Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 12 Di hukum


__ADS_3

Arumi menunggu Hendri di tempat biasa. Tak begitu lama Hendri pun sudah menampakan dirinya, yang baru saja turun dari motor ojek on line. Tangan Arumi segera melambai saat pandangan Hendri mengarah padanya. Hendri pun membalas dengan melambaikan tangannya juga. Hendri pun berlari mendekati Arumi.


 


"Kelamaan ya nunggunya," ucap Hendri saat mendekat ke Arumi.


 


"Nggak kok mas, mau selama apa pun kalau mas Hendri yang jemput akan aku terus menunggu."


 


"Ih..., kamu bisa aja, kamu memang istriku yang baik  yang setia menungguku," puji Hendri sembari mencubit pipi Arumi dengan gemes.


 


"Sudah malam ayo kita pulang," ajak Hendri.


 


"Tapi aku laper mas! Gimana kalau kita mampir cari makan dulu."


 


Arumi mengelus-ngelus perutnya yang merasa sangat lapar karena sejak tadi sore belum makan.


 


"Kamu lapar? Aduh kasihan sekali sama si dedeknya pasti dia juga kelaparan kayak momnya," ucap Hendri sembari mengelus perut Arumi juga.


 


Arumi hanya tersenyum geli saat melihat Hendri mengobrol dengan calon babynya sembari menciumi perutnya.


 


Arumi lagi pingin makan makanan favoritnya yaitu bakso. Kebetulan ada yang mangkal di pinggiran jalan yang di lewatinya. Dia pun mampir sebentar akan mengisi perutnya yang kelaparan bersama Hendri.


 


Hendri kebetulan juga belum makan tadi. Dia sibuk menunggu Arumi yang seakan-akan datang dan mengajaknya makan bersama Ibu dan adiknya.


 


Mereka berdua tampak lahab menikmati makanan favoritnya. Arumi pesan sampek dua mangkuk. Hendri di buat geleng kepala kenapa nafsu makan istrinya jadi melunjak. Arumi pun memberitahunya karena ada dua orang dalam dirinya.


 


Hendri pun mengerti kini dia akan semskin memperhatikan Arumi dan akan semakin sayang Arumi yang kini tengah mengandung buah hatinya.


 


Sedangkan Mia di rumah pikirannya gusar. Mia merasa sebel dan kesel  menunggu kedatangan Arumi dan Hendri yang tak kunjung datang. Sesekali Mia melihat jam di hand phonenya yang terus berjalan tanpa Henti. Mulutnya pun mengua berkali-kali tanda sudah mengantuk. Namun Mua tetap gencar menunggu kedatangan mereka.


 


Ingin rasanya Mia menghubungi Hendri tapi dia mengurungkan niatnya takut ketahuan sama Hendri kalau dia tengah menunggu Arumi. Namun tiba-tiba pikirannya berubah. Dia akan tetap menghubungi Hendri yang katanya menjemput Arumi tapi kok malah nggak datang-datang. 


 


Mia mulai menghubungi Hendri dalam sekejap sudah tersambung. Mia segera menanyakan keberaadaan Hendri dan menyuruhnya cepat pulang. Hendri pun bersedia memenuhi permintaan ibunya yang seperti sangat khawatir di hari yang sudah malam ini karena Dia dan istrinya belum ada di rumah.

__ADS_1


 


"Ayo kita pulang, ibu sudah nanyain kita kenapa nggak pulang-pulang," ajak Hendri cepat-cepat.


 


"Yang telfon tadi ibu."


 


"Iya, dia seperti menghawatirkan kita sudah malam belum ada di rumah."


 


"Jadi sekarang ibu belum tidur ya?" Tanya Arumi.


 


"Mungkin dia nggak bisa tidur karena menghawatirkan kita."


 


Hendri tak menceritakan tentang ibunya yang tadi berpikiran buruk tentang Arumi padahal Hendri sudah memberitahu yang sebenarnya. Karena,Ibu mertuanya masih melek Arumi hendak membawakannya buah tangan untuknya. Arumi akan memesan dua bungkus bakso, tapi Hendri bilang nggak usah. Arumi pun mengurungkannya.


 


Hendri cepat-cepat mengajak Arumi pulang. Hendri tau sikap Ibunya yang tak menyukai Arumi. Hendri menerka pasti ada sesuatu hal hingga membuat Ibunya menyuruhnya cepat-cepat pulang entah nanti akan memarahinya atau memarahi Arumi istrinya.


