Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 51 Sungguh Geram


__ADS_3

Hendri merasa lega bisa menceritakan semua pada keluarganya. Ibunya juga tidak menyalahkannya bahkan mendukungnya. Hendri tidak lupa memberitahu mereka tentang pernikahannya dengan Melinda yang akan segera dilaksanakan.


Hendri juga berpesan pada ibunya dan juga Salsa untuk tidak memberitahu Arumi tentang dirinya yang sudah menikah lagi. Biarlah Arumi tau dengan sendirinya.


***


Pak Subroto dan istrinya masih bercengkerama dengan putra kebanggaannya yaitu Gilang. Nampak ketiganya masih duduk santai di ruang santai sembari mengobrol.


Sudah cukup lama Gilang bertukar cakap dengan ayah dan ibunya yang hanya bertemu dikala hari libur saja. Gilang ingin bergantian bertukar cakap dengan Melinda adiknya yang juga jarang bertemu dengannya.


Gilang pun pamit sama ayah dan ibunya akan mencari keberadaan Melinda yang tidak ikut bergabung bersamanya.


Gilang ingin mempertanyakan semua pada Melinda kenapa dia masih mempertahankan pernikahannya dengan pria beristri. Apa dia nggak punya hati nurani. Tak sabar Gilang ingin segera menginterogasinya.


Gilang melangkahkan kakinya dengan cepat. Dia akan mencari Melinda di kamarnya.


Sudah sampai didepan pintu kamar Melinda. Gilang pun mengetuk pintu kamar Melinda yang tertutup.


"Tok, tok, tok."


"Melinda! Apa kamu ada didalam?" ucap Gilang dari balik pintu yang tertutup.


"Iya Kak, ada apa? Masuk saja tidak di kunci," ucap Melinda yang sedang tiduran diatas ranjangnya sembari main gadjetnya.


Gilang pun langsung membuka pintu dan masuk, lalu menutup pintunya lagi.


"Melinda! Kakak pingin bicara sama kamu," ucap Gilang lantang.


Mendengar ucapan kakaknya yang lantang Melinda pun reflek membangunkan badannya.


"Mau bicara apa Kak, serius banget kayaknya," ucap Melinda santai dengan posisi sudah duduk di tepi ranjang.


"Kamu sudah tau kan, kalau Hendri pria beristri. Kenapa kamu masih mempertahankan pernikahanmu?"


"Memang apa salahnya Kak." Melinda menaikan kedua alisnya.


"Kamu jelas salah Melinda. Harusnya kamu membatalkan pernikahanmu. Kamu tidak boleh menikah dengan lelaki beristri yang sangat dibutuhkan kasih sayangnya dan kehadirannya dalam keluarganya."

__ADS_1


"Tidak bisa Kak. Aku sudah cinta mati sama Hendri. Aku tidak ingin terlepas darinya."


"Pokoknya kamu harus memutuskan hubungan dengan Hendri dan tidak usah meresmikan pernikahanmu," tegas Gilang.


"Enak saja. Nggak bisa. Aku akan tetap mempertahankan pernikahanku dengan Hendri. Dan acara pernikahan akan tetap terjadi," jelas Melinda.


"Kamu sungguh bodoh. Dibutakan sama cinta. Banyak lelaki yang lebih tampan dari Hendri dan lebih baik darinya. Kakak bisa mencarikanmu. Bukan seperti Hendri yang jelas dia berkhianat pada istri dan anaknya. Dia lelaki tidak baik untuk kamu Melinda."


"Kakak tau apa tentang Hendri. Dia laki-laki yang baik untukku, dia rela melakukan apa saja denganku. Bahkan dia sendiri yang memutuskan memilih diriku dari pada istri dan anaknya. Dia sungguh membuatku bahagia sudah mengorbankan semuanya demi diriku."


"Apa maksud kamu Melinda? tanya Gilang tidak mengerti dengan maksud Melinda.


"Hendri sudah menceraikan istrinya. Dia itu hanya istri siri bukan istri sahnya."


"Oh, lelaki macam apa Hendri itu. Dia suka mempermainkan wanita. Menikahinya lalu memutuskan hubungan seenaknya saja tanpa memikirkan perasaan seorang istri. Orang seperti Hendri pantas diberi hukuman," ucap Gilang sangat marah.


Gilang sungguh geram dengan Hendri.


