Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 9 Tinggal di rumah mertua


__ADS_3

Hendri menepuk-nepuk pipi Ibunya supaya sadar dari pingsannya yang tengah terbaring di sofa. 


"Ibu nggak mau bangun, cepat panggilkan dokter Sa," ucap Hendri penuh rasa panik.


 


"Mereka mau memanggil dokter? Gawat!! Aku nggak mau diperiksa dokter, aku kan cuman pura-pura pingsan," batin Mia.


Ternyata Mia hanya akting pura-pura pingsan. Akhirnya dia menyadarkan dirinya. Mia mulai membuka matanya, mengerjap-ngerjap seolah susah dibuka.


"Ibu sudah sadar Sa," teriak Hendri pada Salsa yang siap menghubungi Dokter.


"Ibu sudah sadar?" Tanya Hendri.


 


Salsa pun mendekat, namun tidak dengan Arumi dia menyingkir dari pandangan mertuanya. Rasa takut kembali melekat padanya. 


"Ibu nggak papa, nggak usah dipanggilin dokter," cetus Mia.


"Kenapa nggak mau dipanggilin dokter, Ibu takut ya," cetus Salsa.


"Bukannya takut, nanti malah ngeluarin biaya. Kamu tau kan tabungan Ibu berkurang karena harus bayar semua tagihan rumah ini. Ini semua karena kamu Hendri. Kamu meninggalkan Ibu dan membuat Ibu sengsara."


Mia menyalahkan Hendri.


"Itu kan salah Ibu sendiri kenapa mengusirku. Ibu jadi rugi kan, udah tau aku tulang punggung di rumah ini malah diusir," timpal Hendri.


"Semua ini karna kamu!! Kamu yang sudah merebut Hendri dariku. Dasar gadis miskin," ucap Mia sembari melempar bantal kearah Arumi dengan kembali menghina dan menyalahkan Arumi.


Air mata Arumi keluar tanpa ia sadari, mungkin karena kembali dihina oleh Mia yang kini menjadi mertuanya.


"Kenapa Ibu menyalahkan Arumi. Ibu masih belum sadar dan berubah. Kalau Ibu memang masih menganggapku sebagai anak Ibu, Ibu juga harus menganggap Arumi sebagai menantu Ibu. Kalau tidak biarkanlah aku pergi dan tak akan kembali ke rumah ini. Aku akan hidup bersama istriku Arumi dan juga anak-anaku."


"Kamu bilang apa Hendri! Kamu mengancam Ibu."


"Aku datang kesini untuk memastikan Ibu apakah sudah berubah dan akan menerima Arumi sebagai menantu Ibu. Tapi Ibu sepertinya masih seperti dulu belum berubah."


"Tak semudah itu Hendri, Ibu bisa menerimanya."

__ADS_1


"Sudahlah Bu, jangan berdebat terus Ibu jangan gengsi. Terimalah bu, Kak Arumi jadi menantu Ibu. Dan biarkan kak Hendri tinggal di sini bersama Kak Arumi," ucap Salsa menengahi. Sedangkan Arumi masih dalam tangisnya menyaksikan perdebatan suami dan mertuanya.


Mia hanya bergeming mendengar ucapan Salsa. Merasa tidak ada jawaban dari Ibunya Hendri memutuskan untuk pergi.


"Ibu memang sudah tidak menganggapku sebagai anaknya, Kakak pamit ya Sa."


"Jangan Kak, tetaplah disini kami membutuhkanmu," Salsa menghadang langkah Hendri dan Arumi yang siap meninggalkan rumah Mia.


"Ibu, cepat cegah mereka pergi," teriak Salsa dengan kedua tangannya ia rentangkan untuk mencegah Hendri dan Arumi pergi.


Mia bergeming sebenarnya berpikir keras apakah dia akan menerima Arumi sebagai menantunya yang tak pernah dia inginkan. Karena desakan Salsa akhirnya dengan terpaksa Mia memutuskan untuk menyuruh Hendri kembali tinggal di rumah ini.


"Baiklah, Ibu mohon kamu tinggal di sini Hendri karena Ibu sangat membutuhkanmu. Untuk menerima Arumi sebagai menantu Ibu, sepertinya Ibu butuh waktu," ucap Mia menyerah.


"Benarkah Bu," ucap Salsa.


"Ya kalau Kakakmu setuju."


