Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 16 Mencoba tegar


__ADS_3

"Maafkan aku Arumi. Karena tinggal di sini kamu jadi menderita karena Ibuku."


 


Arumi sempat tertegun Mendengar ucapan suaminya, namun dia kembali lagi dengan aktifitasnya.


 


"Mas jangan menyalahkan dirimu, ini mungkin sudah takdir kita harus menjalani hidup seperti ini. Kita terima saja Mas dengan ikhlas," tutur Arumi sembari kedua tangannya sibuk mengambil barang belanjaan yang sudah di turunkan sama Hendri dari taksi.


 


"Kasihan sekali Arumi, di saat dia hamil harus bekerja keras, berusaha membuat Ibuku senang dengan menuruti segala perintahnya. Apa aku harus mengajaknya pindah lagi?" Hendri bergumam saat berjalan di belakang Arumi dengan menenenteng tas belanjaan.


 


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga Mas."


 


Barang belanjaan sudah di tata rapi di tempatnya. 


 


"Cepat kamu istirahat, pasti kamu capek banget kan," netra Hendri menatap Arumi penuh rasa iba.


 


"Hei kenapa menatapku seperti itu, aku nggak papa Mas. Aku bahagia menjalani semua ini. Kita happy aja. Kamu jangan terlalu meratapi nasibku. Lihatlah aku begitu tegar."


 


Senyum lebar ia perlihatkan pada suaminya.


 


Hendri membenamkan tubuh Arumi di pelukannya, menunjukkan rasa sayangnya dan itu sebagai wujud ungkapan kata yang tak bisa di ungkapkan untuk istri yang begitu tegar menghadapi ujian ini. Hendri merasa tenang melihat Arumi begitu mencintainya dalam kondisi apa pun.


 


Hari sudah malam. Hanya malam yang bisa membuat hati Arumi tenang tanpa terbebani suatu pekerjaan yang sudah ia rampungkan seharian ini. Arumi dan Hendri membenamkan tubuhnya di atas ranjang keduanya saling mendekap. Di malam yang sudah nampak sunyi mereka masih belum tidur. 


 


Sembari tiduran memandangi langit-langit kamarnya yang masih nampak terang karena lampu masih menyala di malam yang sudah larut. Mereka menikmati kebersamaannya bersantai meregangkan otot yang kala siang tiada henti beraksi.


 


Hendri menanyakan tentang kunjungan Arumi ke rumah neneknya. Karena tadi siang tak sempat menanyakannya karena sibuk dengan aktifitas masing-masing.


 


Arumi mengatakan pada suaminya kalau Nenek Suryati sangat senang dengan kedatangannya. Dia sudah sangat merindukannya dan merindukan Hendri juga tapi sayangnya Hendri nggak ikut. Kedatangan Arumi selalu di tunggu-tunggu neneknya.


 


Mulai sekarang Arumi akan sering mengunjungi neneknya yang sudah tua berada  di rumah kontrakan sendirian. Hendri pun memberi izin pada Arumi.


 


Membicarakan tentang Nenek Suryati, Arumi jadi teringat dengan pesan Neneknya tadi. Ini saat yang tepat untuk mengatakan pada suaminya. Arumi bangun dari tidurannya dan duduk tegap menghadap ke arah suaminya. Arumi ingin bicara serius pada Hendri.


 


"Mas!"


 


"Ada apa Arumi, kenapa kamu tiba-tiba bangun?"


 

__ADS_1


"Ada yang ingin aku bicarakan Mas."


 


"Bicara apa sayang, kelihatannya serius banget."


 


Hendri membangunkan badannya juga. Kini mereka berdua saling duduk berhadapan.


 


"Begini Mas, tadi aku mendapat pesan dari Nenek. Alangkah baiknya kalau pernikahan kita di resmikan. Bagai mana menurut Mas Hendri?"


 


"Pemikiran Nenek sama sepertiku," cetus Hendri.


 


"Benarkah Mas, berarti Mas juga pingin pernikahan kita di resmikan secara hukum," kedua netra Arumi melebar.


 


Arumi sangat senang tak menyangks ternyata suaminya yang mempunyai niat untuk meresmikan pernikahannya tanoa sepengetahuannya.


 


"Iya aku juga memikirkan tentang hal itu sejak Ibu mengizinkan kita tinggal di sini. Tapi aku masih ragu belum berani mengatakan secara langsung kalau aku akan mengadakan pernikahan kita di rumah ini. Melihat sikap Ibu yang masih angkuh, membuat niatku menciut."


