
Hendri tak mau memikirkan lagi tentang ucapan Melinda yang menyatakan cinta padanya tanpa permisi dulu. Hendri akan mengalihkan pembicaraannya. Hendri tak mau dibuat pusing memikirkan ucapan Melinda, itu hanya akan mengganggu pekerjaannya.
"Kita sekarang mau kemana bu?"
"Hei, jangan panggil aku bu. Kita nggak lagi di kantor. Ini kan hari libur. Kita berdua akan jalan-jalan dan bersenang-senang."
"Jalan-jalan?"
"Iya, itulah pekerjaanmu hari ini, kita akan bersenang-senang. Kamu harus menemaniku dan membuatku senang karena aku sudah menyatakan cinta padamu."
Hendri masih tak berani protes dia manut saja karena ini masih bagian dari pekerjaan. Suatu saat Hendri akan menjelaskan semua pada Melinda tentang dirinya supaya tidak salah paham lebih dalam.
Sekarang Hendri dan Melinda sudah ada di taman hiburan. Mereka berdua bersenang-senang, memainkan banyak wahana di taman itu. Melinda tiada sungkan menggandeng tangan Hendri bahkan sesekali mendekapnya karena saat merasa takut menaiki wahana yang ekstrim.
Hendri tak berani mencegah Melinda yang sering menempel padanya. Hendri hanya bisa berdoa semoga di wahana ini dia tidak bertemu dengan keluarganya atau orang yang mengenalnya.
Hendri masih sangat sibuk dengan pekerjaannya, tidak bisa mempersiapkan semuanya untuk pernikahannya nanti. Bahkan untuk memilih gaun pengantin yang akan dipakai saat acara resepsi nanti, Hendri tak punya waktu sedikit pun.
Arumi ingin sekali mengajak Hendri memilih baju pengantin yang cocok tapi tak ada waktu untuk Hendri. Arumi berinisiatif untuk mengirimi Hendri beberapa foto gaun pengantin dari butiknya, supaya Hendri bisa memilih yang sesuai seleranya.
"Sudah aku kirim semua foto baju pengantin yang paling bagus di butik ini, semoga mas Hendri memilih seperti yang aku inginkan," ucap Arumi usai mengrimkan beberapa foto baju pengantin.
Pesan sudah terkirim, namun tak begitu dihiraukan oleh Hendri yang saat ini ikut terbawa suasana bahagia menikmati banyak hiburan di taman hiburan bersama Melinda.
Arumi menunggu jawaban dari pesan yang dikirimkannya pada suaminya. Arumi nampak termenung memikirkan tentang pesannya yang tak dibalas oleh Hendri, yang sangat dinanti-nanti balasannya sama Arumi.
"Kenapa nggak dibalas pesanku, padahal ini kan jam makan siang," gerutunya.
"Apa mas Hendri nggak pernah istirahat, karena mendapat gaji yang besar yang setiap bulannya naik. Aduh... kasihan sekali mas Hendri, pasti dia sangat lelah sekarang," kira Arumi.
"Hei, ngapain bengong aja disini. Cepat lanjutkan kerjanya tu banyak klien yang datang," ujar bu menejer.
"Baik bu!!" Ucap Arumi sembari menganggukkan kepala.
__ADS_1
Arumi kembali bekerja, sibuk melayani para klien butik yang akan vitting baju pengantin. Arumi berada dibelakang sepasang calon pengantin yang akan vitting baju.
Nampak mereka bingung memilih baju pengantin yang cocok untuknya. Arumi membantu mereka memilih baju yang menurut Arumi bagus dan cocok untuk mereka. Netra Arumi menatap serius ke badan kedua mempelai dari belakang
"Calon pengantin itu seumuran denganku yang perempuan, dan yang lelaki semuran dengan mas Hendri. Dan tinggi mereka dan ukuran badan mereka tak beda jauh denganku dan juga mas Hendri. Gimana kalau aku saranin baju yang sudah aku pilih, sekalian aku pingin liat, apakah bagus jika dikenakan," gumam Arumi sembari memilah-milih baju pengantin.
Arumi segera mengambilkan baju yang sudah di incarnya sedari saat dia mulai bekerja di butik ini. Dia akan menunjukkan pada calon mempelai.
"Gimana kalau baju yang ini," dengan susah payah Arumi menunjukkan pada calon mempelai.
