Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 53 Bertemu


__ADS_3

Melihat Arumi yang mencoba mengingatnya dengan keras, Melinda pun ikut mencoba mengingat wanita berhijab dihadapannya.


Setelah diingat-ingat, Melinda pun teringat, dia pernah membantu Arumi saat perutnya besar karena sedang hamil untuk membantu membawakan barang bawaannya.


"Aku ingat, dulu kita pernah bertemu di mall," cetus Melinda.


"Iya, kita pernah bertemu di mall," imbuh Arumi.


Mereka berdua saling melempar senyum merasa senang, yang tiada disangka bisa kembali bertemu lagi.


Melinda menatap ke perut Arumi yang sudah nampak langsing.


"Kamu sudah melahirkan?" tanya Melinda.


"Iya. Aku baru lahiran sepuluh hari yang lalu," ucap Arumi.


"Selamat ya!"


Melinda memberi selamat pada Arumi dengan memeluknya. Mereka berdua nampak akrab dipertemuan keduanya.


"Terima kasih ya," ucap Arumi saat melepas pelukannya.


"Oh iya, kita sudah bertemu untuk yang kedua kalinya, tapi belum saling berkenalan. Aku Melinda," ucap Melinda sembari menyodorkan tangan kanannya.


"Aku Arumi deswita," ucap Arumi tangan kanannya meraih tangan Melinda. Keduanya saling berjabat tangan dan memgulas senyum.


"Anaknya cowok apa cewek?" tanya Melinda.


"Cowok."


"Wah senang sekali ya punya seorang jagoan. Semoga nanti aku ketularan bisa punya jagoan seperti kamu," ucap Melinda.


"Iya." Arumi mengangguk sembari memaksa tersenyum, karena Arumi tidak begitu merasa senang karena putranya tidak punya seorang ayah.


"Ngomong-ngomong kamu disini mau ngapain?" tanya Melinda.


"Aku lagi mencari pekerjaan. Tapi belum dapat. Disini belum ada lowongan," jawab Arumi.


"Baru melahirkan sudah mencari pekerjaan. Terus sikecil bagaimana?"


"Di rumah sama nenekku."


"Lalu ayahnya?"


"Ehm..., dia...." Arumi malu mengungkap bahwa dirinya sudah diceraikan suaminya.


"Nggak usah dilanjutkan." Melinda seakan mengerti keadaan Arumi.


"Sepertinya kamu sangat butuh pekerjaan."


Arumi mengangguk mendengar ucapan Melinda.

__ADS_1


Melinda mengeluarkan kartu nama dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Arumi.


"Ini kartu namaku. Kalau kamu belum dapat pekerjaan kamu bisa datang kealamat itu," ucap Melinda.


"Terima kasih Melinda. Kamu sungguh pengertian," ucap Arumi.


"Aku suka sama kamu orangnya enak diajak ngobrol. Aku jarang lo bisa ngobrol banyak sesama wanita. Baru kali ini aku nyaman ngobrol sama kamu. Sekarang kita temenan ya," ucap Melinda.


"Iya sekarang kita temenan." Mereka berdua kembali berjabat tangan.


Tak terasa hari sudah siang Arumi pamit sama Melinda akan pulang, tanpa mempertanyakan tujuan Melinda datang ke butik ini.


Dari pada belum diterima kembali kerja di butik Arumi memutuskan akan pulang ke rumah. Dia tidak melanjutkan mencari pekerjaan. Arumi akan menunggu sampai ada panggilan kerja di butik itu.


Melinda datang ke butik untuk vitting baju bersama Hendri. Melinda berangkat dari rumah. Sementara Hendri akan berangkat dari kantor karena harus menyelesaikan pekerjaanya dulu.


Coba saja Hendri berangkatnya barengan sama Melinda, pasti akan bertemu dengan Arumi. Dan Arumi akan tau sebab diceraikan Hendri. Dan Arumi akan tau siapa sebenarnya Melinda. Namun takdir belum mempertemukan mereka.


Arumi sudah keluar dari butik. Bertepatan dengan Hendri yang baru keluar dari dalam mobilnya yang sudah ia parkir di halaman butik.


Saat Hendri baru melangkahkan kakinya, Hendri melihat Arumi yang baru keluar dati toko. Secepat kilat Hendri kembali masuk kedalam mobil, takut Arumi melihatnya.


"Arumi habis ngapain keluar dari toko itu? Apa dia sudah kembali kerja disitu?" Hendri bertanya sendiri.


"Untung saja dia tidak melihatku," ucap Hendri merasa lega.


