Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 47 Nanti Akan Tahu


__ADS_3

Arumi dan nenek Suryati terkejut dengan jawaban Hendri. Yang tiba-tiba membelikannya rumah tanpa memberitahunya.


"Ini rumah baru kami?" Tanya Arumi lagi.


"Iya, " jawab Hendri yang sudah duduk di kursi kemudi.


Hendri membawa masuk mobil ke dalam pintu gerbang.


Nenek Suryati masih tercenang dengan ketidak percayaanya. Saat menatap rumah sebagus itu.


"Sudahlah ayo turun," ajak Hendri mulai memapah tubuh Arumi dan membawanya masuk kedalam rumah.


Nenek Suryati juga ikut turun bersamaan dengan Arumi yang sudah dibukakan pintunya oleh Hendri.


"Benarkah ini rumah baru kita Hendri, " ucap nenek Suryati yang berjalan dibelakang Hendri.


Nenek Suryati seakan tak percaya Hendri bisa membeli rumah sebagus ini.


"Iya Nek, mulai sekarang rumah ini akan menjadi rumah Nenek dan juga Arumi. Aku membelikan untuk kalian dengan uangku sendiri."


"Kamu sudah banyak uang Mas sekarang, sampai membeli rumah sebagus ini," ucap Arumi terkagum saat mematap kedalam rumah yang terdapat banyak ruangannya.


"Rumah ini nggak sebagus rumah ibuku, tapi ini layaklah dibanding kamu harus tinggal di kontrakan Nenek," ucap Hendri.


"Rumah ini jauh lebih bagus Hen, dari rumah Nenek. Terima kasih sudah membelikan rumah Arumi sebagus ini. Ini pasti karena kerja kerasmu selama ini yang selalu sibuk tidak punya waktu bersama Arumi. Terima kasih Hen," ucap nenek Suryati memeluk Hendri yang baru saja mendudukkan Arumi di kursi ruang tamu.


"Sama-sama Nek, aku hanya ingin melihat kalian bahagia itu saja," ucap Hendri.


"Ingin membuat kami bahagia? Tapi kenapa malah menyakiti hatiku dengan menceraikanku. Apa maksudnya semua ini," batin Arumi menatap Hendri teduh.


Arumi masih duduk di ruang tamu, sementara Hendri mengantar nenek membawa sang baby menuju ke kamarnya.


Nenek Suryati akan istirahat bersama dengan bayi Arumi yang tidur terlelap sedari tadi.


Hendri akan kembali ke kantor, dia pun pamit sama nenek. Dan berpesan sama nenek untuk segera membawa pindah barang-barangnya ke rumah ini.


Nenek pun mengiyakan pesan Hendri. Dia akan segera memindahkan semua barangnya ke rumah ini.


Hendri juga akan pamit sama Arumi.


Saat Hendri sudah sampai di ruang tamu, Arumi langsung mengutarakan rasa penasarannya yang bergelimang dibenaknya.


"Mas Hendri!" Sentak Arumi. Hendri sedikit terkejut.

__ADS_1


"Apa maksudnya semua ini. Apa kemarin aku hanya bermimpi diceraikan sama kamu. Dan sekarang kamu kembali dengan sikap tanggung jawabmu sebagai seorang suami," ucap Arumi serius.


"Maafkan aku Arumi. Kamu tidak bermimpi. Itu adalah kenyataan, kamu harus bisa menerimanya Arumi. Itulah takdir kita harus berpisah. Aku hanya ingin melihatmu bahagia," ucap Hendri.


"Bahagia?" Arumi berdiri dari duduknya dan mendekati Hendri yang berdiri terpaku dihadapannya.


"Bahagia macam apa Mas! Aku hanya akan bahagia jika kamu berada disisiku. Dengan menceraikanku apakah itu yang bisa kau sebut dengan kebahagiaanku?" Air mata Arumi tidak bisa dibendung tumpah dengan sendirinya membasahi pipinya


Hendri lidahnya seperti kelu dan kaku melihat Arumi bersimbah air mata dihadapanya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Arumi.


Hendri pun memilih akan pergi meninggalkan Arumi. Namun kedua tangan Arumi mencegahnya.


Arumi meminta penjelasan dari Hendri tentang dirinya yang tiba-tiba menceraikannya. Arumi harus tau alasannya diceraikan dan kenapa tiba-tiba Hendri malah membelikan rumah untuknya yang tak akan dihuni bersamanya.


Hendri bersi keras tidak mau memberi jawabannya. Hanya kata yang diungkapkannya yang membuat Arumi makin penasaran.


"Nanti kamu akan tau alasanku menceraikanmu," ucap Hendri.