 


"Aku senang Mas kamu berniat akan mengadakan pernikahan untuk kita. Aku ingin itu cepat terwujud Mas. Kita akan menjadi  pasangan suami istri yang sejati dan mempunyai anak. Aku membayangkan pasti kita akan bahagia walau banyak mendapatkan cemoohan dari Ibumu."


 


"Iya sayang kita akan bahagia. Karena kamu sangat menginginkannya, aku akan memberanikan diri mengatakan pada Ibu, kalau kita akan mengadakan pernikahan di rumah ini," tegas Hendri.


 


 


"Kita coba saja dulu. Aku akan mencoba meyakinkan Ibu."


 


"Terima kasih ya Mas, atas perhatian dan cintamu," Arumi membenamkan tubuhnya ke pelukan suaminya.


 


Hari sudah pagi saja. Semenjak subuh Arumi sudah mulai berperang dengan pekerjaan rumahnya. Karena hari ini masuk kerja, Arumi harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya sebelum berangkat bekerja seperti pesan dari mertuanya.


 


Dengan suka cita Arumi mengerjakan pekerjaannya di rumah ini. Tak terasa semua sudah terselesaikan tanpa di bantu siapa pun. Hendri kali ini tak bisa membantu Arumi. Hendri harus berangkat kerja pagi-pagi karena di kantornya ada acara penyambutan CEO baru.


 


Arumi kini juga sudah nampak siap akan berangkat bekerja. Tas selempang sudah melekat di bahunya. Saatnya Arumi akan pamit sama Ibu mertuanya.


 


Arumi mulai keluar dari kamarnya. Dia akan mencari keberadaan Ibu mertuanya. Di jam segini biasanya Mia sedang joging di taman belakang rumahnya. Arumi pun menuju ke sana.


 


Dan benar, Mia memang ada di ruang belakang sedang joging bersama Salsa. Arumi pun mendekati Ibu mertuanya. Arumi di sapa Salsa.


 


"Wah kakak sudah rapi aja, mau berangkat kerja ya," ucap Salsa.

__ADS_1


 


"Iya Sa, kakak udah mau berangkat."


 


"Bu, aku berangkat kerja dulu ya," ucap Arumi sembari menjulurkan tangan kanannya meraih tangan kanan mertuanya dan mencium punggung tangannya.


 


"Sudah beres semua pekerjaan rumah," ucap Mia dingin.


 


"Sudah Bu, sudah aku beresin semua pekerjaan rumah," ucap Arumi dengan lembut.


 


"Bagus, kamu menantu yang bisa di andalkan dalam pekerjaan rumah tangga. Walau pun kau tidak berstatus kaya tapi masih menguntungkan saya nggak usah susah-susah  bayar pembantu."


 


"Ibu! Jadi Ibu menganggap kak Arumi seperti pembantu di rumah ini. Ibu sungguh kejam. Dia itu menantu Ibu yang akan memberikan cucu pada Ibu nanti," ucap Salsa merasa nggak terima seorang menantu di anggap sebagai pembantu. Salsa takut nanti itu akan berbalik terjadi padanya.


 


Ucapan Arumi mewakili jawaban Arumi yang tak bisa ia ungkapkan secara langsung pada mertuanya.


 


"Benar kan, Ibu menganggapku tak lebih dari seorang pembantu di sini," batin Arumi.


 


Arumi menghela nafas panjang mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak mendengar ucapan menyakitkan dari mertuanya.


 


"Ibu itu udah baik ya menerima Arumi di rumah ini sebagai menantu Ibu. Tapi dengan syarat dia harus manut sama Ibu. Kalau Arumi nggak terima silahkan saja pergi dari sini," Mia menjelaskan pada Salsa yang protes dengan sikapnya.


 


Arumi angkat bicara.


 


"Arumi senang kok Bu tinggal di sini, mau di anggap seperti pembantu nggak papa yang penting Ibu sudah mau menerimaku sebagai menantu Ibu di rumah ini," Arumi meyakinkan mertuanya.


 


"Selain itu kamu juga harus membuat Ibu senang. Jangan lupa bulan depan habis gajian belikan Ibu perhiasan buat tambahin koleksi perhiasan Ibu."


 


"Ibu!" Ucap Salsa gereget sama ucapan Ibunya yang memang matre abis. Salsa tak berani protes lagi dia hanya menyunggingkan mulutnya pertanda tak suka dengan pernyataan Ibunya


 


Sudah hampir jam delapan. Arumi hanya mengangguk, dan berlalu pergi meninggalkan Mia dan Salsa yang saling acuh.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2