
Karena lahiran dengan normal, dan keadaan yang sudah sehat, pagi ini Arumi sudah bisa pulang bersama babynya yang juga sehat keadaannya.
Arumi dan neneknya senang sekali setelah mendengar kabar dari seorang suster kalau hari ini bisa pulang.
"Alhamdulillah Nek, aku sudah bisa pulang. Aku senang sekali Nek," ucap Arumi meneluk neneknya yang duduk di tepi ranjangnya.
"Syukur Alhamdulillah, kita bisa pulang," imbuh nenek dalam pelukan Arumi.
"Cepat kamu kabari Hendri, kalau kamu sudah bisa pulang dan suruh menjemputmu mengantar ke rumah Nenek," ucap nenek Suryati.
Arumi tercenang mendengar ucapan nenek. Baru saja dia memikirkan apakah harus memberitahu Hendri tentang kepulangannya, malah sudah duluan di suruh minta jemput sama nenek.
"Mas Hendri orangnya sibuk Nek, mana ada waktu," ucap Arumi.
"Ya harus ada waktu dong Arumi. Kamu harus tegas sama Hendri. Dia seorang suami harus bertanggung jawab dengan keluarganya. Jangan hanya karena sibuk bekerja tidak menghargai urusan keluarga. Saat ini kamu membutuhkannya Arumi, cepat suruh Hendri menjemput kamu."
Nenek Suryati menegaskan pada Arumi untuk tidak lembek. Jangan hanya pasrah saja dengan keadaan. Arumi harus berusaha dan meraih semuanya. Termasuk membuat Hendri selalu memperdulikannya.
Nenek sebenarnya ingin marah pada Hendri yang selalu beralasan sibuk bekerja, jarang menemani Arumi, bahkan saat Arumi melahirkan pun dia sibuk dengan pekerjaanya tak menemani Arumi. Namun nenek Suryati tak berani menunjukkan kemarahannya pada Hendri. Nenek memendamnya dalam hati.
"Baiklah Nek, aku akan menghubungi Mas Hendri. Dan akan memintanya menjemputku," ucap Arumi.
Nenek Suryati menghela nafas lega mendengar jawaban Arumi.
Dengan berat hati Arumi menuruti permintaan neneknya.
"Gimana ni. Apa nanti Mas Hendri peduli dan mau datang kesini setelah menceraikanku kemarin?" Batin Arumi sebelum menghubungi Hendri.
"Sudah kamu hubungin suamimu," tanya Nenek memastikan.
"Ehm.., baru saja mau aku hubungin Nek," ucap Arumi, lalu mulai menghubungi nomer Hendri.
Sudah dihubungin nomer Hendri namun tidak tersambung.
Arumi mengeluh kalau Hendri orang sibuk susah dihubungin.
Baru juga diomongin. Suara dering di hand phone Arumi membuatnya kaget sendiri dan buru-buru mengangkatnya.
"Hallo," ucap Arumi.
"Kamu sudah bersiap kan untuk pulang," ucap Hendri.
Yang menelfon Arumi adalah Hendri. Arumi sedikit tercenang.
"Belum Mas, aku belum bersiap," jawab Arumi sedikit gugup.
__ADS_1
"Gimana sih kok belum bersiap. Aku sudah di depan pintu ruanganmu untuk menjemputmu," ucap Hendri.
Arumi melebarkan matanya. Arumi tidak menyangka Hendri masih mau menjemputnya.
"Menjemputku?"
"Cepat kamu bersiap ya," ucap Hendri lalu menutup telfonnya.
"Jadi Mas Hendri mau menjemputku. Aku nggak ngasih tau kepulanganku kok tiba-tiba sudah mau jemput aja. Siapa yang sudah ngasih tau Mas Hendri," batin Arumi penasaran.
Arumi terpaku sendiri masih belum bersiap.
Suara pintu terbuka membuatnya tersadar dari keterpakuanya.
Hendri masuk ruangan Arumi.
"Kok belum bersiap juga dari tadi," ucap Hendri.
Arumi pun segera beranjak turun dari ranjangnya.
"Hendri? Kamu cepat sekali datangnya. Baru saja Nenek suruh Arumi menghubungimu kok sudah muncul di sini," ucap nenek Suryati saat tau Hendri masuk ruangan Arumi.
"Iya Nek, aku sudah datang sedari tadi mengurus biaya administrasi," ucap Hendri.
"Mas Hendri sudah datang sedari tadi?" ucap Arumi dalam hatinya.
Nenek sudah beres-beres semua barang Arumi. Si dedek kecil juga sudah dibawa suster ke ruang Arumi. Nenek Suryati menggendongnya dan akan membawanya pulang bersama Ayah dan ibunya.
