Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 22 Mendapat hukuman


__ADS_3

"Kamu Bu Direktur? Bisa-bisanya kamu mengaku sebagai Bu Direktur?" ucap Hendri sembari tertawa terpingkal-pingkal hingga berkas di tangannya jatuh berserakan di lantai.


 


Melinda hanya menatap heran dan jengkel kenapa pegawai satu ini susah banget di kasih tau. Sudah di kasih tau malah nggak percaya. Melinda hanya bisa pasrah sembari menggelengkan kepala melihat sikap Hendri.


 


Hendri sibuk mungutin berkasnya yang terjatuh di lantai. Sementara Melinda masih duduk anteng di kursi putarnya menunggu Hendri selesai.


 


"Sudah selesai? Cepat taruh di atas meja!" Perintah Melinda.


 


Hendri menyunggingkan mulutnya merasa nggak terima di perintah Melinda yang dia kira hanya pegawai biasa seperti dirinya. Hendri  menaruh semua berkas di atas meja dengan muka cemberutnya.


 


Hendri masih dengan tidak percayanya. Netranya mengitari ruangan mencari keberadaan Bu Direktur. Tak di dapatinya Bu Direktur Hendri pun menanyakan dimana keberadaan Bu Direktur pada Melinda.


 


"Katamu ini ruangan Bu Direktur, sekarang mana orangnya?" Tegas Hendri.


 


"Kamu mau cari Bu Direktur yang mana lagi, apa ada dua Bu Direktur di kantor ini?"


 


Pertanyaan Melinda membuat Hendri bingung. Hendri nampak bergeming penuh tanda tanya dalam hatinya. Kali ini Hendri mulai sedikit menyadari dalam hatinya timbul rasa sedikit takut.


 


"Apa benar dia Bu direktur yang baru? Kalau benar mati aku!" ucap Hendri dalam hati sembari menatap penuh ke arah Melinda.


 


"Masih nggak percaya kalau aku ini Bu Direktur pemimpin perusahaan ini?"


 


Pertanyaan Melinda semakin membuat Hendri menciut tak berani berucap, lidahnya terasa kelu. Mukanya memerah tubuhnya sedikit gemetar. Semua tingkah Hendri kini di perhatikan Melinda. Bagi Melinda Hendri nampak lucu. Seperti anak kecil yang tengah ketahuan melakukan kesalahan.


 


"Ha, ha, ha...," spontan Melinda tertawa. Melinda menertawakan Hendri. 


 


"Kenapa kamu tertawa?" Hendri kembali berani berucap.


 


"Habis kamu lucu banget sih!" Ucap Melinda masih dengan tertawanya.


 


Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Seorang sekertaris membuka pintu dan masuk.


 


"Sekarang sudah waktunya pulang Bu," ucap si sekertaris dengan hormat.


 


"Baiklah kamu pulang duluan aja. Saya akan pulang nanti."


 


"Terima kasih Bu, kalau begitu saya pulang duluan!"


 

__ADS_1


Sekertaris pun berlalu pergi.


 


Hendri yang menyaksikan pemandangan di hadapannya mulutnya nampak membulat. Hendri baru benar-benar percaya kalau orang yang sedari tadi mengatakan dirinya Direktur adalah benar-benar Bu Direktur.


 


Orang yang selalu di anggapnya pegawai baru yang kebanyakan gaya adalah seorang Direktur pemimpin perusahaan ini.


 


Hendri memalingkan mukanya dari hadapan Melinda. Hendri teringat saat acara penyambutan Direktur baru perusahaan ini yang dia dengar Direktur yang baru adalah putri dari pemilik perusahaan ini.


 


"Aduh gimana ini, aku sungguh ceroboh nggak tau kalau dia seorang Direktur. Ya Tuhan gimana ini. Bisa hancur karirku. Gimana kalau dia nggak terima dengan sikap kasarku padanya."


 


Hendri memukul-mukul jidatnya sendiri membelakangi Melinda yang saat ini berdiri di belakangnya. Hendri merasa menyesal telah berbuat tidak sopan pada sang Direktur bahkan menghujatnya berkali-kali.


 


"Kenapa kamu seperti itu? Sudah tau sekarang kalau aku Direktur perusahaan ini," cetus Melinda dari belakang Hendri membuat Hendri semakin gugup saat menatapnya. Tatapan penuh rasa takut dan bersalah kini tengah menyelimuti Hendri.


 


Hendri hanya tertunduk tak berani menatap ke arah Melinda. Hendri merasa malu dan bersalah tak mengenali Direktur yang baru padahal sudah ada acara perkenalan.


