Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 72 Solusi


__ADS_3

Dengan langkah lunglai Arumi berjalan menuju mobilnya diiring Dewi dari belakangnya.


Mereka berdua sudah masuk kedalam mobil. Dewi mulai melajukan mobilnya.


Bersamaan dengan mobil Dewi yang mulai melaju, mobil Gilang sampai didepan pintu gerbang rumahnya. Gilang sempat menyaksikan mobil Dewi yang baru saja melaju.


"Itu seperti mobilnya Dewi," batin Gilang menatap mobil Dewi yang sudah berlalu.


Setelah melalui hari yang melelahkan tanpa sebuah hasil, sampailah Dewi di rumah Arumi.


Arumi pun turun dan memita Dewi untuk mampir ke rumah.


Dewi menolak, karena hari sudah sore, Dewi langsung pamit pulang setelah Arumi keluar dari mobilnya.


Lambaian tangan Arumi mengiringi mobil Dewi yang berlalu meninggalkannya.


Saat masuk rumah Arumi menunjukkan muka lesunya. Disaksikan nenek yang sedari tadi gelisah menunggu kedatangannya.


"Kok nampak lesu gitu, pasti belum dapat rumahnya ya?" terka nenek yang sedang duduk diteras depan sembari minum teh.


Dengan kasar Arumi menghempaskan tubuhnya di kursi ikut duduk bersama nenek.


"Belum dapat Nek. Sudah keliling kota ini seharian nggak ada rumah yang seperti aku inginkan" ucap Arumi kesal.


"Tadi ada sih Nek, rumah yang sangat bagus. Rumah itu sama persis dengan rumah impianku, namun sayang sekali Nek, rumahnya tidak dijual," keluh Arumi dengan muka lemasnya.


"Ya begitulah, yang tidak dijual pasti lebih menarik. Nenek pernah mengalami hal seperti itu. Nenek pernah menginginkan tas yang cantik menurut Nenek. Tas itu tidak dijual oleh pemiliknya, karena tas itu miliknya yang sudah ia pakai berkali-kali. Namun Nenek sangat menginginkannya.


Nenek ingin sekali membeli tas itu walau tidak dijual. Beruntung orangnya sangat baik tau keinginan nenek. Orang itu benar-benar terlalu baik. Dia memberikan tas cantik itu dengan cuma-cuma tanpa Nenek harus membelinya.


Nenek bersyukur dan sangat bahagia saat itu bisa memiliki tas yang nenek inginkan tanpa membelinya," cetus Nenek sembari tersenyum gemas mengingat kejadian itu.


"Wah!! Menarik sekali cerita Nenek. Sangat jauh berbeda dengan keinginanku Nek, sebuah rumah besar dan bagus. Mana ada orang yang rela memberikan rumahnya dengan percuma. Menjualnya saja belum tentu," keluh Arumi.


Arumi jadi teringat dengan Hendri mantan suaminya. Untuk membelikan rumah saja harus menghianati cinta dan pernikahannya dengan menikahi wanita kaya lalu menceraikannya. Arumi kembali terasa sakit hatinya mengingat itu.


"Bagaimana kabarnya Mas Hendri sekarang. Apa dia sekarang bahagia setelah menyakiti hatiku?" ucap Arumi tiba-tiba, membuat Nenek tercenang.

__ADS_1


"Kenapa kamu tiba-tiba memikirkan Hendri? Bukannya kamu sudah melupakannya selama ini?" tanya nenek penasaran.


"Ah, tidak Nek. Aku hanya salah bicara." Arumi gugup lalu memilih masuk ke rumah meninggalkan nenek begitu saja dengan rasa penasarannya.


"Ngapain sih, aku harus memikirkan orang yang jelas-jelas menyakiti hatiku," gerutu Arumi sembari masuk rumah.


Arumi menghampiri Arsya yang sedang bermain dengan bibi.


"Arsya sayang. Lagi main apa?" sapa Arumi pada putra tercintanya.


Arsya mengulas senyum pada ibu tercintanya.


Seketika itu rasa sakit hatinya hilang kala melihat senyum Arsya yang tertuju padanya.


"Anak Ibu yang selalu buat Ibu semangat, terima kasih senyumnya sayang."


****


Gilang juga sudah masuk ke rumahnya. Tak ada yang menyambut kedatangannya. Karena Gilang tinggal sendirian di rumah ini ditemani seorang bibi yang sangat Gilang butuhkan jasanya.


