Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 45 Rasa Sakit


__ADS_3

"Maksudku aku menceraikanmu Arumi." Hendri memperjelas ucapannya.


"Apa Mas? Kamu menceraikanku? Kamu bercanda Mas," ucap Arumi masih tidak percaya.


"Benar, aku tidak bercanda. Sekarang aku talaq kamu."


Arumi tercenang, sembari berderai air matanya mendengar pernyataan suaminya.


"Maafkan aku Arumi. Ini yang terbaik untuk kita."


Hendri melepaskan genggaman tangannya.


"Mas Hendri, kenapa tiba-tiba menceraikanku. Apa salahku, apa salahku Mas?" ucap Arumi sembari menangis.


Hendri tidak tega melihat Arumi bersimbah air mata, dia pun memilih membalikan badanya membelakangi Arumi, karena air matanya juga tidak bisa ditahan ingin keluar.


"Kamu tidak salah Arumi, aku yang bersalah. Maafkan aku," ucap Hendri dalam hatinya.


"Maafkan aku Arumi, memang itu yang harus terjadi supaya kamu bahagia. Sekarang sudah saatnya aku membiarkanmu bahagia. Maaf aku harus pergi."


Hendri pamit tanpa menghadap Arumi.


"Tunggu sebentar Mas, jelaskan dulu apa alasan mu menceraikanku?" ucap Arumi.


Hendri tidak memperdulikan Arumi dia berlalu pergi begitu saja. Hendri tidak memberi penjelasan tentang alasannya menceraikan Arumi. Hendri merasa malu karena semua salahnya.


"Mas, tunggu Mas," Arumi hendak beranjak dari ranjangnya namun terhalang infus, dia pun mengurungkannya. Hendri sama sekali tak menghiraukannya.


Hendri keluar dari ruangan Arumi meninggalkan Arumi dengan isak tangisnya.


Nenek Suryati yang sedang menunggu diluar, melihat Hendri yang keluar dari ruangan Arumi dia langsung mengejarnya.


"Hendri tunggu sebentar, kamu mau kemana?" Tanya nenek Suryati.


Hendri terpaksa menghentikan langkahnya yang sebenarnya ingin menghindari pertemuan dengan nenek Suryati.


"Aku harus pergi Nek, aku masih banyak urusan," ucap Hendri.


"Kamu selalu bilang banyak urusan. Baru juga sebentar menemui Arumi kok sudah mau pergi. Tinggallah dulu sebentar. Nenek mau bicara sama kamu." Tangan nenek meraih tangan Hendri dan menariknya membawa duduk di ruang tunggu.

__ADS_1


Hendri tidak bisa menolak ajakan nenek.


"Hendri, kamu tau sendiri Arumi bersi keras untuk tinggal di rumah Nenek setelah lahiran. Nenek tau kamu pasti tidak mau ikut tinggal bersama Arumi di rumah Nenek yang sempit.


Tapi Nenek mohon sama kamu, seringlah mengunjungi Arumi setelah pulang dari kantor. Buatlah Arumi senang hatinya. Nenek ingin melihat Arumi bahagia," ucap Nenek dengan serius.


Hendri ingin memberitahu Nenek Suryati tentang yang sebenarnya, kalau dia sudah menceraikan Arumi, tapi dia tidak tega takut nenek syok.


Akhirnya Hendri mengiyakan permintaan nenek, supaya nenek senang.


Nenek Suryati berharap pada Hendri supaya bisa cepat membeli rumah untuk dia tinggali bersama Arumi dan anaknya. Supaya mereka bersama terus.


Hendri pun berjanji setelah ini akan mencari rumah yang lebih layak untuk ditinggali Arumi dan juga bayinya bersama neneknya.


Hendri pamit akan kembali ke kantor sama nenek. Namun nenek Suryati meminta Hendri sebelum pergi untuk melihat anaknya yang sudah lahir.


Nenek pun membawa Hendri ke ruang Baby. Sampai disana nenek meminta Hendri untuk menggendong anaknya supaya kenal dengan Ayahnya.


Hendri tidak bisa menahan tangisnya saat menatap buah hatinya yang nampak lucu imut dan tampan seperti dirinya.


"Kamu menangis Hendri?" Tanya nenek.


"Dia memang tampan seperti kamu Hen," ucap nenek sembari mengelus punggung Hendri.


Sudah puas melihat anaknya Hendri pun pamit sama nenek.


