
"Kita akan pulang dengan naik mobil ini," ucap Hendri menunjukkan pada Arumi.
"Ini mobil yang kamu bawa kemarin kan mas!" Arumi berjalan mengitari mobil yang ditunjukkan suaminya.
"Iya, itu mobil yang kemarin aku bawa pulang. Maaf aku belum sempat menjelaskan. Mobil itu sebenarnya milik bosku yang baru. Aku di suruh membawanya pulang."
Arumi bingung mendengar jawaban Hendri.
"Mobil bosnya? Kenapa sampek boleh dibawa pulang? Baik banget bosnya. Apa mas Hendri jadi sopir sekarang," ucap Arumi dalam hatinya yang masih ragu mengungkapkannya pada Hendri.
"Ayo masuk Arumi," ajak Hendri yang sudah stand by duduk di kursi kemudi.
Arumi segera masuk kedalam mobil dan duduk sejajar dengan Hendri.
"Jadi ini mobil bos kamu mas!! Apa kamu sekarang jadi sopirnya?" Cetus Arumi.
"Bisa dibilang seperti itu. Aku bukan hanya jadi sopirnya bahkan lebih dari itu entah aku ini body guardnya atau apa? Aku disuruh menemaninya kemana pun pergi dan membantu mengurus semua pekerjaan kantor. Dia menjanjikan gaji yang besar untuk mas, kalau aku bekerja dengan baik. Jadi kamu harus mendukungku ya, supaya keinginan kita tercapai."
"Benarkah mas!! Kamu naik jabatan ya."
"Bisa dibilang seperti itu."
"Syukur Alhamdulillah, semoga mas mendapat gaji yang besar dan kita bisa merayakan pernikahan kita mas," ucap Arumi sangat senang dan reflek memeluk suaminya yang sedang menyetir.
"Eh, pelukannya nanti aja kalau sudah sampek di rumah, aku kan lagi nyetir."
"Maaf mas, aku lagi terbawa suasana bahagia. Aku senang, mas akan mendapat gaji yang besar."
Arumi tersenyum lebar, sembari netranya tak teralihkan memandangi wajah suaminya yang tampan dan yang sangat mencintainya. Hendri sesekali membalas tatapan Arumi dengan senyum terbaiknya.
Tak terasa perjalanan sampailah di rumah. Hendri dan Arumi turun bersamaan. Mereka berdua berjalan bersamaan sembari bergandengan mesra dengan raut wajah yang ceria dan bahagia.
Didalam rumah, Mia tengah menunggu kedatangan mereka yang sudah ditunggu kepulangannya sedari tadi. Mia duduk di ruang tamu.
Arumi dan Hendri mulai memasuki rumah dengan gontai dan penuh rasa bahagia dan senyuman yang tiada henti mereka tunjukkan.
"Akhirnya kita sudah sampai di rumah mas, jadi aku sudah bisa memelukmu kan?" Ucap Arumi yang sudah masuk ke dalam rumah yang ingin sekali memeluk suami tercintanya yang sempat tertunda tadi.
"Silahkan sayang, aku juga menginginkan itu," ucap Hendri.
Keduanya meregangkan kedua tangannya dan saling berpelukan, dengan penuh rasa bahagia menyertai mereka.
__ADS_1
"Ehem, ehem...." Suara dehem Mia membuyarkan pelukan mereka. Arumi dan Hendri tercenang.
"ibu!! ibu belum tidur?" Tanya Hendri.
"Ya belum lah, anak ibu kan belum pulang, mana ibu bisa tidur. Menantu jbu juga baru pulang ya? Kelihatannya kamu seneng banget ya bisa pulang naik mobil baru anakku?" Ucap Mia sinis.
"Iya bu?"
"bu? Aku tegaskan sekali lagi, itu bukan mobilku. Itu mobil bosku yang baru," ucap Hendri.
"Apa!! Itu mobil bos kamu? Jadi itu bukan mobil kamu?"
Mia sangat terkejut, kedua tangannya reflek memegangi kepalanya yang langsung terasa pusing saat mendengar pernyataan Hendri.
"Kamu membohongi ibu ya, pakek bawa mobil ke rumah segala, biar disangka itu mobil kamu." Jari Mia menunjuk-nunjuk kearah Hendri.
"Aku tidak membohongi ibu. ibu yang susah dikasih tau," tukas Hendri.
"Iya bu, Mas Hendri tidak pernah mengatakan itu mobil miliknya," tambah Arumi.
