Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 28 Mendapat Gaji


__ADS_3

Tak terasa kinerja Hendri sudah mencapai satu bulan. Saatnya para pegawai menerima gaji termasuk juga Hendri yang hari ini akan menerima gaji pertamanya saat menjadi asisten Direktur barunya. 


 


Jantung Hendri jadi dag, dig, dug saat mulai melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Melinda. Hendri akan mendapatkan gaji pertamanya yang akan diberikan Melinda  secara langsung pada Hendri.


 


Untuk menenangkan hatinya yang bergejolak hebat, Hendri berdoa kepada tuhannya, semoga hasil kerja kerasnya selama satu bulan ini mendapatkan imbalan yang setimpal dan untuk ke depannya gajinya semakin melambung tinggi.


 


"Kenapa kamu terlihat gugup? Ayo Silahkan duduk dulu," ucap Melinda yang sudah duduk di kursi kerjanya sedari tadi saat melihat Hendri dengan wajah gusarnya.


 


"Baiik Bu!" Hendri segera duduk.


 


Hendri nampak meremas kedua tangannya saat duduk berhadapan dengan Melinda. Hendri sangat gugup saat ini dan juga nggak sabar ingin segera mendapatkan gaji pertamanya, dan pasti ingin mengetahui jumlahnya.


 


"Kelihatannya kamu udah nggak sabar ya, pingin dapat gaji pertamamu."


 


"Iya bu!" Jawab Hendri jujur.


 


"Ni uang yang aku ambil dari bank tadi. Aku sengaja nggak kirim ke rekening kamu. Ya supaya kamu bisa langsung melihatnya."


 


Hendri dengan sigap tangannya menerima uang gajinya yang dibungkus kertas coklat. Hendri menunjukan senyumnya dan mengucapkan kata terima kasih. Sembari mengangguk-ngangguk. 


 


"Silahkan buka, aku mau tau reaksimu saat mendapat gaji pertamamu dariku," pinta Melinda.


 


"Aku jadi malu. Baklah karena ini perintah, aku siap melaksanakannya. Siap bos." Tangan Hendri memberi hormat pada Melinda pertanda menyanggupi perintahnya.


 


Tingkah Hendri membuat Melinda tertawa terpingkal-pingkal.


 


"Hen, Hen, kamu tu lucu, ganteng, imut. Hih, bikin gemes," ucap Melinda dengan reaksi gemesnya.


 


"Terima kasih bu, atas pujiannya. Sekarang aku buka ya..."


 


Hendri segera membuka uang yang ada di dalam kertas coklat. Hendri nampak ternganga. Saat melihat semua uangnya yang berjumlah sepuluh juta. Hendri tiada menyangka mendapat gaji dua kali lipat dari gajinya sebelumnya.


 


"Ini benar gajiku bulan ini bu!!" Hendri dengan ekspresi ternganganya.


 


"Iya, apa masih kurang banyak?" 


 


"Ini cukup banyak bu, ini gajiku dua bulan, tapi sekarang menjadi satu bulan. Terima kasih bu, terima kasih."


 

__ADS_1


Kedua tangan Hendri reflek meraih tangan Melinda dan menggenggamnya sangat erat. Membuat Melinda melebarkan kedua netranya, jantungnya sibuk berdegup kencang.


 


"Ada apa denganku kenapa jantungku jadi berdegup kencang seperti ini saat di sentuh Hendri, rasa apa ini," batin Melinda.


 


Saking senengnya Hendri tak menyadari memegang tangan Melinda sangat lama. Melinda merasa nggak enak dia memberi isyarat pada Hendri untuk melepaskan tangannya.


 


"Maaf aku lancang, sudah memegang tangan Ibu. Maafkan aku bu...," ucap Hendri sedikit takut.


 


"Nggak papa kok, mungkin karena kamu saking senengnya, mendapat gaji pertamamu. Kamu masih bisa naik gaji lagi kalau kamu bekerja dengan keras bisa membuatku berhasil mengelola perusahaan ini dan membuat perusahaan semakin maju dan berkembang."


 


"Iya bu, saya berjanji akan bekerja lebih keras demi perusahaan ini dan menuruti semua perintah Ibu."


****


 


Di hari yang sudah malam, Hendri tak sabar ingin cepat sampai rumah setelah tadi mengantar Melinda pulang ke rumahnya. Hendri tidak sabar ingin segera sampai di rumah dan ingin memperlihatkan pada Arumi kalau mendapat gaji yang besar.