"Kurang ajar banget lelaki seperti itu. Lelaki tidak punya hati nurani. Andai saja saat ini dia ada dihadapanku. Sudah bikin aku babak belur," batin kesal hati Gilang.


"Kebahagiaan apa? Kebahagiaan diatas penderitaan orang lain?"


"Aku tidak perduli Kak, yang penting aku hidup bahagia dengan orang yang aku cintai," ucap Melinda dengan berani.


"Kamu! Kamu sama egoisnya dengan Hendri. Kalian berdua sama saja. Kakak benci kalian berdua. Ingat kalian tidak akan bahagia. Karena sudah merusak kebahagiaan orang lain," ucap Gilang sembari jari telunjuknya menunjuk tajam ke wajah Melinda.


Melinda tidak takut dengan ucapan Gilang. Dia hanya menyunggingkan mulutnya sembari menangkubkan kedua tangan di perutnya.


Gilang merasa frustasi, dia pun keluar dari kamar Melinda. Gilang membuka pintu dengan kasar, lalu membanting pintu itu dengan lebih kasar pertanda kemarahannya.


Gilang merasa kesal berada di rumah ini. Gilang mau pamit pulang saja untuk berganti suasana. Gilang pun pamit pulang sama kedua orang tuanya.


Hari sudah malam.


Arumi dan neneknya saat ini sedang makan malam bersama.


Arumi mengeluh pada neneknya kalau hanya bisa menyajikan makan malam dengan lauk sederhana, karena uang Arumi sudah menipis.

__ADS_1


"Kita makan seadanya ya Nek. Soalnya Arumi lagi bokek," ucap Arumi.


"Pasti karena Hendri nggak pernah pulang kan. Jadi kamu nggak punya uang," timpal nenek.


"Aku tidak mengharapkan uang mas Hendri Nek. Aku rasa uang mas Hendri sudah habis untuk membeli rumah sebesar ini. Dia tidak pernah pulang karena sedang bekerja keras untuk mendapatkan uang lagi."


Arumi kembali membohongi neneknya. Arumi sedih sekali saat neneknya membicarakan soal suaminya. Arumi harus siap berdosa dengan kebohongan yang dia buat.


"Maafkan aku nek, yang selalu membohongimu. Sampai kapan aku akan terus berbohong kepadamu nek," keluh Arumi dalam hatinya.


"Uang selalu menjadi prioritas utama seseorang. Sampai tidak tau arti kebersamaan dengan keluarga," sindir nenek.


Arumi hanya menghela nafas mendengar sindiran neneknya.


Hari sudah semakin malam.


Nenek Suryati sudah tertidur lelap di samping Arsya yang juga sudah tertidur lelap. Sementara Arumi masih terjaga.


Arumi memandang lepas kearah Arsya yang tertidur lelap. Arumi membelai lembut pipi Arsya yang menggemaskan.


"Kamu sungguh tampan seperti Ayahmu. Tapi sungguh disayangkan kamu tidak pernah mendapatkan belaiannya, karena dia sudah benar-benar memutuskan hubungan dengan kita," gumam Arumi dalam hatinya.


"Mas Hendri. Apa yang membuat kamu meninggalkan kita seperti ini. Aku sungguh tidak bisa terima mas," ucap Arumi dikeheningan malam sembari menangis.


Gilang didalam kamarnya di malam yang sunyi belum bisa memejamkan matanya. Gilang sudah berada diatas tempat tidur membaringkan badannya. Tiba-tiba saja dia teringat dengan Arumi.


Gilang teringat saat menolong Arumi yang mau melahirkan.


"Kasihan sekali Arumi, dia harus berjuang sendiri saat melahirkan. Tidak ada suami disampingnya. Allah sungguh baik sudah mempertemukanku dengan Arumi, dan aku mau membantunya dengan keikhlasan hatiku.


Namun tidak dengan adikku yang malah merebut suaminya. Dan laki-laki itu sungguh jahat. Dia menikah dan meninggalkan istrinya yang hamil besar dan melahirkan sendirian di rumah sakit."


Mengingat kejadian itu Gilang beranjak dari tidurnya. Gilang duduk termangu di atas ranjang.


Gilang sungguh merasa kasihan pada Arumi dan merasa bersalah juga pada Arumi. Karena dia tidak bisa mencegah Melinda menikah dengan suaminya.


Gilang pun jadi gereget sama Hendri. Gilang akan membuat perhitungan sama Hendri.

__ADS_1


__ADS_2