"Wah, bagus sekali baju pengantin ini. Aku belum pernah melihatnya," ucap mempelai putri mengagumi baju pengantin berwarna silver warna kesukaan Arumi.
Merasa senang dengan baju yang ditunjukan oleh Arumi, kedua mempelai langsung mencoba memakai baju itu. Setelah beberapa menit mereka keluar dari ruang ganti di bantu para pegawai lainnya dan disaksikan Arumi.
Arumi jadi ternganga dan terkagum-kagum, ternyata baju pengantin itu sangat pas untuk mereka. Terbayang di benak Arumi dia memakai baju itu juga saat pernikahannya. Arumi nampak cantik dan anggun dan Hendri nampak tampan dan menawan.
Arumi jadi senyum-senyum sendiri menikmati angannya. Sinta datang membuyarkan angan indah Arumi.
"Ih... kamu! Ganggu orang seneng."
"Ayo kerja, jangan ngelamun aja nanti dihukum sama Bu menejer lo," Ajak Sinta.
"Iya..., ya."
Disela-sela kerjanya lagi, Arumi kembali mrngecek hand phonenya, melihat apakah ada pesan yang masuk dari suaminya. Dan ternyata nggak ada pesan masuk. Bahkan Hendri belum membuka pesan yang dia kirimkan.
"Mas Hendri pasti sangat sibuk, sampek nggak sempat baca pesan yang aku kirim." Arumi menghela nafas berat.
Arumi sedikit kesal, tapi dia mencoba meredamnya.
Tak terasa hari sudah malam. Sekarang sudah pukul tujuh malam. Arumi sudah ada di rumah dan akan makan malam bersama mertuanya dan juga Salsa yang sudah ia siapkan usai maghrib tadi.
__ADS_1
Sedangkan Hendri masih belum pulang dihari libur kerjanya, Hendri masih sama akan pulang malem. Hendri saat ini bersama Melinda di sebuah kafe yang hanya ada dirinya dan juga Melinda. Tempat itu sudah dibooking oleh Melinda.
Mereka berdua akan menikmati makan malam berdua dengan suasana romantis. Ini sudah Melinda rencanakan sejak lama, dan akhirnya tercapai juga. Melinda sangat senang hari ini bisa menyatakan cintanya secara langsung dan tak mendapat penolakan sama sejali dari Hendri. Membuat Melinda yakin ada perasaan yang sama pada diri Hendri.
Meski Hendri menanggapinya datar saja, Melinda mengira Hendri menerima cintanya. Buktinya seharian tadi Hendri nampak bahagia dan menikmatimya saat ada di sisinya. Kali ini Melinda ingin melamar Hendri. Melinda tidak ingin basa-basi lagi.
Melinda ingin selalu hersama Hendri tak hanya menjadi rekan kerja, bahkan lebih dari itu. Melinda ingin hubungan yang halal antara seorang laki-laki dan perempuan. Melinda ingin menjadi istri Hendri.
"Aku ingin kamu menikahiku Hen," cetus Melinda sembari memegang erat tangan Hendri saat duduk saling berhadapan.
"Apa kamu bilang, kamu ingin aku menikahimu?" Hendri geleng-geleng kepala.
"Kenapa Hen? Kamu nggak mau?"
"Mel, kamu sudah melewati batas. Kamu nggak tau siapa aku, latar belakangku, kenapa tiba-tiba dengan mudah menginginkan aku menikahimu?"
"Bukannya kamu sudah nenunjukkan tadi kalau kamu membalas cintaku?" Tegas Melinda.
"Itu hanya pekerjaan! Katanya aku harus menuruti semua perintahmu dan membuatmu senang."
"Jadi kamu hanya menganggap semua tadi bagian dari pekerjaan?"
"Iya, itu kan perintah kamu? Dan aku sebagai asistenmu aku harus bekerja profesional. Itu kan yang kamu inginkan."
"Bukan seperti itu Hen, aku serius! Aku mencintaimu dan aku ingin kamu menikahiku. Menjadikanku istrimu. Aku sungguh tergila-gila padamu, hingga aku memberikan apa yang kamu inginkan. Aku sungguh ingin memilikimu seutuhnya Hen."
"Tidak bisa! Aku tidak bisa menikah denganmu."
"Kenapa tidak bisa?"
__ADS_1