
Pagi-pagi sekali Hendri sudah siap dengan baju kantornya begitu juga dengan Arumi juga sudah nampak rapi dandanannya. Arumi juga sudah siap untuk berangkat kerja. Tentunya Arumi sedari bangun tadi sudah melakukan tugasnya tanpa ada yang di lalaikan. Pekerjaan rumahnya sudah beres semua.
Mereka berdua kini tengah duduk di ruang makan di hadapannya tersaji nasi goreng buatan Arumi. Semua di rumah ini akan sarapan dengan nasi goreng yang sudah di buat Arumi tadi.
Hendri nampak gusar menunggu Ibunya di ruang makan yang belum datang juga ke ruang makan untuk sarapan. Hendri tidak sabar ingin bicara sama Ibunya sebelum dia berangkat kerja.
Salsa sudah datang ke ruang makan. Hendri menanyakan pada Salsa kenapa Ibunya belum datang juga ke ruang makan. Salsa menjawab tidak tahu. Salsa menawarkan diri akan memanggilkannya, merasa kasihan sama kakaknya yang begitu mengharapkan Ibunya cepat ada di ruang makan.
Baru saja Salsa beranjak dari pergerakannya sudah nampak Mia berjalan lenggang dengan baju joggingnya.
"Itu Ibu kak," ucap Salsa sembari menunjuk ke arah Ibunya.
Mia terus saja berjalan hingga melewati ruang makan tanpa menengok Ke Hendri yang sedari tadi sudah menunggunya.
"Ibu?" Ucap Hendri dan Salsa bersamaan.
"Ada apa memanggil Ibu sampek segitunya," bentak Mia yang merasa terganggu dan membuat langkahnya terhenti.
"Ibu mau kemana?" Tanya Salsa.
"Mau joging lah," jawa Mia santai.
"Ibu nggak tau kita semua lagi nungguin Ibu untuk sarapan bareng, kenapa malah cuek nggak nengok sama sekali," cetus Salsa.
"Mulai hari ini Ibu nggak mau sarapan dulu, mau jogging. Lihat ni badan Ibu sedikit gendut. Ibu nggak mau penampilan Ibu terlihat jelek jadi Ibu harus rajin jogging biar langsing kembali. Udah ya nggak usah nungguin Ibu Sarapan mulai sekarang, Ibu mau jogging dulu."
Mia mulai menggerakkan kakinya.
"Bu...., tunggu," teriak Hendri.
"Ada apa lagi sih udah ibu jelasin Ibu nggak mau sarapan."
__ADS_1
"Bukan itu Bu, aku masih mau bicara sama Ibu soal tadi malam," ucap Hendri dengan serius.
"Bukannya sudah Ibu jelaskan secara detil. Pokoknya kamu harus bisa mewujudkan semuanya baru kamu bisa melaksanakan keinginanmu," tegas Mia.
"Tapi Bu itu sangat berat, aku nggak sanggup," keluh Hendri.
"Kalau kamu nggak sanggup berarti ya nggak usah pingin meresmikan pernikahanmu biarkan saja seperti ini," ucap Mia seenaknya saja tanpa memikirkan betapa susahnya hati Hendri dengan keputusannya memberikan syarat yang memberatkan Hendri.
Mia pun berlalu pergi meninggalkan ucapan yang membuat Hendri mati kutu tak punya pilihan lagi selain harus tetap berusaha mewujudkan persyaratan dari Ibunya.
"Sabar ya Mas," ucap Arumi sembari mengelus punggung suaminya.
"Sabar ya Kak, maafkan sikap Ibu. Aku tidak menyangka kita mempunyai Ibu yang rumit susah di ajak kompromi," tutur Salsa.
Setelah sarapan Hendri dan Arumi langsung akan berangkat kerja. Mereka berdua keluar dari rumah bersamaan. Karena arah tempat kerja berlawanan mereka berpisah di jalan. Dan menuju tempat kerja masing-masing.
Hendri juga di sapa banyak pegawai yang mengenalnya. Bahkan ada yang mengatakan Hendri sudah terlambat. Namun Hendri menanggapinya biasa saja. Hendri saat ini tak begitu fokus kalau dia sudah ada di kantornya. Hendri masih di sibukkan dengan ucapan Ibunya yang menggangu pikirannya, ucapan yang nggak bisa di tolerir lagi.
