Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 56 Membantu


__ADS_3

Tak ada jawaban dari Mia seperti yang diinginkannya. Hanya ucapan yang menyakitkan yang terlontar dari mulut pedas Mia. Arumi meninggalkan Mia dengan beberapa celotehnya yang menyalahkan dirinya.


"Sudah tau dari dulu tidak direstui, kenapa tetap menikah. Begitulah sekarang rumah tanggamu jadi berakhir menyedihkan."


Ucapan Mia masih terngiang jelas di telinga Arumi, membuat Arumi keluar dari rumah Mia dengan air mata yang tiada henti berderai membasahi pipi. Hati Arumi bagai tertusuk duri untuk yang kedua kalinya.


Hendri dan ibunya sama-sama membuat Arumi tersiksa batinnya.


Arumi memutuskan untuk pulang dengan membawa luka perih di hatinya.


Orang suruhan Gilang yang bernama Jodi sudah tidak mengikuti Arumi sedari Arumi masuk kedalam rumah Mia mertuanya.


Jodi akan melaporkan tentang semua yang dilakukan Arumi hari ini.


Di kantor nampak Gilang duduk terpaku di kursi putarnya. Gilang termangu memikirkan cara untuk memenuhi keinginan Arumi.


Jodi tadi mengatakan kalau Arumi tengah mencari pekerjaan hari ini, namun tidak mendapatkannya. Jodi juga mengatakan kalau Arumi juga punya usaha kecil membuat kue yang di setorkan di kedai langganannya.


Jodi mengatakan kalau kue buatan Arumi sangat lezat dan nikmat. Kue itu jarang ditemui di tempat lain. Jodi baru melihatnya di toko itu saja. Itu yang membuat jodi penasaran lalu mencicipinya.


Setelah merasakan rasa kue yang luar biasa tadi, Jodi jadi pingin lagi makan kue itu.


"Arumi sedang bingung mencari pekerjaan. Bagaimana kalau dia bekerja di kantorku saja." Gilang bergumam sendiri.


"Tidak, tidak. Kalau Arumi bekerja disini, nanti dia bisa bertemu denganku. Nanti aku dibilang ingkar janji."


"Lalu apa solusinya untuk membantu Arumi mendapat pekerjaan." Gilang mengoyak rambutnya.


Gilang sedikit pusing memikirkan cara membantu Arumi.


"Derrrrt..., derrrttt," suara dering hand phone mengagetkan Gilang.


Gilang segera mengangkatnya, karena itu panggilan dari ibunya.


"Ya Ibu, ada apa nelfon Gilang," ucap Gilang.


"Ibu hanya mengingatkanmu sayang, kalau besok hari pernikahan adikmu. Kamu tidak lupa kan," ucap Liliana.


Gilang menepuk jidatnya.


"Oh iya, aku hampir lupa. Untung saja Ibu mengingatkanku."


"Benar dugaan Ibu kamu pasti lupa. Mangkanya Ibu mengingatkanmu. Jangan lupa besok datang," pesan Liliana.


"Iya Bu, aku besok akan datang."


"Kalau bisa datangnya jangan sendirian. Ibu berharap kamu membawa pasangan saat datang kepernikahan adikmu. Ibu ingin kamu seperti adikmu cepat menikah?"


"Membawa pasangan?"

__ADS_1


"Ibu lihat saja nanti, kalau sudah saatnya aku akan punya pasangan hidup yang akan membuat aku dan juga Ibu bahagia."


"Jangan nanti. Secepatnya. Ibu ingin melihat kamu bahagia dengan pasanganmu," tegas Liliana.


"Iya Bu, doakan saja aku cepat dapat jodoh."


"Ibu selalu mendoakanmu Nak."


Gilang mengakhiri percakapan dengan ibunya, karena sudah cukup lama.


"Pasangan? Selama ini belum ada wanita yang bisa menaklukan hatiku. Hanya ada satu wanita yang bisa menggetarkan hatiku dan kini aku sedang berurusan dengannya. Dia adalah Arumi. Sejak bertemu dengannya, kenapa aku selalu memikirkannya. Dan sekarang aku harus bertanggumg jawab atasnya karena kesalahan Melinda."


"Andai tidak ada urusannya dengan Melinda. Apa aku akan tetap perduli dan memikirkan Arumi?" ucap Gilang dalam angannya.


Gilang kembali berpikir bagaima cara membantu Arumi mendapatkan pekerjaan.


Arumi sangat membutuhkan uang, untuk memenuhi kebutuhannya, karena suaminya sudah menceraikannya. Itulah yang membuat Arumi bersi keras mencari pekerjaan.