"Diam kamu Arumi. Kalian berdua sama-sama membohongi ibu. Kalian berdua pembohong."
"ibu selalu menyalahkan kami."
Hendri dan Arumi berlalu meninggalkan Mia dan tak memedulikan omelannya yang tiada henti terucap dari mulutnya. Mia sangat syok mendengar pernyataan Hendri.
Arumi dan Hendri sudah ada di dalam kamarnya, mereka usai membersihkan diri. Saatnya mereka akan istirahat meregangkan otot yang seharian tengah lelah bekerja keras.
"Kamu pasti capek mas!!" Ucap Arumi yang sudah tiduran di atas ranjang bersama Hendri.
"Tentu mas sangat capek, karena bekerja sangat keras. Ini demi mendapatkan gaji yang lebih besar."
"Apa aku harus memberi servis buat mas?"
"Servis?" Kedua mata Hendri melebar tatapannya menajam ke arah Arumi.
"Aku akan memberi pijitan buat kamu, katanya kamu capek?"
"Aku maunya yang plus-plus pijitnya," bisik Hendri.
"Boleh saja, kamu boleh minta apa aja dariku. Tapi minta ijin sama dedek dulu yang di sini." Tangan Arumi menunjuk ke perutnya.
__ADS_1
"Boleh pinjam momnya sebentar ya sayang?" Hendri mengelus perut Arumi.
Aksi mereka pun dimulai dimalam yang begitu sunyi dan terasa hangat saat saling mendekap.
Tak terasa pagi sudah menjelma. Arumi dan Hendri sudah bangun sedari subuh tadi. Mereka membersihkan diri dan berlanjut menunaikan kewajibannya.
Seperti biasa Arumi setiap pagi sebelum berangkat kerja bergelut dengan pekerjaan rumah. Hendri ikut membantu Arumi menyelesaikan pekerjaannya sebelum dia berangkat kerja. Pekerjaan Arumi menumpuk, karena kemarin sore pulang larut malam. Beruntung Arumi punya suami yang baik hati bersedia membantunya.
Saatnya sarapan. Sebelum berangkat kerja. Kebetulan masih jam setengah tujuh jadi Hendri bisa sarapan bareng bersama Arumi, Salsa dan juga Ibunya.
Mia nampak dengan raut wajah cemberutnya. Kekecewaannya pada Hendri masih ia tunjukkan.
"Ibu kenapa manyun gitu?" Tanya Salsa.
Mia tak menjawab karena sangat kesal atas pernyataan Hendri.
"Ibu kenapa masih cemberut gitu? Itu kan salah ibu sendiri tidak mau mendengarkan ucapan Hendri, kalau itu memang bukan mobil Hendri."
"Apa!! Jadi itu bukan mobil kak Hendri?" Sela Salsa.
"Iya Sa, itu mobil milik bosnya Hendri?"
"Gimana sih bu, katanya itu mobil kakak?
"Kamu nyalahin ibu! Salahin kakakmu tu, kenapa pakek bawa pulang mobil ke rumah kalau bukan mobilnya," Bentak Mia pada Salsa.
Semua nampak takut, Hendri juga tak berani berucap. Tak mau jadi semakin panjang lebar urusannya. Hendri dan Arumi memilih pergi berangkat kerja. Mia malah semakin murka saat melihat Hendri dan Arumi beranjak dari hadapannya.
"Dasar, anak nggak tau diri," ucap Mia yang tak begitu di perhatikan Hendri dan Arumi.
Salsa hanya tercengang melihat kekesalan ibunya.
Tempat kerja Arumi searah dengan tujuan Hendri yang akan menuju rumah Melinda. Hendri mangajak Arumi naik mobil bersamanya dan akan menurunkan ditempat kerjanya. Arumi merasa senang bisa berangkat bareng bersama suami tercintanya.
Didalam mobil Hendri mengatakan pada Arumi kalau dirinya kini tengah sibuk, Hendri ingin Arumi pengertian dan memakluminya jika pulang larut. Karena semua menyangkut pekerjaan.
Arumi sangat percaya pada Hendri dan mendukung atas pekerjaannya. Karena semua demi mewujudkan keinginannya yang ingin segera meresmikan dan merayakan pernikahannya dan diketahui banyak orang. Itulah tujuan Hendri jadi Arumi harus mendukungnya sepenuh hati.
Hendri merasa senang mempunyai istri yang sangat pengertian dan mendukungnya. Hendri berjanji akan bekerja sebaik mungkin demi mewujudkan semuanya.
__ADS_1