
Seperti biasa Hendri akan menjemput Melinda di rumahnya. Meski Melinda pagi ini tidak bawel mengingatkannya untuk menjemputnya.
Diam-diam Melinda akan memberi kejutan buat Hendri.
Setelah kepulangannya kemarin dari mall. Melinda memberanikan diri bicara serius pada kedua orang tuanya.
Melinda mengatakan pada kedua orang tuanya ingin melamar Hendri. Dia sangat serius, karena sudah mantap mencintai Hendri dan memilih Hendri sebagai pasangan hidupnya. Melinda sudah cinta mati sama Hendri.
Subroto tak langsung menyetujuinya. Dia mengingatkan Melinda untuk lebih mengenal Hendri dulu dan keluarganya.
Melinda merasa sudah sangat mengenal Hendri yang menurutnya lelaki yang baik pekerja keras dan selalu bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Buktinya perusahaan jadi lebih maju setelah kerjasamanya dengan Hendri.
Setelah mendengar rentetan ucapan Melinda yang menunjukkan nilai positif pada Hendri, Broto tidak punya pilihan selain menyetujui lamaran Melinda.
Melinda pun tersenyum bahagia mendengar pernyataan Ayahnya.
Pagi ini Melinda sudah menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan Hendri yang akan menjemputnya. Dan akan memberi kejutan padanya kalau dia akan melamarnya.
Di luar rumah nampak Melinda mondar-mandir tak sabar menanti kedatangan Hendri. Sesekali Melinda melihat jam di tangannya.
"Hendri lama banget sih jemputnya. Biasanya jam segini sudah datang," keluh Melinda.
Hendri tak kunjung datang. Melinda kembali melihat jam di tangannya lagi.
"Kok belum dateng juga sih, apa Hendri lupa nggak jemput aku karena aku tidak mengingatkanya sama sekali," ucap Melinda lagi sembari masih mondar-mandir.
Melinda menghentikan gerak kakinya.
"Iya ya, jangan-jangan Hendri lupa tidak menjemputku," terka Melinda.
Dengan sigap Melinda mengambil hand phone yang ada di sakunya. Dia akan menghubungi Hendri takut dia lupa dan tidak menjemputnya.
Baru saja membuka kunci layar hand phonenya, sudah terdengar suara mobil memasuki pintu gerbang.
Pandangan Melinda beralih ke mobil Hendri yang sudah datang, dan Melinda tidak jadi menghubungi Hendri.
"Itu dia yang ditunggu sudah datang," ucap Melinda dengan senyum lebarnya.
Hendri keluar dari mobil dan menunjukkan ketegasannya sebagai seorang pegawai pada Melinda
"Selamat pagi Bu," sapa Hendri sembari menundukkan kepalanya saaat mendekati Melinda yang sudah menunggu kedatangannya.
"Pagi juga Hendri! Akhirnya kamu datang. Aku kangen lo sama kamu. Boleh kan aku memelukmu," ucap Melinda.
"Memelukku?" batin Hendri.
Hendri masih berdiri terpaku belum menjawab ucapan Melinda.
Melinda yang sudah merasa kangen bamget sama Hendri, langsung saja membenamkan tubuhnya di pelukan Hendri.
__ADS_1
Hendri hanya melebarkan netranya. Kedua tangannya tak berani mendekap tubuh Melinda.
"Apa-apaan in?" tanya Hendri dalam hati.
"Hendri, kenapa kamu jemputnya lama sih! Aku sudah menunggumu sedari tadi. Kamu tau nggak, aku kangen banget sama kamu," ucap Melinda semakin mempererat pelukanya.
"Maaf Bu, kalau aku terlambat."
"Nggak papa, nggak papa Hen. Yang penting kamu sekarang sudah datang. Dan aku bisa memelukmu, aku senang sekali." Melinda sangat menikmati pelukannya.
Tidak dengan Hendri yang nampak gelisah.
"Lepaskan pelukanmu Bu, kita ini bukan muhrim. Tidak boleh kita saling berpelukan seperti ini," ucap Hendri.
"Oh iya, maaf aku khilaf."
Melinda melepaskan dekapannya.
"Katamu kita bukan muhrim. Jadi kalau aku ingin memelukmu lagi aku harus jadi muhrimmu?"
Gilwang menaikan kedua alisnya.
"Maksud kamu?"
"Aku siap menjadi istrimu Hendri, supaya bisa menumpahkan rada cintaku padamu," jelas Melinda.
Hendri makin bingung dengan sikap Melinda yang ingin dia menjadi suaminya.
"Melinda sebenarnya...." Hendri ragu tak melanjutkan ucapannya.
