
Setelah dari rumah Gilang Dewi akan langsung pergi ke rumah Arumi. Dewi sudah tidak sabar ingin menyampaikan berita mengejutkan Arumi yang akan membuat Arumi senang bukan kepalang.
Saat ini Arumi sedang duduk santai di teras depan bersama Arsya dan juga nenek usai sarapan tadi. Mereka berdua bercengkerama dengan Arsya yang semakin hari semakin menggemaskan sampai nenek enggan meninggalkan Arsya. Nenek yang harus meracik kue legendarisnya, susah untuk meninggalkan Arsya. Pinginnya deket sama Arsya terus.
"Nenek makin gemes sama kamu Arsya," ucap nenek sembari mencubit pipi Arsya yang tengah digendong sama Arumi.
"Nenek jadi males kerja ni, kalau lihat Arsya ngegemesin begini," ucap nenek lagi.
"Arsya kan cakep. Nenek kena pesona Arsya ya, jadi nggak mau jauh-jauh dari Arsya," gurau Arumi.
"Arsya emang cicit nenek yang paling cakep. Ih gemes deh. Sayang sekali ya Arsya nggak pernah di ditengokin sama Ayahnya," cetus nenek.
"Nenek bicara apa sih? Nggak usah inget-inget dia. Dia sudah bahagia Nek dengan kisahnya sendiri. Aku juga nggak suka kalau sampai Mas Hendri datang kesini nengokin Arsya. Bikin aku kembali membuka luka lama. Sekarang aku mau membuka hatiku yang baru untuk seseorang yang bisa mecintaiku dengan tulus," ucap Arumi.
"Seseorang? Kamu sudah siap menerima cinta?" tanya nenek.
"Sudah siap Nek. Aku sudah siap menerima cinta seseorang untuk jadi tambatan hatiku dan juga Ayah untuk Arsya."
"Alhamdulillah. Akhirnya keinginan nenek terkabul. Itulah maksud Nenek kamu harus mencari ayah untuk Arsya."
"Semoga saja ya Nek. Ada orang orang dengan kesungguhan hatinya mencintai Arumi apa adanya dan mau menerima Arsya menjadi buah hatinya."
"Aku hanya berharap pada satu orang yaitu Gilang. Karena dialah yang selama ini berkecamuk di hatiku yang tak berani aku mengatakan pada siapa pun kalau dia ada di hatiku. Akankah aku bisa bertemu dengannya lagi dan mempertanyakan cintanya. Apakah masih untukku?" batin Arumi.
"Iya. Aku harus mencari Gilang dan mempertanyakannya, karena hatiku sudah siap. Kalau cinta Gilang masih untukku, aku bersyukur akan menerimanya dengan tulus. Kalau cinta Gilang sudah tidak untukku, aku pasrah menerimanya, mungkin dia bukan takdirku."
"Hai bengong saja," tegur nenek yang melihat Arumi sedari tadi melamun.
"Mikirin apa sih?" tanya nenek serius.
"Nggak kok Nek. Cuman...." Arumi tak berani memberitahukan yang sebenarnya tentang isi hatinya.
"Cuman apa Arumi katakan sama Nenek," tegas nenek.
Arumi malu mengatakan pada nenek tentang perasaannya pada seorang lelaki yaitu Gilang yang entah sekarang masih sama mencintai seperti dirinya atau tidak. Karena Saat Gilang menyatakan cinta Arumi belum bisa menerimanya. Posisi Arumi masih dalam tanda tanya saat ini.
Arumi akan mencoba mengalihkan. Arumi teringat dengan mimpinya semalam. Arumi akan menceritakannya pada nenek Suryati.
__ADS_1
"Arumi cuman pingin cerita sama Nenek tentang mimpi Arumi."
"Mimpi? Mimpi apa kamu semalam?" tanya nenek.
"Mimpi mendapat ikan yang besar Nek, dan Dewi yang mengantarnya ke rumah ini. Arumi sangat terheran Nek, ikannya begitu besar sebesar rumah ini," ucap Arumi serius.
"Benarkah Arumi? Bermimpi mendapat ikan berarti kamu akan mendapat rezeki yang tak terduga. Apa lagi ikannya sangat besar. Berarti kamu akan mendapat rezeki yang besar," ucap nenek gembira.
"Kalau benar akan mendapat rezeki yang besar, Arumi seneng banget Nek," ucap Arumi juga dengan perasaan senang gembira tertawa lepas.
Mereka larut bahagia karena mimpi Arumi. Disaksikan Dewi yang sedari tadi datang tak dihiraukan mereka.
"Perasaan, aku belum mengatakan apa-apa sama mereka. Kok mereka sudah seneng banget ya," batin Dewi sembari geleng kepala.
