Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 65 Menyesal


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu sejak Arumi pindah dari rumah Hendri. Arumi kembali beraktifitas seperti biasa yakni membuat kue bersama nenek, dan menemani Arsya di rumah bergantian dengan nenek. Hanya itu yang bisa Arumi lakukan.


Menunggu panggilan kerja dari butik tempat dulu Arumi bekerja juga tak kunjung di panggil. Jadi Arumi tekuni saja membuat kue. Walau pun hasilnya tak seberapa karena belum banyak pelanggan masih lumayanlah hasilnya buat memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Arumi sudah benar-benar move on dari Hendri. Tak sedikit pun tersemat dibenaknya memikirkan Hendri. Bagi Arumi orang macam Hendri tidak perlu diingat, hanya akan menjadi luka berkepanjangan.


Tidak dengan Hendri yang semakin hari semakin merindukan Arumi. Hendri juga merindukan putranya Arsya. Hendri menyesal telah menceraikan Arumi.


"Semua karena aku masuk jebakan Melinda. Aku sungguh bodoh. Kini hidupku terasa hampa meski aku berlimpah harta. Tidak seperti bersama Arumi meski dulu hidup susah, setiap hari mendengar omelan ibu, hidupku bahagia. Kini hidupku hanya dalam kegelisahan karena menyakiti hati orang yang sangat aku cintai," suara hati Hendri.


Hendri menyadari dirinya merasa bersalah. Hendri akan kembali minta maaf sama Arumi. Kemarin Arumi sangat marah dan tidak terima. Hatinya tidak tenang sebelum Arumi memaafkannya.


Hendri akan mengunjungi Arumi di rumah yang sudah dibelinya untuk Arumi, yang Hendri kira Arumi masih tinggal disitu.


Melinda sudah memperingatkan Hendri untuk tidak berurusan lagi dengan mantan istrinya. Bila itu terjadi rumah yang sudah dibeli Hendri dengan uangnya akan ia ambil. Diam-diam Hendri nekat kesana tanpa sepengetahuan Melinda.


Sebelum sampai di rumah Arumi, Hendri mampir kesebuah toko mainan. Hendri akan membeli beberapa mainan untuk diberikan pada Arsya sebagai oleh-oleh. Hendri merasa Arsya tetaplah anaknya dia masih punya hak untuknya sebagai Ayah biologisnya.


Hendri sudah sampai di rumah Arumi yang tertutup pintu pagarnya.


Hendri sudah berdiri didepan pintu pagar. Dia mengulas senyum sembari menatap mainan yang ditenteng di tangannya.


"Arsya pasti senang mendapat mainan yang lucu dari Ayahnya," batin Hendri.


Hendri hendak masuk kedalam. Hendri mendapati pintu pagar terkunci.


"Kok dikunci dari luar pintu pagarnya," ucap Hendri terkejut.


Hendri memgetuk-etuk pintu pagar, lalu mengucap salam dengan keras.


Tak ada jawaban dari dalam rumah yang pintunya tertutup rapat.


Hendri memanggil nama Arumi berulang-ulang, namun tetap sama tak dapat jawaban dari dalam rumah.


"Rumah ini sudah kosong. Kemana perginya Arumi dan anakku. Apa dia sudah tidak tinggal disini?" ucap Hendri.

__ADS_1


"Terus Arumi tinggal dimana? Hendri bertanya-tanya sendiri di rumah yang sepi.


Hendri penasaran dengan kepergian Arumi. Dia akan tetap mencari keberadaan Arumi.


Hendri sudah ada didalam mobil. Hendri mulai melajukan mobilnya. Hendri akan mencari Arumi di rumahnya yang dulu.


"Kenapa kamu pergi dari rumah itu Arumi. Aku sudah berjuang dengan keras untuk mendapatkan itu demi kamu. Kenapa kamu malah meninggalkannya," batin kesal Hendri.


Tak terasa perjalanan Hendri sudah sampai di lokasi dekat rumah Arumi.


Hendri memarkirkan mobilnya di pinggiran jalan. Hendri akan ke rumah Arumi dengan berjalan kaki karena jalannya tidak bisa dijangkau dengan mobil.


Hendri mulai menyusuri gang sempit.


"Apa kamu benar-benar kembali ke rumahmu lagi Arumi. Aku sungguh merasa bersalah kalau kamu kembali seperti dulu hidup dalam kesusahan," gerutu Hendri sepanjang langkah kakinya.


Hendri sudah sampai di dekat rumah Arumi. Hendri berhenti sejak menatap penuh ke rumah Arumi yang pintunya terbuka.


