
Sinta mulutnya sibuk tanya ini itu sama Gilang. Gilang hingga ewuh menjawabnya. Tidak dengan Arumi yang memilih diam sembari mendengarkan celotehan Sinta sepanjang perjalanan.
Gilang sesekali menatap Arumi dari kaca spionnya. Nampak Arumi termangu menatap ke luar ke jendela mobil.
Gilang tau Arumi pasti sangat terpaksa berada didalam mobilnya.
"Maafkan aku Arumi, aku hanya ingin menolongmu. Kamu pasti merasa bersalah. Maafkan aku," ucap Gilang dalam hatinya.
Tak terasa sampai juga di rumah Arumi.
Arumi keluar dari mobil dengan mulut masih terdiam, tangannya sibuk mengambil barang belanjaan. Tak ada ucapan terima kasih untuk Gilang.
Arumi berlalu masuk kedalam rumah membawa barang belanjaannya.
"Arumi tunggu aku!" teriak Sinta yang baru keluar dari dalam mobil.
"Kenapa sih dia?" tanya Sinta pada Gilang.
Gilang hanya menggelengkan kepala. Pura-pura tidak mengerti.
"Ya sudah terima kasih banyak ya, sudah mau nganterin kami sampai rumah," ucap Sinta pada Gilang, sebelum berlalu mengejar Arumi masuk kedalam rumah.
Arumi disapa neneknya, saat datang dengan belanjaan yang banyak. Arumi nampak ngos-ngosan membawa dua kantong besar ditangannya.
"Kamu sampai ngos-ngosan Arumi bawanya, karena belanjaanya banyak," ucap nenek.
"Habis berat banget sih Nek belanjaannya. Diluar masih ada dua kantong lagi," keluh Arumi.
"Kamu pasti capek belanja sendirian. Andai Hendri di rumah pasti dia mebantumu," cetus nenek.
"Tenang aja Nek, tadi aku belanjanya nggak sendirian kok. Aku di temani Sinta."
Baru diomongin Sinta datang dengan menenteng dua kantong besar juga.
"Aduh capek banget," keluh Sinta yang langsung meletakkan barang belanjaannya dihadapan nenek.
"Terima kasih Sin sudah mau membantu Arumi belanja," ucap nenek.
"Iya Nek. Sesama teman kan harus saling membantu."
***
Nenek membuat kue dibantu dua pekerja dadakan. Arumi sesekali membantu saat arsya sedang tidur. Kue harus sudah siap besok pagi karena acara pernikahanya jam sepuluh pagi. Jadi sekarang Arumi ikut lembur membuat kue.
Kue sudah matang semua tinggal di kemas dalam box. Sembari mengemas Arumi teringat, Jodi tadi tidak memberikan alamat untuk mengirim kuenya.
__ADS_1
Arumi pun bergegas menghubungi Jodi dan meminta alamat padanya.
Jodi langsung memberikan Alamatnya tanpa bertanya dulu pada Gilang.
Baru saja Jodi menutup telfonnya dari Arumi. Jodi mendapat panggilan telfon dari Gilang.
Gilang mengatakan pada Jodi untuk tidak memberitahu alamatnya pada Arumi.
Jodi mengatakan kalau sudah terlanjur memberikan alamatnya pada Arumi.
Arumi tidak boleh mengantar kuenya kesana. Karena yang menikah adalah Hendri. Gilang sangat takut Arumi datang kesana mengantar kuenya dan mengetahui pernikahan suaminya.
Akhirnya Gilang kembali memberitahu Jodi. Gilang meminta Jodi untuk kembali menghubungi Arumi dan mengatakan padanya kalau kue yang di pesan tidak usah diantar. Kue itu akan di ambil sendiri oleh pihak yang sudah memesan.
Setelah mendapat pemberitahuan dari Jodi. Arumi merasa lega bebannya sedikit berkurang karena tidak usah mengantar kuenya ke alamat pemesannya. Karena kue akan dijemput pemesannya.
***
Tak terasa pagi sudah menjelma. Tiada hati yang bahagia saat ini seperti yang Melinda rasakan. Hari ini Melinda akan duduk bersanding dengan Hendri dipelaminan. Hari yang sudah sangat dinantinya semenjak pertama bertemu dengan Hendri yaitu menikah dan disaksikan banyak orang.
Kue di rumah Arumi sudah diambil Jodi sendiri dengan mobil besar. Lalu dibawanya ke rumah pak Subroto.
