
Di kantor tempat Hendri bekerja sedang berlangsung acara penyambutan Pimpinan perusahaan baru. Dia adalah anak dari pemilik perusahaan ini yang baru menyelesaikan studynya di luar negeri. Kini sudah kembali ke indonesia dan di suruh menggantikan posisi Ayahnya. Dia adalah Melinda wardana anak pertama Handoyo wardana.
Semua pegawai kantor sudah nampak berbaris di aula gedung untuk menyambut kedatangan CEO baru. Di luar gedung nampak seorang wanita muda nan cantik dengan gaya pakaiannya yang modern turun dari mobil. Kaki jenjangnya berjalan lenggang dengan dua body guard di belakangnya.
Langkahnya mulai memasuki aula. Semua netra yang ada di ruang itu tertuju padanya. Semua tiada mengira CEO baru adalah seorang wanita yang cantik dan seksi. Semua di buat terkejut dan terpukau oleh kedatangannya.
Semua pegawai kantor memberi hormat pada Melisa wardana CEO baru yang baru menampakkan dirinya di perusahaan ini. Melinda yang akan memimpin perusahaan milik Ayahnya. Melisa masih singgle dan usianya masih muda. Dia cantik, tinggi, bertubuh ramping dan seksi bah seperti seorang model.
Semua netra tiada henti menatap Melinda saat dia mulai memperkenalkan dirinya pada semua pegawai kantor hingga selesai. Karena masih baru Melisa meminta bimbingannya di perusahaan ini.
Nampak Hendri berdiri di antara barisan teman-temannya. Hendri tak begitu memperhatikan soal CEO barunya yang baru saja datang dan memperkenalkan dirinya. Hendri tengah sibuk dengan pikirannya.
Hendri tengah memikirkan cara untuk mengatakan pada Ibunya kalau hendak meresmikan pernikahannya, dan mengadakan resepsi pernikahan di rumah Ibunya.
"Aku harus mencoba mengatakan pada Ibu. Nggak ada salahnya mencoba. Aku berharap Ibu mengizinkan," gumam Hendri.
Tak terasa acara penyambutan CEO baru begitu cepat selesai. Semua pegawai kantor harus kembali bekerja seperti biasa. Hendri pun sama akan kembali ke ruangannya untuk kembali mengerjakan pekerjaannya.
Ruangan Hendri ada di lantai empat, Hendri memilih naik lift untuk menuju ruangannya. Kebetulan Melinda juga akan menuju ruangannya yang ada di lantai lima. Melinda di temani dua body guardnya yang sudah hafal akan seluruh ruangan di kantor ini.
Melinda nampak sudah ada di depan pintu lift. Dan lift terbuka. Melisa masuk ke dalam lift yang kosong bersama dua body guardnya. Arumi masih di temani dua body guardnya yang nanti akan menunjukkan ruangannya. Lift hampir tertutup tak ada lago yang mau masuk ke dalam lift.
Hendri yang baru tiba tak mau ketinggalan naik lift dia berlari cepat ke arah lift yang hampur teetutup pintunyadan berhasil menghentikan pintu lift yang hampir tertutup.
Hendri pun masuk ke dalam lift, tanpa memperhatikan siapa yang saat ini ada di lift bersamanya. Yang dia lihat seorang wanita cantik bersama dua body guardnya. Hendri tak berminat menyalanya karena lagi nggak mood. Dan itu juga nggak begitu penting menurutnya.
"Main nyrobot aja, nggak pakek permisi lagi," batin Melinda merasa sebel nggak di hormati sebagai pemimpin baru.
"Buru-buru ya," tanya Melinda yang di belakangi tubuh Hendri.
"Nggak juga," jawab Hendri tanpa menengok ke belakang.
Hendri tidak tau kalau orang di belakangnya adalah CEO barunya yang tadi sudah memperkenalkan diri pada semua pegawainya.
__ADS_1
"Pegawai macam apa dia, udah tau aku pimpinan baru di sini, kenapa dia cuek aja nggak menghormatiku sama sekali," gumam Melinda dengan raut wajah kesalnya merasa di abaikan oleh pegawai kantor milik Ayahnya yang mulai sekarang sudah di pimpin olehnya.
