
Ada yang mengejutkan saat mereka keluar dari ruang ganti, nampak raut wajah cemberut pada Arumi dengan tidak mengenakan baju pengantin. Arumi dan Hendri terlihat masih mengenakan baju yang tadi dipakainya.
Ada apa sebenarnya? Saat ditanya sama Mia dan juga Salsa, Arumi hanya tertegun, dan Hendri hanya terdiam.
"Kenapa kalian hanya diam saja nggak jawab pertanyaan Ibu?"
"Bajunya nggak muat Bu, aku pakai," ucap Arumi dengan sedikit kecewa.
"Wak, kak, kak..., ya jelas nggak muat, orang kamu lagi hamil, perutmu besar, ya nggak cocok kamu pakai baju pengantin yang bagus kayak gini. Pantesnya kamu tu pakek daster dulu. Nanti kalau sudah lahiran baru kamu vitting baju."
Mia menertawakan Arumi bahkan mengejeknya. Arumi yang sudah merasa kecewa karena keinginannya gagal, di tambah ejekan ibu mertuanya, membuatnya tak tahan air matanya pun keluar tanpa permisi.
"Ibu! Kenapa Ibu malah mengejek kak Arumi. Sudah jelas dia sangat kecewa," tutur Salsa.
Hendri hanya bisa menenangkan Arumi sembari menyeka air matanya. Salsa juga ikut menenangkan Arumi yang sudah di tindas sama ibunya. Sedangkan Mia menunjukkan senyum kemenangannya.
"Itulah Hen, kalau kamu mengabaikan persyaratan yang Ibu ajukan. Belum memenuhi syarat sudah pakek acara vitting baju. Dan bajunya nggak mau lagi dipakai sama calon pengantinnya. Aduh kasihan," ejek Mia lagi.
"Ibu!!" Teriak Hendri merasa nggak terima dengan ucapan ibunya yang berulang kali mengejek Arumi dan membuatnya menangis.
"Ibu sungguh keterlaluan. Kehadiran Ibu disini hanya menyakiti hati Arumi. Mana janji Ibu tadi, katanya nggak mau nyusahin aku. Sekarang malah bikin aku kesal. Ayo kita pulang saja, nggak usah kita bersenang-senang."
Hendri sangat marah pada Mia, dan membawa Arumi keluar dari butik. Dengan langkah cepat. Salsa juga menunjukkan kekesalan pada ibunya, meninggalkan Mia yang masih bergeming sembari menangkubkan kedua tangannya.
"Hei, tunggu Ibu!" Mia berlari mengejar Salsa, Arumi dan Hendri.
Sudah sampai di mobil, Hendri membawa masuk Arumi ke dalam mobil, diikuti Salsa. Mia juga berlari cepat dan segera naik mobil.
"Kita akan pulang saja, nggak jadi jalan-jalan," ucap Hendri dengan lantang.
"Eh..., nggak boleh gitu tadi kamu udah bilang mau ngajak kita senang-senang. Pokoknya harus kamu penuhi ucapanmu tadi," tegas Mia.
"Ibu kan yang maksa ikut! Aku nggak ngajak Ibu. Sekarang malah bikin aku susah," keluh Hendri yang masih belum menjalankan mobilnya.
"Sudahlah Mas, sudah! Aku nggak papa, aku hanya sedikit kecewa saja. Benar kata Ibu nanti kalau anak kita sudah lahir baru kita bisa Vitting baju," ucap Arumi.
__ADS_1
"Nah gitu dong Arumi, akhirnya kamu sadar diri juga," tambah Mia.
"Sekarang ayo kita jalan-jalan Mas, seperti yang kamu janjikan tadi."
"Bener kamu nggak papa Arumi?" Tanya Hendri yang merasa nggak enak pada istrinya yang sebenarnya moodnya hilang.
"Aku nggak papa Mas, aku happi aja. Rasa kecewaku harus diobati dengan bersenang-senang sama kamu." Arumi menunjukkan senyum manisnya. Hendri pun membalas senyum istri cantiknya itu.
"Yes! Akhirnya jadi jalan-jalan juga," ucap Salsa girang.
Sedangkan Mia masih menyunggingkan senyum sinisnya.
Hendri kembali mengemudikan mobilnya dengan rasa lega, karena melihat Arumi tersenyum lagi. Tak terasa penuh suasana bahagia dalam perjalanan mereka sampailah di mall besar yang ada di kota tempat tinggalnya.
