
Tiga hari sudah berlalu. Masa bulan madu mereka di hotel mewah sudah selesai. Mereka kini kembali ke rumah nenek Suryati. Hendri dan Arumi memutuskan tinggal bersama nenek Suryati untuk sementara sebelum mendapatkan rumah kontrakan yang baru.
Saat ini uang Hendri sudah habis untuk biaya kemarin membooking hotel. Hendri harus bekerja lebih keras mulai sekarang karena sudah mempunyai tanggung jawab yang besar yaitu Hendri harus menafkahi Arumi.
Seperti janjinya Arumi juga akan mencari pekerjaan setelah menikah untuk mewujudkan cita-citanya yakni membuat nenek Suryati bahagia dimasa tuanya dengan tinggal di rumahnya sendiri tidak ngontrak lagi.
Hendri suaminya berencana akan membeli rumah suatu saat nanti kalau sudah punya uang yang cukup yang akan ditinggalinya bersama Arumi dan juga neneknya.
Arumi saat ini tengah gigih mencari pekerjaan yang sesuai lulusannya. Dia pun melamar ke sana-sini namun belum ada satu pun yang menerimanya. Arumi merasa sangat lelah sudah berusaha dengan keras mencari pekerjaan namun belum mendapatkan juga.
"Aku harus cari kemana lagi," keluh Arumi.
Arumi kembali dengan harapan hampa. Tersirat raut wajah murung yang hampir putus asa. Arumi tak mau terbawa suasana dia harus tetap semangat mencari pekerjaan.
Sudah seharian Arumi masih belum juga mendapatkan pekerjaan. Kali ini Arumi akan mampir ke kedai kue yang sangat terkenal milik tetangga neneknya yang juga kawan baik nenek Suryati namanya Wijaya.
Arumi biasa memanggilnya Kakek Wijaya orang yang sangat baik padanya dan juga neneknya. Wajah murung ia tunjukkan saat melangkahkan kakinya masuk ke kedai.
"Ada apa? Kenapa murung begitu. Apa ada masalah," tanya wanita paruh baya anak pemilik kedai kue, namanya Heni.
Heni sangat senang dengan kehadiran Arumi, dia sudah menganggap Arumi seperti anaknya sendiri. Heni pernah kehilangan anak perempuannya yang masih bayi berumur tujuh bulan. Entah hilang karena di culik atau mungkin masih hidup atau mati. Dia tak pernah mengetahuinya meski selalu mencari tau.
Dalam hati Heni berharap anak perempuannya masih hidup dirawat orang yang baik. Mungkin sekarang putrinya sudah seumuran Arumi.
"Cari pekerjaan sana-sini belum dapet juga, susah banget ya cari kerjaan," keluh Arumi yang sering curhat sama Heni.
"Kenapa nggak kerja disini aja, kedai ini selalu terbuka untukmu."
__ADS_1
"Terima kasih Tante, tapi aku ingin mencari pekerjaan yang lain sesuai kelulusanku," pekik Arumi dengan wajah murungnya.
"Jangan murung gitu tetap semangat. Arumi yang ku kenal bukanlah gadis lemah."
"Mungkin aku hanya lelah. Aku harus tetap semangat untuk memcari pekerjaan ini demi nenekku dan suamiku," Arumi menyemangati dirinya.
"Nah gitu dong," balas Heni.
Seiring waktu berjalan akhirnya Arumi mendapatkan pekerjaan. Arumi bekerja di sebuah butik yang menyediakan penyewaan baju pengantin mewah untuk kaum bergengsi. Pekerjaan itu memang tak sesuai dengan pendidikannya. Namun Arumi tetap menerima pekerjaan itu karena sangat butuh.
Hendri dan Arumi sekarang sama-sama bekerja keras membanting tulang demi mewujudkan cita-cita mereka yan ingin membeli sebuah rumah untuk di tinggali bersama nenek Suryati.
Saat Arumi sedang bekerja tiba-tiba saja tubuhnya terkulai lemas dan hampir pingsan. Hendri yang sedang di kantornya terpaksa harus chek out untuk memenuhi panggilan dari tempat kerja Arumi. Arumi nampak tidak sehat hari ini Hendri pun membawanya ke sebuah klinik.
