
"Aku akan tetap menunggumu Arumi sampai kamu mau menerima cintaku. Cintaku ini benar-benar tulus untukmu," ucap Gilang yang melihat Arumi berlalu masuk pintu pagar rumahnya.
Gilang pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Arumi dengan kehampaan hatinya.
Arumi sudah sampai didepan rumahnya. Arumi menatap keseluruhan rumahnya. Arumi menatap penuh kebencian pada rumahnya.
"Jadi rumah ini wujud cinta mas Hendri padaku. Dia lebih memilih runah ini untuk menemaniku bukan dirinya. Yang ku butuhkan kehadirannya dalam keluarga kecilku, bukan rumah ini," Gerutu Arumi dalam hatinya.
"Aku tidak butuh rumah ini Mas. Kamu sudah memutuskan hubungan denganku. Aku pun sama tidak akan berurusan lagi dengan hartamu. Aku tidak butuh. Aku akan kembali seperti dulu. Seperti sebelum menikah denganmu," batin lirih Arumi.
Arumi mulai melangkahkan kakinya dengan lunglai, mewakili isi hatinya saat ini.
"Assalamualaikum..," ucap Arumi saat masuk rumah.
"Waalaikum salam..," jawab nenek Suryati.
"Cucu Nenek yang hebat sudah datang. Lama banget nganter kuenya sampai siang begini," tanya nenek yang di tangannya menimang Arsya.
Arumi meraih punggung tangan neneknya lalu menciumnya.
"Ya sampai siang lah Nek. Orang rumahnya jauh," Arumi beralasan.
"Oh, jauh rumahnya. Kamu pasti capek dong nganternya. Ya sudah sana cepat kamu mandi dan sholat dzhuhur waktunya hampir habis laku istrirahat," ucap Nenek.
"Baiklah Nek."
Arumi kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Sudah didalam kamar, Arumi tidak langsung mandi. Dia menghempaskan tubuh lelahnya diatas ranjang.
"Lelah sekali aku hari ini. Hari ini benar-benar hari yang menyakitkan dan menguras air mata."
"Ini akan nenjadi hari terakhirku menitikkan air mata. Aku akan move on dan kembali bangkit. Semangat, semangat. Aku harus bersemangat," ucap Arumi lalu bangkit dari tidurannya.
Arumi akan membersihkan diri setelah itu mengerjakan sholat dzuhur. Waktunya sholat dzuhur tinggal sedikit. Arumi sekalian menunggu sholat ashar.
Tak terasa hari sudah malam. Arumi saat ini tengah tiduran diatas ranjangnya. Arumi termenung sendirian.
Tiba-tiba saja Arumi refkek membangunkan badannya.
"Oh iya, aku harus memberitahu nenek. Nenek harus tau yang sebenarnya tentang keadaanku. Aku tidak mau merahasiakannya lagi."
__ADS_1
Arumi beranjak dari tidurnya, Arumi hendak ke kamar nenek Suryati. Siap tidak siap Arumi akan memberitahu neneknya.
Sudah sampai didepan kamar nenek Suryati. Arumi ragu masuk kedalam kamar nenek. Tangannya yang memegang gagang pintu ia lepaskan.
Arumi kembali ragu dan bimbang saat hendak masuk ke kamar neneknya. Perasaan tak tega kembali muncul dibenaknya. Namun perasaan itu seketika menghilang, mengingat janji Arumi tadi yang akan memberitahu neneknya.
Arumi kembali memegang gagang pintu lalu membuka pintu kamar nenek Suryati.
Ternyata nenek Suryati sudah tidur disamping Arsya. Mungkin nenek Suryati kelelahan seharian ini setelah semalam lembur membuat kue.
Tidak mungkin Arumi akan membangunkan nenek Suryati yang tertidur pulas.
"Mungkin belum saatnya untuk memberitahu nenek," ucap Arumi, lalu Arumi pun kembali ke kamarnya dan memilih akan istirahat juga, karena seharian ini sangat melelahkan.
Malam yang panjang sudah berlalu berganti pagi yang cerah. Secerah hati Arsya di pagi hari yang mulai membuka matanya.
Sudah terdengar suara nenek Suryati bercengkerama dengan Arsya. Arumi pun hendak ke kamar nenek, menawarinya untuk sarapan pagi.
"Selamat pagi Nek. Asyiknya bercengkerama dengan Arsya," sapa Arumi.
