu up baca juga ceritaku yang lain.
__ADS_1