
Arumi larut dalam tangis harunya, dirinya tiada menyangka selama ini ada orang yang begitu tulus membantunya tanpa Arumi tau. Bahkan rela mengorbankan rumah miliknya yang diinginkan oleh Arumi.
Apakah ini balasan setelah dulu Arumi dikhianati oleh suaminya orang yang begitu dicintainya, hingga Arumi harus merasakan sakit yang begitu sakit hatinya.
"Alhamdulillah, kini aku mendapatkan buah dari kesabaranku. Setelah kemarin mendapat luka yang menyakitkan sekarang aku mendapatkan kebahagiaan yang tiada terkira," batin Arumi masih mengiringi tangis harunya.
Nenek tiada menyangka Arumi ada dihati seseorang yang menganggapnya spesial dan sampai memberikan semua yang Arumi inginkan. Nenek pun bersyukur ternyata masih ada orang yang perduli dan baik sama Arumi setelah dicampakkan dan dikhianati oleh Hendri.
Nenek berharap orang itu seorang lelaki yang tampan dan masih single. Supaya bisa menikah dan hidup bersama dengan Arumi dan menjadi ayah dari Arsya.
Arumi ingin tahu dan bertemu dengan orang yang sudah sangat berbaik hati padanya. Arumi sungguh penasaran dengan orang itu entah dia lelaki atau seorang perempuan.
Dewi tidak memberitahu tentang seorang yang baik hati itu, entah lelaki atau perempuan. Dewi hanya mengatakan seseorang yang baik hati saja.
Arumi pun membuat pernyataan. Arumi mengatakan pada Dewi jika orang baik itu seorang lelaki mau dia tua atau pun muda dia akan menjadikan suaminya. Jika dia seorang perempuan tua atau pun muda dia akan menjadikan ibunya atau saudaranya.
Dewi tau Arumi sangat penasaran dan ingin bertemu dengan orang yang sudah sangat baik padanya. Dewi akan membawa Arumi bertemu dengan orang itu.
Sekarang juga Dewi akan membawa Arumi ke rumah Gilang. Nenek yang juga penasaran ingin melihat orang misterius itu, ikut pergi bersama Arsya juga.
Dewi pun memberitahu Gilang untuk pulang dari kantornya sebentar. Karena Arumi akan datang ke rumahnya dan ingin bertemu dengan sang pemilik rumah.
Dewi meminta Gilang, untuk cepat datang ke rumahnya sebelum Dewi dan Arumi sampai disana.
Gilang tidak boleh melewatkannya, karena Arumi akan memenuhi janjinya tadi, yang akan menjadikan orang yang baik hati yaitu Gilang sebagai suaminya. Itulah yang sangat diinginkan Gilang dan diimpikannya berjodoh dengan Arumi menjadi pasangan suami istri dan hidup bersama di rumah impiannya.
Dalam hati Arumi sungguh sangat penasaran dengan orang yang akan ditemuinya bersama Dewi, dan juga neneknya saat ini. Arumi berharap orang itu adalah Gilang. Karena Gilang lelaki yang dulu juga tulus menolongnya. Dan selama ini ada dihati Arumi yang tak berani ia ungkapkan pada siapa pun.
Dalam perjalanan dengan naik mobil Dewi. Arumi jantungnya jedag, jedug, tiada henti berdegup kencang, karena rasa penasarannya. Untuk menenangkannya sesekali Arumi menghela nafas panjang.
Tiba-tiba muncul dibenak Arumi rasa khawatir yang membuatnya Gelisah. Arumi teringat dengan Hendri.
__ADS_1
"Jangan-jangan orang misterius itu Hendri". Arumi menerka tiba-tiba.
Arumi jadi ketakutan, mengingat Hendri kemarin yang menyatakan masih mencintainya dan berharap bisa kembali padanya.
"Apa mungkin orang misterius itu Hendri? Jika sampai benar. Apa aku bisa menarik kembali ucapanku tadi," batin hati Arumi ketakutan dan gelisah.
"Semoga saja bukan mas Hendri. Ya Allah aku mohon semoga bukan mas Hendri orang misterius itu," gumam Arumi sedih.
Setelah melalui perjalanan. Akhirnya Arumi dan Dewi sampai di rumah yang begitu besar, modern, bagus. Arumi sangat menyukainya.
