Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 26 Janji


__ADS_3

Setelah menurunkan ibunya di tempat jogging, Hendri langsung lepas landas menuju rumah Melinda. Sedangkan Mia mengerucutkan mulutnya, merasa kesal sama Hendri saat melihat mobil Hendri berlalu. Niat Mia ingin pamer sama teman-temannya gagal sudah.


 


Hendri sudah sampai di rumah Melinda. Nampak Melinda sudah menunggu di teras depan. Ada yang berubah dari diri melinda sejak mengenal Hendri. Setelah tadi malam bayangan Hendri ada di benaknya. Sekarang Melinda di buat tak sabar ingin segera melihat Hendri datang menjemputnya. Sampek Melinda melewatkan makan paginya.


 


Hendri turun dari mobil dan langsung menyapa bos barunya.


 


"Selamat pagi bu! Maaf saya sedikit terlambat," ucap Hendri sembari menundukkan kepalanya.


 


"Ya kamu sedikit terlambat, membuatku harus menunggu. Untuk kali ini aku maklumi, tapi tidak untuk besok," tegas Melinda. Sedangkan Hendri menunjuk raut wajah takutnya.


 


"Saya berjanji besok tidak akan terlambat menjemput ibu." Hendri meyakinkan Melinda.


 


"Ayo kita berangkat," ajak Melinda.


 


Hendri segera membukakan pintu untuk Melinda. Dan Hendri segera masuk dan mengemudikan mobil membelah jalan menuju ke kantor.


 


Di tengah perjalanan Melinda mengajak Hendri untuk makan, karena Melinda belum sempat sarapan tadi. Kebetulan Hendri juga belum sarapan ya pas banget jadi Hendri bisa bekerja dengan baik nanti.


 


Sesampainya di kantor, Hendri selalu membuntuti Melinda kemana pun pergi, itu atas perintah Melinda. Hendri harus manut karena ini bagian dari pekerjaannya. Meski Hendri bingung merasakan statusnya sekarang ini dia harus bisa nerima, karena semuanya berawal dari kesalahannya.


 


Sampek teman sekantornya heran melihat Hendri kenapa bisa terus bersama Ceo baru. Saat ditanya sama teman kantornya Hendri tak bisa menjelaskan tentang keadaannya sekarang, entah statusnya menjadi apa? Hendri hanya menuruti perintah Ceo baru dan tak ingin dipecat.


 


Satu hari sudah berlalu, sekarang sudah malam, tepat pukul jam delapan malam Hendri masih bersama dengan Melinda, namun bukan di kantor. Melinda mengajak Hendri untuk menemaninya makan malam setelah itu baru pulang.


 


Hendri tak hanya bekerja di kantor melainkan kerja diluar kantor juga, pokoknya tinggal nurut apa perintah Melinda si bosnya. Meski Hendri banyak mengeluh dalam hatinya, Hendri mencoba untuk sabar semoga dia bisa melewati masa hukumannya dan mendapatkan apa yang sudah dijanjikan Melinda si Ceo baru.


 


Arumi saat ini ada di rumah nenek Suryati. Karena nenek Suryati sedikit nggak enak badan. Arumi nggak tega meninggalkannya sendiri dihari yang sudah malam, namun nenek Suryati masih terjaga. Meski nenek Suryati menyuruhnya cepat pulang, Arumi tak memperdulikan perintah neneknya.


 


"Andai Arumi sudah punya rumah sendiri nek, pasti kita bisa tinggal bersama. Dan aku tidak terlalu khawatir memikirkan keadaan nenek," ucap Arumi sembari mengelus pundak nenek yang berbaring membelakanginya.


 


"Nenek nggak papa Arumi, nanti juga sembuh cuman meriang aja badan nenek. Cepat kamu pulang, nanti kamu dicariin sama mertuamu,  sama suamimu, karena nggak pulang-pulang."


 


"Aku sudah izin sama mertuaku nek! Tapi kalau sama mas Hendri belum. Soalnya kalau jam kerja aku nggak bisa menghubungi mas Hendri. Tapi aku sudah kirim pesan. Kalau mas Hendri membaca pesanku pasti dia tau." Arumi menjelaskan pada neneknya.


 


*****


 


Setelah makan malam selesai Hendri segera mengantar pulang Melinda. Hendri bersyukur tidak pulang larut malam seperti kemarin. Setelah melalui perjalanan sampailah di rumah Melinda.

__ADS_1


 


Melinda berharap masih ingin bersama dengan Hendri. Dia menunjukkan wajah murungnya saat sudah sampai di rumahnya.


 


"Nggak terasa sudah sampai aja di rumahku, padahal aku masih ingin bersamamu," cetus Melinda sembari menatap Hendri penuh rasa kagum.


