Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 50 Nasi Sudah Menjadi Bubur


__ADS_3

Sudah cukup lama Arumi berada di rumah mertuanya. Dia pun teringat dengan pesan nenek Suryati untuk tidak lama-lama perginya. Arumi pun memutuskan pamit pulang.


Arumi pulang dengan perasaan hampa. Tidak bertemu dengan Hendri dan masih dalam tanda tanyanya.


Di rumah, nenek sungguh dibuat gelisah karena Arsya sudah mulai meringik karena haus.


Nenek pun menghubungi Arumi untuk segera pulang.


Arumi yang sudah dalam perjalanannya pun jadi gugup dan ingin cepat sampai di rumah.


Arumi sudah sampai di rumah. Disambut nenek yang sudah berdiri di teras depan dengan menggenong Arsya yang menangis.


"Nah itu Ibu sudah datang. Diam ya, diam. Cup, cup," ucap nenek Suryati.


"Arsya__" Arumi berlari mendekati Arsya lalu meraihnya dari dekapan nenek Suryati.


"Arsya haus sayang. Ibu sudah datang ya."


Nenek menyuruh Arumi masuk kedalam rumah dan menyuruhnya untuk segera menyusui Arsya .


Suara tangis Arsya sudah tidak terdengar karena sudah menyusu ibunya.


"Kenapa kamu lama sekali Arumi perginya? Kamu kamana saja tadi?"


"Ehm..., aku ke rumah teman Nek," ucap Arumi berbohong.


"Lama amat ke rumah temen."


"Maaf Nek ada urusan yang harus aku selesaikan."


"Sudah selesai belum urusannya."


"Belum Nek, belum jelas masih tanda tanya," ucap Arumi.


"Nenek tidak tahu urusanmu apa. Semoga cepat terselesaikan," ucap nenek Suryati.


"Iya Nek, semoga aku dapat jawaban yang jelas supaya hatiku bisa menerima dengan tenang," ucap Arumi.


Arumi butuh kejelasan dari Hendri tentang statusnya yang menurutnya seperti digantung. Arumi ingin tau sebab dia diceraikan.


Arumi tidak akan putus asa. Dia akan tetap mencari Hendri dan meminta penjelasan yang jelas.


Acara makan bersama keluarga Subroto sudah berakhir.


Hendri pamit akan pergi keluar sebentar karena ada urusan penting yang harus diselesaikan. Dia pun pamit sama Melinda istri barunya.

__ADS_1


Melinda sedikit keberatan, dihari libur kerjanya Hendri tidak bisa bersamanya di rumah karena ada urusan penting. Melinda berharap bisa bermanja dengan suaminya di rumah, malah ditinggal pergi. Maklum Melinda masih terbawa suasana pengantin baru.


Hendri akan pulang ke rumah ibunya. Siap tidak siap Hendri akan memberitahu kedua orang tuanya tentang dirinya yang sudah menikah lagi dengan wanita lain.


Hendri mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah istrinya menuju rumah ibunya.


Setelah beberapa menit perjalanan Hendri sampai di rumahnya.


Mia dan Salsa masih duduk di ruang tamu membicarakan tentang Hendri yang sudah menceraikan Arumi tanpa berunding dengannya. Mia memang tidak suka dengan Arumi, tetapi Mia tidak berharap Hendri harus menceraikannya. Apa lagi Hendri sudah mempunyai anak dengan Arumi.


"Assalamualaikum...," ucap Hendri saat masuk rumah.


"Itu seperti suara kak Hendri Bu," ucap Salsa.


"Iya itu suara Hendri. Dia pulang ke rumah," ucap Mia senang.


Mia dan Salsa beranjak dari duduknya.


"Waalaikum salam," jawab Mia dan Salsa.


Hendri berjalan menuju tuang tamu.


"Hendri? Kamu pulang," teriak Mia menyambut Hendri.


Mia menarik kasar tangan Hendri, lalu menyuruhnya duduk di kursi bergabung dengan Salsa dan dirinya.


Hendri sudah duduk berhadapan dengan ibunya dan juga Salsa.


Mia siap menginterogasi Hendri.


"Hendri, kamu kemana saja beberapa hari ini dan baru pulang sekarang?" Tanya Mia serius.


"Aku---"


"Kamu kemana aja? Jawab saja. Nggak usah berbelit-belit. Ibu sudah tau kalau kamu sudah menceraikan Arumi kan?" tanya Mia sedikit gereget sama Hendri.


"Ibu tau dari mana kalau aku sudah menceraikan Arumi?" tegas Hendri.


