
Hendri melepaskan genggaman erat tangan Melinda. Hendri benar-benar serius menegaskan pada Melinda kalau dirinya tidak bisa menikahinya.
Melinda tidak bisa terima, malah semakin tiada henti bertanya apa alasan Hendri tidak mau menikahinya.
Hendri tidak akan mengatakan apa alasannya pada Melinda.
Tentunya alasan Hendri karena sudah mempunyai seorang istri yang sekarang tengah hamil dan sebentar lagi akan meresmikan pernikahannya. Mungkin setelah kelahiran anak pertamanya, Hendri akan melaksanakan pernikahannya dengan Arumi.
"Kenapa kamu tidak bisa menikahiku Hendri? Apa alasanmu? Beri tahu aku biar aku mengerti?" Ucap Melinda sedikit kesal karena Hendri tak mau memberitahu alasannya.
"Maaf Bu Melinda, aku tidak bisa memberitahumu tentang alasanku. Pokoknya aku tidak bisa menikahimu," tegas Hendri lagi.
Hendri masih kukuh dengan jawabannya membuat hati Melinda makin mangkel. Namun lama-lama Melinda menyadari mungkin Hendri saat ini belum siap. Karena dirinya terlalu cepat mengungkapkan semuanya tanpa mempertanyakan dulu.
"Oke Hen, aku ngerti mungkin kamu belum siap. Aku akan menunggu jawabanmu. Tapi ingat ya aku serius ingin kamu menjadi bagian dari hidupku. Aku sudah meredam rasa sukaku padamu sejak pertama bertemu denganmu. Kamu adalah cinta pertamaku.
Dan baru hari ini aku bisa menumpahkan semuanya memberanikan diri mengungkapkan semua isi hatiku. Ini mungkin terlalu mendadak buat kamu. Oke aku ingin kamu berpikir dulu," jelas Melinda.
"Oke akan aku pikirkan dan akan memberi jawaban yang tepat untuk kamu," ucap Hendri.
Karena sudah larut, Hendri mengajak Melinda untuk pulang. Suasananya juga jadi canggung setelah perdebatan mereka tadi.
Di dalam mobil Hendri nampak terdiam menyimpan banyak kegundahan di hatinya. Melinda pun menyaksikan Hendri nampak banyak pikiran. Melinda menyadari semua karena ucapannya, yang membuat Hendri hatinya terguncang atas pernyataannya yang tiada permisi dulu.
"Aku sungguh ceroboh, sekarang tak ku dapati senyum Hendri. Aku harus bagaimana? Apa Hendri sangat marah padaku, hingga dia mendiamkanku," Batin Melinda sembari menatap Hendri yang hanya fokus mengemudi.
Tak terasa sudah sampai di rumah Melinda. Sebelum turun dari mobil, Melinda kembali mengingatkan Hendri kalau dirinya sangat berharap Hendri menjadi pasangan hidupnya. Melinda sangat serius dengan pernyataaannya tadi.
"Aku sangat berharap Hen, kamu mau menjadi pasangan hidupku. Kita akan membangun perusahaan ini bersama hingga sukses dan jaya terus. Kamu sungguh lelaki tipeku, dan orang tuaku juga menyukaimu.
Bukannya sejauh ini kita sudah berhasil membuat perusahaan Ayahku jadi lebih berkembang. Aku ingin terus bersamamu dan membuat perusahaan Ayahku tetap berjaya."
Hendri hanya mendengarkan ucapan Melinda, dia tak memberi jawaban sedikit pun.
"Aku tau kamu kesal, karena aku mendesakmu. Maafkan aku, aku turun dulu. Selamat malam,"
__ADS_1
"Selamat malam," jawab Hendri datar.
Hendri berlalu pergi meninggalkan rumah Melinda. Di dalam mobil Hendri tiada henti bergumam. Hendri tidak menyangka kalau melinda ternyata jatuh cinta padanya. Dan memintanya untuk menikahinya.
"Dia sungguh gila, dia nggak tau kalau aku pria beristri. Oh iya, aku kan nggak pernah ngasih tau Melinda kalau aku sudah punya istri. Jangankan Melinda semua orang di kantor juga tidak tau kalau aku sudah menikah. Aku akan tetap merahasiakan pernikahanku sebelum aku resmikan," gumam Hendri.
