
Pekerjaan sudah terselesaikan. Di ruangan yang hanya diterangi lampu samar-samar dimalam yang sudah sunyi ini mereka berdua melewatinya berjalan gontai bersamaan menuju kamarnya.
Hendri dan Arumi kini sudah berada didalam kamarnya. Rasa lelah dan capek mereka tunjukkan. Nampak keduanya menghempaskan tubuhnya bersamaan diatas ranjangnya.
"Capek sekali aku mas," ucap Arumi sembari berbaring.
"Badan kamu pasti pegal semua ya," ucap Hendri yang berbaring berhadapan dengan Arumi.
"Iya mas badanku pegal semua," tangan Arumi sibuk memijit bahunya yang memang terasa sangat pegal.
"Sini biar aku pijitin," Hendri mendekat ke tubuh Arumi dengan posisi duduk.
"Nggak usah mas ini sudah malam. Mas Hendri kan juga capek tadi bantuin aku. Mas Hendri juga belum sempat istirahat kan tadi karena sibuk membantuku."
"Nggak papa istriku sayang, aku ini seorang laki-laki tenaganya lebih kuat dari seorang wanita. Kamu tengah hamil sekarang pasti rasanya capek dan lelah kan. Sini biar mas pijit," kekeh Hendri.
"Sudahlah mas aku nggak papa, ayo kita tidur saja ini sudah malam. Aku sudah ngantuk," mulut Arumi mulai menguap.
Hendri tidak bisa memaksa Arumi lagi yang sudah mengantuk, dia pun menuruti perintah Arumi. Hendri kembali membaringkan badannya lagi. Netranya menatap ke Arumi yang berbaring memunggunginya, membuat Hendri menyimpan banyak tanya dalam benaknya.
"Arumi pasti kesal dan sakit hati, karena ibuku. Maafkan aku Arumi telah membawamu ke rumah ini dan membuatmu tersiksa," ucap Hendri dalam hatinya sembari mengelus lembut rambut Arumi tanpa hijabnya yang sudah tertidur pulas.
Seperempat malam begitu cepat berlalu. Seperti biasa disisa seperempat malam Arumi sudah bangun. Arumi menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk menyembah Tuhannya. Tentunya Arumi mengajak suaminya Hendri untuk beribadah bersama.
Mia dan Salsa pun sama diwaktu subuh mereka juga sudah terbangun dan tentunya sama akan menjalankan perintah Tuhannya.
Arumi yang baru selesai menjalankan kewajibannya yaitu sholat subuh bersama Hendri, dia dikagetkan dengan panggilan mertuanya. Sembari mengetuk-etuk pintu kamarnya. Mia memanggil-manggil nama Arumi yang ia kira belum bangun.
"Arumi bangun!!! " teriaknya.
Arumi tak sempat menjawabnya dia sibuk melepaskan mukenanya. Arumi yang baru melepas mukenanya berlari ke arah pintu kamarnya yang tertutup dan segera membukanya.
__ADS_1
"Ada apa nu, panggil-panggil Arumi?"
"Kamu baru bangun ya, di panggil-panggil kok nggak jawab," terka Mia.
"Sudah bu, aku sudah bangun sedari tadi."
"Halah bohong, buktinya dipanggilin nggak nyaut."
Arumi mengatakan yang sejujurnya pada Mia. Tapi Mia nggak percaya, malah menuduh Arumi malas bangun karena pekerjaan semalam. Mia sengaja mendatangi kamar Arumi hendak memberitahunya kalau Arumi harus mengerjakan tugas lagi di rumah ini sebelum berangkat kerja.
Tugas itu harus dikerjakan Arumi setiap hari. Pokoknya Arumi harus bertanggung jawab atas kebersihan rumahnya. Mia menjelaskan secara rinci tentang apa yang harus dikerjakan Arumi di rumah ini sebagai menantunya yang tinggal di rumahnya.
Arumi tidak bisa menolak perintah mertuanya selain mengatakan ya dan bersedia. Demi bisa hidup bersama orang yang sangat dicintainya Arumi rela melakukan apa saja. Apa lagi ini hanyalah pekerjaan rumah tangga yang memang sudah seharusnya dikerjakan oleh Ibu rumah tangga seperti dirinya.
Arumi kembali masuk kamarnya dia akan memakai hijabnya yang tadi belum sempat ia pakai.
"Ada apa dengan ibu pagi buta sudah memanggilmu?" Tanya Hendri yang kini sedang duduk di tepi ranjang.
