Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 48 Mencari


__ADS_3

Tak terasa satu minggu sudah berlalu sejak Arumi melahirkan putranya. Tidaak ada acara yang meriah untuk merayakan kelahiran sang buah hati yang sudah berusia tujuh hari. Hanya doa yang Arumi dan nenek Suryati panjatkan semoga putranya menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada kedua orang tuanya.


Arumi memutuskan memberi nama anaknya sendirian tanpa berunding dengan Hendri karena Hendri sudah memutuskan tali hubungan kekeluargaan. Arumi selalu bersimbah air mata kala mengingat nasibnya yang diceraikan suaminya tepat saat melahirkan anaknya.


Dan saat menatap putranya yang ia beri nama Arsya Reza, Arumi sungguh sangat kasihan padanya yang lahir tanpa belaian Ayahnya. Arsya tidak mempunyai seorang Ayah. Arumi pun harus menahan tangisnya saat dihadapan nenek Suryati.


Sudah satu minggu Hendri tidak pernah berkunjung ke rumah Arumi sama sekali. Nenek Suryati selalu mempertanyakan kehadiran Hendri yang tak pernah pulang dan menjenguk putranya dalam satu minggu ini.


Arumi jadi susah hati dan capek sendiri kala menjawab pertanyaan nenek Suryati, yang selalu bertanya kepadanya tentang suaminya yang tak pernah pulang kerumah barunya untuk bertemu dengan anak dan istrinya. Arumi selalu membohongi neneknya.


Arumi sekarang keadaannya jauh lebih sehat dari kemarin-kemarin. Arumi ingin mencari tahu rasa penasaran yang selama ini bergelimang di hatinya yakni diceraikan tanpa sebab yang jelas. Arumi ingin tau sebab apa dia diceraikan. Dia berniat akan mencari Hendri suaminya.


Hari ini hari libur. Menurut Arumi Hendri pasti sedang libur bekerja dan tentunya ada di rumah. Tidak mungkin di hari libur ini Hendri akan datang menemuinya di rumahnya. Hendri seperti sudah benar-benar meninggalkannya dan tak perduli denganya dan Anaknya. Hendri sudah tidak ada kabar sejak dia menyerahkan rumah baru pada Arumi.


Arumi hendak berkunjung ke rumah ibu mertuanya, dia akan mencari Hendri disana. Dia akan menanyakan pada Hendri tentang sebab apa ia diceraikan. Rasa itu yang menggantung di hati Arumi selama ini. Arumi ingin kejelasan tentang statusnya.


Arumi sudah nampak dengan dandanan hijabnya. Tubuh langsing kembali ia miliki setelah sembilan bulan dengan perut besarnya.


Arumi akan pamit sama nenek Suryati kalau mau pergi sebentar. Dan meminta nenek untuk menjaga putranya.


"Arumi pergi dulu nek," ucap Arumi pada neneknya yang sedang duduk termenung disamping arsya yang tidur tèrlelap di ranjang kecilnya.


Nenek yakjub melihat Arumi yang sudah berdandan rapi dengan tas di sematkan di bahunya.


"Badan kamu sudah sehat Arumi, kok sudah mau pergi keluar," ucap nenek khawatir.


"Sudah nek. Lihatlah badanku sudah jauh lebih sehat dan segar. Aku ini wanita yang kuat Nek." Arumi memperlihatkan kebugaran tubuhnya.


Nenek Suryati hanya terpaku memperhatikan Arumi.


"Aku ada urusan sebentar Nek diluar yang harus segera diselesaikan. Nggak papa kan nek aku pergi sebentar," ucap Arumi.


"Ehm..., Kamu mau mencari Hendri kan?" terka Nenek Suryati.

__ADS_1


"Ehm..., tidak Nek. Mana mungkin aku bisa mencari mas Hendri yang sedang berada diluar kota. Aku hanya ingon menyelesaikan urusanku sebentar nek," jelas Arumi.


"Baiklah Nenek izinkan kamu pergi. Tapi sebentar saja. Kasihan arsya nanti kalau kehausan," ucap Nenek Suryati sembari mengelus kening Arsya.


"Iya Nek. Aku perginya sebentar kok."


"Ya sudah sana cepat kamu selesaikan urusanmu dan cepat pulang." Nenek mengusir Arumi untuk ceoat pergi lalu kembali pulang.


