Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 32 Vitting


__ADS_3

Pagi begitu cepat menjelma, semua ruangan sudah nampak terang dengan sorotan sinar matahari yang masih hangat. Nampak wajah berbinar-binar pada Arumi setelah hampir menyelesaikan pekerjaan rumahnya. 


 


"Alhamdulillah, semua pekerjaan rumahku sudah beres."


 


Arumi menyunggingkan senyum leganya usai menyiapkan sarapan pagi di meja makan, pertanda pekerjaannya sudah selesai. Arumi tinggal membersihkan diri, setelah itu sarapan bareng suaminya dan berangkat Vitting baju yang sudah di janjikan sama Hendri suaminya.


 


Itulah yang membuat Arumi pagi ini semangat banget, hingga cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya.


Karena sudah selesai Arumi cepat-cepat menuju kamarnya. Tak sabar rasanya Arumi ingin mengenakan baju pengantin yang di idam-idamkannya.


 


Hingga terbayang di benaknya saat menuju kamarnya. Nampak Arumi senyum-senyum sendiri. Sampek nggak menyadari ada Salsa yang di lewati Arumi begitu saja.


 


"Kenapa dengan Kak Arumi, senyum-senyum sendiri. Apa dia habis dapet hadiah?" Batin Salsa sembari menatap punghung Arumi yang semakin menjauh dari pandangannya.


 


Tak seperti Arumi yang merasa senang dan bahagia di pagi yang cerah ini, karena akan vitting baju.


Melinda pagi ini di hari masuk kerjanya tak menampakkan raut wajah senang, hanya wajah murung yang ia tunjukkan saat sedang sarapan bareng Ayah dan Ibunya.


 


"Tumben kamu sarapan pagi! Biasanya cepet-cepet berangkat kerja. Terus mukaknya kok di tekuk gitu kayak nggak bersemangat pagi ini. Kenapa?" tanya Liliana yang kini di mulutnya sibuk mengunyah makanannya.


 


"Iya kenapa kamu Mel? Kemarin kamu ceria banget," tambah Pak Subroto.


 


"Hendri Yah, nggak bisa jemput aku. Tiba-tiba dia minta libur hari ini," ucap Melinda ngerengek seperti anak kecil.


 


"Kirain kamu kenapa?" Cetus Pak Subroto.


 


"Ya gitulah Yah, kalau orang lagi kasmaran nggak ketemu sehari aja nggak terima?" Pekik Liliana.


 


"Ya iya dong, Hendri itu semangatku yah, Bu. Aku jadi gigih bekerja karena dia. Rasanya sekarang aku bagaikan kehilangan separuh jiwaku, karena Hendri tak akan bersamaku hari ini."


 


Melinda mengeluh dan nggak nafsu makan.


 


"Kamu tu sudah dewasa, jangan kayak anak kecil. Kamu harus tetap semangat kerja walau tanpa Hendri. Kasihan Hendri!! dia juga butuh waktu luang untuk keluarganya. Kamu jangan terlalu menekannya nanti dia bosan dan menjauh darimu," tegas Pak Subroto.


 


"Benarkah Yah!!"


 

__ADS_1


"Mungkin saja itu bisa terjadi."


 


"Jadi gitu! Jangan-jangan Hendri sekarang sangat marah padaku dan nggak mau bertemu padaku dan minta cuti untuk hari ini. Mulai sekarang aku harus hati-hati dalam mengambil langkah," batin Melinda.


 


***


 


Saat masuk kamar, Arumi sedikit terkejut karena mendapati Hendri masih tidur dengan nyenyaknya. Padahal dia sudah bangun waktu subuh tadi dan mengerjakan sholat subuh bersama Arumi.


 


Hendri sudah mematikan hand phonenya sedari tadi malam, supaya tidak ada panggilan atau pesan Melinda yang masuk. Hendri benar-benar tidak mau di ganggu sama Melinda. Hendri sengaja ngasih pelajaran buat Melinda biar sedikit jera dan berpikir apakah yang di lakukannya itu pantas.


 


"Mas bangun! Sudah siang," ucap Arumi sembari menepuk lembut pipi Hendri.


 


Hendri hanya mendengus, sembari menguap. Hendri masih merasa ngantuk. Arumi mencoba membangunkan lagi dengan berbisik di telinganya. 


 


"Bangun Mas, katanya mau vitting baju."


 


Hendri mulai membuka matanya dan reflek membangunkan badannya.


 


"Iya ya, aku hampir lupa sayang. ini sudah siang ya."


 


 


" Ya udah, Ayo kita mandi!"


 


"Kita mau mandi bareng?" Tanya Arumi dengan mulut melongo.


