
Sudah malam saatnya istirahat meregangkan otot yang seharian bekerja keras. Gilang menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Gilang belum bisa memejamkan mata. Gilang termenung sembari menatap langit kamarnya.
Gilang teringat saat dirinya membangun rumahnya. Gilang ingin rumah ini menjadi tempat berteduhnya bersama orang yang akan menjadikan pelabuhan terakhirnya hingga beranak cucu.
Namun saat ini keadaannya berbeda. Gilang dalam tanda tanyanya. Dia akan memberikan rumah ini pada orang yang sangat dicintainya. Namun orang itu tak membalas cintanya. Itulah yang masih membuat hati Gilang was-was. Gilang sangat mengharapkan cintanya terbalas.
Akankah ada keajaiban untuk Gilang karena banyak berkorban untuk Arumi. Cintanya berbalas dan bisa hidup bersama dengan Arumi seperti keinginannya berada dalam rumah yang sama-sama diimpikan hingga beranak cucu.
Saat ini Arumi pun tengah berbaring diatas ranjangnya bersama Arsya yang sudah tertidur lelap dihari yang sudah malam.
Arumi juga belum bisa memejamkan matanya. Arumi menatap kearah Arsya, lalu mengelus kepalanya.
Arumi teringat saat akan melahirkan Arsya. Dia teringat orang yang dengan tulus dan ikhlas menolongnya tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Bahkan dia selalu kebetulan menolongnya saat Arumi ada masalah. Dia adalah Gilang.
"Gilang?"
"Apa kabarnya Gilang sekarang. Kenapa aku jadi teringat sama dia. Dia telah menepati janjinya. Dia benar-benar tidak pernah menemui aku lagi setelah aku melarangnya karena aku ingin fokus menata hidupku."
Arumi juga teringat dengan Gilang yang pernah menyatakan cinta padanya.
Sebenarnya di hati Arumi yang paling dalam dia tersentuh dengan sikap Gilang yang begitu tulus mencintainya. Arumi ingin menerima cinta Gilang saat itu namun rasa takut dan trauma masih menghantui dirinya.
Tapi sekarang Arumi tidak takut lagi untuk menjalin cinta. Dia membutuhkan sandaran dalam hidupnya. Dia butuh pendamping yaitu seorang suami dan Ayah untuk Arsya. Arumi siap membuka hatinya untuk lelaki yang benar-benar tulus mencintainya.
"Apakah Gilang sekarang perasaannya masih sama seperti dulu begitu mencintaiku? Andai saja perasaan Gilang masih sama seperti dulu. Aku berjanji akan menerima cinta Gilang dengan hatiku dan kedua tanganku. Aku sudah siap menjalin cinta dengan orang yang begitu tulus mencintaiku."
"Aku berharap Gilang masih mencintaiku, karena aku juga mencintainya," ucap Arumi dengan kesungguhan hatinya di malam yang sunyi.
__ADS_1
Keesokan harinya, Gilang meminta Dewi untuk datang ke rumahnya. Dewi harus datang pagi-pagi sekali, karena Gilang akan masuk kantor hari ini mengerjakan tugas kemarin yang ia tinggalkan. Ada yang akan Gilang bicarakan serius dengan Dewi.
Sebagai karyawan yang patuh, Dewi mengiyakan perintah bosnya.
Pagi-pagi sekali Dewi datang ke rumah Gilang. Dewi mengira Gilang masih tidur dihari yang masih pagi, seperti kebanyakan tuan muda kaya yang seenaknya, apalagi tinggal sendiri di rumahnya sendiri.
Dewi berjalan santai saat memasuki pintu gerbang Gilang yang tidak di kunci.
"Benarkan rumah ini masih sepi, pasti dia belum bangun. Maksudnya apa menyuruhku datang pagi-pagi, apa aku disuruh membangunkannya" ucap Dewi saat masuk pintu gerbang sembari menyunggingkan mulutnya.
"Bicara apa kamu Dewi," ucap Gilang dari belakang Dewi.
Dewi terkejut bukan kepalang mendengar suara Gilang dari belakangnya. Dewi pun menengok untuk memastikan. Dan benar itu Gilang bosnya.
Gilang sedang jogging pagi. Seperti itulah kebiasaan Gilang di pagi hari sebelum berangkat ke kantor.