Setelah sampai di rumah pak Subroto kue langsung disajikan di meja-meja para tamu. Banyak tamu yang mencicipi kue yang jarang ditemuinya.
Banyak testi dari mereka mengatakan kue itu sangat enak dan langka. Baru kali ini mereka menjumpai kue seenak itu.
Sudah hampir jam sepuluh, Gilang yang berangkat sedari tadi dari rumahnya sudah hampir sampai di rumah kedua orang tuanya.
Kedua mempelai sudah nampak siap dengan dandanan pengantin yang elegan. Mereka berdua berjalan menuju pelaminan disaksikan para tamu undangan.
Bertepatan dengan kedatangan Gilang.
Gilang menatap kedua mempelai yang nampak bahagia.
"Melinda. Kenapa harus bahagia diatas penderitaan orang lain. Kamu telah merebut suami orang," gumam Gilang saat menatap Melinda dari kejauhan.
Gilang beralih menatap ke Hendri. Amarahnya meluap.
"Kamu kelaki kurang ajar tidak punya pendirian. Bisanya hanya mempermainkan wanita lemah. Awas nanti kamu akan aku bikin babak belur," gerutu Gilang dalam hatinya.
Hendri dan Melinda nampak bahagia duduk bersanding di pelaminan.
Mia dan Salsa juga sudah hadir di acara pernikahan mereka. Mia menatap ke arah Hendri dan Melinda. Mia ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan.
Tidak dengan Salsa yang dibenaknya mengingat kakak iparnya Arumi yang sudah diceraikan kakaknya.
__ADS_1
"Harusnya kak Arumi yang ada di pelaminan bersama Kak Hendri. Kenapa malah orang lain yang bersandar disana," batin Salsa sedih.
"Wah acaranya sangat meriah. Banyak orang-orang kaya yang datang. Hendri kamu benar-benar membuat Ibu bangga. Karena menikah dengan putri konglo merat," ucap Mia terkagum-kagum pada putranya.
Salsa yang mendengar ucapan ibunya hanya menyunggingkan senyum sinisnya.
***
Arumi dan nenek Suryati merasa senang kue lima ratus box sudah sold out dari rumahnya.
"Alhamdulillah kita dapat rezrki sebanyak ini. Ini bisa buat tambah kebutuhan kamu dan Arsya Arumi." ucap nenek sembari memegang uang uang di tangannya.
"Terima kasih Nek. Semua karena kue buatan Nenek yang lezat. Sampai orang itu memesan dalam jumlah besar. Dan kita dapat uang yang banyak. Alhamdulillah ini juga jadi rizki Arsya," ucap Arumi.
Arumi tidak tahu kalau orang yang memesan kuenya dengan jumlah besar adalah Gilang. Dan kue itu untuk acara pernikahan Hendri mantan suaminya.
Arumi akan istirahat karena capek semalam lembur. Arumi yang duduk di ruang tamu akan beranjak pergi ke kamarnya. Baru saja berdiri Arumi melihat di lantai ada dua kantong besar berisikan beberapa box kue.
"Loh Nek, kuenya ada yang ketinggalan," ucap Arumi.
"Mana?" tanya nenek.
"Itu." Arumi menunjukkannya.
"Kenapa bisa ketinggalan. Ya sudah kamu antar kue itu. Kue itu sudah dibayar mereka. Jadi lebih baik kamu antar kesana Arumi," perintah nenek.
"Baiklah nek, aku akan mengantarnya kesana."
Arumi akan kesana dengan naik ojol yang sudah di pesannya.
Kedua tangan Arumi menenteng dua kantong besar lalu naik keatas motor.
Motor pun melaju dengan kencangnya atas permintaan Arumi.
"Kue ini harus cepat sampai di sana," ucap Arumi.
Dakam beberapa menit sampailah dialamat yang di berikan Jodi kemarin.
"Sudah sampai Bang. Mungkin ini tempatnya. Buktinya ada banyak poster ucapan selamat untuk mempelai," ucap Arumi pada bang ojol. Netra Arumi mengitari halaman rumah yang di penuhi poster ucapan selamat untuk kedua mempelai.
Arumi pun turun dari motor. Arumi akan membawa masuk kue itu kedalam.
Sebelum masuk kedalam. Arumi melewati poster besar yang terpampang dengan hiasan bunga dan tulisan "Selamat menempuh hidup baru Hendri dan Melinda".
Arumi sempat membacanya, membuat langkahnya terhenti.
__ADS_1
"Hendri dan Melinda?"