Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 42 Sah Juga


__ADS_3

"Apa benar ini tempatnya," ucap nenek Suryati dari sebrang telfon saat sampai di luar tempat bersalin.


Suara nenek Suryati terdengar sangat dekat. Gilang berdiri dari duduknya, netranya mengedar di sekitar ruang bersalin mencari keberadaan nenek, dan dia menemukan seorang nenek sedang bicara di telfon.


"Itu pasti neneknya," batin Gilang.


"Iya Nek ini tempatnya," ucap Gilang sembari melambaikan tangannya.


Nenek Suryati pun berjalan mendekati Gilang yang belum menutup telfonnya.


"Kamu kan yang sudah membawa Arumi cucu saya kesini," ucap nenek saat berhadapan dengan Gilang.


"Iya Nek. Saya yang sudah membawa cucu Nenek kesini. Dia sekarang ada di ruang bersalin. Suster memberitahu saya anaknya sudah lahir dengan selamat." Gilang memberitahu nenek.


"Bayinya sudah lahir dengan selamat?"


Gilang mengangguk.


"Alhamdulillah ya Allah, engkau mengabulkan doaku." Kedua tangan nenek Suryati menengadah.


"Ibunya juga sehat Nek," imbuh Gilang.


"Alhamdulillah! Cucuku kamu selamat nak," ucap nenek lagi yang tiada henti mengucap syukur.


Karena neneknya sudah datang, Gilang akan pamit saja karena sedang ditunggu keluarganya.


"Nek, aku pamit dulu, karena masih ada urusan," ucap Gilang.


"Kok buru-buru pergi. Kamu nggak lihat dulu keadaan cucuku dan bayinya," ucap nenek Suryati.


"Ngapain aku harus melihat keadaannya dan bayinya segala. Aku kan bukan siapa-siapanya?" Batin Gilang.


"Nggak Nek, aku mau pamit aja. Aku sudah di tunggu seseorang," ucap Gilang lalu beranjak dengan langkah cepat meninggalkan nenek.


"Hei, Nenek belum mengucapkan terima kasih, kok kamu sudah pergi duluan," teriak nenek yang tak ditanggapi Gilang.


"Dasar anak muda, suka pergi buru-buru dengan urusannya. Tapi aku bersyukur dia membantu membawa cucuku sampai disini. Terima kasih ya Alkah telah mempertemukan cucuku dengan orang baik," ucap nenek lalu beranjak masuk keruangan Arumi.


"Assalamuslaikum...," ucap nenek saat masuk ruangan Arumi sembari menenteng tas Arumi.


Arumi berbaring sendirian tanpa bayinya.


"Waalaikum salam," jawab Arumi.


Arumi hendak beranjak bangun, nenek segera berlari mendekatinya dan melarangnya untuk bangun.


"Jangan bangun dulu Arumi, kamu habis melahirkan nggak boleh banyak gerak," ucap nenek khawatir.


Arumi pun mengurungkanya.


"Nenek sudah datang. Mana mas Hendri Nek?" Tanya Arumi yang tak mendapati suaminya bersama neneknya.

__ADS_1


Arumi mengira Hendri sudah dihubungi sama laki-laki yang membawanya kesini tadi.


"Hendri?"


"Hendri nggak bisa dihubungi Arumi. Mungkin dia sibuk bekerja. Lalu laki-laki yang membawamu kesini menghubungi Nenek untuk datang kesini karena kamu mau melahirkan."


"Apa mas Hendri tidak mau menerima telfon dariku seperti biasanya saat bekerja. Tapi ini penting banget, aku sedang lahiran anak pertamaku dan mas Hendri tak ada disampingku menemaniku," batin Arumi. Tak terasa air matanya menetes di pipi.


"Kamu kenapa menangis Arumi. Harusnya kamu bahagia, sudah melahirkan dengan selamat dan bayimu juga selamat. Oh iya bayimu laki-laki atau perempuan?"


Arumi menyeka air matanya.


"Laki-laki Nek."


"Syukur Alhamdulillah, anak pertamamu laki-laki. Dia akan menjadi anak yang sholeh dan berbakti pada orang tuanya," cetus nenek.


Arumi masih nampak dengan raut melasnya.


"Hei kamu kenapa kok sedih gitu? Sudahlah! Jangan terlalu dipikirkan " Tanya nenek sembali mengelus rambut Arumi yang terurai tanpa hijab.


"Ya jelas aku sedih Nek. Karena mas Hendri tidak hadir disini."


"Kan ada nenek. Apa nggak cukup nenek ada disini?"


"Bukan begitu Nek, aku suka nenek disini. Tapi aku lebih senang kalau ada mas Hendri disini disampingku saat ini," ucap Arumi lirih.