"Jadi kamu benar-benar menceraikan Arumi?" Mia memastikan.


"Iya benar, aku memang sudah menceraikan Arumi saat di rumah sakit," ucap Hendri sembari mengangguk.


Salsa melebarkan kedua netranya. Sementara Mia mulutnya melongo.


"Kak Hendri, kok bisa Kakak menceraikan kak Arumi setelah melahirkan anak Kakak. Itu sungguh kejam Kak namanya. Aku sebagai seorang wanita ikut merasakan sakit yang dalam. Kakak sungguh keterlaluan," ucap Salsa merasa tidak terima.

__ADS_1


Hendri hanya terpaku mendengar ucapan Salsa. Dia mengakui kalau dirinya memang kejam sama Arumi dan anaknya.


"Apa maksudmu Hendri menceraikan Arumi. Bukannya kamu akan meresmikan pernikahanmu setelah lahiran anakmu. Ada apa sebenarnya Hendri?" tanya Mia.


"Maafkan aku Bu, aku memang sudah salah mengambil keputusan. Aku memang menceraikan Arumi demi kebahagiaannya. Aku dalam situasi yang sulit. Aku terjebak dalam permainanku sendiri.


Aku sudah ingkar dengan janjiku. Namun hanya itu yang terbaik untuk Arumi."


"Ibu masih tidak mengerti. Apa sebabnya kamu menceraikan Arumi?


"Iya Kak, jelaskan pada kami. Apa sebab Kak Hendri menceraikan Kak Arumi," imbuh Salsa.


"Ceritanya sangat panjang," ucap Hendri.


"Kasih tau Ibu Hendri."


Hendri pun menceritakan pada ibunya dan Salsa sebab dia menceraikan Arumi.


Hendri dipaksa menikahi bosnya yang kaya itu dan menjanjikan banyak harta bahkan perusahaan untuk di kelolanya, karena si bosnya cinta buta padanya. Tak memperdulikan statusnya yang sudah beristri. Hendri sengaja merahasiakannya.


Setelah menikah dengan Melinda Hendri baru akan mengatakan kalau Melinda istri kedua. Namun Melinda tidak terima menjadi istri kedua dia ingin menjadi istri Hendri satu-satunya.


Melinda mengancam Hendri dengan berbagai ancaman yang membuat dirinya akan kehilangan semuanya jika tidak menceraikan istri pertamanya.


Hendri ingin melihat Arumi bahagia dan tidak menderita. Hendri pun memilih menceraikan Arumi. Dan akan menjamin hidup Arumi berkecukupan.


Hendri yang ingin membuat Arumi bahagia sangat membutuhkan itu. Menurut Hendri dengan menikah dengan Melinda cita-citanya bisa terwujud membelikan rumah untuk Arumi dan neneknya.


Itulah alasan Hendri terpaksa menceraikan Arumi karena berada disituasi yang sulit.


"Jadi begitu ceritanya. Tapi itu sungguh menyakitkan hati Arumi Hendri. Bagaiman dengan cucu Ibu."


"Aku memang bersalah Bu, tapi semua aku lakukan demi kebahagiaan Arumi," ucap Hendri.


"Tapi Kak itu namanya tidak adil. Kakak memutuskan sendiri tanpa berunding dengan kak Arumi. Apakah dia bersedia menerima keputusan Kak Hendri. Kakak sungguh egois nggak kasihan sama kak Arumi. Dia sangat sedih Kak," ucap Salsa air matanya menetes membasahi pipi, merasa kasihan sama Arumi kakak iparnya.


"Nasi sudah menjadi bubur. Sudahlah sekarang kita lihat kedepan. Mungkin jodoh Arumi dengan kakakmu cukup sampai disini. Semoga Arumi bisa menerimanya dan menjalani kehidupanya dengan bahagia. Hanya itu yang bisa ibu katakan," ucap Mia.


Hendri sedikit lega mendengar ucapan Mia. Hendri juga berharap Arumi bahagia walau tidak bersamanya. Hendri berjanji akan tetap membuat Arumi dan anaknya bahagia walau tanpa hidup bersamanya.


Sementara Salsa masih dengan isak tangisnya, merasa kasihan dengan nasib Arumi dan anaknya.


Mia merasa senang akhirnya yang ia cita-citakan tercapai sudah. Akhirnya Hendri bisa menikah dengan orang kaya, yang nanti akan membuatnya bahagia dengan berlimpah harta. Mia tiada henti bersyukur doanya selama ini terkabul.


"Hendri memang anak laki-laki yang bisa dibanggakan," batin senang Mia.

__ADS_1


__ADS_2