Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 21 Bu Direktur


__ADS_3

Di hari yang semakin siang, butik tempat kerja Arumi lagi banyak-banyaknya pengunjung yang datang. Maklumlah sekarang musim kawinan banyak orang yang akan menikah bulan ini dan bulan depan. Banyak para pelanggan yang sudah nampak pada vitting baju. Memilih-milih baju pernikahan yang cocok di hati para calon mempelai.


 


Arumi sibuk melayani para pelanggan yang datang silih berganti hingga dia tak sempat memikirkan lagi tentang dirinya yang semalam tengah galau bersama suaminya karena keputusan Ibunya yang sangat memberatkan suaminya. Belum ucapan Ibunya tadi pagi yang membuat suaminya semakin down.


 


Beruntung Arumi di sibukkan dengan pekerjaan jadi tak perlu memikirkannya sampek puyeng seperti Hendri yang saat ini pikirannya kacau hingga mengganggu konsentrasi kerjanya. 


 


Di meja yang penuh tumpukan berkas yang harus di periksa setiap detil laporan yang masuk. Membuat Hendri harus mengumpulkan konsentrasinya kembali setelah kacau tadi.


 


Meski mengeluh pada teman-temannya tak ada yang mau membantunya semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


 


Hendri saat ini tengah bekerja keras memeras otak, untuk mengerjakan tugasnya dengan berbagai macam berkas yang harus di selesaikan hari ini juga.  Di sela-sela sibuknya Hendri sempat berpikir kenapa tiba-tiba mendapatkan pekerjaan sebanyak ini dari Bu Direktur.


 


"Apa Direktur yang baru tengah menguji kemampuan pegawainya? Kalau iya aku harus gencar dan semangat mengerjakan tugas ini."


 


"Siapa tau Bu Direktur yang baru melihat kinerjaku yang sangat bagus bisa menaikan jabatanku jadi lebih tinggi. Jadi gajiku bakalan lebih besar," gumam Hendri dalam benaknya sembari menepuk-nepuk jari telunjuknya tepat di pipinya.


 


Hendri kembali bersemangat jari jemarinya mulai beraksi, netranya pun kembali fokus membaca setiap detail laporan dalam berkas itu. 


 


Hendri berharap ekspetasinya benar saat ini dia tengah di uji tentang kinerjanya dan dia benar-benar akan naik jabatan seperti yang ada di benaknya. Terbayang lagi di benak Hendri kalau dia benar-benar naik jabatan dan mendapat gaji yang besar.


 


Pasti persyaratan dari Ibunya bisa terpenuhi dan Hendri bisa meresmikan dan melaksanakan pernikahannya sesuai rencananya.


 


Nampak Hendri senyum-senyum sendiri di ruangannya tanpa ada saksi mata yang melihatnya dia bebas berimajinasi sesuai keinginan hatinya. Dia terbawa suasana senang saat membayangkan mendapatkan jabatan yang tinggi dan gaji yang banyak.


 


Dalam benaknya Hendri bisa membeli mobil, dan mengadakan acara pernikahan yang mewah dan meriah. Hendri merasa sangat bahagia dengan Arumi dalam pesta pernikahannya.


 


Seketika lamunannya terhenti Hendri fokus dengan pekerjaanya. Saking gencarnya mengerjakan pekerjaannya Hendri sampek lupa jam makan siang bahkan dia lupa akan kewajibannya yang biasa ia kerjakan setiap masuk jam dua belas teng.


 


Yaitu saatnya menyembah Tuhannya. Hendri baru menyadari perutnya terasa keroncongan yang sedikit mengusik dirinya yang hampir menyelesaikan pekerjaannya.


 


Di lihatnya jam yang melingkar apik di pergelangan tangannya. Kedua netranya melebar saat tau sudah jam....


 


"Hah, sudah jam setengah tiga!!!"


 


Hendri langsung beranjak dari kursi putarnya, berlari menuju ke luar ruangannya. Hendri akan pergi ke musholla dekat kantornya. Semua pegawai yang tengah bekerja mereka heran melihat Hendri yang lari terbirit-birit tanpa tau sebabnya.

__ADS_1


 


Dengan nafas ngos-ngosan Hendri sudah sampai di musholla. Hendri pun segera membersihkan diri dan menyucikan badannya. Segera dia melaksanakan kewajibannya yang sudah tertunda dua jam setengah yang lalu. Baru saja Hendri selesai dengan sholat dzuhurnya sudah tiba sholat Ashar. Hendri pun sekalian mengerjakannya. 


