
Pagi sudah menjelma dengan udara pagi yang segar. Di pagi hari nampak Arumi bercengkrama dengan Arsya didalam kamarnya yang hanya membuka matanya kala pagi menjelma.
Arsya bayi yang tampan dan menggemaskan. Senyum Arsya yang samar-samar menghiasi tidurnya, mampu membuat Arumi bersemangat menghadapi hari-harinya yang suram.
Nenek sudah ada di dapur sedang membuat sarapan untuk keluarga kecilnya.
Hari ini Arumi akan mencari pekerjaan. Arumi berharap bisa mendapatkannya dengan cepat. Arumi sangat membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk kebutuhan Arsya juga yang harus minum susu formula saat Arumi meninggalkannya.
"Ibu harus mendapatkan pekerjaan Nak. Supaya kebutuhanmu tercukupi. Sekarang kita hidup sendiri. Ayahmu benar-benar sudah tidak perduli pada kita," ucap Arumi pada Arsya yang tidur terlelap dalam dekapannya.
Nenek Suryati juga sudah lama tidak membuat kue legendarisnya, karena sibuk membantu mengurus Arsya. Jadi tidak ada pemasukan sama sekali.
Arsya kembali tertidur setelah menyedot Asi ibunya.
Arumi segera meletakkan Arsya diranjangnya supaya lebih nyaman tidurnya.
Arumi meninggalkan Arsya dan akan mencari nenek Suryati yang ada didapur.
Nenek Suryati sudah menyajikan sarapan pagi di ruang makan.
"Ayo kita sarapan Arumi, Nenek sudah menyiapkannya," ucap nenek Suryati saat melihat Arumi menujunya.
"Sudah siap Nek sarapannya?"
"Sudah. Ayo kita makan."
Arumi memosisikan dirinya duduk berhadapan dengan nenek. Dihadapannya tersaji nasi goreng.
"Nek, hari ini aku akan mulai cari pekerjaan, buat tambahan kebutuhan kita sehari-hari. Boleh kan Nek?" ucap Arumi sembari menikmati nasi gorengnya.
"Kamu mau cari kerja? Arsya belum ada satu bulan kamu sudah mau meninggalkannya?" pekik nenek.
"Mau gimana lagi Nek. Mas Hendri kerja belum ada satu bulan. Kan belum gajian. Jadi belum bisa kirim uang." Arumi kembali membuat cerita palsu.
"Mana mungkin Mas Hendri akan kirim uang. Dia kan sudah memutuskan hubungan denganku dan menghilang entah kemana," batin Arumi.
"Biar Nenek saja yang kerja bikin kue. Kamu di rumah saja merawat Arsya."
"Tidak Nek. Aku masih muda.Kan nggak enak bergantung sama orang tua. Biar aku saja yang bekerja. Nenek di rumah saja menenani Arsya," ucap Arumi.
Setelah dipikir-pikir. Nenek Suryati menyadari. Dirinya sudah tua dan badannya mudah capek. Akhirnya nenek Suryati mengizinkan Arumi untuk mencari pekerjaan.
__ADS_1
Arumi senang sekali nenek mengizinkannya untuk bekerja dan mau menemani Arsya. Arumi menjanjikan pada nenek, nanti kalau Arumi sudah mempunyai gaji akan mempekerjakan baby suster untuk menjaga anaknya.
Sudah selesai sarapan Arumi pun pamit akan berangkat mencari lowongan pekerjaan. Arumi juga berpamitan sama Arsya yang sedang tidur terlelap ditemani nenek Suryati.
"Doakan Ibu sayang, supaya cepat dapat pekerjaan, buat memenuhi kebutuhanmu," ucap Arumi sembari mengecup kening Arsya dan berlalu pergi.
Tujuan Arumi adalah pergi ke tempat kerjanya yang dulu. Arumi berharap masih diterima bekerja disana, karena Arumi dulu pernah kerja disana.
Setelah melalui perjalanan Arumi sampai di butik.
"Bismillah," ucap Arumi saat mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam butik.
Arumi disambut oleh teman dekatnya yaitu Sinta. Arumi sudah mencalling Sinta sebelum dia sampai disini. Arumi meminta Sinta untuk membantunya mendapatkan pekerjaan lagi disini.
Sinta nampak Histeris saat melihat Arumi datang. Aksi heboh mereka berdua disaksikan banyak prngunjung butik itu. Tak ketinggalan bu manejer pun menyaksikannya.