Gilang teringat dengan ucapan Jodi, kalau Arumi mempunyai usaha kecil yaitu membuat kue. Kue sangat cocok disajikan dihari pernikahan.


Tersirat di benak Gilang.


"Bagaimana kalau aku memesan banyak kue yang dibuat Arumi untuk acara pernikahan Melinda. Dengan begitu Arumi akan mendapatkan uang. Aku akan memesan dengan jumlah yang banyak," gumam Gilang.


Gilang yang masih duduk di kursi kerjanya bergegas menghubungi Jodi. Gilang memerintahkan Jodi untuk memesan kue dengan jumlah banyak ke rumah Arumi.


Jodi bersedia dan akan segera meluncur kesana.


Jodi juga dalam perjalanan ke rumah Arumi.


Tak terasa perjalanan, Arumi sampai di rumahnya. Arumi turun dari angkot masih dengan suasana hati yang sedih.


Saat hendak membuka pintu pagar, Arumi mencoba menata moodnya, untuk merubah moodnya yang sedih menjadi ceria. Meski terasa susah Arumi harus melakukannya, supaya Nenek Suryati tidak curiga padanya.


Arumi mulai membuka pintu pagar dan masuk. Bersamaan dengan seseorang memanggil namanya.


"Arumi." Jodi memanggil Arumi yang baru saja mematikan mesin motornya.


Seketika Arumi menengok.


"Mas memanggil saya," ucap Arumi kembali berjalan keluar pintu pagar.


"Iya, kamu Arumi kan?" tegas Jodi.


"Iya benar, aku Arumi. Ada apa mencariku?"


"Ehm.. Begini aku tadi dari kedai kue di seberang jalan. Aku membeli kue buatanmu yang sangat enak. Terpikir olehku, untuk menesan kue buatanmu untuk acara pernikahan temanku. Apa kamu bersedia?" ucap Jodi.


"Memesan kue?" Arumi melebarkan kedua netranya.

__ADS_1


"Boleh, boleh!" ucap Arumi senang sembari mengangguk-angguk.


Arumi mengajak Jodi masuk kedalam rumah, karena tidak enak bicara di luar.


Arumi mempersilahkan Jodi duduk, dan memintanya untuk menunggu sebentar. Arumi tidak bisa memutuskan sendiri menerima pesanan kue tanpa keputusan nenek Suryati, karena nenek yang berwewenang.


Arumi memberitahu nenek Suryati kalau ada seseorang yang akan memesan kue, dia sedang menunggu di ruang tamu.


Nenek segera menuju ke ruang tamu dan menemuinya bersama Arumi.


"Maaf membuatmu menunggu. Ini nenekku orang yang membuat kue itu," ucap Arumi memperkenalkan neneknya pada Jodi.


"Jadi Nenekmu yang membuat kue itu bukan kamu," ucap Jodi terheran.


"Iya Nenek ku lah yang membuat kue seenak itu."


"Oh!" Jodi manggut-manggut.


" Bagaimana Nek, apa Nenek bersedia menerima pesanan kue untuk teman Mas Jodi?" tanya Arumi.


"Ada jalan rezeki Nenek tidak bisa menolak."


"Nenek mau menerima pesananmu. Berapa banyak kue yang akan kamu pesan?" tanya nenek.


"Lima ratus box," ucap Jodi.


"Masya Allah! Banyak banget pesenanya," ucap nenek Suryati dengan mulut melongo.


Arumi pun sama sangat terkejut mendengar ucapan Jodi.


"lima ratus box. Benar kamu akan pesan segitu banyaknya," ucap Arumi.


"Iya, saya serius. Tinggal Nenek kamu bersedia atau tidak?" tanya Joni.


"Bisa, bisa insya Allah bisa. Buat acara kapan?" tanya nenek Suryati.


"Untuk besok Nek," cetus Joni


"Hah! Besok?" ucap Arumi dan nenek Suryati bersamaan.


"Iya besok. Kalian pasti bisa kan. Pokoknya harus bisa. Sayang kan kalau ditolak," tegas Jodi.


Nenek Suryati tidak akan menolak. Ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan uang untuk membantu memenuhi kebutuhan Arumi yang ditinggal Hendri keluar kota.


"Saya bersedia, besok akan saya buatkan untuk lima ratus box kue," janji nenek.


Arumi tersenyum senang mendengar ucapan nenek. Arumi menumpahkannya dengan memeluknya. Mereka berdua nampak bahagia mendapat pesanan kue yang banyak tanpa terduga.


Jodi pun ikut terbawa suasana senang hati mereka.

__ADS_1


.


__ADS_2