 


"Aku sungguh bodoh, semua karena aku nggak fokus. Semua ini karena Ibu yang selalu membuatku bingung dengan aturan-aturannya," gumam Hendri.


 


"Jadi begini sikapmu sama pegawai baru. Sok hebat aja kamu di sini," Melinda mengolok-olok Hendri.


 


"Maafkan aku Bu, aku salah aku tidak mengenali seorang Direktur yang baru. Aku ini sungguh bodoh dan payah. Aku mohon maafkan aku Bu," ucap Hendri memohon-mohon.


 


 


"Nggak semudah itu memaafkan pegawai yang nggak konsisten. Aku akan memberi hukuman padamu. Mulai sekarang kamu harus selalu ada di dekat saya sebagai asisten saya dalam mengurus perusahaan ini."


 


"Kamu harus membantuku mengerjakan semua tugas saya di perusahaan ini selama satu bulan. Supaya kinerjaku baik dan aku mendapat pujian dari Ayahku kalau aku ini putri yang pantas memimpin perusahaan ini."


 


"Tapi aku sudah punya posisi cukup tinggi di perusahaan ini. Kalau aku cuman jadi asistenmu apa aku berpeluang mendapat gaji yang besar. Karena saat ini yang aku targetkan gajiku akan naik mulai bulan ini."


 


"Kenapa masih nawar sih, kamu tu di hukum. Untung aja aku nggak memecatmu. Apa kamu lebih suka saya pecat."


 


"Jangan! jangan pecat saya, aku mohon Bu."


 


Hendri mendekat ke Melinda, meraih tangan Melinda dan duduk bersimpuh memohon-mohon sama Melinda. Hendri tidak ingin di pecat dan di keluarkan dari perusahaan. Apa lagi saat gencar-gencarnya membutuhkan uang yang banyak.


 


Melinda merasa nggak enak sama Hendri yang terlihat begitu melas dengan pesona ketampanannya. Membuat Melinda merasa iba. Ada yang aneh di hati Melinda tak hanya rasa Iba yang ia rasakan seperti ada rasa lain.


 


Di hatinya bergetar saat saling bertatapan mata dengan Hendri. Jantungnya berdegup kencang. Melinda bingung di buatnya, ada apa dengan hatinya kenapa bergejolak seperti ini.

__ADS_1


 


"Baiklah, kalau kamu tidak ingin di pecat berati kamu harus mau jadi asistenku. Apa kamu setuju?"


 


Tidak ada pilihan lain untuk Hendri selain Menyetujuinya. 


 


"Baiklah saya setuju Bu, tapi saya tetap di gaji kan," tanya Hendri penuh rasa kuatir. 


 


"Tergantung kalau kinerjamu baik, akan mendapatkan gaji. Kalau kinerjamu buruk bisa-bisa gajimu nggak keluar," Melinda menakut-nakuti Hendri.


 


Melinda sengaja menakuti Hendri supaya dia benar-benar mau bekerja keras membantunya dalam mengoperasikan perusahaan ini dan membuatnya semakin maju dan berkembang supaya Melinda mendapat simpati dari Ayahnya, kalau dia putri yang bisa di andalkan dalam memimpin perusahaan.


 


"Oke, saya akan berusaha dengan sekuat tenaga. Saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya," ucap Hendri meyakinkan Melinda.


 


"Oke kesepakatan kita sudah deal," melinda mengulurkan tangan kanannya. 


 


Hendri meraih tangan Melinda, keduanya saling menjabat tanda menyetujui atas semua kesepakatan yang di buat.


 


"Ada yang lupa," ucap Melinda.


 


"Apa!!!" Hendri sedikit penasaran terlihat gusar jangan-jangan Melinda akan menambah hukumannya.


 


"Kita belum berkenalan," Melinda kembali menjulurkan tangan kanannya.


 


Hendri tersenyum merasa lega, ternyata Melinda hanya ingin berkenalan. 


 


"Aku Hendri marlin," ucap Hendri sembari menjabat tangan Melinda.


 


"Panggil saja aku Melinda. Maksudku Bu Melinda."


 


"Iya Bu Melinda yang cantik." Tegas Hendri sembari memuji kecantikan Direkturnya.


 


"Terima kasih, sudah bersikap manis sama Bu Direktur. Nah gitu dong jadi orang tampan tu harus bersikap manis," ucap Melinda.


 


"Ah..., Ibu bisa aja."


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2