Arumi mencoba menutupi sikap mertuanya yang arogant padanya yang menganggapnya seperti tidak lebih dari seorang pembantu di rumah ini, membebankan semua pekerjaan rumah padanya.
Hendri menatap Arumi teduh, dari sorot matanya Hendri tau seperti tersimpan kegundahan di hati Arumi yang tak bisa secara langsung ia ucapkan.
"Sayang, kemarilah," tangan Hendri menepuk-nepuk ranjang memberi isyarat pada Arumi untuk duduk bersamanya.
Hendri meminta Arumi mendekatinya. Arumi yang sudah selesai memakai hijabnya ia pun mendekat ke Hendri yang duduk di tepi ranjang. Arumi ikut duduk sejajar dengannya seperti yang diisyaratkan padanya.
"Ada apa mas?" Tanya Arumi.
"Aku tau perasaanmu. Pasti kamu merasa terbebani tinggal di rumah ini."
"Mas bicara apa? Nggak mas. Aku senang tinggal disini bersamamu dan keluargamu," tegas Arumi sembari menatap suaminya dengan kesungguhan hatinya. Hendri menghela nafas berat.
__ADS_1
"Aku tau kamu pasti akan mengatakan itu. Maafkan aku ya, yang sudah membuatmu seperti ini. Kamu pasti merasa sakit hati karena sering mendengar omelan ibuku yang pedas bahkan lebih dari itu."
Arumi kembali menatap suaminya yang nampak khawatir.
"Mas aku nggak papa, kenapa kamu merasa bersalah seperti itu. Kamu tau kan aku ini wanita yang kuat dan pantang menyerah bagiku tinggal di rumah ini bagaikan mengarungi samudra di tengah lautan aku harus kokoh dan bertahan supaya tak terbawa angin kencang yang menerpa untuk mencapai tujuan," Arumi menunjukkan kekuatan hatinya pada Hendri.
"Aku senang kok tinggal di sini bersamamu, kita akan bahagia mas. Hidup itu pasti ada batu terjal yang menghalangi. Asal kita menjalani dengan sabar semoga Allah membuka jalan untuk kita."
"Kita bisa melompati batu terjal yang menghalang. Mungkin Ibumu sekarang belum bisa menerimaku sepenuh hati. Aku mengerti itu butuh proses, aku akan tetap berusaha dengan sepenuh hatiku supaya bisa di terima di hati Ibumu."
Ucapan Arumi begitu meyakinkan Hendri dan menunjukkan kalau Arumi istri yang kuat dan tegar menghadapi berbagai masalah. Hendri sangat terharu. Hendri pun membenamkan tubuh Arumi ke dalam pelukannya.
"Kamu memang istriku yang sangat baik dan kuat. Aku bangga padamu. I love you. Dan terima kasih kamu sudah mencintaiku," ucap Hendri sembari memeluk erat tubuh istrinya.
"Aku juga sangat mencintaimu mas, semoga kita akan bahagia selamanya."
Mereka berdua sangat menikmati pelukannya di pagi hari yang penuh haru biru. Tiba-tiba saja suasana yang haru biru harus terbuyarkan karena kedatangan Mia di kamar mereka.
"Kamu malah asyik peluk-pelukan, bukannya cepat-cepat mengerjakan pekerjaan rumah. Ih..., kamu bikin kesel ibu aja ya."
Seketika mendengar teriakan Mia, dengan cepat Arumi melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya. Hendri dan Arumi tak bisa berkata apa-apa. Mereka berdua memilih keluar dari kamarnya. Meninggalkan Mia dengan segenap rentetan omelannya yang bikin panas telinga.
Arumi dan Hendri menuju ke dapur. Arumi akan membuat sarapan untuk semua penghuni rumah ini. Hendri membantu Arumi di dapur. Selagi masih punya waktu dan bisa membantu, Hendri akan membantu Arumi sebelum berangkat kerja meski kbunya tak ingin Hendri membantunya.
Salsa pun sama, karena merasa kasihan dengan kakak iparnya yang mengerjakan semua pekerjaan rumah ini dia pun sangat ingin membantu. Tapi apa lah daya ibunya sangat keras melarangnya.
Begitulah Kehidupan Arumi sekarang yang tinggal di rumah mertuanya tak lain seperti seorang pembantu. Namun Arumi bisa menerima dan merasa senang bisa tinggal bersama suaminya dan keluarganya.
__ADS_1