Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 23 Menunggu kedatangan Hendri


__ADS_3

Mereka berdua tengah terbuai dengan pujian yang saling dilontarkan. Hingga mereka tak menyadari hari sudah malam. Mata mereka terbelalak saat Hendri mengatakan sudah pukul tujuh malam dan mereka masih di kantor yang sudah nampak sepi karena semua pegawai sudah pulang.


 


Melinda cepat-cepat keluar dari ruangannya diikuti Hendri di belakangnya. Mereka keluar bersamaan dengan langkah cepat mereka menuju lift dan turun di lantai paling bawah. Mereka berdua langsung menuju tempat parkir. 


 


Hendri akan pulang bareng sama Melinda, dan atas permintaan Melinda. Itu adalah sebagian dari pekerjaannya. Mulai detik ini Hendri sudah mulai bekerja jadi asisten Melinda. Kemana pun Melinda menginginkan, Hendri harus bersedia menemaninya.


 


Kini Hendri semakin dalam keadaan yang rumit, memikirkan tentang persyaratan ibunya belum usai malah mendapat masalah baru, yang bisa mengancam karirnya dan berpengaruh pada keuangannya. 


 


Hendri berada dalam satu mobil bersama Melinda. Hendri yang mengemudi mobilnya. Melinda menyuruh Hendri untuk mengantarnya pulang. Dalam perjalanannya nampak Hendri dengan muka kusut dan lesu tak bersemangat.


 


Hendri melihat jam di tangannya, ternyata Jam makan malam sudah lewat. Pantas saja Hendri tak bersemangat karena dia merasa lapar.


 


Sama dengan Melinda yang juga merasa lapar. Jadi sebelum sampai di rumah, Melinda mengajak Hendri untuk makan malam dulu di restoran favoritnya. Hendri manut saja kebetulan perutnya juga sangat lapar.


 


Didalam mobil mereka saling bertukar cakap mengenai diri masing-masing. Seketika itu mereka menjadi akrab, Melinda sangat senang bersama Hendri saat ini. Hendri pun ikut terbawa suasana senang si bosnya. Berkali-kali dia menunjukkan senyumnya yang seharian tadi sempat hilang.


 


Di rumah, Arumi tengah menunggu kedatangan Hendri. Arumi belum makan malam di jam yang sudah menunjukkan pukul delapan. Suara keroncongam di perutnya selalu mengusiknya. Arumi ingin makan malam bareng sama Hendri namun Hendri tak kunjung datang juga yang sudah ditunggu sedari tadi.


 


Arumi keluar rumah ingin memastikan apakah Hendri sudah nampak diluar pintu gerbangnya. Setelah Arumi perhatikan tak ada tanda suaminya datang.


 


"Mas Hendri kok belum pulang sih, kemana dia? Kalau dia lembur kenapa nggak ngasih kabar. Biasanya sudah ngasih kabar lewat pesan. Seharian ini dia bahkan nggak mengirim pesan sama sekali," gumam Arumi sembari jarinya sibuk membuka gadjednya memeriksa pesan yang masuk.


 


Dan tak ada pesan dari Hendri yang masuk hari ini. Arumi jadi khawatir sama suaminya. Yang belum pulang dan nggak ngasih kabar. 


 


"Apa terjadi sesuatu sama Mas Hendri. Sudah malam kok belum pulang. Nggak ada pilihan lain aku harus menghubunginya." 


 


Karena tidak ada kabar sama sekali Arumi akan menghubungi suaminya. Arumi mengabaikan pesan dari Hendri yang melarangnya untuk menghubunginya saat di kantor.


 


Arumi hanya boleh mengirim pesan saja. Tapi kali ini darurat, rasa gusar dan khawatir meliputi hati Arumi. Arumi takut terjadi sesuatu sama suaminya yang seharian nggak ngasih kabar.


 


Melinda sudah ada di restoran favoritnya yang nenyediakan makanan sea food bersama Hendri. Mereka berdua asyik bercakap sembari menikmati makan dihari yang sudah malam ini.


 


Saat Hendri tengah tertawa lepas menikmati gurauan-gurauannya bersama Melinda, suara dering hand phonenya mengejutkannya. Melinda pun ikut terkejut.


 


Diambilnya hand phone yang ada di saku celananya. Terlihat di layar panggilan tertera nama Arumi sayang. Seketika terbaca, Hendri langsung menggeser tombol merah. Hendri tak mau menjawab telfon dari Arumi. Apa lagi saat ini Hendrii sedang bekerja.


 


"Telfon dari siapa? kok nggak kamu angkat," tanya Melinda yang sedari tadi memperhatikan tingkah Hendri.