 


Hendri dan Arumi pulang mengendarai taksi, tak berapa lama sampailah di rumah. Hendri menatap ke dalam rumahnya nampak  lampu di rumah masih menyala. Hendri berpikir pasti ibunya masih belum tidur sedang menunggu kedatangannya.


 


 


"Ayo cepat masuk, jalan pelan-pelan," bisik Hendri di telinga Arumi yang tertutup hijabnya.


 


"Kenapa harus pelan dan mengendap-ngendap seperti ini," Arumi balas berbisik di telinga Hendri.


 


Mereka sangat lucu jalan bergandengan sembari mengendap-ngendap seperti orang mau kabur dari penculikan.


 


"Sudah ngikut aja," ucap Hendri dengan suara pelan.


 


Mereka terus berjalan hingga sampai di ruang tamu. Mereka berdua malah dikejutkan dengan teriakan Mia memanggil nama mereka. 


 


"Kalian dari mana saja?" Ucap Mia dengan lantang matanya menajam memperlihatkan kemarahannya yang belum semua terucapkan.


 


"Maaf bu, udah bikin ibu menunggu kedatangan kami," ucap Hendri.

__ADS_1


 


"Baru tinggal di sini sehari bikin ibu resah aja."


 


"Kamu Arumi, kenapa kamu baru pulang sampek selarut ini bikin susah anakku aja sampek harus jemput segala. Malah nggak pulang-pulang lagi udah malem begini," ucap Mia sembari jari tangannya menunjuk ke arah Arumi.


 


"Maafkan saya bu, saya tadi ada...," ucapan Arumi terhenti karena di sela ibu mertuanya.


 


"Nggak usah alasan. Kamu tu cuman menantu yang tinggal di rumah mertua jangan seenak kamu saja ya pulang pergi sesukamu."


 


"Maafkan saya bu, maafkan saya. Saya memang bersalah."


 


Hendri tidak bisa membela Arumi kali ini. Meski sudah dijelaskan sama Hendri, ibunya tetap tidak mau mengerti dan sekarang tetap memarahi istrinya.


 


"Arumi sudah minta maaf Bu, sekarang sudah malam kami mau istirahat karena besok harus bekerja lagi."


 


"Istirahat katamu, kalau kamu sekarang boleh istirahat. Tapi untuk istri kamu ibu akan memunjukkan sesuatu padanya."


 


Mia menyuruh Arumi mengikutinya. Hendri pun mengikuti Arumi dari belakang. Hendri penasaran tentang apa yang akan ditunjukkan ibunya pada Arumi. Mia membawa Arumi ke dapur dan menunjukkan tumpukan piring kotor di wastafle yang harus dicuci.


 


Berlanjut Umi menunjukkan lagi ke kamar mandi yang sudah beberapa hari ini belum dibersihkan. Mia menyuruh Arumi untuk membereskan semuamya itu sebagai hukumannya.


 


Arumi tidak berani menolak perintah mertuanya yang sangat marah padanya. Meski Hendri ingin supaya dikerjakan besok itu tidak bisa merubah keputusan Mia. Dengan sangat berat hati dimalam yang sudah larut ini dan badan yang sudah capek karena bekerja seharian Arumi tetap akan membereskan semuanya.


 


Hendri tidak tega melihat Arumi yang tengah hamil harus kerja ekstra dobel. Arumi sudah capek seharian bekerja dan lembur belum sempat istirahat sampek di rumah harus dihukum sama Mertuanya.


 


Dimalam yang sudah hampir jam dua belas malam mereka berdua masih disibukkan dengan bersih-bersih dapur, membersihkan kamar mandi. Karena dibantu suami tercintanya Arumi tak merasa keberatan. Ia pun jadi lebih bersemangat mengerjakannya dan cepat-cepat menyelesaikannya.


 


Mia merasa menang hari ini dia berhasil menghukum Arumi menantu yang tak disukainya. Nampak Mia tengah terguling-guling sembari tertawa bahagia di atas ranjangnya.


 


"Rasaain kamu, kena kamu ya. Nggak sia-sia aku nungguin sampek ngantuk-ngantuk akhirnya aku bisa menghukum kamu Arumi. Siapa suruh berani menjadi mantuku. Besok akan aku kasih kejutan yang lebih lagi," gumam Mia dengan senyum menyerngai.


 

__ADS_1


__ADS_2