 


Hendri melajukan mobilnya dengan cepat supaya cepat sampai di rumah. Dan hanya beberapa menit saja Mobil Hendri sudah masuk garasi rumahnya.


 


Hendri berlari masuk ke rumah dan berteriak memanggil nama Arumi.


 


"Arumi...., mas Hendri datang....," teriak Hendri.


 


 


"Ada apa sih Hen, kok teriak-teriak gitu manggil istrimu di rumah ini? Kenapa kamu nggak memanggil ibu yang punya rumah ini?"


 


Hendri belum menjawab pertanyaan ibunya Arumi sudah datang dan bertanya juga.


 


"Ada apa mas, teriak memanggilku?" Tanya Arumi.


 


Sedangkan Mia memalingkan wajahnya, tak suka melihat Arumi datang yang memang di panggil suaminya.


 


"Kamu harus tau Arumi, hari ini nas mendapat gaji yang besar dua kali lipat dari biasanya."


 


"Benarkah mas?" 


 


"Iya."


 


"Syukurlah, terima kasih ya Allah," ucap Arumi sangat bersyukur dan kegirangan hingga memeluk suaminya di hadapan mertuanya.


 

__ADS_1


Mia makin cemburu sudah di kesampingkan Hendri.


 


"Hendri kamu lupa di sini ada ibu. Kenapa kamu tidak memberitahu ibu dulu, yang patut kamu hormati, malah ngasih tau istrimu dulu. Aku ini ibumu lo yang sudah membesarkanmu," teriak Mia merasa nggak terima di kesampingkan.


 


Hendri melepaskan pelukan Arumi.


 


"Maaf bu, maaf. Aku saking senengnya lupa sana ibu," ucap Hendri.


 


"Kamu sudah merebut hati anakku Arumi. Hingga membuatnya melupakan kalau aku ibunya."


 


"Nggak nu, aku nggak merebut hati mas Hendri dari ibu. Mas Hendri tetap anak ibu kok."


 


"Bisa aja kamu nyangkal."


 


Hendri menyudahi perseteruan Arumi dan ibunya. Hendri menunjukkan uang gajinya pada Arumi dan juga Mia.  Mia ternganga saat mengetahui jumlah gaji Hendri bulan ini yang cukup besar. Begitu juga dengan Arumi sangat terkejut saat tau jumlah gaji suaminya yang begitu besar, tiga kali liat dari gajinya.


 


"Ini uang beneran kan Hen. Ini benar gaji kamu?"


 


"Iya bu, ini gajiku bulan ini. Direkturku yang baru, menepati janjinya. Dia memberi gaji melebihi gajiku bulan lalu. Aku senang sekali."


 


"Kamu nggak bohong kan?"


 


"Nggak bu, aku nggak bohong." 


 


"Kamu memang anakku yang hebat Hen, ibu bangga sama kamu. Teruslah membuat ibu bangga jangan membohongi ibu lagi seperti kemarin."


 


"Iya bu, aku ini anak ibu yang jujur."


 


****


 


Semenjak itu Hendri semakin giat dalam bekerja, apa lagi Melinda menjanjikan pada Hendri akan menaikan gajinya lagi.


 


Seiring waktu berjalan gaji Hendri semakin bertambah setiap bulannya begitu juga denfan pekerjaannya yang membuatnya semakin sibuk. Arumi bisa memgerti dan memaklumi pekerjaan suaminya karena mendapat gaji yang besar pasti tak punya banyak waktu luang untuknya. Bahkan di hari liburnya Hendri sering masuk kerja atas permintaan Direkturnya.


 


Seperti saat memeriksakan kandungannya Arumi selalu di temani nenek Suryati ke rumah sakit. Meski tinggal dengan mertuanya, Mia tiada ingn mengantar Arumi periksa ke dokter yang jelas Hendri tak bisa menemaninya. Itu karena Mia nggak suka dengan Arumi yang sering di sebut perebut anaknya.


 


Jadi Arumi sering meminta nenek Suryati untuk menemaninya. Bu dokter sering menanyakan suami Arumi yang tak pernah menemaninya saat periksa. Arumi selalu mempunyai jawaban yang tepat untuk bu Dokter tentang suaminya yang memang selalu sibuk bekerja tak bisa menemaninya.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2