Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 38 Memberi Jawaban


__ADS_3

Sudah selesai membantu Arumi, Hendri akan mandi karena harus pergi ke kantor untuk bekerja.


Sudah selesai mandi Hendri memakai pakaianya yang sudah disiapkan Arumi diatas ranjang.


Disela memakai pakaianya, terdengar suara panggilan telfon yang membuat Hendri harus mengangkatnya.


Telfon itu dari Melinda. Seperti biasa Melinda mengingatkan Hendri untuk menjemputnya. Melinda meminta Hendri untuk cepat datang dan memberi jawaban yang sudah dijanjikannya kemarin.


Hendri mengatakan akan sarapan dulu di rumah.


Melinda melarangnya. Hendri bisa sarapan disini bersama dirinya dan orang tuanya.


Karena melinda, memaksa Hendri pun bersedia.


Setelah merapikan bajunya Hendri langsung keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Ke ruang makan tidak untuk sarapan, melainkan untuk pamit sama Arumi untuk berangkat kerja.


"Nggak sarapan dulu Mas" ucap Arumi.


"Maaf Arumi, aku tidak bisa sarapan di rumah, aku harus cepat-cepat berangkat ke kantor, bosku sudah menunggu," ucap Hendri dan berlalu meninggalkan Arumi tanpa membelainya. Bahkan Arumi belum mencium punggung tangannya.


"Katanya tadi mau sarapan bareng, malah buru-buru berangkat kerja," keluh Arumi.


Mia datang ke ruang makan.


"Sudah siap apa belum sarapannya?" tanya Mia.


"Sudah Bu! Silahkan sarapan," ucap Amira.


"Mana Hendri? Cepat panggil dia untuk sarapan bareng."


"Mas Hendri sudah berangkat Bu?"


"Sudah berangkat? Kok dia nggak pamit sama Ibu," protes Mia.


"Mas Hendri buru-buru Bu, sudah ditunggu sama bosnya katanya," jelas Arumi.


"Hendri makin sibuk aja nggak memperhatikan Ibunya. Pulang malem berangkat nggak pamit. Padahal Ibu pingin ngobrol sebentar tadi. Mau bilang kalau Ibu butuh uang," keluh Mia.


Arumi hanya terdiam tak menanggapi ucapan ibu mertuanya.


"Huh!" Decak Mia kesal.


"Nanti kamu bilangin sama Hendri ya, kalau Ibu butuh uang," pinta Mia pada Arumi.


"Ya Bu, nanti akan aku sampaikan sama mas Hendri," ucap Arumi.


Belum sarapan perut Arumi rasanya sudah penuh dengan rasa was-was menghadapi Mia mertuanya.

__ADS_1


Hendri sudah sampai di rumah Melinda. Kedatangannya di sambut Melinda yang tak sabar ingin bertemu dengannya.


Melinda berlari mendekati Hendri yang baru keluar dari dalam mobil.


"Aku senang kamu cepat datang Hendri." Tangan Melinda merangkul tangan Hendri dan membenamkan kepalanya di pundak Hendri.


Kali ini Hendri tidak protes Melinda merangkul tangannya.


Melinda pun merasa senang tak ada penolakan dari Hendri.


Mereka berdua berjalan masuk rumah.


Karena Hendri belum sarapan, Melinda membawanya ke ruang makan. Disana sudah Ada pak Subroto dan istrinya.


"Hendri sudah datang, cepat ajak duduk," ucap Liliana.


Hendri duduk bersamaan dengan Melinda. Mereka duduk sejajar.


"Gimana Hen, apa kamu sudah punya jawabanya?" tanya Pak Subroto ingin segera tau jawaban Hendri.


Hendri menatap kearah Melinda yang ada disampingnya.


"Katakanlah Hendri, aku tidak sabar ingin mendengar jawaban dari kamu. Katakanlah," ucap Melinda tak sabar ingin mendengar jawaban Hendri.


Tanpa memberitahu orang tuanya bahkan Arumi istrinya, Hendri akan bersedia menikah dengan Melinda. Dengan alasan demi kebahagiaan Arumi istrinya.


Hendri meraih kedua tangan Melinda, lalu menatap teduh ke wajah Melinda.


Melinda sungguh jantungnya dag, dig, dug. Penasaran dengan jawaban Hendri.


Pak Broto dan Liliana pun sama penasaran dengan jawaban Hendri. Namun Pak Broto tidak begitu berharap Hendri menjadi menantunya, dia hanya ingin menuruti kemauan anaknya saja. Jika Hendri tidak bersedia, dia bisa mendapat banyak diluaran sana laki-laki yang melebihi Hendri.


