
Melinda masih melanjutkan mencari keberadaan Hendri.
"Aku yakin melihat Hendri tadi, kemana ya dia. Kok bisa ngilang nggak ada jejak sih," gumam Melinda sembari clingak-clinguk.
Merasa tidak menemukan Hendri Melinda akan keluar dari toko, dan kembali melewati Arumi yang sudah selesai membayar semua belanjaannya. Arumi akan membawa barang-barangnya di bantu Salsa.
Mia sudah meninggalkan kasir sedari tadi katanya mau jalan-jalan ke toko yang lain.
Arumi dan Salsa nampak kuwalahan membawa barang yang begitu banyak .
Melinda yang berpapasan dengan Arumi dan Salsa, menawarkan diri akan membantu membawakan barangnya. Meski merasa nggak enak dengan orang yang baru ditemuinya, akhirnya Arumi mau juga di bantuin.
Hendri sudah keluar dari toilet, Sembari berjalan penuh rasa was-was dalam hatinya, dia takut ketemu Melinda karena saat ini sedang bersama keluarganya. Hendri berjalan menuju ke toko perlengkapan bayi. Hendri dibuat terkejut melihat Melinda yang keluar dari toko itu bersamaan dengan Arumi. Hendri segera menyembunyikan diri, takut di lihat Melinda
Hendri menyaksikan Melinda berjalan sejajar dengan Arumi yang perutnya besar. Sedangkan Salsa ada di belakang mereka. Mereka semua menenteng kantong yang sama berlebel.
"Kenapa Melinda bisa bersama Salsa dan Arumi, dan kemana ibu," gumam Hendri sedikit kesal. Hendri membuntuti mereka, sesekali dia bersembunyi takut ketahuan sama Melinda.
"Aduh..., gimana ini kenapa harus ada Melinda di sini. Apa dia nggak kerja. Gimana nanti kalau Melinda tau, kalau yang bersamanya adalah istriku, bisa hancur karirku dan berantakan," keluh Hendri.
Hendri sibuk memikirkan cara supaya Melinda tak bersama istrinya.
"Kamu tadi mencari siapa? Kok sepertinya belum ketemu," tanya Arumi sembari berjalan sejajar dengan Melinda.
"Aku mencari seseorang yang sangat aku cintai, dia nggak bersamaku sehari ini, rasanya aku kangen banget. Eh tadi aku sekelebat mata melihat dia ada di sekitar sini, aku cari nggak nemuin," cetus Melinda.
"Oh gitu, mungkin karena saking kangennya sama dia ,orang lain kamu kira dia," pekik Arumi.
"Pacar kakak," imbuh Salsa.
"Ya, dia pacar kakak dan sebentar lagi akan menjadi suamiku. Rasanya aku nggak bisa ngapa-ngapain tanpa dia. Aku bolos kerja karena dia," ucap Melinda lagi.
"Wah, sampai segitu cintanya ya kakak sama laki-laki itu," ucap Salsa.
"Ya beginilah kalau orang lagi kasmaran," ucap Arumi.
Hendri masih belum menemukan cara untuk membuat Melinda meninggalkan Arumi. Dia masih membuntuti dari belakang.
__ADS_1
"Gimana nanti kalau sampai Melinda nganter sampai di mobil, bisa ketahuan kalau itu mobilnya yang aku bawa kesini." Hendri sangat khawatir dan takut. Berulang-ulang tangannya memukuli jidatnya.
Sudah sampai di pintu keluar, Melinda masih mau membantu Arumi membawakan barangnya. Hendri pun melihatnya.
"Gawat ini, gawat, jangan sampai Melinda mau nganter sampai mobil. Hih..., wanita itu bikin kesal aku aja. Dia selalu membuatku harus bekerja keras. Meski di hari liburku," gumam Hendri sangat kesal dan juga takut.
Beruntung sekali Arumi berpapasan dengan Mia. Mia langsung mengambil alih barang yang di bawa Melinda. Mia mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanya. Dan akhirnya Melinda meninggalkan mereka. Hendri merasa lega.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu pergi juga Mel." Hendri mengucap syukur sembari mengelus dadanya.
Setelah Melihat Melinda semakin menjauh, Hendri segera bergabung dengan keluarganya yang sudah sampai di tempat parkir. Hendri mengajak semuanya masuk mobil, dan akan mengajaknya ke tempat lain yang lebih menarik.
Seharian sudah mereka jalan-jalan dan bersenang-senang, akhirnya kini sampai di rumah. Semua nampak kecapekan. Apa lagi Arumi yang sedang hamil tua, yang masih mengerjakan pekerjaan rumah yang tersisa di hari yang sudah malam ini.