Hendri dan Arumi saling menatap mengurungkan niatnya untuk pergi dan berbalik bersamaan menghadap kearah Mia.


"Kak tinggallah disini, Ibu sudah mengizinkan," pinta Salsa.


"Ibu nggak janji Hendri, Ibu akan berusaha kalau emang dia bisa mengambil hati orang tua," tukas Mia.


Tersirat senyum kecil dari Arumi mendengar ucapan mertuanya. 


"Kamu bersedia kan sayang tinggal di sini bersamaku," ucap Hendri sembari memegang kedua tangan Arumi.


"Iya Mas aku bersedia asalkan sama kamu," jawab Arumi.


Tersirat senyum bahagia pada Arumi dan Hendri. Salsa pun ikut bahagia. Sedangkan Mia menyunggingkan senyumnya dalam hatinya paling dalam masih belum bisa menerima Arumi karena dia gadis miskin yang tak diinginkan jadi menantunya.


Hendri dan Arumi tetap akan pulang dan mulai besok akan tinggal di rumah Mia. Arumi mengatakan pada Neneknya kalau dia akan ikut suaminya tinggal di rumah mertua. Nenek sebenarnya tidak rela Arumi akan tinggal di rumah mertuanya. 


Karena Arumi nampak bahagia dan senang akan tinggal di sana Nenek pun mengizinkannya. Nenek berharap Arumi menjadi menantu yang baik untuk mertuanya.


 


Arumi pun tidak lupa dengan janjinya dia akan bekerja keras untuk bisa membahagiakan Neneknya dengan membelikannya rumah untuk di tinggali di hari tuanya tanpa mengontrak.

__ADS_1


Dipagi yang masih gelap Hendri dan Arumi sudah siap untuk pindah ke rumah mertuanya. Arumi pamit sama Neneknya begitu juga dengan Hendri, membuat suasana jadi haru.


"Kami pergi dulu Nek."


"Iya sayang semoga kamu bahagia di sana," ucap Nenek sembari memeluk Arumi.


"Nenek jangan sedih aku akan sering mengunjungi Nenek sepulang kerjaku sebelum aku kembali ke rumah."


"Iya sayang, Nenek sayang sama kamu," ucap Nenek.


Hendri dan Arumi pun pergi meninggalkan nenek dan menuju rumah mertuanya. Seperti biasa mereka akan naik taksi.


Tak berapa lama mereka sampai di rumah Mia. Hendri segera mengajak masuk Arumi ke rumahnya. Disambut Mia dengan rasa keterpaksaanya yang masih menyelimutinya. Mia harus membiarkan menantu yang tak diinginkannya tinggal di rumahnya.


Karena masih pagi Hendri akan bekerja. Begitu juga dengan Arumi yang juga akan bekerja di tempat biasa. Hendri sudah berangkat duluan karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


Arumi masih menata barang-barangnya di kamar. Mia datang ke kamarnya mendekati Arumi.


"Kelihatannya kamu senang ya tinggal di rumahku yang lebih bagus dari rumahmu, eh kontrakanmu kamu kan nggak punya rumah," ucap Mia.


"Iya Bu, aku senang karena mas Hendri yang mengajakku tinggal disini," jawab Arumi dengan berani senbari menata baju dalam lemari.


"Ingat ya kamu tinggal di rumah ini nggak gratis kamu harus bekerja mencari uang membantu Hendri mencari nafkah, untuk kebutuhan rumah ini dan kebutuhan orang yang tinggal disini."


"Maksud Ibu," aktifitas Arumi terhenti mendengar ucapan mertuanya.


"Kamu nggak faham. Sebagai menantu kamu harus membuat mertuamu bahagia. Yang bisa membuatku bahagia adalah uang. Jadi kamu harus memberi uang dari hasil kerjamu supaya Ibu bisa menerimamu jadi menantu disini. Menantu yang berguna buat mertuanya."


"Tapi Bu, bukannya Mas Hendri yang sudah menafkahi ibu."


"His, kamu jangan protes ya. Kalau kamu mau aku akui jadi menantuku, turuti saja semua permintaanku," tegas Mia.


"Baiklah Bu, aku akan berusaha kalau bisa."


"Kamu harus bisa!" tegas Mia lagi.


"Insya Allah Bu," tegas Arumi.


Bersambung yang baca tinggalin like dan komennya yang membangun semangat penulis 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2