"Katakanlah Hendri!" Seru Melinda.


"Baiklah akan aku beritahu jawabanku. Aku bersedia menikah denganmu."


"Benarkah Hendri?" Sela Melinda.


"Iya benar."


"Aku belum selesai bicara tadi. Sekarang beri kesempatan padaku untuk bertanya. Aku hanya bersedia kalau menikah siri dulu. Apakah kamu bersedia?" Hendri berbalik melempar pertanyaan.


"Apa? Harus menikah siri dulu?" Ucap Melinda dan pak Subroto bersamaan.


"Kenapa harus menikah siri Hendri?" Tanya Liliana.


"Hendri kamu mempermainkan anakku, kenapa bersedia menikah tapi hanya menikah siri. Apa kamu nggak yakin menikahi putriku," protes pak Broto.

__ADS_1


"Saya yakin mau menikahi putri Bapak, tapi hanya menikah siri dulu. Karena ibuku ingin aku sukses dulu baru boleh menikah," jelas Hendri dengan kebohongannya.


"Terserah Bapak dan kamu Mel, apa kamu setuju dengan peemintaanku?"


Melinda bingung mau jawab apa. Disisi lain dia ingin di nikahi Hendri, tapi tidak menikah siri. Melinda ingin pernikahan yang sebenarnya.


"Saya tidak setuju. Kalau kamu hanya menikah siri dengan anakku. Kamu ingin mempermainkan harga diri putriku?" Seru pak Broto.


"Maaf Pak, memang hanya itu yang bisa membuatku bersedia menikah dengan Melinda."


"Lebih baik tidak usah kamu menikahi putriku. Tidak cukup aku menawarkan semuanya. Tapi kamu seperti tak menghargai niat baiku," teriak pak broto.


"Tapi Ayah, aku tetap ingin menikah dengan Hendri," ucap Melinda dengan berderai air mata.


"Kamu rela dinikah siri sama Hendri?" Tanya pak broto.


"Iya Mel, pikirkan dulu kamu jangan terlalu cepat mengambil keputusan untuk menikah dengan Hendri? Pikirkanlah dulu," tutur Liliana.


"Tidak bisa Bu, tidak bisa. Aku sudah cinta mati sama Hendri. Jadi aku akan tetap menikah denganya, walau hanya menikah siri," tegas Melinda.


"Mau gimana lagi Yah, aku tetap bersedia dinikahi Hendri," tegas Melinda lagi


"Walau nikah siri?" Tegas Pak Broto.


Melinda mengangguk-ngangguk.


"Ayah bisa mencari lelaki yang lebih dari Hendri yang tulus dan bersedia menikahimu Melinda, tanpa berbasa-basi seperti ini."


Pak Subroto sangat marah pada Hendri. Dia merasa tak dihargai padahal sudah mau menerimanya tanpa memandang latar belakangnya.


"Tapi Ayah, aku akan tetap menikah dengan Hendri walau hanya menikah siri?"


"Terserah kamu Mel."


"Oke Hendri. Kamu boleh menikah siri dulu dengan Melinda. Tapi kamu tidak boleh mempermainkanya." Pak Broto mengingatkan Hendri.


"Dan aku beri kamu waktu hanya satu bulan lamanya menikah siri dengan Melinda, setelah itu kamu harus meresmikannya dan mengadakan acara yang meriah. Dan pastikan ibumu setuju" ucap Broto.


"Iya Pak, insya Alllah aku bisa mewujudkannya," ucap Hendri meyakinkan pak Broto, Liliana, dan juga Melinda.


Pak Subroto sedikit kesal dengan Hendri. Dia pun memilih beranjak dari ruang makan. Karena mood makannya sudah hilang, jadi pak Broto nggak jadi sarapan bareng Melinda dan Hendri.


Liliana ikut beranjak menyusul suaminya.


Hendri dan Melinda masih duduk di ruang makan.


"Aku bersedia Hendri, walau hanya dinikah siri sama kamu. Karena aku cinta kamu. Tidak sabar aku ingin memilikimu seutuhnya dengan halal," ucap Melinda lalu reflek memeluknya bentuk kebahagiaannya karena Hendri bersedia menikah dengannya.

__ADS_1


"Maafkan aku Arumi, aku sudah mengambil langkah bodoh demi membahagiakan kamu," batin Hendri yang menurutnya keputusannya sudah benar.


__ADS_2