 


"Ah, nggak penting dari siapa, aku kan lagi bekerja jadi nggak boleh ada yang ganggu."


 

__ADS_1


"Wah sampek segitunya kamu profesional banget, aku suka sama kamu," cetus Melinda.


 


"Suka sama aku?" Hendri sedikit terkejut dengan ucapan Melinda.


 


"Jangan gr, maksudku aku suka kinerja kamu."


 


"Oh...."


 


Hand phone Hendri berdering lagi, dan tertera di layar panggilan dari Arumi lagi. Dengan cepat jari Hendri menekan tombol merah dan mematikan hand phonenya. Hendri kembali melanjutkan makannya lagi yang belum selesai.


 


"Kenapa nggak di angkat, sudah dua kali aku menghubungi Mas Hendri malah direjek. Apa dia masih sibuk bekerja sampek jam segini, nggak ngasih kabar pula."


 


Arumi masih menunggu Hendri di teras depan. Tiada lelah dia menunggu meski merasa lapar. Mia juga belum tidur di jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan. Di kamarnya Mia merasa nggak tenang karena tau kalau Hendri belum pulang.


 


Mia khawatir jangan-jangan Hendri nggak mau pulang karena tak memperdulikan Hendri yang ingin bicara serius dengannya.


 


"Hendri sudah pulang atau belum?" Ucap Mia sembari membangunkan badannya dari tidurannya.


 


Mia keluar dari kamarnya ingin memastikan apakah Hendri sudah pulang atau belum. Dia melewati kamar Salsa yang pintunya terbuka. 


 


"Kamu belum tidur Salsa?"


 


 


"Ngomong-ngomong Kakakmu sudah pulang atau belum?"


 


"Kenapa nanyain Kakak sudah pulang atau belum, Ibu khawatir ya. Tadi pagi aja cuek sekarang bingung nanyain kakak sudah pulang atau belum."


 


"Hei, ditanya tinggal jawab belum atau sudah, malah nerocos aja mengintimidasi Ibu."


 


"Ya gaya bicaraku sekarang ngikutin tren di rumah ini, seperti Ibu," pekik Salsa.


 


"Hih..., kamu!"


 


Mia meninggalkan putrinya yang membuatnya kesal tak memberi jawaban. Mia jadi penasaran apakah Hendri sudah pulang atau belum. Mia akan memastikannya sendiri. Dia berjalan melewati kamar Hendri nampak sepi, Mia pun mencoba membuka pintu kamar dan ternyata nggak di kunci. Dilihatnya di kamar Hendri nggak ada siapa pun.


 


"Arumi juga kemana tadi sudah pulang kok nggak ada di kamarnya," gumam Mia sembari melanjutkan langkahnya mencari keberadaan Arumi.


 


Pintu rumah masih terbuka, Mia menuju ke pintu dan melihat diluar Arumi tengah duduk sendirian.


 


"Ngapain kamu jam segini diluar, kamu kan sedang hamil?" Tanya Mia dengan perhatiannya pada kehamilan Arumi.

__ADS_1


 


"Aku sedang menunggu Mas Hendri Bu, dia belum pulang?"


 


"Menunggu bisa didalam, kenapa diluar. Hawanya nggak baik buat Ibu hamil seperti kamu ayo masuk," sentak Mia.


 


"Baik Bu."


 


Arumi masuk ke dalam rumah diiring Mia dari belakangnya.


 


"Jadi Hendri belum pulang? Kenapa kamu sampek menunggunya diluar. Dia kemana kok nggak pulang-pulang?"


 


"Aku nggak tau Bu, Mas Hendri nggak ngasih kabar, aku hubungin juga nggak diangkat."


 


"Jangan-jangan Hendri marah sama aku, dan nggak mau pulang. Apa hendri frustasi karena persyaratan yang sudah aku berikan padanya," batin Mia penuh rasa khawatir.


 


"Kamu sudah makan?" 


 


"Belum, aku mau menunggu Mas Hendri datang."


 


"Jam segini kamu belum makan masih mau menunggu Hendri pulang. Gimana kalau Hendri nggak pulang. Kamu tu sedang hamil. Cepat kamu makan kasihan bayi kamu kelaparan. Aku nggak mau ya nanti cucuku nggak sehat. Kamu harus membuatnya sehat dengan memenuhi gizinya. Jangan nurutin kemauanmu sendiri," ucap Mia marah.


 


Tapi Arumi malah senang, ternyata Mertuanya masih memperhatikan tentang dirinya yang tengah mengandung cucunya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2