Tak terasa perjalanan Sudah sampai di rumahnya. Tak ada sambutan dari Arumi saat Hendri mulai masuk ke dalam rumah di malam yang sudah larut. Terdengar suara lantuan ayat-ayat Al quran. Suara itu dari dalam kamar Hendri.
"Apa Arumi sedang mengaji, di malam yang sudah larut begini?" Ucap Hendri sembari menuju ke kamarnya.
"Assalamuakaikum...?" Ucap Hendri saat membuka pintu kamarnya.
"Waalaikum salaam...," jawab Arumi sembari menengok ke arah pintu. Arumi menghentikan aktifitasnya membaca Al quran.
"Mas Hendri sudah pulang?" Arumi mendekati suaminya meraih tangannya dan menciumnya.
"Kamu belum tidur jam segini?"
"Aku nggak bisa tidur Mas. Di usia kehamilanku yang semakin tua, aku susah tidur badanku capek semua. Dari pada nggak bisa tidur aku kasih pelajaran buat si dedek kecil, supaya nanti suka membaca Al quran," tutur Arumi sembari masih berdiri berhadapan dengan suaminya.
Hendri gemas dan salut dengan istrinya dia pun membenamkan tubuh istrinya dalam pelukannya.
"Kamu capek kan? pasti karena kamu banyak kerjaan. Gimana kalau kamu cuti dulu mulai besok. Kelihatannya kamu sudah payah untuk pulang pergi kerja?"
"Cuti?" Arumi melebarkan netranya.
"Tapi Mas, kenapa harus cuti. Aku masih kuat kok bekerja. Kan lumayan bisa buat nambahin tabungan kita, untuk bisa meresmikan pernikahan kita dan membeli rumah untuk nenek dan kita."
"Kamu jangan khawatirkan itu Arumi. Mas Hendri sudah bekerja keras sekarang dan mendapat gaji yang besar. Kamu tidak perlu memikirkan itu, biar Mas yang cukupin semua."
"Ya udah lah Mas, karena ini perintah suami aku manut. Mulai besok aku akan minta cuti dulu," ucap Arumi nerima perintah suaminya, padahal sebenarnya dia masih ingin membantu suaminya dalam mencari nafkah.
"Gimana kabarnya si kecil?" Tanya Hendri sembari mengelus perut Arumi.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja, dia selalu menyapaku di pagi, siang dan malam hari dengan tendangan-tendangannya." Arumi likut mengelus perutnya, sedangkan Hendri beralih menciumi perut Arumi dan menyapa si dedek kecil.
Di tengah malam yang sunyi mereka berdua baru bisa bertukar kata. Sembari tiduran yang masih belum bisa memejamkan mata. Arumi teringat dengan pesannya yang belum mendapatkan balasan dari Hendri.
"Mas tadi kamu nggak baca pesan aku?"
"Pesan? Maaf aku belum membacanya, aku tadi sibuk sekali."
"Maafkan aku sayang, aku ini sungguh bodoh terlalu menekuni pekerjaanku. Pekerjaan yang membuatku pusing memikirkannya sekarang ini, hingga tak peduli padamu," batin Hendri merasa bersalah.
Hendri segera membuka layar hand phonenya dan membaca pesan yang di kirim Arumi sembari berbaring.
"Jadi ini, pesan yang kamu kirim. Hendri mulai melihat foto beberapa gaun pengantin.
"Iya. Mas kan sibuk bekerja, bahkan di hari libur juga masih bekerja. Jadi aku kirimin aja foto ini. Aku ingin Mas memilih baju pengantin yang cocok untuk kita."
"Ehm..., sepetinya kurang lengkap pilihannya. Gimana kalau besok kita berkunjung ke butik tempat kerjamu saja. Besok kita bisa memilih dan mengenakannya, kita akan vitting baju besok."
"Benarkah Mas!" Arumi bangun dari tidurannya. Arumi sedikit meragukan ucapan suaminya.
"Iya, aku serius. Besok aku mau minta cuti dulu. Kita akan vitting baju besok."
"Terima kasih Mas! Kamu tau yang aku inginkan." Arumi refleks memeluk tubuh suaminya yang masih berbaring.
"Sekarang ayo kita tidur, ini sudah malem lo," ajak Hendri.
"Iya sayang, aku akan tidur di pelukanmu."
"Tentu sayang, aku akan menghangatkanmu di malam yang dingin ini."
__ADS_1