"Hallo Arsya, sudah melek anak ibu. Cakepnya." Gantian Arumi ikut bercengkerama dengan Arsya membelai gemas pipi Arsya lalu menciumnya.
"Ehm..., masih lama nek Mas Hendri disana. Proyeknya belum selesai."
Tanpa ia sadari Arumi berbohong lagi pada neneknya.
"Apa dia nggak bisa pulang sebentar untuk menjenguk anaknya. Setau nenek Hendri belum pernah mengunjungi Arsya di rumah ini," ucap nenek.
"Mana mungkin nek. Mas Hendri mau menjenguk anaknya. Dia sudah menceraikanku dan meninggalkan keluarga kecilnya ini."
"Apa sekarang ini saat yang tepat untuk memberitahu nenek," batin Arumi.
Arumi pun mulai mengatur nafasnya dia akan mulai memberitahu neneknya.
Namun tiba-tiba sesuatu menghalanginya lagi. Arsya nangis dan rewel. Membuat nenek Suryati dan semuanya jadi gugup.
Arumi tidak jadi lagi memberitahu nenek.
Hari ini Arumi pamit ingin pergi keluar sebentar. Nenek Suryati mengizinkannya.
Arumi akan mulai menata hidupnya kembali. Arumi akan pergi ke rumah kontrakannya yang dulu. Arumi berharap rumah kontrakannya yang dulu masih kosong belum dikontrak orang lagi.
__ADS_1
Tujuan Arumi kesana, dia akan kembali tinggal di rumah itu. Arumi akan meninggalkan rumah pemberian Hendri. Arumi sudah muak dengannya dan tidak ingin menjadi beban baginya. Arumi insya Allah mampu kembali seperti dulu saat sebelum menikah dengan Hendri.
Setelah melalui perjalanan dengan ojek online, Arumi turun dari motor. Arumi kembali menyusuri gang sempit yang harus dilaluinya saat menuju rumah kontrakanya.
Sudah sampai disana Arumi bertanya pada pemiliknya. Apakah rumah ini masih kosong, karena Arumi dan neneknya akan kembali tinggal disini.
Dan syukur Alhamdulillah kata pemiliknya, rumah itu masih kosong. Jadi Arumi bisa kembali menghuninya.
Arumi merasa senang sekali. Akhirnya dia akan kembali ke rumahnya yang dulu dan akan memulai kehidupan yang baru bersama Arsya dan juga nenek Suryati.
Tak sabar Arumi ingin segera pulang dan pindah ke rumah kontrakannya yang dulu.
Satu hari sudah berlalu berganti malam yang sunyi.
Keesokan harinya. Arumi mulai berkemas. Arumi mengemas semua barangnya yang di perlukan.
Nenek Suryati yang melihat arumi berkemas nampak heran. Kenapa semua barang Arumi dan juga barangnya ikut di kemas. Ada apa gerangan.
"Kita akan pindah Nek hari ini," ucap Arumi.
"Pindah?"
"Kita baru tinggal beberapa hari disini kenapa harus pindah Rumi," seru nenek.
"Pokoknya kita harus pindah Nek dari sini. Karena itu yang terbaik untuk kita."
"Kenapa tiba-tiba Arumi. Apa kamu tidak bahagia tinggal disini?" tanya nenek Suryati penasaran.
"Aku memang tidak bahagia Nek tinggal disini, di rumah mewah. Aku lebih bahagia tinggal di rumah kontrakan kita yang dulu, lebih ayem dan tentram."
Nenek heran melihat sikap Arumi yang tiba-tiba berubah drastis. Ada apa gerangan.
"Kamu aneh Arumi. Kemarin kamu sangat senang tinggal disini. Kenapa sekarang kamu berubah ingin kembali ke rumah yang lama," ucap nenek.
"Maaf Nek, aku belum bisa memberitahu jawabannya. Aku akan memberitahu nenek setelah kita sampai di rumah kontrakan," ucap Arumi.
Dengan hati yang penasaran. Nenek Suryati mengikuti saja apa yang ingin menjadi keinginan Arumi.
Hari ini pula Arumi akan pindah ke rumahnya yang dulu. Arumi tidak boleh memberitahu nenek apa alasannya dia pindah sebelum sampai di rumahnya yang dulu. Arumi takut nenek syok.
.
__ADS_1