
Hendri kembali menatap Melinda dengan senyum mengejek. Melinda sudah tidak bisa terima lagi dengan sikap Hendri.
"Hai pegawai lama, kamu nggak tau siapa aku ya," Melinda menatap tajam ke arah Hendri.
Begitu pun juga dengan Hendri netranya membalas tatapan tajam Melinda. Namun apa yang terjadi. Melinda di buat gugup saat saling bertatapan. Melinda tiada menyangka orang yang membuat hatinya kesal saat ini tengah menatapnya dengan sejuta pesonanya. Membuat Melinda kikuk tak bisa berkata-kata.
"Cakep banget sih cowok ini, tatapannya begitu mempesona, hatiku jadi bergetar," batin Melinda sembari menatap Hendri dengan tersipu-sipunya.
"Emang kamu siapa?" Tatap Hendri lebih tajam.
Melinda pun tersadar, hatinya kembali bergejolak dan kesal.
"Aku ini pemimpin perusahaan yang baru," teriak Melinda dengan serius.
Hendri malah tertawa mendengar ucapan Melinda. Melinda semakin gereget di buatnya.
"Kamu mengejekku ya, di kasih tau kok nggak percaya."
"Bisa-bisanya sih pegawai baru ngaku-ngaku seorang pemimpin perusahaan," ucap Hendri masih dengan tertawanya.
"Lihat saja nanti, apa yang akan aku kakukan dengan pegawai semacam kamu," ancam Melinda.
Hendri hanya tersenyum sinis tidak takut sama sekali dengan ancaman Melinda. Dia masih dengan definisinya menganggap Melinda adalah seorang pegawai baru.
Mereka berdua keluar bersamaan. Melinda dengan wajah cemberutnya sedangkan Hendri keluar dengan wajah santainya tanpa merasa bersalah sedikit pun, padahal dia baru saja melakukan kesalahan besar yang tidak ia ketahui.
Hendri langsung tancap gas dengan ojek online yang sudah di pesan sedari tadi. Kebetulan sudah stand by di depan kantor jadi tinggal tancap gas. Tak berapa lama perjalanan akhirnya sampai juga di rumah. Kebetulan sekali Hendri berpapasan dengan Arumi yang juga baru turun dari motor ojeknya.
"Kita nggak janjian bisa pulang bareng," ucap Hendri sembari melepas helmnya.
"Iya, kok bisa bareng ya," balas Arumi yang juga sama baru melepas helmnya.
"Karena kalian sehati," cetus tukang ojek yang mendengar percakapan Arumi dan Hendri.
"Ayo kita masuk," ajak Hendri.
Mereka mulai berjalan gontai memasuki pintu gerbang. Berlanjut mereka memasuki pintu rumah. Tak ada yang menjawab salam dari mereka saat memasuki rumah di hari yang sudah petang dan sudah masuk waktu maghrib. Mungkin Mia dan Salsa tengah sibuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Hendri dan Arumi juga akan cepat-cepet membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Beberapa menit semua kegiatannya di waktu maghrib sudah selesai. Arumi dan Hendri akan menemui Ibunya. Arumi akan memberikan buah tangan untuk Ibu mertuanya. Dan Hendri akan membicarakan soal pernikahanya yang akan di resmikan.
Mia dan Salsa sudah nampak duduk santai sembari menonton tv. Mereka berdua membicarakan tentang Arumi dan Hendri apakah mereka sudah pulang. Baru di omongin mereka sudah datang menemuinya.
__ADS_1
"Nah, itu mereka sudah datang," ucap Salsa saat melihat Arumi dan Hendri menujunya.
"Oh sudah datang to," ucap Mia.
Perhatian Mia kini tertuju pada Arumi yang berjalan bersama Hendri. Netra Mia menatap ke tangan kanan Arumi yang menenteng satu box kue. Nampak senyum mulai merekah dari bibir Mia.
"Ini Bu, ada kue yang aku beli di sekitar rumah Nenek," tangan kanan Arumi menyerahkan satu box kue ke Ibu mertuanya.
"Enak nggak kuenya kok belinya di sekitar rumah nenekmu," pekik Mia.
"Kalai menurut aku sih enak Bu." Jelas Arumi.
"Coba aja dulu Bu," ucap Salsa.
