Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 57 Bertemu Lagi


__ADS_3

Mendapat pesanan kue yang cukup banyak, Apalagi sangat mendadak, Nenek Suryati tidak bisa mengerjakannya sendiri. Nenek Suryati butuh orang untuk membantunya membuat kue.


Akhirnya Nenek meminta Arumi untuk mencari seseorang yang bisa membantunya membuat kue sebanyak itu.


"Tenang saja Nek, aku akan meminta bantuan pada Sinta, untuk mencarikan orang kerja paruh waktu," ucap Arumi.


"Benarkah?"


"Iya Nek, Sinta itu orangnya peduli banget sana temannya," jelas Arumi.


Arumi segera menghubungi Sinta dan meminta bantuannya.


Kebetulan sekali Sinta mempunyai banyak teman kosnya yang sedang ngganggur jadi cocok kalau ada pekerjaan untuk mereka.


Sinta mengatakan pada Arumi kalau ada dua temannya yang sedang nganggur. Nanti akan dia kirim ke rumah Arumi.


Arumi lega sudah mendapatkan dua pekerja dadakan untuk membantu neneknya membuat kue. Saatnya Arumi bergegas mencari bahan yang dibutuhkan untuk membuat kue.


Arumi pun segera meluncur dengan ojol pesanannya, membawanya kesebuah market untuk membeli bahan-bahan membuat kue.


Sampai di market Arumi sudah di tunggu kedatangannya oleh Sinta. Hari ini Sinta cuti tidak masuk kerja karena terlalu lelah kerja di butik. Meski dalam masa istirahatnya, Sinta mau membantu Arumi belanja bahan kue.


Sinta ikut senang mendengar Arumi mendapat pesanan kue yang banyak. Setelah mendengar keluh kesah Arumi kemarin yang sangat membutuhkan pekerjaan karena butuh uang.


Sekarang Sinta merasa senang dan lega hatinya, mendengar Arumi dapat pesanan kue yang banyak jumlahnya. Sinta ikut bersemangat dan bergegas ingin membantunya.


Dengan penuh semangat dan perasaan senang, Arumi memilih berbagai macam bahan kue. Arumi bolak-balik memasukkan bahan dalam keranjang dorongnya hingga penuh.


Sinta yang membawa keranjang mengikuti langkah Arumi kesana-sini.


Keranjang sudah penuh belanjaan. Arumi dan Sinta mendorongnya membawa ke kasir. Sebelum sampai di kasir. Kaeranjang yang didorong Arumi tidak sengaja menabrak seorang lelaki yang tengah buru-buru melangkahkan kakinya, yang entah mau membeli apa di market itu.


"Bruakkkk."


"Lututku," ucap lelaki itu duduk meringkuh kesakitan memegang lututnya.


Arumi dan Sinta segera berlari mendekati lelaki yang merintih kesakitan.


"Maaf, kami tidak sengaja," ucap Arumi dan Sinta bersamaan.


Pria itu mendongak menatap Arumi dan Sinta, dua wanita beerhijab. Salah satu dari mereka membuatnya terkejut.


Laki-laki itu adalah Gilang, yang buru-butu masuk ke market untuk membeli minuman favoritnya. Karena saat ini Gilang tengah kehausan usai perjalanan meetingnya.


Gilang terdiam menatap Arumi. Namun tidak dengan Arumi yang berteriak menyebut nama Gilang.


"Gilang! Kamu?"


"Kamu nggak papa?" tanya Arumi sembari mendekati Gilang yang belum bangun dari duduknya.

__ADS_1


Arumi reflek memegang lutut Gilang.


Gilang sangat terkejut hingga kedua matanya melebar melihat sikap Arumi yang agresif.


Arumi lupa dengan pernyataanya kemarin yang tidak mau bertutur sapa pada Gilang.


"Kakimu sakit Gilang," ucap Arumi khawatir. Tangannya memegangi lutut Gilang.


"Nggak kok, nggak begitu sakit." Gilang beranjak dari duduknya. Gilang berdiri sembari menata jasnya.


Arumi pun ikut berdiri.


"Siapa laki-laki tampan itu, kamu mengenalnya?" bisik Sinta di telinga Arumi.


"Dia itu Gilang. Orang yang pernah menolongku," balas Arumi berbisik di telinga Sinta.


"Dia tampan sekali. Apa dia masih lajang. Kalau dia masih lajang, kenalin sama aku ya," ucap Sinta.


"Siapa yang tau dia masih lajang. Aku baru bertemu dia dua kali ini saja," cetus Arumi.