Melinda mencoba berdehem, supaya Hendri yang membelakanginya mau menengok ke arahnya. Nggak ada reaksi apa pun dari Hendri. Hendri tetap dengan spanengnya menunggu lift sampai ke ruangannya yaitu lantai empat.
"Ni orang nggak peka banget, awas ya nanti kalau ketemu lagi."
Sudah sampai di lantai empat, Hendri keluar dari dalam lift meninggalkan tiga orang yang tak begitu di perhatikannya, padahal salah satunya adalah pimpinannya.
"Uh..., dasar pegawai s*****g," gerutu Melinda.
***
Arumi saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya, menata baju pengantin model terbaru. Banyak sekali model terbaru yang di keluarkan butiknya dari desainer-desainer terkenal dan profesional.
Arumi bangga bisa kerja di sini, walau gajinya nggak sesuai lulusannya, karena saking banyak pegawainya. Arumi senang ada di butik yang setiap hari melihat baju-baju pengantin yang indah yang hampir setiap hari tiada henti membelainya.
Arumi teringat dengan ucapan suaminya yang berniat akan meresmikan pernikahannya dan merayakannya di rumah Ibunya. Sembari menatap bermacam baju pengantin yang terpampang di berbagai sudut butik dengan bermacam-macam modelnya.
Arumi membayangkan menjadi seorang pengantin dengan baju pengantin yang paling bagus di butik ini. Tak hanya itu, bayangannya terus berlanjut, Arumi bergonta-ganti memakai baju pengantin yang ada di butik tempat kerjanya. Sayang itu hanya bayangannya saja.
"Hei kamu ngehalu apa sampek senyum-senyum gitu," tanya Sinta.
"Kamu membuyarkan angan bahagiaku Sinta. Aku tu lagi menikmatinya," gertak Arumi
"Gitu aja marah, hih sampek segitunya orang cuman angan doang. Hei jangan suka ngehalu ntar terlanjur...."
"Terlanjur apa?"
"Ya kamu bayangin aja, kalau lama-lama ngehalu."
"Aku berharap jadi kenyataan haluanku," pekik Arumi.
"Emangnya jamu ngehalu apa sih samoek sebegitu bahagianya. Boleh dong aku tau siap tau aku ikut kepincut dengan haluanmu."
__ADS_1
"Aku tuh lagi ngebayangin pakek semua baju pengantin di hari pernikahanku."
"Gila tinggi banget haluanmu, sampek nggak bisa di percaya."
"Karena aku pingin banget di hari pernikahanku nanti memakai baju pengantin paling bagus di butik ini."
"Arumi, Arumi." Sinta hanya geleng kepala mendengar ucapan Arumi.
"Bukannya kamu sudah menikah sama Hendri. Kamu mau menikah lagi," gurau Sinta.
"Hus, parno deh kamu. Siapa yang mau nikah lagi. Cukup Mas Hendri suamiku. Kamu tau nggak Mas Hendri akan meresmikan pernikahan kami dan akan merayakannya di rumah Ibunya."
"Benarkah?"
"Iya Sinta, Mas Hendri sendiri yamg bilang padaku."
"Pantesan kamu senrng banget sampek ngehalu gitu."
Arumi tersenyum kecil, mendengar ucapan Sinta. Dia kembali membayangkan saat bersama Hendri sedang berada di pelaminan. Namun bayangannya terhenti lagi karena teguran Sinta.
"Hei jangan terlalu menghalu, ntar nggak bisa kesampaian baru kecewa lo," cetus Sinta.
"Kenapa kamu berkata seperti itu Sinta itu menyinggung perasaanku. Itu sama seperti doa bagiku."
"Maaf, aku hanya bercanda jangan terbawa gitu dong. Ya udah aku doakan semoga kamu resmi menikah dengan Hendri secara hukum dan bahagia."
"Nah gitu dong mendoakan aku semoga bahagia."
"Iya, iya, jangan lupa nanti aku di undang ya di acara resepsi pernikahanmu."
"Tentu lah, kamu kan teman baikku."
__ADS_1