"Jangan terlalu dipikirkan Arumi. Sudahlah, mungkin saat ini Hendri sedang sibuk bekerja."


Sementara Di rumah Pak Subroto. Hendri dan Melinda nampak gelisah, karena terlalu lama menunggu kedatangan Gilang yang tak kunjung datang.


Melinda mengeluh kenapa harus nungguin kakaknya segala, apa tidak cukup Ayah yang jadi saksi.


Subroto mengatakan, kalau Gilang kakaknya sangat penting kehadiranya dalam menjadi saksi. Jika Gilang tidak datang hari ini berarti pernikahan ditunda.


Melinda dan Hendri hanya bisa menghela nafas beratnya.


Gilang melajukan mobilnya supaya cepat sampai di rumah orang tuanya.


Pak penghulu pun mengeluh menanti kedatangan saksi yang tak kunjung datang. Jika sampai jam duabelas siang ini belum datang, terpaksa pak penghulu akan meninggalkan tempat ini dan berganti ke tempat lain untuk menikahkan seseorang juga.


Sekarang sudah jam duabelas kurang empat puluh lima menit, Melinda berharap Gilang segera datang.


Dan benar Gilang sudah sampsi di rumah orang tuanya. Dia segera berlari masuk kedalam rumah.


"Itu dia Kakakmu sudah datang," ucap Liliana.


"Syukurlah Kakak sudah datang jadi kita bisa mulai pernikahanya pak," ucap Melinda.


"Baiklah ayo kita mulai karena waktunya mepet," ucap pak penghulu.


Gilang yang baru datang langsung ikut bergabung duduk bersama ayah dan ibunya, tanpa tau rupa calon adik iparnya karena posisinya membelakanginya.

__ADS_1


Akad nikah pun segera dimulai.


"Kamu sudah siap Hendri untuk menikah," ucap pak penghulu dengan lantang sampai terdengar ditelinga Gilang.


"Hendri?"


"Namanya persis dengan orang yang tidak bisa aku hubungi tadi," batin Gilang.


Terucaplah kata ijab yang sakral dalam pernikahan. Dan terdengarlah kata sah dari para saksi termasuk Gilang juga mengucapkanya.


Nampak Hendri dan Melinda saling melempar senyum bahagia mereka karena sudah sah menjadi pasangan suami istri.


Pak penghulu pun segera menutup acara dengan doa. Supaya menjadi pernikahan yang langgeng, jadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah.


Acara pun selesai. Gilang akan memberi ucapan selamat pada Melinda atas pernikahannya. Gilang pun mendekati Melinda dan suaminya.


Saat menatap dan berjabat tangan dengan Hendri yang sekarang jadi adik iparnya. Gilang sungguh terkejut. Selain tadi namanya yang cukup mengejutkannya sekarang rupa wajahnya pun mengejutkannya.


Nama dan rupa wajahnya sama dengan orang yang beberapa kali dihubungi Gilang yang tak kunjung tersambung.


"Aku Hendri," ucap Hendri saat berjabat tangan dengan Gilang.


Gilang masih dengan termangunya menatap wajah Hendri.


"Kak, kenapa bengong begitu," tegur Melinda.


"Oh, Kakak hanya teringat sesuatu. Perkenalkan aku Gilang Kakanya Melinda."


Gilang dan Hendri saling mengulas senyum usai memperkenalkan diri.


Gilang pikirannya tidak tenang dia curiga dengan Hendri. Kenapa rupa dan namanya bisa sama dengan orang yang istrinya tengah melahirkan sekarang.


Gilang tidak mau larut dalam penasaran. Gilang tipe orang yang harus terpenuhi rasa penasaranya. Dia akan menginterogasi Melinda dan juga Hendri.


Sebelum bertanya pada Hendri, Gilang akan lebih dulu bertanya dengan Melinda.


Gilang membawa Melinda sedikit menjauh dari kedua orang tuanya dan juga Hendri.


Gilang berbisik di telinga Melinda.


"Apa kamu tidak salah menikahi seseorang?"


"Tidak Kak! Hendri itu orang baik dia yang sudah membantuku dalam mengurus perusahaan.," jawab Melinda.


"Apa dia masih lajang?" Tanya Gilang.


"Apa-apaan sih Kakak, jelas saja dia pria lajang." Anita meninggikan suaranya.


Gilang menutup mulut Melinda dengan satu jarinya untuk bicara pelan.


"Bagaimana kalau dia pria beristri?" Gilang kembali berbisik di telinga Melinda.

__ADS_1


Melinda melebarkan kedua matanya.


__ADS_2