Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 24 Pulang larut


__ADS_3

Arumi melaksanakan perintah Ibu mertunya, dia menuju ruang makan. Arumi terpaksa makan sendiri atas perintah mertuanya. Keinginanya untuk makan bersama suaminya tak terpenuhi. Hendri yang di tunggu-tunggu sedari tadi juga tak kunjung pulang.


 


Arumi menikmati makan malamnya sendirian, sementara Mia masih dengan kegelisahannya memikirkan Hendri yang tak kunjung pulang di hari yang semakin malam. Nampak Mia menunggu kedatangan Hendri di ruang tamu, sembari berjalan mondar-mandir untuk mencegah kantuknya.


 


Mia hendak menghubungi Hendri tapi nggak jadi. Mia jadi minder sama Hendri karena tadi pagi sudah membuatnya kesal dengan ucapannya.


 


"Jangan-jangan benar dugaanku Hendri sangat frustasi dengan syarat yang aku ajukan. Semoga saja tidak ya. Ya Allah semoga Hendri masih pulang ke rumah ini. Jangan sampai dia meninggalkan rumah ini lagi bisa rugi aku nanti," gumam Mia sembari berjalan mondar-mandir berharap Hendri masih pulang ke rumahnya. 


 


Mia merasa takut Hendri akan meninggalkan rumahnya seperti kemarin saat dia melarangnya menikah dengan Arumi. Hendri orangnya nekatan.


 


Hendri sudah otw mengantar Melinda pulang ke rumahnya. Sesekali Hendri melihat jam di tangannya.


 


"Ini sudah malem banget nggak biasanya aku kerja sampek jam segini. Lembur aja aku sudah bisa pulang dari tadi. Pasti Arumi menghawatirkanku yang nggak pulang-pulang. Aku juga nggak sempat ngasih kabar," batin Hendri sembari menyetir mobil.


 


"Rumahmu masih jauh nggak," tanya Hendri pada Melinda.


 


"Nggak kok sebentar lagi nyampek."


 


Hendri merasa lega mendengar jawaban dari Melinda. Sebentar lagi nyampek dan Hendri bisa pulang setelah Melinda sampek di rumahnya. Hanya berlalu beberapa menit saja sampailah di rumah Melinda.


 


Hendri membawa masuk mobil Melinda ke garasi. Hendri segera turun dari mobil. Dan akan membukakan pintu untuk Melinda.


 


Melinda sudah turun dari mobilnya. Hendri mengucapkan kata pamit pulang pada Melinda, tapi tak di izinkan Melinda untuk pulang. Melinda mengajak Hendri untuk mampir sebentar ke rumahnya. Melinda berniat akan mengenalkan Hendri pada Ayahnya.


 


Karena hari sudah malam Hendri menolaknya, beruntung Melinda mau mengerti. Akhirnya Melinda mengizinkan Hendri pulang.


 


"Terima kasih sudah mengizinkan aku pulang," ucap Hendri sangat senang.


 


"Terus kamu pulang naik apa?" 


 


"Aku akan cari taksi."


 


"Sudah malem begini pasti susah cari taksi. Gimana kalau kamu pakai mobilku aja."


 


"Ah nggak usah, kalau nggak ada taksi aku bisa naik ojek online," pekik Hendri.


 


"Nggak usah nolak niat baik si bos, cepat pakek mobilku aja. Dan besok kamu harus jemput aku, ini sebagian dari pekerjaan kamu "


 


Karena menyangkut pekerjaan Hendri tidak bisa menolak. Akhirnya Hendri mau membawa pulang mobil Melinda ke rumahnya. Hendri tidak menyangka kini pekerjaanya berubah dalam sehari. Pekerjaan Hendri nggak jelas semua ini karena kecerobohannya.

__ADS_1


 


Hendri masih bersyukur karena tidak di pecat. Hendri pun berlalu pergi meninggalkan rumah Melinda di hari yang sudah larut malam membelah jalan dengan mobil milik Melinda.


 


Mia masih stand by menunggu kedatangan Hendri meski matanya sudah hampir terbenam. Sama dengan Arumi yang juga masih menunggu kedatangan suaminya.


 


"Ibu sudah ngantuk kan! Mending Ibu masuk kamar, Ibu tidur aja," ucap Arumi dengan lembut.


 


"Siapa yang ngantuk, lihat ni mata Ibu masih melek lebar," ucap Mia sembari melebarkan matanya yang tadi sempat menciut karena ngantuk.