 


Usai dari musholla Hendri akan mencari makan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi keroncongan mengganggu semua aktifitasnya. Hendri biasa makan di kantin dekat kantornya.


 


Sembari menunggu makanan yang di pesan Hendri kembali melihat jam di tangannya.


 


"Sudah sore, pekerjaanku masih belum selesai. Aku harus cepat mengisi perutku dan kembali bekerja. Pekerjaanku harus selesai hari ini juga," ucap Hendri penuh semangat.


 


Tak lama makanan pun datang. Hendri segera melahapnya. Begitu cepat Hendri melahap semua makanan yang dia pesan karena saking lapernya. Perut sudah terisi dan rasanya kenyang sekali. Hendri pun kembali ke kantornya.


 


Dengan langkah cepat Hendri masuk ke kantor dan akan menuju ruangannya yang ada di lantai atas. Dan seperti biasa Hendri naik lift.  Sembari menunggu lift terbuka Hendri termenung sendiri. Hendri teringat dengan sosok wanita yang saat itu ada di dalam lift bersamaan dengannya. 


 


"Tumben aku nggak ketemu lagi sama pegawai baru yang gaya pakek body guard segala buat ngawal dia," gumam Hendri.


 


Pintu lift sudah terbuka. Hendri segera keluar dan menuju ruangannya dengan langkah cepat tanpa memperhatikan banyak pegawai yang telah memperhatikannya dan penasaran dengan tingkah anehnya.


 


Hendri sudah masuk ruangannya dan duduk di kursi putarnya. Jemarinya kembali membuka berkas yang masih tersisa di atas mejanya. Hendri kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


 


 


Saat ini Melinda tengah duduk santai menanti kedatangan Hendri yang belum muncul juga ke ruangannya memberikan semua berkas yang sudah di periksa.


 


"Hendri-Hendri, pasti kamu kualahan kan dengan pekerjaanmu. Aku yakin kamu tidak akan bisa menyelesaikannya hari ini," ucap Melinda sembari menyebut nama Hendri yang dia ketahui dari sekertarisnya.


 


"Jadi seru ni di kantor bisa ngerjain pegawai yang sok," gumam Melinda dengan senyum sinisnya.


 


Melinda melihat jam di tangannya sudah pukul lima sore. Saatnya Melinda akan pulang. Melinda beranjak dari duduknya mengambil tas brandednya. Dan di sematkan di bahunya. Melinda mulai melangkahkan kakinya menuju ke pintu. Di pegangnya gagang pintu dan di putar sontak pintu terbuka.


 


Melinda kaget bukan ke palang saat pintu terbuka muncul wajah tak asing tepat di hadapannya dengan membawa setumpuk berkas yang hampir menutupi wajahnya. Kini ke empat netra saling menatap dengan keterkejutan. Melinda dan Hendri keduanya sangat terkejut.


 


"Kamu!!" ucap Hendri dan Melinda bersamaan. Melinda menunjuk Hendri dengan jari telunjuknya.


 


"Hah, ketemu lagi sama kamu. Maaf aku salah masuk ruangan," ucap Hendri sedikit kesal dan memulai pergerakannya dengan setumpuk berkas di tangannya. Hendri akan beranjak dari hadapan Melinda.


 


"Hei tunggu sebentar mau ke mana kamu," tanya Melinda jutek.

__ADS_1


 


"Mau ke ruangan Bu Direktur," jawab Hendri ringan.


 


"Sini aku tunjukkan ruangan Bu Direktur."


 


Melinda menyuruh Hendri masuk ke ruangannya. 


 


"Bener ini ruangan Bu Direktur? Kamu sok tau ya cuman pegawai baru juga," ucap Hendri spontan tanpa rasa takut.


 


"Ya tau lah meskipun aku masih baru, aku tau semua tentang perusahaan ini," pekik Melinda.


 


"Udah-udah nggak usah basa-basi, sekarang mana Bu Direkturnya yang udah ngasih aku banyak pekerjaan hari ini."


 


"Rasain loh, itu hukuman buat pegawai yang sok...."


 


"Apa kamu bilang...," Hendri menaikkan kedua alisnya.


 


Tiba-tiba Melinda duduk di kursi  Bu Direktur, membuat Hendri melebarkan kedua netranya.


 


"Hei beraninya kamu duduk di situ?" Teriak Hendri.


 


"Ini tempat dudukku," jawab Melinda dengan santai.


 


"Kamu tu siapa berani duduk di situ?" Tanya Hendri dengan penuh kekesalan.


 


"Aku adalah Bu Direktur!!"


 


"Hah!!"


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2