"Aku juga mau dong Bu, ayo cepat Buka," ucap Hendri yang mulai ikut duduk bersama Arumi saling berhadapan dengan Salsa dan Mia.
Mia pun membuka kuenya. Baru di buka sudah tercium aroma yang menggoda dari kue itu. Membuat Mia tergiur dan ingin segara melahabnya. Tanpa permisi Mia langsung melahab satu potong kue dan di rasakannya sangat lezat dan enak. Kue ini beda rasanya dari kue yang biasa dia makan.
"Hemmmm, enak banget kuenya," ucap Mia mulutnya tiada henti mengunyah dan menikmati lezatnya kue yang di belikan oleh Arumi.
"Enak kan Bu," ucap Arumi.
"Hemmm, top," Mia menunjukkan jari jempolnya.
"Aku juga mau coba dong Bu, kelihatannya enak banget," ucap Hendri.
"Aku juga dong Bu jangan di gagahin sendiri. Bagi-bagi dong," ucap Salsa.
"Dikit aja ya," ucap Mia tingkahnya seperti anak kecil saja.
Usai menikmati kue bawaan Arumi. Mereka berempat tampak santai mengobrol. Ini adalah kesempatan Hendri untuk membicarakan tentang rencana meresmikan pernikahannya pada Ibunya.
"Bu aku ingin bicara serius sama Ibu," ucap Hendri memulai percakapannya.
"Bicara serius apa? Bicara saja langsung pakek izin segala," ketus Mia.
"Ehm..., aku ingin meresmikan pernikahanku bersama Arumi dan akan merayakannya Bu di sini apa boleh. Lagian kan kita sudah mau punya anak."
Mia masih bergeming belum menjawab. Nampak raut wajah tegang antara Hendri dan Arumi. Mereka berdua takut dengan jawaban yang akan di berikan Mia.
"Wah bagus itu Kak, biar semua orang tau kalau Kakak sudah menikah," ucap Salsa.
__ADS_1
Salsa mendukung pernikahan kakaknya segera di resmikan. Membuat Hendri dan Arumi ketegangan sedikit menghilang. Namun apa jawaban dari Mia.
Mia sebenarnya berharap mereka bisa berpisah dan akan mencarikan jodoh yang lain untuk Hendri sesuai seleranya yaitu dari golongan orang kaya. Tapi Arumi sudah terlanjur hamil, dengan sangat terpaksa Mia mengizinkan mereka meresmikan pernikahannya dan boleh di rayakan di sini tapi dengan banyak syarat.
Syaratnya adalah pernikahan harus di adakan secara meriah dan mengundang banyak orang. Sebelum meresmikan pernikahannya paling tidak Hendri sudah punya mobil sendiri. Dan setelah menikah Hendri tetap harus tinggal di rumahnya Mia sebagai tulang punggung di rumahnya. Dan setelah Salsa mendapatkan jodoh mereka baru boleh tinggal di rumahnya sendiri.
Hendri sedikit keberatan dengan beberapa syarat yang di ajukan Ibunya. Baginya itu sangat berat. Hendri pun protes pada Mia tapi dia tak menghiraukannya.
Hendri dan Arumi di malam yang sudah larut nampak masih terlihat tiduran dengan mata mereka yang masih melek alias belum bisa tidur memikirkan tentang persyaratan yang di ajukan Mia.
"Ibu sungguh keterlaluan kenapa memberi syarat seberat ini. Itu sungguh berat," keluh Hendri.
"Iya Mas, kenapa ya cinta kita berat di Ibumu."
"Arumi, apa aku sanggup ya memenuhi persyaratan Ibu."
"Kalau Mas bertekad pasti sanggup Mas!!"
"Tidak mungkin Arumi, kebutuhanku sekarang banyak banget harus menanggung semua biaya rumah ini. Gimana aku bisa ngumpulin uang yang banyak kalau gajiku cuman buat nyukupin kebutuhan Ibu dan rumah ini."
Arumi hanya tertegun tak berani lagi menyambung perkataan suaminya.
"Besok aku akan nego lagi sama Ibu," tegas Hendri.
"Terserah kamu Mas, aku doakan semoga Ibu masih bisa di ajak Nego."
Tak terasa dengan hati yang penuh gundah gulana yang melanda mereka saat ini mereka masih bisa menikmati malam dengan tertidur lelap.
__ADS_1