Sembari berjalan Hendri masih terngiang di telinganya ucapan Ibunya yang sangat memberatkannya tak mau memberi celah sedikit pun untuknya. Ucapan Ibunya sangat mengganggu pikirannya, hingga Hendri terbawa suasana kacau di hatinya. Raut wajahnya nampak lesu tak bersemangat.
Melinda saat ini sudah ada di kantor dia sengaja berangkat pagi. Melinda ingin lebih mengenal perusahaan milik Ayahnya dia pun berkeliling sendirian tanpa di temani siapa pun. Melinda ingin melihat kinerja para pegawainya yang akan membangun perusahaan ini bersamanya.
Saat berkeliling Melinda berpapasan dengan Hendri yang saat itu sudah hampir sampai di ruangannya. Selain bertemu Hendri, Melinda juga bertemu dengan pegawai yang lainnya. Semua pegawai menunjukkan rasa hormatnya pada pemimpin perusahaan yang baru.
Banyak para pegawai yang berlalu lalang di hadapan Hendri semua sibuk memberi hormat pada CEOnya. Hendri tak begitu menghiraukannya. Pikiranya sudah di penuhi dengan ucapan Ibunya tadi.
Melinda melihat sosok Hendri lewat pas di hadapannya. Hendri tiada menatap Melinda yang ada di hadapannya. Tatapannya kosong. Hendri tak memperhatikan keberadaan Melinda. Hendri masih terbawa suasana kacau dalam hatinya.
"Dia kan cowok nyebelin kemarin yang waktu ketemu di dalam lift. Kok dia cuek aja sama aku nggak menghujatku lagi. Apa dia sudah tau kalau aku ini pemimpin perusahaan ini. Tapi kenapa di tak memberi hormat padaku seperti pegawai yang lainnya. Sungguh aneh. Dasar emang dia itu pegawai aneh," gumam Melinda saat di lewati Hendri begitu saja.
__ADS_1
Melinda penasaran dengan sikap Hendri dia pun membuntutinya dari belakang. Tak ada reaksi apa pun dari Hendri yang di ikuti Melinda berjalan di belakangnya hingga Hendri masuk ke ruangannya. Hanya kesal yang di dapatkan Melinda karena keberadaannya tak di respon oleh Hendri. Bualan pun menyertai kekesalannya.
"Jadi ini ruangannya, boleh juga posisinya. Pantas saja dia suka merendahkan pegawai baru," gumam Melinda. Tersiram senyum nakal dari raut wajah Melinda ada apa gerangan?
Untuk mengecek kinerja Hendri Melinda akan mengirimkan berkas-berkas yang harus di kerjakan Hendri. Melinda sengaja sekalian buat ngerjain Hendri yang sudah berbuat semena-mena terhadapnya.
Melinda menyuruh sekertarismya untuk mengantarkan berkas yang harus di kerjakan Melinda ke ruangan Hendri. Setumpuk berkas sudah di tangan sekertaris siap di bawa ke ruangan Hendri.
"Permisi," ucap si sekertaris dari balik pintu sembari mengetuk pintu.
Tak ada jawaban, sekertaris tetap masuk ke ruangan Hendri. Hendri tersadar dari lamunannya saat mendengar pintu terbuka dan melihat sesorang masuk dengan tumpukan berkas di tangannya.
"Maaf Pak saya langsung masuk, Bapak saya panggil nggak jawab."
"Oh maaf saya nggak begitu fokus, maaf ya."
"Ya Pak, nggak papa. Ini ada tugas untuk Bapak, mengerjakan berkas-berkas ini dan kalau sudah selesai Bapak harus mengantarkannya ke ruang Bu Direktur."
"Sebanyak ini berkasnya," keluh Hendri sembari memicingkan matanya merasa nggak terima di saat hatinya sedang kacau kenapa ada kerjaan banyak banget.
"Iya Pak ini tugas dari Bu Direktur. Jangan lupa kalau sudah selesai langsung Bapak serahkan ke ruangannya."
"Aduh....," Hendri memukul jidatnya merasa keberatan.
"Kenapa hari ini begitu berat, bahkan di kantor banyak kerjaan yang begitu memberatkanku," ucap Hendri sembari kedua tangannya mengoyak rambutnya.
__ADS_1