"Kalau begitu aku berangkat dulu ya Nek." Arumi meraih tangan nenek Suryati lalu mencium punggung tangannya.


Arumi keluar dari rumahnya dengan perasaan bersalah. Dia kembali membohongi neneknya, mengatakan kalau Hendri sedang keluar kota. Kata itu juga yang selalu terlontar dari mulut Arumi kala nenek Suryati menanyakan keberadaan Hendri suaminya.


Seperti tujuannya tadi Arumi akan ke rumah mertuanya. Dia akan naik ojek online biar cepat sampai disana.


Sembari berjalan Arumi memesan ojek online dari hand phonenya.


Arumi menunggu ojeknya datang di pinggir jalan raya yang ramai.


Saat melewati jalan yang ramai Gilang memelankan mobilnya. Sekarang Gilang tepat sampai di jalanan tempat Arumi menunggu ojek datang. Gilang melihat sekelebat mata Arumi dengan paras hijabnya sedang berdiri seperti tengah menunggu seseorang. Namun Gilang sedikit lupa dengan wajah yang tak asing di matanya itu.


"Aku seperti pernah melihat wanita itu. Dimana ya?" batin Gilang.


Gilang mencoba mengingat-ingat sembari menjalankan mobilnya pelan.


"Siapa sih wanita itu. Kenapa aku jadi peduli padanya," ucap Gilang sendiri.


Setelah diingat-ingat, Gilang pun teringat.


"Dia wanita yang aku tolong saat melahirkan anaknya."


Karena Gilang mengingatnya, dia pun menepikan mobilnya dan segera turun dari mobil.


Namun saat dia turun bersamaan dengan Arumi yang ojeknya sudah datang menjemputnya.

__ADS_1


Arumi langsung tancap gas bersama tukang ojek menuju ke rumah mertuanya.


"Hei, tunggu," ucap Gilang yang mengejar Arumi yang semakin berlalu jauh.


"Wanita itu yang ditinggal menikah suaminya. Dan parahnya menikah dengan adikku. Bagaimana sekarang nasibnya." Gilang bicara sendiri merasa iba pada Arumi.


Karena penasaran dengan keadaan Arumi, Gilang pun akan mengejar Arumi.


Gilang berbalik arah mengikuti kemana Arumi akan pergi. Gilang melajukan mobilnya supaya lebih dekat dengan Arumi yang di bonceng tukang ojek.


Arumi tidak merasa kalau dirinya tengah diikuti oleh Gilang.


Sudah sampai di rumah ibu mertuanya. Arumi pun menyuruh tukang ojek untuk berhenti, karena Arumi akan turun.


Mobil Gilang juga ikut berhenti..


Melihat Arumi turun Gilang pun hergegas turun dari mobilnya karena akan menyapa Arumi. Namun sungguh disayangkan, langkah Arumi begitu cepat dia sudah masuk ke pintu gerbang rumah mertuanya.


"Yah, aku terlambat lagi mengejarnya," keluh Gilang.


"Masak aku harus mengikutinya sampai kedalam," gumam Gilang.


Gilang sungguh penasaran dengan keadaan Arumi yang sudah ditinggal menikah oleh suaminya. Apakah Arumi sudah tau kalau suaminya telah menikah saat dia melahirkan anaknya.


"Ingin sekali aku bertanya pada wanita itu, tentang kabar suaminya yang sangat ditunggu kehadirannya kemarin. Apakah dia datang menjenguknya," ucap Gilang sembari terpaku menatap Arumi yang berlalu masuk kedalam rumah.


Setelah memberitahu Melinda kemarin, tentang orang yang sudah syah menjadi suaminya Gilang belum pernah bertemu lagi dengan Melinda dan mempertanyakannya Apakah Melinda masih melanjutkan pernikahan sirinya dengan orang yang sudah mempunyai istri.


Gilang berharap Melinda memutuskan hubungan pernikahan yang belum terlanjur dengan lelaki penghianat. Lelaki yang sudah menghianati istrinya.


Tidak mungkin Gilang akan masuk ke rumah mengukuti Arumi. Dia pun memilh beranjak pergi ke rumah orang tuanya. Gilang sudah ditunggu kehadirannya oleh ibu tercintanya.


Gilang pun kembali masuk kedalam mobil dan mulai melajukannya.

__ADS_1


__ADS_2