Arumi mengerjakannya sendiri tanpa di bantu siapa pun yang sekarang sudah merasa capek semua termasuk Hendri suaminya. Namun Arumi merasa bersyukur hari ini hari yang bahagia menurutnya karena bisa seharian bersama suaminya dan juga keluarganya.
***
Hari sudah berganti, seperti biasa Hendri berangkat kerja tepat jam tujuh. Sedangkan Arumi masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya.
Mulai hari ini Arumi sudah tidak bekerja lagi di butik, Arumi akan mengunjungi nenek Suryati.
"Bu, aku pamit pergi ke rumah nenek sebentar," ucap Arumi sembari memcium punggung tangan mertuanya yang sedang duduk santai sambil nonton tv.
"Sudah beres belum pekerjaan rumah!" Ucap Mia dengan ketusnya.
"Sudah bu, sudah beres semua," jawab Arumi dengan lembut.
"Cepat pulang, jangan mampir kemana-mana. Hati-hati perut kamu sudah besar. Dan jangan lupa beliin Ibu oleh-oleh seperti biasa," rentetan pesan Mia
"Ya Bu, aku akan hati-hati, terima kasih atas perhatiannya."
"Heh! Kamu jangan gr ya, aku ingin cucuku selamat, kamu harus menjaganya tau."
"Iya Bu, aku ngerti. Aku permisi dulu. Assalamu alaikum!"
__ADS_1
"Waalaikumsalaam."
Arumi segera keluar rumah, biar tidak mendengar ocehan mertuanya yang menjadi-jadi, yang masih belum bisa menerimanya. Arumi menghela nafas panjang untuk menghilangkan sesak di dadanya karena ucapan mertuanya.
"Aku harus sabar dan kuat, ini adalah ujian hidup dan cintaku. Aku akan bertahan mas Hendri. Kita nantinya akan bahagia," gumam Arumi menenangkan hatinya yang berlalu meninggalkan rumahnya.
Tak sabar Arumi ingin bertemu dengan neneknya yang sudah lama tak di kunjunginya.
Arumi berjalan gontai melewati gang sempit menuju rumah nenek Suryati, dengan menenteng kue kesukaan nenek dan juga baju yang Arumi beli kemarin untuk neneknya.
"Assalamualaikum...," ucap Arumi.
"Waalaikum salaam," jawab nenek.
"Eh, cucu Nenek datang. pagi-pagi sekalu sudah datang. Apa kamu mampir kesini dulu sebelum ke butikmu untuk bekerja?" tanya nenek Suryati.
"Tidak Nek, aku sebgaja kesini oagi-pagi karena sangat kangen dengan Nenek," ucap Arumi.
"Nenek juga sudah kangen sama kamu Rumi."
Nenek Suryati memeluk Arumi, lslu melepaskannya.
"Perutmu sudah besar sekali, bentar lagi kamu akan lahiran Rumi." Arumi di elus perut besarnya sama nenek Suryati.
"Iya Nek, sebentar lagi aku lahiran."
"Ayo duduk, kamu pasti capet, berjalan sampai sini."
"Iya aku sedikit capek dan ngos-ngosan Nek, jalan dari gang sampai sini."
"Begitulah orang hamil tua, rasanya mudah capek. Kamu yang hati-hati ya, semoga nanti lahirannya lancar," ucap nenek.
"Iya Nek doakan saja lahiranku lancar."
"Amin," ucap nenek Suryati.
Nenek Suryati menanyakan keberadaan Hendri kenapa tidak ikut datang. Arumi mengatakan kalau Hendri sibuk kerja.
Tujuan Arumi ke sini untuk memberitahu Nenek Suryati, kalau Arumi akan tinggal di sini setelah anaknya lahir. Arumi ingin di temani sama Neneknya.
Arumi tidak mau tinggal di rumah Mia setelah melahirkan, dia akan cuti dari pekerjaan rumahnya karena harus istirahat dan fokus mengurus baby. Arumi belum mengatakan pada Hendri dan mertuanya. Setelah nenek Suryati setuju, Arumi akan memberitahu suaminya dan juga mertuanya. Arumi berharap semua setuju.
Arumi pun mengatakan pada nenek, kalau dia akan tinggal disini setelah melahirkan anaknya. Tanpa basa-basi nenek Suryati mengiyakan keinginan cucu tercintanya. Arumi senang sekali mendengar jawaban dari nenek.
__ADS_1
Nanti setelah pulang ke rumah, Arumi akan mengatakan pada suaminya dan juga mertuanya. Arumi herharap mereka setuju seperti neneknya.