Arumi berjalan menuju jalanan yang ramai untuk mencari angkot yang bisa membawanya sampai di rumahnya.


Kebetulan sekali Gilang saat ini mobilnya tengah melintas diarea jalanan tempat Arumi menunggu sebuah angkot.


Dari jauh nampak sosok seorang wanita berhijab yang pernah Gilang tolong saat hendak melahirkan.


"Wanita itu," ucap Gilang dari dalam mobil yang di kemudikannya.


"Kenapa aku sering melihat wanita itu. Kali ini aku tidak boleh terlepas darinya. Aku harus bicara dengannya," gumam Gilang.


Gilang melihat Arumi tengah melambaikan tangan. Meminta berhenti sebuah angkot. Namun angkot itu tidak mau berhenti. Mungkin karena penumpangnya sudah penuh.


"Apa dia sedang mencari angkot?" batin Gilang.


Terpikir oleh Gilang akan menepikan mobilnya dihadapan Arumi lalu menyuruhnya untuk masuk memberi tumpangan gratis.


Gilang memulai aksinya. Dia melajukan mobilnya lalu berhenti tepat dihadapan Arumi.


Arumi sedikit heran melihat mobil berhenti tepat dihadapannya.


Gilang keluar dari pintu kemudi. Dan berjalan mendekati Arumi.


Arumi masih dengan tatapan herannya. Menatap lekaki yang datang menujunya.


"Kamu lagi butuh tumpangan kan," ucap Gilang.

__ADS_1


"Iya," ucap Arumi sembari mengangguk bingung.


"Mobil ini siap memberi tumpangan buat kamu, seperti saat kamu mau melahirkan?" ucap Gilang.


"Melahirkan?" batin Arumi.


Arumi tidak ingat kalau laki-laki yang ada dihadapannya saat ini adalah orang yang sudah menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Disaat darurat seperti saat itu, Arumi tidak mengingat wajah seseorang yang sudah membawanya ke rumah sakit.


Arumi termangu.


"Kamu tidak ingat siapa aku," tegas Gilang.


Arumi hanya menggelengkan kepala.


"Aku orang yang sudah menolongmu dan membawamu ke rumah sakit saat kamu hendak melahirkan."


"Oh, jadi dia orang yang membawaku ke rumah sakit. pantas saja dia menyebut kata melahirkan," batin Arumi.


"Jadi kamu yang sudah membawaku ke rumah sakit.


"Iya." Gilang mengangguk-ngangguk.


"Dia menawarkanku kembali menumpang di mobilnya. Jangan-jangan dia mau meminta uang ganti rugi karena sudah mengantarku ke rumah sakit. Ya Allah! Gimana ni. Aku kan nggak punya uang saat ini," terka Arumi.


Arumi nampak gusar. Dalam pikirnya dia mencari cara untuk menghadapi Gilang yang akan minta ganti rugi padanya.


"Maaf sebelumnya. Saya tidak butuh tumpangan saat ini. Bukan berarti saya menolak. Tapi saya nggak enak. Kalau kamu ingin bicara Masalah biaya mengantar ke rumah sakit, kita bicarakan disini."


Gilang tidak mengerti dengan ucapan Arumi.


"Biaya?" tanya Gilang.


"Iya. Pasti kamu senang kan bisa bertemu denganku lagi dan akan meminta ganti rugi karena sudah mengantarku. Untuk kali ini aku belum bisa membayarnya. Nanti kalau aku sudah punya uang, aku akan membayarnya." Arumi masih dalam dugaannya.


"Kata siapa aku minta uang ganti rugi. Aku hanya ingin memberimu tumpangan gratis itu saja. Karena aku lihat tadi kamu mencari angkot."


"Benarkah?" ucap Arumi.


"Iya benar."


"Terima kasih ya Gilang. Kamu sudah berbaik hati menolongku. Maaf kalau kemarin tidak sempat mengucapkan kata terima kasih," ucap Arumi.


"Aku senang bisa menolong kamu. Sekarang kamu mau nggak menerima tawaranku tadi?"


"Ehm."


Arumi ragu menjawab. Dia merasa tidak enak.


"Ayolah nggak papa, aku tidak akan memintamu membayar biaya perjalanan. Karena ini gratis, seperti saat kamu melahirkan," jelas Gilang.


Arumi nampak gusar mau menolak tidak enak. Tapi ini sudah siang, angkot juga susah dicari. Arumi melihat jam ditangannya ternyata sudah siang.

__ADS_1


Karena desakan Gilang akhirnya Arumi menerima tawaran Gilang, karena dia juga sangat butuh tumpangan.


__ADS_2