Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 67 Pamer


__ADS_3

Hendri hari ini moodnya hilang. Dia memilih tidak masuk kantor. Hendri melajukan mobilnya menuju ke rumah ibunya.


Didalam mobil Hendri menggerutu kesal.


Dirinya sungguh bodoh hanya menuruti nafsu sesaat, dan sekarang hanya sesal dan rasa bersalah yang ia rasakan.


Tak terasa perjalanan yang penuh kegundahan hati, Hendri sampai di rumah Mia.


Hendri berjalan dengan lunglai mengikuti isi hatinya saat ini yang menyimpan banyak kegundahan dihatinya.


Hendri memasuki rumah dengan perasaan hampa dan pikiran yang dipenuhi tentang Arumi yang memenuhi otaknya, hingga dia tidak mengucapkan salam saat masuk rumah. Nylonong saja tanpa menyadari kehadiran banyak tamu ibunya yang sedang mengadakan arisan disitu.


"Itu siapa yang datang?" tanya salah satu teman Mia yang mendapati Hendri masuk tanpa permisi.


"Oh, itu putra saya," jawab Mia.


Hendri masih saja berjalan hendak menuju kamarnya tanpa menyadari ada banyak ora''ng di ruang tamu.


Mia mengejar Hendri.


"Hendri tunggu," ucap Mia.


Mendengar ucapan ibunya, Hendri menghentikan langkahnya. Tanpa menjawab panggilan ibunya Hendri menoleh.


"Hendri sayang. Kamu datang? Kok nggak bilang-bilang mau datang kesini," ucap Mia.


Hendri diam saja tak menanggapi ucapan Mia, karena hatinya sedang kalut.


"Kebetulan sekali kamu datang. Sini biar Ibu kanalkan sama teman-teman Ibu. Kalau Ibu punya anak yang hebat dan sukses."


Mia membawa Hendri mendekat ke teman arisannya.


"Ibu-Ibu perkenalkan ini anak saya yang sukses itu lo, yang bisa merubah kehidupan saya jadi bisa membeli barang-barang mewah dari kalian semua."


"Wah! Ini to anak Ibu Mia yang mendadak sukses dan kaya karena mendapat istri anak orang kaya," ucap teman Mia.


"Iya," jawab Mia sembari menatap Hendri yang ekspresinya datar saja.


"Pantas saja dia bisa mendapatkan wanita kaya, wajahnya sangat tampan. Pasti wanita kaya itu sangat tergila-gila dengan anak Ibu. Sampai menyerahkan semua miliknya pada anak Ibu," imbuh teman Mia yang lain.


"Hendri memang putra kebanggaanku, dia bisa menggaet wanita kaya. Hendri mewujudkan semua keinginanku."


"Ibu bicara apa sih. Ngak usah pamer," ucap Hendri.


"Ibu nggak pamer ini kenyataan."

__ADS_1


Hendri hatinya sudah kesal dengan banyak pikiran ditambah kesal melihat sikap ibunya. Hendri memilih beranjak dari ruang tamu.


"Begitulah Bu anak saya. Suka merendah kalau dipuji."


"Gimana Ibu-Ibu senang kan kalau aku punya banyak uang. Semua barang mewah dari kalian bisa aku beli," ucap Mia dengan bangganya.


"Ya senang sekali dong, dagangan kita laku. Besok di arisan yang akan datang aku akan bawa produk terbaru dan terthebest. Ibu borong semua ya," ucap salah satu teman Mia.


"Oke, oke tenang saja. Akan aku borong semua dagangan kalian. Uangku sekarang sudah banyak. Jangan khawatir," ucap Mia dengan sombongnya.


Hendri berada dikamarnya mencoba menenangkan pikirnya.


Sementara Mia masih sibuk bercengkerama dengan tamu arisannya.


Tak terasa hari sudah siang para teman-tenan arisan Mia pamit pulang. Setelah melahab makanan enak yang disajikan Mia.


Mia sekarang merasa bangga bisa seperti Ibu-Ibu sosilalita yang hidup mewah dan menghamburkan uangnya.


Kini Mia juga sudah punya seorang pembantu sejak Hendri memutuskan menikah dengan Melinda.


Mia menyuruh pembantunya untuk membereskan ruang tamu yang tadi dibuat acara arisan. Sementara dia akan menemui Hendri di kamarnya.


"Hendri. Kamu sedang apa? Ibu masuk ya," ucap Mia yang sudah ada didepan pintu kamar Hendri.