"Kita akan ke sini Mas?" Tanya Arumi sedikit tak percaya.
"Iya."
"Wah, kita akan belanja di mall ini. Hendri kamu bener-bener sekarang sudah sukses bisa ngajak Ibu ke mall terbesar di kota kita," ucap Mia sangat senang dan memuji Hendri putra satu-satunya.
"Ayo kita masuk?" Ajak Hendri.
Mereka ber empat mulai masuk ke dalam mall dengan berjalan lenggang penuh senyuman menyertai mereka.
"Wah mall ini sangat besar, Ibu senang bisa dateng kesini. Ini semua karena kakakmu sudah sukses. Ibu seneng banget punya anak seperti Kakakmu bisa membuat ibunya bahagia. Nanti kamu juga harus sukses seperti kakakmu, buat Ibu bahagia ya," celoteh Mia sembari berjalan mengelilingi mall.
"Iya bu, doakan saja aku sukses supaya bisa bahagiain Ibu," imbuh Salsa.
Hendri dan Arumi menuju ke toko perlengkapan bayi. Arumi akan membeli kebutuhan si kecil yang tinggal dua bulan lagi akan lahir. Semua baju bayi begitu nampak menggemaskan dan lucu yang dipampang di toko itu, membuat Arumi dan Hendri bingung memilihnya.
Mia dan Salsa ikut bersama Hendri dan Arumi. Mereka juga nampak gemas melihat perlengkapan bayi disana. Tanpa memperhitungkan Mia mengambil barang sesuka hatinya untuk si jabang bayi calon cucunya. Hingga keranjangnya sampai penuh.
Walau pun Mia nggak begitu suka dengan Arumi, dia masih menginginkan cucunya dan memperhatikannya. Mia berharap cucunya lahir selamat dan hidup berkecukupan seperti dalam benaknya.
Di kira sudah cukup, Arumi dan Hendri membawa barang pilihannya ke kasir. Tak dapat di pungkiri Arumi dan Hendri nampak terkejut melihat Mia yang sudah duluan datang ke kasir dengan banyak perlengkapan bayi pilihannya.
__ADS_1
"Ibu!! Apa-apaan ini, kenapa Ibu ikut membeli perlengkapan bayi dan sebanyak ini?" Tanya Hendri keheranan. Arumi juga menunjukkan ekspresi keheranan.
"Emang kenapa, nggak boleh beliin buat cucu Ibu nanti?" Bentak Mia sembari menyunggingkan mulutnya.
Hendri dan Arumi malah tertawa kecil mendengar ucapan ibunya. Hendri tidak menyangka ternyata ibunya yang nggak suka sama istrinya masih perhatian dengan calon cucunya.
"Boleh aja Bu, tapi nggak ugal-ugalan kayak gini. Ntar yang bayar siapa?" Sindir Hendri.
"Nah!! yang bayar siapa, pilih barang sebanyak ini," sela Salsa.
"Ya kamu lah Hen, kamu kan anak Ibu. Kamu harus ngasih uang ibu buat beliin semua ini untuk calon cucu Ibu."
"Yah, kirain mau bayar pakai uang sendiri."
Menunggu di kasir cukup lama membuat Hendri sedikit bosan dan ingin ke toilet sebentar. Hendri pun pamit sama Arumi mau pergi ke toilet. Saat baru keluar dari toko perlengkapan bayi Hendri tak sengaja melihat Melinda jauh dari hadapannya sedang berjalan sendirian.
Hendri mencoba menghindar sebelum Melinda melihatnya. Tak sengaja pula sekelebat mata Melinda seperti melihat sosok Hendri sedang masuk toko.
"Itu seperti Hendri," ucap Melinda sembari berjalan masuk toko mencari Hendri.
Tak ditemukannya di toko itu, Melinda mencari ke toko sebelahnya yaitu toko perlengkapan bayi. Melinda tak begitu fokus berjalan, netranya mengarah kesana-sini mencari keberadaan Hendri. Hingga tak sengaja Melinda menabrak Arumi dengan perut besarnya sedang berdiri di depan kasir.
Arumi hampir terjatuh, beruntung ada Salsa yang menyanngga tubuhnya.
"Kamu nggak papa kak." Salsa menanyakan keadaan Arumi.
"Nggak papa kok!"
"Maaf saya nggak sengaja, saya lagi mencari seseorang. Melinda sibuk minta maaf dengan menyatukan kedua tangannya.
__ADS_1