 


Sudah sangat malam, Arumi mencoba menghubungi Hendri lagi. Tetapi tetap saja masih nggak tersambung.


 


"Di mana sih Mas, kamu kok nggak pulang-pulang," keluh Arumi.


 


"Nggak nyambung lagi?" Cetus Mia di sela-sela ngantuknya.


 


"Iya, Mas Hendri masih nggak bisa di hubungi Bu!"


 


"Sebenarnya Hendri itu ke mana, kurang ajar banget tu anak nggak mau ngasih kabar bikin semua khawatir. Awas saja nanti kalau pulang bakalan Ibu omelin habis-habisan," tutur Mia yang sudah merasa capek menunggu Hendri yang tak kunjung datang.


 


Baru saja di omongin terdengar suara mobil masuk garasi rumah. Mia dan Arumi segera beranjak ke luar rumah.


 


 


"Iya kok sampek di bawa masuk ke rumah ini!!"


 


Saat melihat yang keluar dari mobilnya adalah Hendri. Mereka berdua ternganga.


 


"Itu Mas Hendri Bu yang membawa mobilnya," ucap Arumi sangat senang melihat Hendri pulang yang menuju dengan keadaan baik-baik saja.


 


"Mas Hendri!"


 


Arumi berlari mendekat ke arah suaminya dan mencium punggung tangannya.


 


"Mas Hendri kemana aja, kok baru pulang?"


 


Belum sempat menjawab datang pertanyaan Ibunya yang meletup-letup.


 


"Kamu tu kemana aja sampek larut begini bikin khawatir Ibu sama istrimu. Nggak ngasih kabar juga kalau akan pulang larut."


 


"Maaf Bu! Aku tadi sibuk. Maaf kalau nggak sempat ngasih kabar," ucap Hendri.

__ADS_1


 


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu pulang bawa mobil. Apa itu mobilmu? kamu sudah membeli mobil? Jadi sampek larut begini kamu sedang memilih-milih mobil yang bagus."


 


"E enggak Bu, itu....,"


 


"Ternyata kamu mau bikin surprise Ibu kalau kamu sudah bisa beli mobil, pakai pulang selarut ini. Tapi Ibu senang ternyata kamu sudah bisa membeli mobil. Ibu senang sekali. Ternyata ucapan Ibu sangat manjur bisa membuat kamu nekat memenuhinnya."


 


Mia nerocos aja memotong ucapan Hendri yang belum selesai. 


 


"Ibu bangga sama kamu Hen, kamu memang putraku yang bisa di andalkan. Terima kasih ya.. sudah memberi kejutan yang indah untuk Ibu," ucap Mia sembari menepuk-nepuk bahu Hendri memuji anaknya yang hebat menurutnya.


 


Mia pun berlalu pergi meninggalkan Hendri dan Arumi. Mia langsung menuju ke kamarnya.


 


"Nggak sia-sia aku menunggu kedatangan Hendri, ternyata dia putraku yang hebat dalam sekejap dia bisa memenuhi syarat yang aku ajukan. Hebat kamu Hendri," gumam Mia sembari berjalan menuju kamarnya.


 


Hendri pasrah tidak bisa menjelaskan pada Ibunya kalau itu bukanlah mobilnya. Sedikit pun tak bisa di sela ucapannya tadi nerocos aja.


 


"Itu benar mobil kamu Mas?" Tanya Arumi yang juga penasaran dengan mobil yang di bawa pulang suaminya. Ekspektasi Arumi itu bukanlah mobil yang sudah di beli suaminya.


 


"Sudahlah ayo kita masuk dulu ini sudah malam. Nanti akan aku jelaskan."


 


Hendri terlihat sangat lelah. Jelas saja karena seharian dia bekerja keras tanpa henti. Bukan hanya fisiknya pikirannya pun juga merasa capek. Sesampai di kamarnya Hendri langsung menghempaskan badannya di atas ranjang tanpa membersihkan dulu.


 


"Mas Hendri nggak mandi dulu."


 


"Aku rasanya lelah banget hari ini, aku langsung mau tidur saja mataku sudah ngantuk."


 


Arumi tidak bisa memaksa Hendri untuk membersihkan diri, memang Hendri sungguh nampak kelelahan. Arumi mengerti pasti banyak yang di kerjakan suaminya di kantor tadi.


 


Arumi yang juga merasa lelah menunggu kedatangan Suaminya dia pun ikut berbaring di samping suaminya yang sudah tertidur lelap dalam sekejap.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2