"Sebenarnya apa Hen?"
Hendri takut mengatakannya, kalau Melinda tau dia sudah beristri bakalan nggak terima dan ini bisa mempengaruhi karirnya. Padahal saat ini Hebdri lagi gencarnya cari nafkah unuk kelahiran anaknya dan menjelang perayaan pernikahannya
Gilwang sungguh sangat bingung sekarang ini.
"Ah nggak papa kok, sebenarnya aku sudah siap membawamu ke kantor," elak Hendri.
"Nggak usah buru-buru ke kantor Hen. Orang tuaku sedang menunggumu didalam."
"Ayo masuk dulu ke rumah. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu dan kedua orang tuaku," ajak Melinda.
Hendri manut saja perintah Melinda.
Dan benar saat masuk kedalam rumah sudah ada ayah dan ibunya Melinda duduk di ruang tamu menantikan kedatangan mereka.
"Kalian lama sekali diluarnya, Ibu sama Ayahmu sudah menunggu dari tadi," ucap Liliana.
"Maaf Bu, aku lagi kangen-kangenan sama Hendri," ucap Melinda yang reflek merangkul tangan Hendri di tunjukkan pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Hendri ingin melepaskan tangan Melinda yang bergelayut tapi sungkan dengan orang tuanya.
"Mel, Mel, nggak ketemu sehari saja sudah kangen," ucap Broto.
"Ya begitulah Yah, kalau orang lagi kasmaran," imbuh Liliana.
"Kalian masih berdiri saja, ayo duduk bergabung dengan kami," ucap Broto.
Melinda mengajak duduk Hendri sejajar dengannya. Lalu Melinda memberanikan diri bicara sama Hendri.
Melinda menggenggam erat tangan Hendri dan mengatakan:
"Hendri langsung saja aku akan mengatakan sesuatu padamu di saksikan kedua orang tuaku saat ini. Kalau aku ingin kamu menjadi imamku. Aku ingin menjadi istrimu Hen, spaya bisa berhubungan halal denganmu. Kamu bersedia kan?" ucap Melinda menatap serius ke mata Hendri.
Hendri memalingkan pandangannya tak berani menatap Melinda. Hendri tiada menyangka Melinda menginginkannya menjadi suaminya padahal belum tahu siapa dirinya. Apa lagi Melinda mengucapkan didepan kedua orang tuanya.
Hendri nampak gugup dan gelisah.
"Bagaimana ini apa yang harus ku jawab?" batin Hendri bingung.
"Melinda serius Hen, dan kami berdua sudah menyetujui hubungan kalian. Kami berharap kamu bersedia menerima lamaran Melinda," ucap Subroto.
Hendri terpaku mendengar ucapan Ayahnya Melinda, dan semakin bingung memikirkan jawabannya.
"Bagaimana ini, aku harus jawab apa? Apa aku harus menolaknya dan berkata jujur kalau aku sudah punya seorang istri dan sedang hamil. Tidak, tidak. Bisa hancur semua impianku untuk membahagiakan Arumi," gumam Hendri dalam hatinya.
"Bagaimana Hen? Kamu bersedia kan menikah denganku?" Tanya Melinda yang tak sabar ingin mendengar jawaban dari Hendri.
"Aku masih berpikir Mel, tidak mudah aku berkata ya. Apa Kamu tidak meragukanku yang hanya dari golongan orang biasa."
"Aku tidak perduli Hendri, bagiku kamu segalanya kita akan bahagia menjadi orang sukses dan membangun perusahaan bersama," tegas Melinda.
"Iya Hen, Ayah sudah merestui kalian. Kamu lelaki yang gigih kamu pantas mendapatkan Melinda dan akan membangun perusahaan bersama. Kelak perusahaan itu akan menjadi milik kaluan berdua," ucap Broto.
"Benarkah Yah!" Melinda melebarkan netranya mendengar pernyataan Ayahnya.
"Lihatlah Hen, Ayahku menyerahkan perusahaannya pada kita. Kamu harus bersedia menjadi suamiku dan akan membangun perusahaan bersama," ucap Melinda meyakinkan Hendri.
Hendri sedikit tergiur dengan pernyataan pak Broto.
"Benarkah Bapak akan menyerahkan perusahaan pada kami?" Tanya Hendri memastikan.
"Iya benar, mana mungkin aku berbohong. Aku punya banyak perusahaan. Tidak rugi menyerahkan satu perusahaan pada kalian."
"Benarkah Pak?"
Hendri tersenyum.
"Jadi kamu mau kan menikah dengan putriku?" Tanya Hendro.
__ADS_1
Bersambung.....