Arumi jadi teringat kalau dia membuat pernyataan tidak boleh bertutur sapa saat bertemu dengan Gilang. Namun tadi apa yang dilakukan Arumi.


Arumi menutup mulutnya yang menganga, saat teringat dirinya menyentuh lutut Gilang.


"Apa kita sudah boleh saling menyapa?" tanya Gilang menatap Arumi serius.


Gilang hanya menatap Arumi dengan rasa tidak mengerti.


Arumi kembali mendorong keranjangnya bersama Sinta ke kasir.


"Kok kamu langsung ninggalin dia sih. Kan sayang orang setampan dan sekeren itu ditinggalin gitu aja. Padahal aku masih ingin melihatnya," ucap Sinta.


"Kita itu tidak boleh berlama-lama memandangi lelaki tampan nanti jadi menimbulkan sebuah dosa," tegas Arumi.


"Oh ya, aku ngerti kamu kan sudah bersuami. Pantaslah buat kamu tidak boleh melirik lelaki tampan seperti Gilang. Tapi kalau buat aku nggak papa kan. Aku kan masih lajang," ucap Sinta.


"Huh!" Arumi menghela nafas.


Sudah sampai di kasir Arumi membongkar semua belanjaannya untuk dihitung. Setelah selesai Arumi segera membayarnya.


Arumi keluar dari market dengan kedua tangannya menenteng dua tas besar berisi belanjaanya. Begitu juga dengan Sinta.


Mereka berdua nampak kelelahan karena barang yang dibawanya sangat berat.


"Aduh! Capek sekali tanganku," keluh Sinta lalu meletakkan belanjaannya.


"Sama aku juga," ucap Arumi.


"Kita pulangnya naik apa?" ucap Sinta.

__ADS_1


"Nggak mungkin kita akan naik ojol. Aku akan pesan taksi aja, karena belanjaan kita terlalu banyak," ucap Arumi.


Arumi segera memesan taksi online.


Sementara dari jauh ada Gilang yang melajukan mobilnya. Gilang melihat Arumi dan temannya berdiri sedang menunggu kendaraan datang.


"Itu kan Arumi. Apa dia butuh tumpangan?"


Gilang berinisiatif menawarkan tumpangan pada Arumi.


"Kasihan Arumi. Aku akan mencoba menawarkan tumpangan padanya. Mau dia menolak atau tidak, yang penting niatku hanya ingin membantunya," gumam Gilang dalam mobilnya.


Gilang memberhentikan mobinya tepat dihadapan Arumi dan Sinta.


"Cepet banget taksinya datang," ucap Sinta.


Arumi dan Sinta melihat Gilang yang keluar dari pintu kemudi. Mereka berdua tercenang.


"Laki-laki tadi," cetus Sinta.


"Ngapain Gilang kesini," batin Arumi.


"Kalian butuh tumpangan," ucap Gilang menawarkan.


"Eng..," ucap Arumi belum selesai.


"Iya, kami butuh tumpangan untuk sampai di rumah," cetus Sinta.


"Sinta!" Arumi mencubit pinggang Sinta.


"Nggak boleh kita menolak bantuan dari orang yang mau membantu kita, yang jelas kita sangat butuh," ucap Sinta.


"Kami mau diantar sampai ke rumah," tegas Sinta.


"Ya udah, sekarang barangnya bawa masuk kedalam mobil," ucap Gilang.


Arumi hanya bisa menghela nafas menuruti kemauan Sinta.


Sinta merasa senang mendapatkan tawaran dari Gilang. Laki-laki tampan yang baru saja dikaguminya.


Sementara Gilang juga senang, akhirnya bisa membantu Arumi lagi.


"Maaf Arumi kalau kamu tidak suka. Niatku hanya ingin membantumu itu saja. Tapi kenapa hatiku sangat senang dan jantungku berdegup kencang saat bersama Arumi," batin Gilang yang sudah duduk di kursi kemudi.


Sinta duduk di kursi depan sejajar dengan Gilang. Sementara Arumi duduk di kursi belakang dengan barang belanjaannya.


"Ya Allah kenapa jadi begini. Aku tidak ingin ini terjadi. Kenapa aku di pertemukan dengan Gilang lagi. Padahal aku sudah membuat pernyataan untuk tidak saling menyapa saat bertemu. Kenapa malah sekarang bersamanya lagi dalam satu mobil."


"Astaghfirullahal adzim..., ya Allah ampunilah dosaku," batin Arumi.

__ADS_1


__ADS_2