Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 83 Ngidam Aneh


__ADS_3

Empat bulan sudah berlalu sejak pernikahan Gilang dan Arumi. Mereka berdua sekarang tinggal di rumah pak Subroto.


Liliana kesepian tinggal di rumah besar, jadi dia memaksa Gilang, Arumi dan juga Arsya yang sebenarnya lebih senang tinggal di rumahnya sendiri diminta Liliana untuk tinggal di rumahnya menemani hari-harinya yang kesepian.


Dari lubuk hati Liliana yang paling dalam, Liliana merasa kehilangan Melinda. Sebagai seorang ibu pasti merasa kasihan pada anaknya meski anaknya berbuat kesalahan. Namun dengan adanya Arumi dan juga Arsya cucunya yang genap berusia tujuh bulan yang sedang lucu-lucunya bisa menghibur hati Liliana yang lara.


Arumi sangat disayangi Liliana melebihi anaknya sendiri. Arumi pribadi yang baik, sangat cocok dengan Liliana. Tidak seperti Melinda yang susah diatur, maunya bertindak sesukanya. Dan sekarang dia merasakan buah dari perlakuannya sendiri.


Arumi saat ini tengah hamil menginjak empat bulan. Arumi suka ngidam tiba-tiba. Membuat Gilang harus gercep mendapatkan apa yang diinginkan si jabang bayi didalam perutnya.


Sekarang ini Arumi tengah ngidam. Ngidamnya bukan ingin makan sesuatu. Ngidamnya sungguh aneh dan mengejutkan. Arumi pingin ketemu sama Hendri mantan suaminya.


Tentu saja hal ini Membuat Gilang sedikit syok dan heran dengan permintaan Arumi yang melebihi batas aneh. Memunculkan pikiran negatif dari otak Gilang. Gilang harus mempertimbangkannya apakah akan menuruti keinginan aneh istrinya yang membuat gemuruh riuh di hatinya.


"Apa kamu kangen sama Hendri dan ingin kembali padanya dengan pura-pura ngidam?" ucap Gilang penuh curiga, karena Arumi ngebet banget pingin ketemu sama Hendri dan harus segera terpenuhi.


"Aku nggak pura-pura Mas, aku juga nggak kangen sama Hendri. Aku hanya ingin melihat wajahnya saja. Ayolah Mas antar aku ke rumah Hendri," ucap Arumi disela perut mualnya yang ingin muntah. Jika tidak segera dipenuhi ngidamnya, Arumi perutnya semakin mual dan mau muntah terus.


Liliana yang ada disamping Arumi sangat kasihan melihat keadaan Arumi.


"Sudahlah Gilang turuti saja keinginan jabang bayi kamu. Ini bukan murni keinginan istrimu. Buang egomu jauh-jauh. Kasihan Arumi badannya semakin lemas," ucap Liliana sembari mengelus pundak Arumi dengan kepala tersandar dibahunya.


"Huft.." Gilang berdecak kesal. Gilang mondar-mandir sembari kedua tangannya mengacak rambutnya.


Gilang sungguh bingung, akankah mengizinkan Arumi bertemu dengan Hendri. Dalam hatinya ada rasa cemburu yang membuncah, Gilang sangat takut Arumi akan kembali pada Hendri.


"Hueeek."


Arumi muntah lagi.


"Gilang! cepat penuhi keinginan istri kamu. Kamu nggak kasihan sama dia. Lihat istrimu, semakin lemas tubuhnya," pekik Liliana.

__ADS_1


Gilang menatap teduh kearah Arumi yang keadaannya memang memprihatinkan.


"Baiklah, baiklah. Akan kuturuti keinginanmu Arumi," ucap Gilang dengan sangat terpaksa.


Gilang akan membawa Arumi kedalam mobil. Karena badannya lemas Arumi tidak kuat berjalan. Gilang pun menggendongnya membawanya ke mobil.


Lliliana mau ikut pergi bersama mereka, dan Gilang mengizinkannya.


Liliana sangat senang Gilang mengizinkannya ikut. Liliana bakalan ketemu sama Melinda putri yang sangat dirindukannya selama ini. Selama ini Pak Subroto dan Gilang melarang Liliana mengunjungi Melinda. Takut iba dan sedih melihat keadaan Melinda dan keluarganya.


Keadaan keluarga Hendri sekarang sangat memprihatinkan. Hendri, Melinda, ibunya dan juga Salsa sudah tdak tinggal lagi di rumahnya yang dulu. Rumahnya terpaksa harus digadaikan, demi mendapatkan uang untuk biaya hidup sehari-hari.