"Jangan Bu, jangan masuk. Aku lagi pingin sendiri," teriak Hendri dari dalam kamar yang sedang tiduran diatas ranjangnya.


"Hendri lagi pingin sendiri," ucap Hendri lagi.


"Hendri Pingin sendiri, Ada apa dengan Hendri?" batin Mia.


Mia penasaran dengan Hendri. Dia dilarang masuk oleh Hendri malah seperti disuruh masuk.


Tanpa permisi Mia masuk ke kamar Hendri.


Hendri nampak terkejut dan sontak membangunkan badannya.


"Ibu! Ngapain sih Ibu maksain masuk," ucap Hendri dengan tatapan kesal.


"Ini kan rumah Ibu, suka-suka Ibu mau masuk kemana pun.


Hendri menyunggingkan mulut, semakin kesal sama ibunya.


"Kenapa kamu tampak murung gitu. Apa ada masalah?" tanya Mia.


"Iya, memang aku lagi ada masalah. Aku kesini untuk menenangkan pikirku. Itu sebabnya aku datang kesini,"

__ADS_1


"Ada masalah apa coba ceritakan sama Ibu."


"Masalah ini bermuncul dari Ibu. Coba kalau Ibu tidak gila harta mungkin aku bahagia dengan Arumi."


"Kok bisa dari Ibu. Bukannya kamu sendiri yang sudah menceraikan Arumi?"


"Aku terpaksa Bu, menceraikan Arumi. Karena aku masuk jebakan Melinda. Demi mencukupi kebutuhan Ibu dan semua. Aku rela melakukan hal yang salah sampai menceraikan Arumi. Sekarang aku menyesal Bu. Aku ingin kembali pada Arumi dan melindunginya lagi seperti dulu."


"Kamu tidak boleh kembali pada Arumi, kamu tidak boleh menyesal Hendri, keputusanmu sudah benar. Membuat Ibu bahagia. Arumi aja yang nggak tau diri suka hidup nenderita. Coba saja kalau dia terima, masih tinggal di rumah itu dan menerima uangmu dia pasti nggak bakalan susah hidupnya.


Sekarang kamu nggak usah hersedih dan memperdulikan Arumi. Kamu nikmati saja menjadi orang kaya dan berlimpah harta. Ibu membanggakanmu Hendri," tegas Mia.


Hendri pikirannya malah semakin kalut mendengar ucapan ibunya. Kedua tangan Hendri mengoyak rambutnya.


Hendri sudah muak dengan semua ini. Dia tidak tega melihat Arumi menderita bersama anaknya dan juga nenek Suryati.


"Aku harus kembali menjadi pelindung buat mereka," gumam Hendri.


Setelah dipikir-pikir Hendri tidak mencintai Melinda. Dia menikahinya karena Melinda yang memaksanya dan menjanjikan banyak uang untuknya.


Sekarang Hendri tidak butuh semua itu karena yang ia rasakan hanya kehampaan dan sesal yang mendalam.


Akhirnya Hendri memutuskan akan bercerai dengan Melinda saja. Hendri sudah tidak perduli lagi dengan ancamannya. Hendri tidak takut hidup tanpa harta yang penting dia bisa kembali dan bahagia dengan Arumi dan anaknya.


Hendri hendak pulang ke rumahnya. Tiba-tiba datang Melinda yang mencarinya sedari tadi di kantor.


Melinda dikasih tau Mia yang mengirim pesan padanya, kalau Hendri ada di rumahnya. Melinda langsung beegegas meluncur kesana.


"Ternyata mas Hendri disini Bu?" ucap Melinda saat masuk ke rumah Mia.


"Iya sayang. Dia masih di kamarnya. Sini biar Ibu panggilin."


Mia hendak mengetuk pintu kamar Hendri. Sudah keduluan Hendri membuka pintunya, karena hendak pulang.


"Hendri kamu mau kemana? Tuh dicari Melinda," ucap Mia sembari menunjuk pada Melinda yang duduk di ruang tamu.


Melinda beranjak dari duduknya dan mendekat ke Hendri yang berjalan menujunya.


"Kamu mencariku Melinda. Baguslah kalau begitu. Aku ingin bicara serius padamu," cetus Hendri saat tau Melinda datang mencarinya.


"Bicara serius apa Mas?" tanya Melinda.


"Sabar dulu. Kamu sudah penasaran ya," ucap Hendri.


"Apa ada kejutan untuku?

__ADS_1


"Tentu sayang, pasti nanti akan sangat mengejutkanmu," ucap Hendri.


__ADS_2