 


"Nggak papa kan kita mandi bersama, kita kan suami istri."


 


"Hemm...boleh." Arumi manggut-manggut tersipu-tersipu, tanda setuju dengan ajakan Hendri.


 


Usai mandi mereka berdua sarapan bareng Salsa dan juga Mia. Mia bertanya pada Hendri dan Arumi, kenapa mereka terlihat santai-santai saja, apa tidak bekerja?


 


Hendri mengatakan kalau kali ini dia sedang libur kerja, dan akan bersenang-senang dan menghabiskan waktu dengan Arumi. Tiada di sangka malah Mia ngiri pingin ikut bersenang-senang juga. Salsa tak mau kalah, juga pingin ikut bersama mereka.


 


"Pokoknya Ibu mau ikut. Enak aja mau bersenang-senang kok nggak ngajak Ibu, ntar kualat lo. Ibu kan juga pingin keluar refreshing. Sudah lama sejak kamu dapet kerjaan yang baru kamu nggak pernah ngajak Ibu keluar rumah, bahkan untuk belanja bulanan," rentetan protes Mia.

__ADS_1


 


Hendri tidak bisa mencegah lagi, terpaksa membiarkan Ibunya ikut. Melihat Ibunya di izinkan ikut oleh Hendri, Salsa merengek pingin di ajak juga. Akhirnya Hendri mengizinkan Salsa ikut juga. Dan satu keluarga rumah ini akan bersenang-senang bersama.


 


"Baiklah! Kita akan pergi bersama. Lagian kita juga nggak pernah pergi bersama sejak aku  kembali ke rumah ini. Mumpung Hendri cuti kerja, mari kita bersenang-senang," ucap Hendri.


"Tapi Ibu nggak boleh nyusahin ya," imbuh Hendri.


 


"Oke, oke, Ibu nggak akan nyusahin kamu," ucap Mia mengangguk-nganguk saking senengnya, karena sudah cukup lama sejak Hendri sibuk dengan pekerjaan barunya, tidak pernah mengajaknya keluar rumah.


 


Salsa melompat-lompat kegirangan, karena di izinkan ikut juga.


 


Hendri menuju tempat yang di janjikan pada Arumi. Yaitu butik tempat kerjanya. Sembari mengemudi Hendri  memberitahu Ibunya dan juga Salsa, kalau hari ini dia dan Arumi akan vitting baju, memilih baju yang pas dan cocok untuk acara resepsi pernikahannya nanti.


 


"Kamu akan vitting baju? La emangnya kamu sudah nentuin hari pernikahanmu? Kok sudah pilih baju," tanya Mia sedikit heran.


 


"Wah!! Mau Vitting baju? Aku suka, sekaluan aku lihat model terbaru gaun pengantin kekinian" ucap Salsa.


 


"Ya nggak papa lah Bu, mumpung aku ada waktu luang. Aku hanya menuruti keinginan istriku tercinta, supaya dia merasa lega, salah satu rencananya terselesaikan."


 


Mia menyunggingkan senyum sinisnya, dia selalu cemburu saat Hendri membela istrinya.


 


"Persyaratan Ibu belum kamu penuhi semua Hen? Kamu belum punya mobil sendiri. Sekarang ini aja Ibu merasa nggak enak naik mobil orang. Jadi sebelum kamu meneyapkan hari pernikahan kamu harus membeli mobil dulu."


 


Hebdri menghela nafas berat, begitu juga dengan Arumi mendengar ucapan Ibunya yang mulai kumat matrenya. Sedangkan Salsa menepuk jidatnya sembari menggelengkan kepalanya, merasa heran ngerasaain sikap Ibunya.


 


Sudah sampai di butik, Arumi, Hendri, Salsa dan juga Ibunya mulai masuk ke butik. Mereka di sambut Bu manejer. Sebelum Arumi ke sini sudah mengirim pesan pada Bu menejer kalau hari ini Arumi nggak masuk kerja, karena akan Vitting baju bersama suaminya srkalian Arumi pamit cuti, karena kandungannya sudah mencapai delapan bulan.


 


Saatnya memilih baju pengantin. Arumi menunjukkan pada Hendri baju pilihannya yang sudah di incar sejak lama. Baju pengantin berwarna silver yang begitu anggun dan menawan. Dalam sekejap pandangan saja Hendri suka dengan baju pilihan Arumi.


 


Saatnya mereka berdua akan mengenakan baju pengantin. Nampak raut wajah ceria yang Arumi dan Hendri tunjukkan. Begitu juga dengan Salsa ikut terbawa suasana bahagia mereka. Namun tidak dengan Mia, selalu memasang muka sinis.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2