"Kamu sudah datang Arumi. Kamu sekarang sudah langsing lagi badanmu. Wah! Sekarang kamu sudah bisa kembali vitting baju dong!" cetus Sinta.
"Ehm..., iya nanti kalau aku sudah siap akan kembali vitting baju disini," ucap Arumi kikuk.
Arumi menutupi kenyataan kalau dirinya tidak jadi menikah dengan Hendri. Arumi tidak ingin Sinta tau tentang keadaannya saat ini yang sudah diceraikan oleh suaminya.
"Nanti aku diundang ya ke acara pernikahanmu," ucap Sinta sembari mengulas senyum penuh harapan.
Sinta membawa Arumi bertemu dengan bu manajer.
"Selamat pagi Bu," ucap Sinta saat masuk ke ruang bu manajer.
"Pagi juga," jawab bu manajer sembari menatap Sinta dan Arumi.
"Kamu Arumi kan?" tanta bu manajer.
"Iya, aku Arumi Bu, masak lupa sih," ucap Arumi.
"Iya aku nggak lupa kok. Ada apa datang kesini?" tanya Bu manajer lagi.
"Ehm...," Arumi bergumam.
"Ehm..., aku tau. Kamu kesini mau vitting baju kan?" ucap bu manajer.
"Enggak kok Bu, enggak," ucap Arumi sembari menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Bukan karena itu Bu. Arumi datang kesini ingim kembali bekerja disini," sahut Sinta.
"Kerja disini?"
"Aduh maaf ya, sudah tidak ada lowongan pekerjaan disini. Maaf Arumi tempatmu sudah diambil alih orang. Ibu tidak bisa mempertahankanmu karena terlalu banyak yang melamar kerja disini. Maaf ya...," ucap Bu manajer.
"Yah..." Arumi wajahnya tertunduk dengan perasaan kecewa.
"Masak sih Bu nggak ada lowongan buat Arumi. Kasihlah Bu pekerjaan buat Arumi, dia sangat membutuhkannya," ucap Sinta memohon.
"Baiklah akan coba Ibu usahakan untuk kamu supaya bisa kembali kerja disini. Tapi nggak sekarang."
Ucapan bu manajer sedikit membuat Arumi merasa lega, karena masih ada harapan.
"Terima kasih Bu," Arumi mendongak menatap bu manajer dengan tersenyum padanya.
Rasa kecewa Arumi sedikit mereda. Arumi berharap bu manajer bisa membawanya kembali bekerja disini.
Arumi akan pamit pulang pada Sinta. Tak lupa Arumi mengucapkan banyak terima kasih pada Sinta yang sudah mau membantunya berbicara sama bu manajer.
"Aku balik dulu ya. Assalamualaikum...," ucap Arumi.
"Waalaikum salam.. Hati-hati ya." Sinta melambaikan tangannya dan Arumi pun membalas lambaian
Arumi berjalan melewati barisan baju pengantin yang terpajang apik di sisi ruangan itu. Arumi terhenti langkahnya kala menatap baju pengantin yang dulu pernah dicobanya namun tidak muat di badannya karena saat itu perutnya besar.
"Sayang sekali kamu bukan tercipta untukku."
"Ternyata baju ini tidak pernah bisa aku pakai saat hari pernikahanku. Mungkin karena aku tidak psntas memakainya," ucap Arumi tak terasa air matanya mengalir deras di pipi.
Arumi tanganya sibuk mengusap air matanya yang keluar tanpa permisi. Tiba-tiba saja dari belakang ada seseorang yang menepuk punggungnya. Membuat Arumi terkejut dan reflek menengok kebelakang dengan air mata masih tersisa.
"Kamu menangis?" tanya seorang wanita yang rambutnya terurai.
"Nggak. Aku cuman terharu aja dengan riwayat baju ini," ucap Arumi sembari menatap wajah yang seperti pernah ditemuinya.
"Aku sepertinya pernah bertemu denganmu?" Ucap Arumi sembari mencoba mengingat.
"Benarkah?" ucap wanita itu.
Dia adalah Melinda yang kembali di pertemukan dengan Arumi. Namun sepertinya Melinda tidak ingat dengan Arumi.
__ADS_1
"Kita pernah bertemu dimana ya," ucap Arumi sembari mengingat.