"Apa Arumi benar tinggal disana?" ucap Hendri.


Dari pintu rumah Arumi yang terbuka. Keluar Arumi menenteng beberapa kantong berisikan kue yang siap diantar ke resto yang mau menerima. Diikuti nenek Suryati yang menggendong Arsya.


"Itu Arumi. Dia dan neneknya benar-benar kembali tinggal disitu. Kenapa kamu harus kembali lagi Arumi," Hendri menatap sedih kearah Arumi.


Arumi berpamitan sama Arsya dan juga neneknya.


"Ibu pergi dulu sayang. Jangan nakal ya. Di rumah sama eyang. Doain Ibu semoga kuenya nanti cepat habis, biar cepat pulang," celoteh Arumi pada Arsya.


Arumi pun pamit sama nenek Suryati dengan mencium punggung tangannya.


Arumi mulai berangkat akan mengantar kue. Di tangannya menenteng banyak kue hendak di kirim ke kedai dan resto yang mau menerima.


Hendri menyaksikan dengan jelas Arumi berjuang keras untuk memenuhi kebutuhannya. Hendri menaruh iba dan simpati pada Arumi. Hendri kembali menyalahkan dirinya.


"Maafkan aku Arumi, maafkan aku. Semua ini karena aku memilih jalan yang salah. Bukannya membuat kamu bahagia malah membuat kamu sengsara. Aku ini sungguh lelaki bodoh." Hendri memyesali perbuatannya.

__ADS_1


Arumi berjalan menyusuri gang sempit untuk sampai di jalan besar. Arumi tudak menyadari kehadiran Hendri yang bersembunyi dibalik pohon yang sedari tadi mengawasinya dari jauh.


Hendri tak berani mendekati Arumi. Dia sungguh malu dan merasa bersalah.


Arumi sudah jauh dari pandangan Hendri. Dia pun mengikuti kemana langkah Arumi dari jauh. Sesekali Hendri bersembunyi takut diketahui Arumi kalau dia mengikutinya.


Di jalan dekat lokasi rumah Arumi ada Gilang yang tengah duduk anteng didalam mobilnya. Gilang juga sedang mengawasi kemana langkah Arumi. Gilang tidak berani menampakkan dirinya dihadapan Arumi, karena Arumi tidak menginginkan saling bertemu.


Rasa rindu di hati Gilang pada Arumi tidak bisa dinego. Gilang diam-diam selalu mencari Arumi dan memperhatikan setiap langkahnya. Hanya itu yang bisa menenangkan hati Gilang walau tanpa bertutur sapa.


Gilang ingin sekali mendapatkan hati Arumi, karena hanya Arumi yang bisa membuka hati Gilang yang tertutup rapat untuk seorang wanita. Apa lagi Gilang selalu ditanya oleh Ibunya tentang wanita pasangan Hendri yang dibawa keatas panggung. Lilianana ingin Hendri cepat memperkenalkan padanya dan Ayahnya.


Arumi sudah keluar dari gang sempit dengan menenteng beberapa kue. Gilang yang melihat Arumi senyumnya langsung terulas dari mulutnya. Hati Gilang merasa senang bah mendapatkan suatu hadiah yang tak terduga.


"Itu dia Arumi. Andai kamu mau aku beri tumpangan aku siap memgantarmu kemana pun kamu pergi Arumi."


Nampak Hendri juga keluar dari gang sempit. Kehadirannya tak diketahui Gilang bahkan Arumi.


Hendri langsung nasuk kedalam mobilnya takut diketahui Arumi.


Dua orang sudah berada didalam mobil mereka berdua mengawasi Arumi dari jauh tanpa diketahui Arumi.


Arumi hendak berjalan menyeberangi jalanan yang ramai. Banyak mobil berlalu lalang dihadapannya. Arumi sedikit merasa kesal tak bisa menyela jalanan yang ramai.


Jalanan sudah nampak sepi, Arumi mulai menyeberangi jalan. Saat berjalan dengan lenggang dan beberapa kantong kue melekat dikedua tangannya. Tiba-tiba ada satu motor yang melaju kencang, hingga menyerempet sebagian kue yang dibawa Arumi. Hingga membuat Arumi terjatuh dan kuenya berserakan ditengah jalan raya.


"Masya Allah!" ucap Arumi sangat terkejut yang duduk terkulai di tengah jalan.


Sambil nunggu up, baca juga ceritaku yang lain.


Ketulusan Cinta Istri Pertama (Tamat)


Akhirjya Bersamamu (Tamat)


Roni Sang Pejuang Cinta (Tamat)

__ADS_1


__ADS_2