Arumi nampak terkagum-kagum saat turun dari mobil lalu menatap ke rumah Gilang yang akan menjadi miliknya.
"Aku tidak percaya, rumah ini akan menjadi milikku," ucap Arumi sangat senang.
Lalu Dewi mengajak masuk Arumi dan juga nenek melewati pintu gerbang yang tidak di kunci.
"Wah, saat dilihat lebih dekat rumah ini semakin menarik dan bagus ya Nek. Aku suka banget," ucap Arumi gemas sembari berjalan menuju pintu rumah yang tertutup.
Benarkah Dewi orangnya seindah rumah ini?" tanya Arumi melebarkan kedua matanya.
"Benar."
"Apa dia seorang laki-laki Dewi," tanya Nenek.
"Lihat saja nanti" jawab Dewi.
Sudah sampai didepan pintu rumah yang tertutup. Jantung Arumi semakin berdegup kencang. Rasa gugup menyelimuti dirinya. Tangannya pun sedikit gemetar.
Sementara didalam rumah, Gilang juga nampak gugup, badannya gemetar jantungnya sedari tadi tiada berhenti berdegup kencang. Gilang tidak bisa duduk anteng di kursi ruang tamu. Gilang mondar-mandir. Dia tidak sabar menunggu Arumi datang. Dan mengetahui kalau dirinyalah orang yang selama ini membuatnya bahagia.
Dengan Arumi tau kalau dirinya rela memberikan semuanya demi Arumi, Gilang berharap Arumi mau membuka hatinya untuk menerima cintanya yang begitu tulus untuknya.
__ADS_1
"Kamu sudah siap Arumi untuk bertemu dengan pemilk rumah ini," ucap Dewi dengan serius.
Arumi hanya menganggukkan kepala, karena tak bisa berkata-kata karena saking gugupnya.
"Siapa ya orang yang ada didalam rumah itu. Aku berharap dia Gilang ya Allah. Karena hatiku saat ini hanya terpaut padanya. Seandainya itu bukan Gilang. Aku pasrah ya Allah aku akan menerimanya dengan lapang," batin Arumi sembari memejamkan matanya.
Bertepatan dengan Arumi membuka mata, pintu itu terbuka. Dan Arumi melihat seorang kelaki tengah mondar-mandir dengan kegelisahannya, terlihat sesekali mengoyak rambutnya dengan tangannya. Dia adalah Gilang. Tiada orang lain di rumah itu selain Gilang.
"Gilang," teriak Arumi.
Mendengar namanya dipanggil, Gilang menghentikan langkahnya. Dan menatap kearah Arumi yang tengah memanggil namanya.
"Arumi!" ucap Gilang.
Mereka berdua saling menatap, dari jarak yang tak begitu jauh. Mereka saling terpana, seperti saat dua insan baru merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Debaran jantung menerpa keduanya.
Jedag, jedug rasanya. Rasa gejolak cinta yang begitu besar menyertai mereka. Rasa kangen, ingin bertemu, ingin mendekat jadi satu. Tanpa mereka sadari karena gejolak cintanya. Gilang dan Arumi saling mendekat lalu mereka saling membenamkan tubuhnya dan berpelukan dengan erat, seakan tak mau terlepas.
Semua karena cinta yang sudah terpaut sejak lama dan baru sekarang mereka berdua bisa saling mengakuinya.
"Aku mencintaimu Arumi," ucap Gilang menatap Arumi dalam pelukan.
"Aku juga sangat mencintaimu Gilang. Ternyata orang yang begitu tulus mencintaiku adalah kamu dan telah mengorbankan semua milikmu demi diriku. I love you Gilang. I love you," ucap Arumi sembari mendongak menatap Gilang.
Mereka terbawa suasana romantis. Hingga keduanya tak sadar hampir saling mendaratkan bibirnya.
Suara sirene dari nenek Suryati menyadarkan mereka. Nenek Suryati yang sedari tadi menyaksikan keharuan mereka dan juga Dewi yang juga ikut terbawa suasana romantis mereka.
Dewi sangat menginginkan Gilang dan Arumi saling berciuman. Namun tidak dengan nenek Suryati.
"Jangan kelewat batas kalian. Sadar-sadar, kalian belum sah menjadi suami istri. Kalau ingin melakukan yang lebih, menikah dulu," tutur singkat Nenek Suryati.
__ADS_1