Arumi dibawa Hendri dengan kursi roda menuju ke tempat parkir mobil. Sementara nenek Suryati yang menggendong sidedek bayi.
Arumi masih dengan tanda tanyanya tentang Hendri yang tiba-tiba menjemputnya. Sesekali Arumi mendongak menatap Hendri penuh tanya yang tak bisa diungkapkan yang sedang mendorong kursi rodanya.
Hendri tau Arumi pasti penasaran dengan dirinya kenapa masih mau menjemputnya padahal sudah jelas menceraikannya dan membuat luka dihatinya.
Hendri sudah berjanji pada dirinya untuk membuat Arumi bahagia. Hendri berjuang keras untuk bisa melakukannya. Sebelum melakukannya Hendri meminta izin pada Melinda untuk melakukan semua ini.
Hendri hanya diberi waktu dua minggu untuk membereskan urusannya dengan mantan istrinya. Hendri akan menggunakan waktu ini dengan sebaik-baiknya.
Kemarin Hendri sudah membeli rumah untuk Arumi dan neneknya. Rumah yang sederhana tidak terlalu mewah, layak untuk ditinggali dibanding dengan rumah kontrakan nenek Suryati yang berada di gang sempit.
Hendri tidak memberitahui Arumi kalau dia sudah membelikan rumah untuknya. Setelah ini Hendri langsung akan membawanya kesana.
Sudah sampai di mobil, Hendri langsung membopong tubuh Arumi membawanya masuk kedalam mobil. Nenek Suryati pun masuk kedalam mobil.
"Sudah siap kan untuk pulang?" ucap Hendri
__ADS_1
"Siap dong," ucap nenek Suryati.
Arumi hanya bergeming masih dengan tidak mengertinya dengan sikap Hendri.
Hendri mulai melajukan mobilnya membelah jalan di hari yang cerah ini.
"Kita akan pulang ke rumah Nenek sayang. Ke rumah waktu ibumu dibesarkan," celoteh nenek Suryati pada bayi mungil yang didekapnya.
Arumi menatap kearah Hendri yang sedang mengemudi yang tak menanggapi ucapan neneknya.
Hendri memilih diam karena tidak akan membawa mereka ke rumahnya yang dulu, melainkan ke rumah yang baru. Hendri ingin memberi surprise pada mereka.
Hanya ada keheningan didalam mobil, karena Arumi dan Hendri hanya saling diam tak bicara.
"Kenapa kalian hanya diam saja dihari yang bahagia ini. Apa kamu berubah pikiran Arumi nggak mau tinggal di rumah nenek. Apa kamu ingin tinggal di rumah mertuamu bersama suamimu," ucap nenek membuyarkan suasana hening.
"E.. Enggak kok Nek. Aku akan pulang ke rumah Nenek kok," jawab Arumi.
"Baguslah kalau kamu nggak berubah pikiran. Nenek sekarang nggak rela kalau kamu tinggal dengan ibu mertuamu. Dia tidak sayang dengan seorang cucu. Ibu mertua macam apa sudah tahu menantunya melahirkan cucu, sama sekali tidak mau menjengukmu sampai kamu pulang sekarang," ucap nenek murka.
"Ibu tidak datang menjengukmu Arumi," tanya Hendri.
"Nggak Mas, cuma Salsa yang datang kemarin sore."
"Ibu sungguh keterlaluan," ucap Hendri sembqti memukul setir.
"Ibumu itu memang keterlaluan Hendri. Bukan hanya tidak suka dengan Arumi, dengan seorang cucu dia pun tidak perduli," jelas nenek.
"Maafkan ibuku Nek, nanti aku akan memberitahunya kalau sikapnya itu salah," ucap Hendri.
Tanpa begitu memperhatikan arah jalan, Arumi dan nenek Suryati manut saja diberhentikan Hendri di suatu tempat yang tak mereka kenal. Tepat di rumah berpagar.
"Loh! Kok kita turun disini," ucap nenek Suryati yang tidak mengenali tempatnya.
Nggak dijawab sama Hendri yang sudah turun dari mobilnya.
Hendri berlari membuka pintu gerbang.
Arumi mengawasinya dari dalam mobil.
Nenek dan Arumi bertanya-tanya sendiri didalam mobil. Kenapa turun disini?"
Hendri kembali masuk kedalam mobil.
"Mas kita mau kemana? Itu rumah siapa Mas, kenap Mas membuka gerbangnya?" Rentetan pertanyaan Arumi.
__ADS_1
"Ini adalah rumah barumu Arumi. Mulai sekarang kamu akan tinggal disini bersama anak kita dan juga nenek," ucap Hendri.
"Rumah baru?" Ucap Arumi dan nenek Suryati bersamaan.