Sekarang mereka tinggal di rumah kontrakan yang terbatas fasilitasnya. Melinda sebenarnya tidak terima hidup menderita seperti itu. Namun demi cintanya pada Hendri dia rela kemana pun Hendri membawanya.


Arumi sungguh mengerti keinginan ibu mertuanya yang sangat rindu dengan putrinya sendiri. Arumi merasa sedikit bersalah telah merebut hati Liliana, hingga membuatnya sayang padanya melebihi putrinya sendiri. Sementara putrinya sendiri kini tengah mengalami hukuman. Tentunya Melinda sangat tersiksa.


Arumi tau keadaan Hendri dan keluarganya sekarang sangat memprihatinkan. Arumi tidak tega melihat mereka terus-menerus seperti itu. Arumi pun tergerak hatinya.


Sebenarnya ini hanya taktik Arumi untuk bisa mengunjungi Melinda bersama dengan Gilang dan juga ibunya. Dengan desakan seperti itu Gilang yang bersih kukuh tidak mau bertemu dengan Melinda adiknya, Gilang akhirnya akan datang mengunjunginya meski terpaksa.


Setelah melalui perjalanan sampailah di rumah ibunya Hendri. Namun rumah itu nampak sepi seperti tak berpenghuni.


Gilang diberitahu seseorang kalau penghuninya sudah pindah. Gilang meminta alamat rumah Hendri yang baru. Orang itu langsung memberikannya.


Gilang langsung menuju alamat yang tertera di kertas.


Setelah menyusuri dengan teliti akhirnya sampai di rumah yang kondisinya jauh dari kata pantas.


"Apa benar ini alamatnya Mas," tanya Arumi sembari menatap rumah yang tak berpagar dan kecil berada di gang sempit. Persis seperti rumah Arumi yang dulu. Namun keadaannya lebih buruk dari rumah Arumi.


Berjajar pakaian yang dijemur didepan halaman rumah dengan jumlah yang sangat banyak.

__ADS_1


"Sepertinya iya. Disini tertulis rumah bercat hijau. Dan rumah yang bercat hijau cuma ini," ucap Gilang sembari tengok sana-sini.


"Apa benar putriku tinggal di rumah seperti ini?" ucap Liliana lirih, matanya hampir meneteskan kristal bening di pelupuknya.


"Jangan-jangan benar ini rumah Hendri. Aku pernah mendengar dari nenek, sekarang mereka bekerja sebagai buruh cuci," batin Arumi sembati menatap jemuran pakaian yang terpampang di halaman rumah.


Semua jadi penasaran apakah benar ini rumah Hendri.


Gilang, Arumi dan juga Liliana menuju ke pintu ingin memastikannya apakah benar ini rumah Hendri. Belum sampai didepan pintu. Pintu itu terbuka. Salsa keluar dari rumah dengan menenteng pakaian yang hendak dijemurnya.


"Itu kan Salsa," ucap Arumi sembari menunjuk.


Salsa seperti mendengar namanya disebut. Ia pun menengok. Salsa sungguh terkejut melihat Arumi beserta suaminya dan bu Liliana datang kesini.


Salsa menutupi mulutnya yang melongo saat Arumi mendekatinya.


"Salsa? Kamu tinggal disini?" tanya Arumi.


Salsa hanya mengangguk malu pada Arumi dan semuanya.


"Ya Alllah. Salsa kenapa keadaanmu sampai jadi seperti ini. Tinggal di rumah seperti ini?" tanya Arumi lirih.


Tangis Salsa pecah.


"Sejak Kak Hendri dan Kak Melinda diusir keadaan kami jadi menderita kak. Tak ada sumber penghasilan dari mana pun. Uang ibu habis dan tabungan kak Hendri semakin menipis untuk kebutuhan sehari-hari. Hingga rumah pun digadaikan untuk bisa mempunyai uang lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan sekarang kami tinggal di rumah ini. Rumah yang bisa di bilang jauh dari kata layak." Salsa bercerita dengan isak tangisnya.


Liliana yang mendengar cerita Salsa ikut menangis, begitu pun dengan Arumi. Liliana tiada menyangka nasib anaknya sampai seperti ini.


JANGAN LUPA MAMPIR DICERITAKU YANG BARU. LANGSUNG JADIKAN FAVORIT YA....


__ADS_1


__ADS_2