Arumi diperiksa seorang Dokter. Arumi bukanlah sedang sakit saat ini dia hanya kelelahan karena dalam perutnya ada janin. Pak Dokter memberitahukan kabar gembira ini pada Arumi dan juga Hendri. Mereka berdua sangat senang dan bahagia saat mendengar pernyataan dari Pak Dokter kalau Arumi tengah hamil.
"Kamu akan menjadi seorang Ibu Arumi, dan aku akan menjadi seorang Ayah," ucap Hendri sangat girang sembari memeluk Arumi yang masih terbaring diatas ranjang.
Arumi sudah tidak sabar ingin segera pulang dan memberitahukan kabar gembira ini pada neneknya. Hendri pun sama akan memberitahukan kabar kehamilan Arumi pada Mamanya suatu saat nanti siapa tau bisa meluluhkan hati ibunya.
Meski ibunya belum merestuinya mungkin dengan Arumi hamil ibunya Hendri bisa menerima Arumi.
***
Hendri dan Arumi kini sudah pulang ke rumah. Baru sampai didepan pintu rumahnya, Arumi sudah berteriak kegirangan memanggil-manggil nama Neneknya. Arumi langsung memberitahu Neneknya, kalau dia tengah hamil saat ini.
"Kamu hamil Arumi!!"
__ADS_1
"Syukur alhamdulillah. Nenek senang kamu sudah diberi anugerah oleh Allah semoga ini menjadi berkah bagi kita semua. Dengan kehamilan kamu semoga hubungan pernikahan kalian akan semakin rapet nanti dengan kehadiran seorang anak. Dan semoga mertua kamu mau menerima kamu," ucap Nenek Suryati penuh rasa syukur.
Kebetulan besok hari libur. Hendri berniat ingin mengajak Arumi berkunjung ke rumah ibunya yang selama menikah Hendri belum pernah mengajak Arumi ke sana. Dengan kondisi Arumi yang sudah hamil Hendri bertekad akan mendatangi ibunya.
Hendri berharap hubungan dengan ibunya akan membaik dan ibunya akan merestui pernikahan mereka meski terlambat.
***
Di rumah Mia.
Nampak Mia tengah gelisah memikirkan berbagai tagihan bulanannya yang harus dibayar cash. Biasanya semua tagihan dibayar oleh Hendri anak laki-lakinya yang sudah punya gaji. Namun untuk bulan ini Hendri tak ada dan Mia yang harus membayar semua tagihan kebutuhan rumah.
Mia menyesal telah mengusir Hendri, dia malah jadi rugi dan susah. Nggak ada yang ngurus biaya tagihan rumahnya. Terpaksa sekarang dia harus mengambil uang simpanannya di bank untuk membayar semua tagihan.
"Punya anak laki satu aja nggak bisa bikin ibu bahagia. Malah Ibu di buat susah karenanya. Tu lihat sekarang tabungan ibu berkurang karena harus bayar semua biaya tagihan untuk rumah ini," gerutu Mia yang saat ini duduk di ruang santai bersama putrinya Salsa.
"Salah Ibu sendiri mengapa mengusir kak Hendri dari rumah ini. Sekarang nggak ada baru menyesal," sahut Salsa.
"Malah menyalahkan ibu. Yang salah tu Arumi sudah merebut kakakmu hingga dia memilih pergi dari rumah ini," Timpal Mia.
"Mereka itu saling cinta Bu, ya pantas kalau mereka ingin menikah. Ibu tinggal merestui aja rewel."
"Hih..., kamu ya, sama membangkangnya kayak kakak kamu," bentak Mia.
"Ibu kenapa tidak merestui kak Hendri dan Arumi mereka sudah syah jadi pasangan suami istri. Kasihan mereka Bu. Biarkanlah mereka bahagia tanpa terhalang restu Ibu. Aku takut lo Bu nanti bernasib sama seperti Arumi. Pasti rasanya sakit banget tak di inginkan sama mertua."
"Kenapa kamu berpikir seperti itu."
"Ibu pernah mendengar pepatah yang menanam pasti akan memuai."
"Salsa, kamu berani menggurui Ibumu," teriak Mia tidak terima dengan ucapan Salsa.
__ADS_1
Bersambung...