 


"Apa maksudnya? Pekerjaan kita kan sudah selesai, aku sudah menemanimu di kantor, bahkan sampai diluar kantor. Apa masih kurang?" Balas Hendri.


 


"Nggak kok, aku cuman bercanda kenapa kamu menganggapnya serius."


 


"Maaf!!" Hendri menundukkan kepalanya karena sedikit berani bicara.


 


"Silahkan keluar," ucap Hendri sembari memegangi pintu mobil yang terbuka.


 


"Terima kasih."


 


"Kalau begitu saya pamit bu."


 


"Kenapa harus panggil bu, kalau diluar kantor kamu boleh memanggilku Melinda. Kita kan masih sama-sama muda. Biar lebih enak ngobrolnya. Kalau di kantor baru kamu memanggilku bu Melinda."


 


 


Mereka berdua tersenyum renyah. Saatnya Hendri pamit pulang. Dan lagi-lagi Hendri disuruh membawa mobil Melinda. Dan besok Hendri harus menjempunya tepat pukul tujuh dan nggak boleh terlambat. Hendri siap menjemput Melinda besok, dan berhanji nggak akan terlambat lagi.


 


Hendri mulai melajukan mobilnya menuju rumahnya. Sembari menyetir Hendri melihat hand phonenya, dan dilayar depan ada notifikasi pesan baru dari Arumi. Hendri segera membukanya dan membacanya.


 


Tertulis: Arumi masih di rumah nenek Suryati, karena nenek Suryati sakit.


 


Mendengar nenek Suryati sakit Hendri langsung putar balik menuju rumah nenek. Hendri tak memberitahu Arumi kalau akan datang ke rumah nenek.


 


"Assalamualaikum..," ucap Hendri yang sudah sampai didepan pintu.


 


"Waalaikum salam..," jawab Arumi sembari berjalan ke arah pintu. Dan langsung membuka pintu.


 


"Mas Hendri!! kamu datang ke sini?" Arumi terkejut melihat kedatangan Hendri yang tiba-tiba tanpa memberitahunya dulu.


 


"Iya, katamu nenek sakit?"


 


"Hendri datang ke sini? Cepat kamu sini Hen, nenek kangen sama kamu," ucap nenek sembari membangunkan badannya. 

__ADS_1


 


Sebenarnya nenek Suryati kangen sama Hendri, namun tak berani mengatakannya pada Arumi. Nenek senang sekali mendengar Hendri datang ke sini. Rasanya kamgennya bakalan terobati.


 


"Iya nek aku datang," ucap Hendri sembari mendekati nenek. Di sambut pelukan oleh nenek Suryati.


 


"Sepertinya meriang nenek sudah reda saat kamu datang Hen?"


 


"Benarkah nek?"


 


"Iya"


 


"Jadi nenek kangen sama mas Hendri, sampai badannya meriang," pekik Arumi.


 


"Nenek hanya ingin melihat kalian selalu bersama-sama mengunjungi nenek."


 


"Tapi nek, Hendri nggak bisa janji karena Hendri sibuk bekerja dan sering lembur. Hendri sedang bekerja keras nek untuk mewujudkan keinginan kami. Untuk meresmikan pernikahan kami."


 


"Nenek ingin itu cepat terwujud. Nenek ingin pernikahan kalian di saksikan orang banyak. Penuhilah janjimu Hen, buat Arumi bahagia menjadi istrimu. Jangan kecewakan dia, nenek sangat berharap padamu."


 


Nenek Suryati menggenggam erat tangan Hendri. Bukti permohonannya untuk menjaga dan mencintai cucu kesayangannya supaya hidup bahagia.


 


 "Iya nek, aku berjanji akan membuat Arumi bahagia dengan mewujudkan semua keinginannya." Hendri meyakinkan nenek Suryati.


 


Nenek pun tersenyum renyah mendengar pernyataan Hendri.


 


"Doakan kita nek, supaya keinginan kami tercapai dan menjadi keluarga yang bahagia," ucap Arumi.


 


"Tentu sayang, nenek pasti mendoakan yang terbaik untuk kalian."


 


"Terima kasih nek."


 


Mereka bertiga berpelukan terbawa suasana haru bahagia.


 


Karena badannya sudah enakan karena rasa kangennya sudah terpenuhi. Nenek Suryati menyuruh Arumi dan Hendri untuk pulang saja. Nenek sudah sehat.


 


Karena di paksa nenek untuk pulang, dengan sangat berat, Arumi dan Hendri pulang meninggalkan nenek sendiri.


 

__ADS_1


__ADS_2