Dewi semakin tercenang melihat Gilang yang sangat tampan dan seksi dengan pakaian singlet melekat ditubuhnya membuatnya nampak gagah dan menggoda. Dewi jadi susah menelan salifanya.
"Orang setampan dan seseksi ini, setauku belum punya seorang kekasih. Kira-kira siapa ya orang yang beruntung yang akan berlabuh dihatinya. Andai aku masih single, aku mau daftar jadi calon istrinya," batin Dewi cengingisan.
"Kamu tadi bicara apa Dewi. Sekarang kamu malah cengingisan," bentak Gilang.
"Maaf Pak, kirain Bapak tadi belum bangun. Sekarang saya sudah datang Pak. Katanya ada yang mau dibicarakan serius. Saya siap mendengarkannya Pak," ucap Dewi dengan tegas untuk mengalihkan.
Ayo kita masuk dulu, kita bicara didalam," ajak Gilang.
Dewi pun ngikut dibelakang Gilang dengan perasaan masih terkagum melihat keseksian Gilang dari belakang.
__ADS_1
Gilang dan Dewi sudah duduk bersama. Gilang akan mulai membicarakan yang ingin Gilang katakan pada Dewi.
Gilang to the poin sama Dewi. Gilang meminta Dewi untuk mengatakan pada Arumi. Kalau rumah yang sangat diinginkannya yaitu rumah Gilang. Arumi bisa memilikinya. Gilang akan memberikan rumah ini pada Arumi dengan percuma alias gratis tanpa membeli.
Dewi sungguh tercenang mendengar pernyataan Gilang. Kedua matanya melotot seakan mau copot
"Apa? Apa aku tidak salah dengar Pak. Bapak akan memberikan rumah ini pada Arumi tanpa membelinya?" tanya Dewi penuh rasa tidak percaya.
"Iya, aku akan memberikan rumah ini pada Arumi," jelas Gilang.
"Hah! Rumah sebesar ini diberikan percuma untuk Arumi. Emang siapa sebenarnya Arumi sampai Pak Gilang berkorban begitu besar sama Arumi," batin Dewi.
"Sebenarnya siapa Pak Arumi. Bapak bukan hanya membantunya diam-diam dalam berbisnis tanpa diketahui Arumi. Dan sekarang dia akan mendapatkan rumah dari Bapak dengan percuma. Sebenarnya siapa Pak Arumi sampai Bapak rela banyak berkorban untuknya?" tanya Dewi dengan serius.
"Dia adalah orang yang sangat aku cintai. Orang yang menggetarkan hatiku untuk perduli padanya. Dan sampai aku rela berkorban untuknya meski dia tak membalas cintaku."
"Jadi Arumi orang yang Bapak sayangi dan Bapak cintai diam-diam selama ini. Ya Allah Pak Gilang, sungguh mulia hatimu. Begitu tulus kamu mencintai dan berkorban tanpa dia tahu. Aku jadi terharu. Oh so sweet Pak," ucap Dewi penuh rasa haru.
"Arumi orang yang sangat aku cintai. Dia wanita satu-satu bisa mengetarkan hatiku."
"Aku yakin Pak, cinta Bapak akan terbalas. Arumi wanita yang baik mandiri, smart, tangguh dan pekerja keras. Dia pantas untuk Bapak. Aku mendukungmu Pak. Seratus persen aku mendukungmu. Aku akan membuat Arumi menerima cinta Bapak."
"Terima kasih Dewi atas dukunganmu. Semoga Arumi bisa membuka hatinya untuk diriku."
"Amiiiin," ucap Dewi.
Dewi tiada menyangka ternyata orang yang beruntung adalah Arumi. Orang yang sangat dicintai Gilang bosnya tanpa ada yang tau termasuk orang tua Gilang. Pilihan Gilang tidak salah sudah memilih Arumi seorang wanita tangguh yang dalam beberapa bulan ini banting tulang bersama dirinya, hingga menjadi sukses besar atas kerja keras Gilang juga.
__ADS_1
Arumi harus tau soal ini. Bahwa ada seorang lelaki yang rela berkorban segalanya demi cinta sucinya. Dewi akan memberitahu Arumi tentang cinta Gilang yang begitu besar. Dan Dewi berharap mereka bisa bersatu menjadi pasangan hidup selamanya.