"Ehem.., ehemm.. Assalamualaikum....," ucap Dewi dengan keras.
Mampu membuyarkan suasana gembira mereka.
"Waalaikum salam," ucap Arumi dan nenek bersamaan sembari menengok kearah Dewi.
"Eh Dewi, kapan kamu datang?" tanya nenek.
"Itu lo Arumi semalam mimpi mendapat ikan yang besar segede rumah ini dan kamu yang ngasih. Menurut Nenek, Arumi bakalan mendapat rezeki yang besar hari ini," ucap nenek heboh.
"Wah!!! kenapa bisa sama dengan kabar yang akan aku sampaikan pada Arumi. Arumi benar-benar akan mendapatkan rezeki yang besar dan besar banget, yang tak terduga," cetus Dewi.
"Benarkah Dewi?" ucap Arumi dan nenek bersamaan.
"Iya." Dewi mengangguk-ngangguk.
"Cepat katakan Dewi, aku ingin mendengarnya rezeki apa yang akan aku dapatkan hari ini?" tanya Arumi penuh rasa tak sabar.
"Kamu..., kamu akan mendapatkan rumah yang sangat kamu inginkan. Rumah yang kemarin kamu lihat yang tak dijual itu. Rumah itu akan menjadi milik kamu. Rumah itu diberikan sama kamu dengan percuma alias gratis Arumi," ucap Dewi.
Arumi melebarkan kedua matanya begitupun juga dengan nenek, seakan tak percaya mendengar pernyataan Dewi.
"Benarkah Dewi?" tanya Arumi.
__ADS_1
"Benar! Itu sungguh benar." jelas Dewi.
"Alhamdulillah," ucap Arumi lalu melompat-lompat kegirangan bersama Arsya yang digendongnya.
"Alhamdulillah, tidak menyangka Arumi akan mendapatkan rezeki rumah yang sangat diimpikannya," ucap nenek.
"Kamu sungguh beruntung Arumi. Mendapatkan rumah yang kamu inginkan dengan tanpa membelinya. Orang yang memberikan rumahnya padamu orang yang sungguh baik, dan mulia hatinya," terang Dewi.
"Bagaimana bisa Dewi orang itu tiba-tiba memberikan rumahnya padaku, tanpa aku harus membelinya? Siapa orang itu Dewi, aku ingin tahu?" tanya Arumi.
"Sebenarnya aku mengenal pemilik rumah itu, hanya saja aku merahasiakannya darimu selama ini. Dia adalah atasanku. Dialah yang mempekerjakanku untuk bekerja sama denganmu selama ini dalam menjalankan bisnis kuemu."
"Siapa dia? Kenapa menyuruhmu bekerja sama denganku dan apa urusannya denganku?' Rentetan pertanyaan Arumi.
"Dia orang misterius yang baik hati dia rela melakukan apa saja demi kamu. Dia selalu mengawasimu, melindungimu, membantumu dalam ketidaktahuanmu Arumi."
"Siapa dia Dewi?" tanya Arumi penasaran.
"Iya Dewi, siapa orang sebaik itu yang dengan ikhlas tanpa Arumi tahu mau melakukan semuanya untuk cucu Nenek?" tanya nenek juga.
"Nanti kamu akan tahu Arumi. Siapa orang yang sudah banyak berkorban untukmu," ucap Dewi.
"Tentang rumah yang kamu inginkan. Aku mengatakan padanya kalau rumah itu sangat diinginkan oleh orang yang bernama Arumi. Setelah dia berpikir keras karena itu rumah kesayangannya. Dan akhirnya dia pun mau memberikan rumahnya untukmu Arumi. Dia sungguh lelaki yang berhati besar."
"Kamu sungguh wanita spesial dihatinya hingga dia mau berkorban dan memberikan apa yang dia punya untuk kamu."
Arumi terharu mendengar ucapan Dewi tanpa terasa air matanya menetes di pipi.
Nenek pun sama sangat terharu mendengar ucapan Dewi. Air matanya pun berlinang.
Sambil nunggu up baca juga ceritaku yang lain.
RONI SANG PEJUANG CINTA. Menceritakan tentang kisah cinta antara simiskin Roni dan Risa anak kepala desa yang kaya. Demi mendapatkan restu dari bapaknya Risa, Roni harus berjuang merantau di kota jakarta untuk memenuhi syarat dari bapaknya Risa yang harus kaya selerti dirinya. Setelah itu Roni baru bisa menikah dengan Risa.
Apakah dengan ke jakarta Roni bisa mendapatkan uang yang banyak dan kaya. Apakah semudah itu merantau di kota jakarta?
Yuk kepoin yang belum baca.
__ADS_1