Datang bibi menawarinya minum, apakah Gilang mau minum teh sore ini. Gilang mengiyakan tawaran bibi untuk dibuatkan teh.


Gilang termenung mengingat belum menemukan rumah yang tepat untuk Arumi.


"Susah banget sih cari rumah untuk orang tercinta," gumam Gilang.


"Besok aku harus cari dimana lagi."


Gilang akan mencoba cari di internet tentang informasi rumah yang dijual. Gilang mengeluarkan hand phone dari sakunya. Bersamaan dengan suara dering panggilan yang masuk, membuat Gilang sangat terkejut.


Gilang segera mengangkatnya. Panggilan itu dari Dewi.


"Ada apa Dewi?" tanya Gilang.


"Cuman pingin tau aja Pak, apa sudah mendapatkan rumah untuk Arumi?" tanya Dewi.


"Belum! Belum ada rumah yang cocok untuk Arumi. Dari sekian banyak rumah yang aku survey."

__ADS_1


"Sama Pak. Seharian ini aku sama Arumi juga tidak menemukan rumah yang cocok untuk dirinya. Aku sampek kesal sendiri banyak rumah yang bagus dan besar namun menurut Arumi itu bukan rumah impiannya.


Bapak tau tidak. Tadi saat kami pulang dan kebetulan melewati rumah Bapak. Arumi memintaku berhenti tepat di depan rumah Bapak. Arumi mengatakan rumah impiannya adalah rumah seperti milik Bapak. Seperti itulah rumah yang diinginkan Arumi."


"Arumi menginginkah rumah seperti rumahku?" Gilang sedikit terkejut.


"Berarti seleraku dan selera Arumi sama," batin Gilang.


Gilang tadi juga mencari rumah yang sama persis dengan rumahnya, namun tak ada rumah yang dijual seperti rumahnya.


Gilang baru tau kalau punya keinginan yang sama dengan Arumi.


"Arumi tadi sangat menyayangkan Pak. Sudah menemukan rumah seperti yang diinginkannya, namun rumah itu tidak di jual," ucap Dewi.


"Ya jelas tidak dijual. Itu kan rumah kesayanganku," ucap Gilang.


"Kalau yang dicari Arumi rumah seperti rumahnya Bapak. Bakalan puyeng Pak besok nyarinya. Gimana ni Pak solusinya. Saya pusing mikirnya," keluh Dewi


Dewi akan menyerah saja kalau harus mencari rumah di kota ini sama persis dengan rumah Gilang. Dewi menyerahkan semuanya pada Gilang, karena Dewi tidak bisa membantu Arumi lagi mencari rumah.


Gilang jadi tambah terbebani memikirkan rumah untuk Arumi. Gilang belum menemukan solusi yang tepat.


Hari sudah semakin sore Gilang memilih akan membersihkan diri dulu, setelah tadi menyeruput teh hangat yang dibuatkan bibi.


Gilang sudah nampak segar badannya juga pikirannya. Sembari duduk di ruang kerjanya, Gilang akan kembali mencari solusi untuk mendapatkan rumah yang diimpikan Arumi.


Arumi sangat menginginkan rumah seperti rumah Gilang. Setelah Gilang berpikir keras. Akhirnya Gilang menemukan solusi yang bakal mengejutkan untuk semua.


Gilang memutuskan akan mempersembahkan rumah itu dengan cuma-cuma saja alias gratis tanpa Gilang menjualnya dan tanpa Arumi membelinya.


Gilang ikhlas memberikan rumah itu untuk Arumi orang yang sangat dicintainya. Karena hanya Arumi orang yang bisa membuat Gilang jatuh cinta.


Gilang tiada mengharapkan apa-apa dari Arumi. Gilang tulus mencintai Arumi dan ingin membuatnya bahagia walau Arumi tak membalas cintanya. Namun Gilang selalu berharap Arumi membuka hatinya untuk mencintainya.


Dari lubuk hati Gilang yang paling dalam, Gilang pun ingin bisa hidup bersama dengan Arumi menjalin cinta kasih sebagai pasangan suami istri. Gilang hanya berharap Allah mengizinkannya. Menjadikan Arumi jodohnya.


"Aku akan memberikan rumah itu padamu Arumi. Sungguh begitu besar cintaku padamu. Hingga aku rela mengorbankan semuanya demi kamu," ucap Gilang bersungguh-sungguh.

__ADS_1


__ADS_2