"Katakan saja sekarang Mas, biar aku lega dan bisa nerima," ucap Arumi.


"Apa kamu sudah tidak mencintaiku? Apa kamu tidak sayang dengan anakmu? Apa kamu sama seperti ibu?"


Hendri malu untuk menjawab berbagai pertanyaan Arumi. Hendri sudah tidak tahan dengan desakan Arumi dia pun memilih akan pergi. Hendri pun beranjak meninggalkan Arumi.


"Bagaimana nanti kakau nenek sampai tau kita sudah berpisah," ucap Arumi.


Langkah Hendri terhenti.


"Aku akan menjelaskannya setelah aku siap," ucap Hendri dan berlalu masuk kedalam mobilnya.


Hendri melajukan mobilnya meninggalkan rumah baru Arumi.


Arumi hanya menyaksikannya dengan air mata yang tiada henti mengalir membasahi pipinya.


"Mas Hendri kenapa jadi berubah seperti ini. Apa yang membuatnya seperti ini," ucap Arumi sembari terisak tangis diluar.


Arumi tidak mau larut dalam suasana sedihnya takut ketahuan sama nenek Suryati. Dia pun menyeka air matanya, lalu kembali masuk kedalam rumah.


Arumi masuk kedalam kamarnya dan melihat nenek Suryati tidur terlelap disiang hari bersama babynya. Arumi menatap teduh kearah nenek dan juga babynya. Arumi merasa kasihan pada mereka berdua.


"Mereka berdua tidak boleh tau kalau aku merasakan kesedihan yang hebat saat ini. Aku tidak mau kalian merasakannya. Cukup aku saja yang menanggungnya. Kalian harus bahagia," batin Arumi, yang tak bisa menahan tangisnya. Air matanya pun keluar lagi.


***

__ADS_1


Hendri tidak kembali ke kantornya dulu. Dia akan ke rumah ibunya.


Setelah melalui perjalanan, Hendri sampai di rumah ibunya.


Hendri langsung masuk kedalam rumah. Dia mencari keberadaan ibunya.


"Ibu, Ibu," teriak Hendri sembari berjalan mencari keberadaan ibunya.


Tak ada jawaban dari Mia yang sudah dipanggil Hendri berkali-kali. Lalu Hendri mencarinya di dalam kamarnya. Dan benar Mia ada di kamarnya sedang duduk santai sembari menonton tv.


"Ibu," ucap Hendri.


Tanpa mengetuk pintunya Hendri langsung masuk ke kamar ibunya.


Mia sangat terkejut melihat Hendri yang datang lansung masuk kedalam kamarnya.


"Hendri? Kamu sudah pulang." Mia beranjak dari duduknya lalu mendekati Hendri.


"Iya, aku pulang karena Ibu. Apa Ibu tau kalau Arumi sudah melahirkan?" Tanya Hendri.


"Sudah!"


"Lantas Ibu sudah menjenguknya di rumah sakit?"


"Belum," ucap Mia tanpa merasa bersalah.


"Ibu sungguh keterlaluan, sudah tau Arumi melahirkan cucu Ibu kenapa tidak menjenguknya," tuntut Hendri.


"Siapa suruh kamu nggak pulang. Coba kalau kamu pulang, pasti Ibu sudah datang kesana dan bersama kamu.


"Alasan! Ibu kan bisa naik taksi."


"Ibu harus hemat, jadi maunya Ibu dianterin sama kamu. Nah sekarang kamu sudah pulang. Sekarang anterin Ibu ke runah sakit ya," ucap Mia merayu.


"Sudah terlambat. Arumi sudah pulang?"


"Pulang? Pulang kemana dia, kok nggak bersamamu sekarang."


"Dia pulang bersama neneknya. Dia memutuskan untuk tinggal bersama neneknya," jelas Hendri.


"Tinggal bersama neneknya. Tidak, tidak bisa. Arumi harus tinggal disini. Dia kan menantu Ibu. Enak saja dia main kabur setelah melahirkan. Mana tanggung jawabnya sebagai menantu. Dasar menantu tidak berbakti. Keterlaluan ya Arumi," Mia menghujat Arumi.


"Ibu yang keterlaluan. Ibu memanfaatkan Arumi menganggapnya seperti seorang pembantu. Itulah yang membuat Arumi memutuskan tinggal di rumah neneknya. Arumi tidak mau tinggal disini karena Ibu." Hendri menyalahkan ibunya.

__ADS_1


Hendri melarang Mia untuk menemui Arumi dan cucunya. Karena nenek Suryati tidak ingin dia menjenguknya karena sakit hati dengannya.


__ADS_2