****


Mia di rumah sudah tau kabar dari Arumi kalau dia sudah melahirkan, namun dia masih enggan datang menjenguknya. Mia akan menanti jemputan Hendri untuk membawanya ke rumah sakit.


Sementara Salsa yang sudah mendengar kabar dari Arumi yang sudah melahirkan, usai jam kuliahnya dia baru akan ke rumah sakit untuk melihat keadaan Arumi dan keponakan barunya.


Arumi masih dengan sisa tangisnya, meratapi nasibnya yang sudah diceraikan sama suaminya usai melahirkan anaknya.


"Aku tidak percaya dengan ucapan Mas Hendri, pasti dia tidak serius. Tidak terjadi apa-apa dalam rumah tangga kami. Hubungan kami pun baik-baik saja selama ini. Pasti Mas Hendri hanya salah bicara saja," kira Arumi.


Arumi masih tidak yakin dia diceraikan sama Hendri suaminya. Dia mengira Hendri hanya asal bicara. Namun di hati Arumi masih sedih memikirkannya, bagaimana kalau itu benar.


Nenek Suryati datang ke ruangan Arumi.

__ADS_1


Arumi yang melihat kedatangannya langsung membersihkan sisa air matanya. Nenek Suryati tidak boleh tau kalau dirinya tengah bersedih yang baru saja ditalaq oleh suaminya.


"Nenek dari mana saja, kok baru masuk ke ruanganku?" Tanya Arumi.


Nenek Suryati berjalan mendekati Arumi.


"Nenek baru saja mengantar suamimu melihat anaknya," ucap nenek.


"Kamu senang kan Hendri sudah datang." Ucapan nenek Suryati membuat jantung Arumi bergemuruh.


"Deg."


Arumi teringat kalau kedatangan suaminya tadi sungguh menyakitkan hatinya. Bukannya sama-sama merasa senang dan bahagia dengan kehadiran buah hatinya, tapi malah meninggalkan luka di hati Arumi yang penuh tanda tanya.


"Aku senang Nek Mas Hendri akhirnya datang," ucap Arumi menutupi.


Arumi tidak ingin neneknya tau kalau kedatangan Hendri tadi hanya untuk menceraikannya.


"Kamu tau tidak, tadi dia menangis saat melihat putranya yang tampan seperti dirinya," ucap nenek.


"Menangis? Kenapa mas Hendri menangis? Sebenarnya ada apa dengan mas Hendri. Dan apa yang sedang terjadi dengan rumah tanggaku," batin Arumi.


"Kamu kok bengong aja Arumi," tegur nenek.


"Oh, nggak kok Nek."


Arumi sungguh penasaran tentang pernyataan Hendri suaminya yang tiba-tiba menceraikannya. Arumi mengharapkan kehadiran ibu mertuanya untuk datang kesini menjenguknya dan akan mempertanyakan semuanya pada ibu mertuamya.


Namun hari sudah hampir gelap Mia tak kunjung datang ke rumah sakit melihat keadaannya dan juga bayinya.


Arumi duduk termangu penuh rasa kecewa yang menunggu mertuanya datang. Namun ditunggu sedari tadi tak kunjung datang juga.


"Ibu benar-benar tidak datang menjengukku. Apa dia tidak ingin melihat cucunya yang sudah lahir. Dia memang membenciku, setidaknya dia tidak membenci cucunya. Mas Hendri pun datang hanya untuk menceraikanku. Apa ibu yang menyuruh mas Hendri menceraikanku karena dia sangat membenciku," terka Arumi.


Arumi kembali menangis, teringat dengan Hendri suaminya yang sangat diharapkan kehadirannya di sisinya setelah melahirkan anaknya yang siap membesarkan bersama, malah pergi menjauh darinya.


"Ya Allah, kenapa tiada henti ujian yang ku alami dalam menjalani pernikahanku. Jika ini kehendakmu berikanlah kekuatan hati ini untuk menghadapi dan menjalani semua ini." Doa Arumi dalam tangisnya.


Kesedihan Arumi ia rasakan sendiri. Tidak ada tempat berbagi untuknya. Tak ada keluarga atau pun teman saat ini disampingnya. Hanya ada seorang nenek tua yang ringkih sering mengeluh pusing kala banyak pikiran.

__ADS_1


Arumi tidak bisa mencurahkan kesedihannya pada neneknya. Arumi takut nenek Suryati bersedih dan syok. Arumi akan memendam sendiri rasa dukanya.


__ADS_2